Tampilkan postingan dengan label Bookish Talk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bookish Talk. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Oktober 2017

Yang Dilakukan Pecinta (baca: penimbun) Buku [a Bookish Talk]

Hai-hai....
Maaf sudah lama tak muncul. Sekalinya muncul bukannya posting review atau book rekomendasi, eh malah curhat #plakk Tapi memang saya sudah kebelet pengen curhat, jadi yuk langsung aja...

Di postingan kali ini saya ingin membahas tentang serba-serbi atau hal-hal yang sering dilakukan para penimbun pecinta buku: terutama oleh para book reviewer, book blogger, bookstagrammer, booktuber, dan tak lupa book hoarder alias penyembah dan penganut sekte penimbun buku, heheheeee. Jadi memang ada beberapa hal nih...yang biasanya mereka termasuk saya lakukan, yang kadang memang terasa dan terlihat aneh bagi non-bookLovers. Apa saja di antaranya? Ini dia...

BOOK HAUL
Nah, ini adalah istilah keren buat menyebut "belanja buku" atau lebih kami kenal dengan istilah KALAP BUKU. Haul biasanya digunakan untuk menyebut belanjaan buku yang TIDAK SEDIKIT. Biasanya dihitung selama seminggu, sebulan, atau dalam beberapa hal "sengaja membeli banyak buku pada momen-momen khusus", seperti contohnya "Birthday Book Haul" atau "Diskonan Book Haul" dan macam-macam yang lain. Pokoknya ada saja deh alasan untuk membeli banyak buku. Kadang alasannya sampai agak dibuat-buat, semisal "PO Book Haul", "Receh Book Haul", "The Power of Twenty Book Haul", "Lagi Pengen Book Haul", "Suka Suka Gue Book Haul", "Mumpung Nemu Book Haul", dan sebagainya.
Bagi yang tidak suka baca buku, dan juga tidak suka belanja buku, fenomena book haul ini mungkin sangatlah aneh. Mereka sering lho (ini pengalaman pribadi saya sih) mencibir "Ih, buat apa ngabisin duit buat beli buku? Mending buat beli baju, atau makan." Yang biasanya akan saya jawab dengan tatapan sinis, dagu terangkat ke atas dengan sok dan menjawab "Buku itu bukan ngabisin duit karena ilmu bertahan selamanya, nggak kayak baju yang sebentar lagi juga out of fashion, apalagi makanan yang paling juga dikeluarin lagi jadi ***." Lalu saya akan sibakkan poni dan berlalu dengan elegan.

COFFEE
Boleh percaya boleh nggak, banyak sekali pembaca buku yang suka minum kopi. Meskipun nggak semua sih...tapi cukup banyak. Sampai sering kali minggu pagi dihabiskan dengan "nyeruput kopi sambil baca buku" yang bagi seorang pembaca buku sudah dianggap sejajar dengan surga. Nggak percaya? Coba deh gugel cari sesuatu yang bertema buku dan kopi. Pasti banyak serba-serbinya, mulai dari foto-foto bookstagram, mug2 kopi yang dipajang di rak buku para booktuber, sampai kaos dan sarung bantal dengan quote-quote tentang buku dan kopi. Oh iyaaa... sampai ada beberapa kafe gaul anak muda mengusung tema buku dan kopi juga sekarang, biar kekinian hehee...
Kesimpulan: Bagi banyak book lovers, buku dan kopi adalah saling melengkapi.
Saya sendiri memang doyan banget ngopi, segala macam doyan, mulai dari kopi tubruk pahit tanpa gula, sampai yang latte-latte-an dengan harga mahal itu, doyan semua lah... hahahaaa...

BOOKMARK
Percaya atau tidak... banyak book-readers yang suka koleksi bookmark; bagus-bagus, lucu-lucu, ada yang oleh-oleh dari teman pas ke luar negeri pula. Eh... tapi pas lagi asik-asiknya baca buku tuh.... tiba-tiba alam memangil. Apalah diri ini hingga berani melawan alam. Maka secepat kilat, buku yang sedang dibaca harus ditandai dengan...APAPUN. Masa bodoh dengan koleksi bookmark yang bejibun banyaknya. Yang penting bukunya bisa cepat ditandai! Ah....itu ada cotton bud. Salah satu ujung pentolnya sudah terlihat menjijikkan sih, tapi tak apa, yang satunya masih bersih, jadi bisa dipakai buat bookmark darurat.
Contoh bookmark darurat lain: struk belanja, uang kertas, label baju, kartu ATM, kacamata, dll.

KALUNG FANDOM
Kalo ini adalah contoh pribadi sih.... kebetulan saya suka memakai aksesoris, baik itu kalung, gelang, cincin, jepit rambut... tapi paling utama adalah kalung. Kenapa? Karena kalung dipakai di depan, dan otomatis akan kelihatan orang dengan sangat cetar dan membahana. Jadi sering lho saya pakai kalung Deathly Hallows meskipun saat kerja, heheee....dan, rasanya senaaaaang sekali jika ada yang mengenali simbol kalung itu dari buku apa. Langsung deh biasanya dia saya ajak ngobrol panjang lebar tentang Harry Potter.
Notable mention: TONGKAT SIHIR itu hukumnya (hampir) wajib bagi para potterhead. LOL

CANDLE
Nah, untuk yang satu ini, adalah tren yang sedang menjamur di kalangan bookstagrammer dan booktuber nih. Candle yang dimasukin ke dalam mason jar, ditaburi glitter, dan diberi sticker bertuliskan karakter atau hal-hal unik dari buku tertentu. Harganya? Jangan tanya...SELANGIT.
Jadi kalau boleh curhat nih ya... saya adalah salah satu dari booklovers yang MENOLAK dengan tegas mengikuti trend ini. Kenapa?
Pertama, karena ngabisin duit, hahahaaa.... soalnya buat saya nih, daripada buat beli lilin (ya mungkin kalau buat jagain lilin malam jumat kliwon mungkin yaa... #eh ), mending uangnya buat beli buku. Soalnya dari yang saya lihat, harga satu lilin ukuran besar itu bisa buat sampai beli 2 buku baru yang lumayan mahal lho. Nah, coba kalau duit segitu buat beli di diskonan. Wuihhh.... bisa dapet 30 buku mungkin ya...
Kedua, karena saya merasa tidak membutuhkan lilin kecuali malam jumat kliwon . So, thank you, but no thanks. Cute, I know, but still no thanks.
Nah, kalau dari beberapa teman yang memang suka koleksi lilin  nih, mereka beli karena: cute, bagus buat difoto di bookstagram, dan suka wanginya.
Nah, kalau saya, boro-boro bakal suka wanginya, parfum aja masih pake switzal baby atau minyak aroma rempah, hahahaa.... serius, soalnya gampang pusing nyium aroma yang nggak-nggak.
Eh tapi kalau kalian memang suka lilin, silahkan lhooo... saya nggak akan nge-judge. Cuma curhatan abal-abal di sini...no hard feelings ya gaes :)

All in all, segini dulu ya gaes.
sebenarnya masih banyak curhatan saya tentang hal ini sih.... tapi disambung lain kali ya... mungkin di Part 2 postingan yang akan datang.

Jika kalian punya hal unik tentang booklovers yang pengen dicurhatkan, silahkan lhooo... boleh curhat di kolom komentar. I would love to know your version of things booklovers do.

See you in the next post, gaes. Byeeee...

^_^

Sabtu, 14 Mei 2016

Reading Slump: Kenapa dan Cara Menghadapinya [a bookish talk]

Halloooo.... lagi teman-teman semuanya.... *kedip-kedip centil*
Kita ketemu lagi nih di curhatan nggak penting obrolan saya tentang buku. Kali ini saya akan membahas sesuatu yang dianggap "mimpi buruk" bagi para pembaca buku yang biasa disebut "reading slump" atau "reader's block".


Apa itu reading slump?

Pernah nggak sih kalian tiba-tiba saja tidak ingin membaca buku sama sekali? Bukannya memang tidak mau membaca buku, tapi jika mencoba membaca suatu buku, entah sebagus apapun buku itu, akan jadi buku paling membosankan di dunia. Dan ketika mencoba membaca buku lainnya, justru sama saja membosankannya. Kalau sudah begitu, paling-paling baru satu halaman, biasanya saya sudah ngantuk atau sama sekali nggak paham apa yang barusan saya baca. Menyebalkan bukan? Biasanya setelah itu saya tiba-tiba merasa sedih karena ingin membaca tapi tidak mood membaca, hahahaa....aneh memang. Dan jujur saja, saya termasuk orang yang sering sekali mengalami keadaan reading slump ini, jadi bisa dibilang saya ini seorang moody reader: membaca jika mood saja, dan genre yang dibaca pun juga tergantung mood, heheheee...

Kenapa sih bisa terjadi reading slump?

Menurut saya, pemicu reading slump bagi setiap orang berbeda-beda. Kembali lagi karena sifat dan karakteristik setiap orang yang berbeda, juga kebiasaan membaca dan genre kesukaan yang berbeda. Wajar saja jika penyebabnyapun tidak bisa digeneralisasikan.

Nah, bagi saya sendiri, reading slump yang terjadi pada saya bisa karena berbagai hal, misalnya:
  • Susah move on. Ini biasa terjadi saat saya baru selesai membaca buku yang menurut saya bguuussssss bangeeeeetttt. Saking bagusnya itu buku, kesan yang ditinggalkan di pikiran saya sangatlah mendalam. Biasnya saya sampai terkagum-kagum dan memujinya setinggi langit. Lalu cerita dari buku itu selalu berputar-putar di kepala saya bagaikan siaran ulang, bisa juga sampai terbawa mimpi. Nah, ini biasanya membuat saya enggan membaca buku lainnya karena saya masih kepikiran dengan buku yang terakhir saya baca.
  • Beberapa buku terakhir yang dibaca tidak ada yang berkesan. Membaca banyak buku, tapi tidak ada yang bagus itu nyebeliiiin banget, bikin stress dan bikin kapok. Sampai rasanya skeptis untuk mencoba memaca buku baru, dan entah mengapa, ini justru menjebak saya masuk ke lingkaran setan reading slump.
  • Banyak pikiran. Keadaan stress, temasuk memikirkan banyaknya hutang yang harus dilunasi (*uhuk* bukan curhat *uhuk*) biasanya juga membuat kegiatn membaca yang biasanya menyenangkan menjadi superrr duperrrr membosankan.
  • Sedang fokus untuk melakukan marathon serial TV. Saya sukaaaaa sekali nonton serial TV, terutama serial barat tentang superhero, detektif, thriller, atau kadang juga nonton k-drama dan dorama kalau habis dapet stok film dari teman *lirik mbak Cindy*. Sayangnya hobi saya yang satu ini justru mengurangi jam membaca saya secara drastis, hahahaaaa...
  • Chat di grup WA lebih seru dari bacaan yang saya baca. Nah, penyebab kali ini lumayan ironis sebenarnya. Kenapa? Soalnya grup WA paling aktif di smartphone saya justru grup yang isinya reader dan book-blogger, tapi entah kenapa kalau obrolannya lagi seru nih...misalnya WA BBI Joglosemar lagi ngobrolin KisMis, dan itu lebih menarik dari buku yang saya baca, wah lha iniii...celaka tiga-belas iniii....bacaan saya biasanya langsung tercecer, hehehee...
 Bagaimana cara memerangi reading slump?

Menderita reading slump bukan berarti the end of the world, apalagi menyerah pada si reading slump yang nakal ini. Meskipun mungkin cara-cara yang saya pakai tidak bisa diterapkan bagi semua orang, tapi mungkin bisa memberi ide untuk mengatasi reding slump kalian :)
Yuk langsung saja simak...
  1. Jalan-jalan ke toko buku. Ini sebenarnya alibi untuk melihat buku-buku baru dan beli buku baru sih, hahahaaa.... Tapi jalan-jalan ke toko buku terbukti lumayan ampuh buat mengatasi reading slump saya, karena pada saat jalan-jalan itu, saya melihat pemandangan yang indah, sexy dan mempesona: deretan buku berbagai warna dan ukuran tertata dengan cantiknya di jejeran rak-rak yang seolah tak ada habisnya *sigh*
  2. Blogwalking. Cara ini ampuh juga karena dengan melihat tulisan teman-teman tentang buku, dan membaca antusiasme mereka saat membaca buku tertentu, biasanya bisa membuat saya ikut tertarik membaca buku tertentu.
  3. Menata ulang rak buku. Nah, ini cara yang agak melelahkan karena biasanya pasti selalu diiringi dengan bersih-bersih debu di rak, heheeee.... Tapi dngan cara mengambil buku-buku dari rak, mengusapnya dengan tangan, dan menatanya kembali, bisa membuat rasa ingin membaca timbul lagi lhooo....
  4. Nonton chanel para booktuber. Antusiasme para booktuber saat membicarakan buku bisa menjadi pancingan yang pas dan membat saya semangat membaca lagi.
  5. Coba baca buku dengan genre yang tidak biasa dibaca. Hal ini tujuannya untuk mencari sensasi dan situasi yang baru. Kalau tidak, cobalah memilih genre yang "ringan" bagi kalian, yang saat membaca kalian tidak membutuhkan konsentrasi, serasa makan snack begitu.... Biasanya saya melarikan diri ke komik kalau sedang tidak mood membaca buku apapun. 
  6. Membaca kembali buku-buku all-time-favorite. Biasanya membaca kembali buku favorit juga memicu kenangan indah saat memaca buku itu dan mengingatkan kembali kenapa buku tersebut mejadi favorit saya, juga mengingatkan kembali kenapa saya suka membaca.
  7. Nah, jika cara-cara di atas masih belum berhasil juga, saya biasanya menunggu aja dengan santai sampai reading slump itu pergi sendiri dari tubuh saya, hahahaaa.... Biasanya saya kalau sudah begini nih, saya puas-puasin nonton serial TV marathon yang panjang sampai sepuluh season...nah, biasanya baru dua season saya sudah bosan dan cari bacaan baru sih, hehehee... works everytime.
Sekian ocehan saya entang reading slump. Semoga bermanfaat, dan jika kalian punya cara-cara unik lainnya untuk mengatasi reading slump, please share on the comment below :) Senang sekali jika ada banyak masukan untuk mengatasi rading slump :)

See you in the next post ^_^

Sabtu, 19 Maret 2016

Yuk Membaca Buku Berbahasa Inggris [a bookish talk]

Hai teman-temaaan..... Kali ini saya mencoba bikin postingan non-review yang masih berbau buku. Jika teman-teman suka membaca buku juga, pasti donk ingin sekali-kali cuap-cuap, curhat, dan ngobrol nggak jelas tentang segala hal yang ada hubungannya dengan buku? Nah, berhubung saya juga sepertinya membutuhkan media curhat untuk ngobrolin segala hal seputar buku, terciptalah postingan BOOKISH TALK ini. Semoga bermanfaat :)

Yuk Membaca Buku Berbahasa Inggris

Membaca buku-buku berbahasa Inggris memang masih menjadi kendala bagi sebagian orang Indonesia. Tapi hal itu sebenarnya wajar kok, kenapa? Karena bahasa Inggris di negeri kita tercinta ini masih berposisi sebagai "foreign language" bukan "second language". Hal ini menyebabkan exposure terhadap bahasa Inggris masih sangat sedikit, menyebabkan bahasa Inggris menjadi terasa lebih "asing" dari seharusnya. Tentu hal ini menjadi kendala jika kita ingin menikmati buku berbahasa Inggris, bukan?

Bagaimana bisa menikmati, membaca saja aku susah.... *eh*

Lalu, bagaimana solusinya? Secara teori sebenarnya mudah: kurangnya exposure terhadap bahasa menyebabkan bahasa itu terasa asing. Agar tidak terasa asing, tentu kita harus berusaha menambah exposure kita terhadap bahasa tersebut, bukan? Seperti kata pepatah "practice makes perfect" dan "bisa karena biasa". Dua peribahasa tersebut sangat tepat menggambarkan situasi ini.

Choose A Book Now!

Jika ingin pandai berenang, tentu harus menceburkan diri ke kolam dan berani basah dahulu, bukan? Sama halnya dengan membaca buku berbahasa Inggris; harus berani untuk langsung memilih buku, memegangnya dan mengelus-elusnya dengan sayang dan jangan takut untuk pusing karena merasa tidak bisa membacanya. Pasti bisa! Meskipun butuh waktu, tapi asal yakin bisa, saya percaya tidak ada yang tidak mungkin kok.

Oh ya, sebagai permulaan, jangan malu untuk memilih buku yang tipis dan dengan bahasa yang mudah dipahami. Dalam hal ini, buku anak-anak lebih pas untuk belajar, karena biasanya buku atau novel anak memang sengaja ditulis dengan bahasa yang ringan agar mudah dipahami segmen pembacanya. Jangan takut dianggap kekanak-kanakan, karena, jujur saja, sampai sekarangpun saya masih sangat menikmati novel anak-anak. Salah satu yang menjadi favorit saya adalah Tales of Fourth Grade Nothing-nya Judy Blume.

Selembar Sehari

Bagi yang pertama kali mencoba membaca novel atau buku berbahasa Inggris, memang akan terlihat mengerikan saat menatap ratusan halaman dalam bahasa yang rasanya sulit dipahami. Pertanyaan seperti "Kapan selesainya?" dan "Berapa lama saya akan membaca ini?" pastilah menjadi ancaman yang menyurutkan niat. Well, saran saya cuma satu: jangan bertanya mengenai kapan kau akan menyelesaikan buku itu, tapi nikmati prosesnya. "Enjoy the ride". Dalam belajar bahasa, yang paling penting adalah prosesnya, karena bahasa adalah sesuatu yang tidak mungkin instant. Dengan membaca hanya selembar sehari, mungkin sebelum tidur, toh pada akhirnya akan selesai juga. Lagipula, membaca satu lembar tidak makan waktu banyak lho.... hanya beberapa menit saja :)

Kamus Itu Penting, Tapi Jangan Ketergantungan

Ketika pertama kali membaca buku berbahasa Inggris, kita semua tentu membutuhkan kamus yang bagus. Bahkan, bukan hanya bagi pemula saja, kamus itu wajib hukumnya bagi siapapun yang sedang belajar bahasa, meskipun dia sedang belajar di tingkat PhD sekalipun. Jadi jangan takut terlihat membawa atau membuka kamus lho... Membuka kamus tidak membuatmu terlihat bodoh kok, justru terlihat keren, elegan dan sangat berkelas, heheheee....

Tapiiii......kesalahan fatal yang sering terjadi adalah "terlalu sering membuka kamus". Serius, lho. Jika dalam satu kalimat yang hanya terdiri dari 10 kata dan kau membuka kamus untuk 8 kata diantaranya...well, itu sama saja kau tidak menikmati isi dari buku yang kaubaca.

Lalu bagaimana caranya jika tidak tahu arti kata tertentu? Tebaklah dari konteks kalimatnya. Jika dan hanya jika kau tidak bisa menebak dari konteks kalimatnya...nah, barulah kamus maju perang di sini. Intinya adalah, jadikan kamus sebagai "pilihan terakhir", jangan sedikit-sedikit buka kamus, karena itu tidak efektif. Lagipula jika sebelumnya saya membuka kamus untuk kata "A", saya biasanya malah lupa artinya beberapa menit kemudian, jadi membuka kamus terlalu sering malah justru bikin stress, hahahaa ;p

Hal ini saya lakukan saat saya baru belajar membaca buku-buku berbahasa Inggris, dan memang bagi saya sangat efektif. Tapi teknik ini relatif lho, karena setiap orang berbeda cara belajarnya.

Pasang Aplikasi E-Book Reader di Smartphone

Pada era smartphone seperti sekarang ini, sangat mudah untuk membaca buku berbahasa Inggris. Tinggal pasang, download bukunya, dan bisa baca dimanapun! Yang lebih asyik lagi, biasanya aplikasi-aplikasi tersebut sudah dilengkapi built-in dictionary lhooo... jadi tinggal klik langsung tahu artinya. Saya sendiri paling pas menggunakan aplikasi Moon+Reader, namun beberapa teman saya lebih memilih Aldiko atau Zo:Reader . Apapun tak masalah, asal bisa membuat kegiatan membaca menjadi mudah; menunggu antrian di bank? Membaca buku dulu.... Menunggu bus di halte? Membaca buku dulu.... Ke toilet? Er...eh, itu.....

Saya dan Novel Berbahasa Inggris

Nah, yang terakhir saya mau buka-bukaan nih.... Kapan sih saya mulai suka membaca buku berbahasa Inggris? Belum lama kok....hahaaaa....

Oke, begini ceritanya ya....

Saya berasal dari keluarga sederhana yang orangtua saya bahkan sangat tidak bisa berbahasa Inggris. Saya tahu kok, banyak anak sekarang yang dilatih oleh orangtua meraka berbahasa Inggris sejak usia dini. Jika kalian termasuk yang seperti itu, berbahagialah, kalian sangat beruntung. Namun jika tidak? Tak apa kok....saya yang orang kampung ini juga tidak. Boro-boro bahasa Inggris, saya masih ingat waktu SD berbicara dalam bahasa Indonesia saja saya justru dianggap aneh dan sok karena semua teman saya berbicara dalam bahasa Jawa Ngapak yang sangat medhok. Apalagi di masa itu (duh, jadi merasa tua) di SD negeri (apalagi SD negeri di desa-desa) belum ada pelajaran bahasa Inggris di sekolah. Jadi, kapan saya mulai belajar bahasa Inggris? Tentu saat kelas 1 SMP di sekolah, dengan jam pelajaran yang hanya beberapa jam seminggu. Saat itu saya sudah senang sekali membaca novel, meski kebanyakan terjemahan.

Pada saat kelas 1 SMA, ketika berjalan-jalan di toko buku yang letaknya tak jauh dari sekolah, saya tidak sengaja menemukan buku Jane Eyre karangan Charlotte Bronte dan Treasure Island oleh R.L. Stevenson dalam bahasa Inggris, namun simplified version. Saat itu saya sangat penasaran, dan amazed karena bisa menemukan buku klasik, meski simplified, di sebuah toko buku kecil di kota kecil...duh, itu wow banget rasanya!! Tentu saya beli donk..... Sampai rumah langsung saya baca.....dan nggak mudeng apa isinya!!! hahahaaa....

Saya ingat sekali saya berkali-kali membuka kamus untuk setiap kata sulit yang saya temukan. Dan saat itu belum jaman Handphone, smartphone, dan sebagainya. Bayangkan betapa repotnya membuka kamus halaman demi halaman, mengurutkan kata demi kata....sampai leher saya sakit karena menunduk terus. Dan setelah satu bab selesai dibaca, dengan ratusan kali membuka kamus tentu saja, betapa kagetnya saya bahwa saya tidak mengerti konteks dari kalimat-kalimat yang saya baca. Tentu saya jengkel donk. Saya ingat sekali saya sempat ngambek dan tak mau membuka dua buku itu sampai beberapa lama. Dan kali kedua saya mencoba membacanya, saya sengaja tidak membuka kamus. Ajaib! Justru saya lebih mengerti isinya dengan membaca konteksnya daripada membuka kamus berkali-kali. Novel bahasa Inggris tebal yang pertama kali saya baca adalah Harry Potter nomor 5, 6, dan 7, yang karena tidak sabar menanti versi terjemahannya, sudah saya baca duluan dalam versi bahasa Inggrisnya.

Kemudian saya kuliah di jurusan bahasa Inggris. Dari situ para dosen mulai pelan-pelan menugaskan sebuah cerpen atau novel berbahasa Inggris untuk dibaca, kemudian didiskusikan di kelas. Namun saya masih merasa terbebani, karena novel-novel tersebut tidak ada yang bergenre fantasy, genre favorit saya, hahahaaaa...... Tapi sejak saat itu saya mulai giat mencari ebook-ebook berbahasa Inggris untuk dibaca, dan....sampai sekarang menjadi penimbun ebook sejati :D *lirik tumpukan ebook yang tersebar di semua gadget*

Sekian cuap-cuap saya, semoga bermanfaat bagi teman-teman yang ingin mulai membaca buku-buku berbahasa Inggris :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...