- Mengangkat tema dan setting tahun 90-an yang pasti, pasti PASTI membuat banyak orang tertarik dan penasaran. Pangsa pasar buku ini jelaslah generasi 90-an yang sedang ingin bernostalgia. Harus diakui mencantumkan angka tahun di judul merupakan teknik pemasaran dan promosi yang luar biasa berhasil.
- Bahasanya yang ringan dan menghibur serta tidak menggurui (kecuali beberapa bagian saat si Milea berusaha menerangkan perasaannya sampai sedetail-detailnya dengan segala perumpamaan yang tidak perlu, nah ini baru menggurui...sebel banget kalau sudah nemu bagian yang beginian, untungnya nggak terlalu banyak) di sebagian besar isi buku. Bahasa yang digunakan juga sangat santai. Malah terlalu santai. Anehnya hal ini menjadi sisi unik tersendiri bagi buku ini.
- Karakter Dilan yang membuat hampir semua cewek ngiler dan membuat hampir semua cowok ingin menirunya.
Sabtu, 07 Mei 2016
Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq [review]
Sabtu, 05 September 2015
Cerita Buat Para Kekasih by Agus Noor [review]
Paperback, 276 halaman
Tahun terbit: November 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN 9786020308982
Ketika itu sore menjelang malam, di dalam mobil yang isinya cewek semua dalam perjalanan Jogja-Semarang, setelah kopdar BBI Joglosemar 3 kota di Jogja. Saya ingat betul mbak Cindy dan mbak Lila (teman-teman sesama blogger buku) sedang membahas sebuah buku kumpulan cerpen sambil tertawa terbahak-bahak. Saya pun mendengarkan dengan penuh minat. Ternyata mereka tertawa geli karena beberapa penggambaran dalam buku tersebut menurut mereka terlalu absurd, vulgar, dan menjijikkan. Bahkan mbak Cindy mengaku sudah beberapa minggu tidak berani makan muluk pakai tangan langsung sejak membaca salah satu cerita dalam buku tersebut saking jijiknya. Wow, pengaruhnya sedahsyat itu? Saya tentu saja agak skeptis, dan jadilah kedua kakak-kakak blogger itu menantang saya untuk membaca buku itu sebagai "tantangan menjijikkan" untuk mengetahui apakah saya ini termasuk orang yang gampang jijik gara-gara membaca atau tidak.
Challenge accepted.
Tidak butuh waktu lama sebenarnya untuk membaca buku ini, tapi karena saya memang bukan termasuk penggemar cerpen, dan tidak terbiasa membaca langsung banyak cerita pada saat yang bersamaan, jadi setelah beberapa judul , saya berhenti. Lanjut lagi beberapa jam kemudian. Begitu seterusnya.
Judul buku ini memang sangat sweet. Jadi saya pikir pastilah banyak orang akan tertipu, mengira isinya adalah kisah-kisah cinta mengharu-biru, dan ternyata menemukan kisah-kisah yang...ehm...wow!
Cerpen-cerpennya tidak panjang, bahkan cenderung singkat dan padat seperti yang saya suka. Saya sering bosan membaca cerpen yang agak terlalu panjang, soalnya, hehee....padahal kalau baca novel justru nggak masalah. Oke, lanjut. Cerita-ceritanya sangat original dan unik, dan digambarkan dengan lugas dan gamblang, juga tidak tanggung-tanggung, yang tentu saja menjadi nilai plus buku ini. Bahasanya pun enak dan mengalir lancar. Bagus lah pokoknya. Kritikan-kritikan terhadap masyarakat, bahkan tokoh penting dalam pemerintahan pun tak luput dari sini. Salah satu yang membuat saya terpingkal-pingkal adalah yang mengenai ibu negara yang sedang memotret kupu-kupu. That was wicked.
Beberapa hal yang tidak sreg bagi saya adalah covernya. Saya bukan penggemar cover buku dengan gambar terbalik, jujur saja, karena membuat saya pusing saat melihatnya, hehehee... Lalu di dalam buku, bertebaran foto hitam putih cewek-cewek yang SEMUANYA langsing, berambut panjang, memakai pakaian seksi, dan memakai bulu mata palsu super pangjang dan super lentik yang jika dikedipkan pastilah akan menimbulkan angin ribut di berbagai belahan bumi. Euuuurrgh....ini menurut saya nggak banget dech. Okelah, bagi sebagian orang hal itu dianggap artistik, tapi kenapa foto-foto begitu nggak masuk majalah di bagian iklan bulu mata saja yach? Pembaca kan membeli buku ini buat membaca cerpen, bukan melihat foto. Oh iya, satu lagi, sepertinya banyak cerita yang fokusnya ke salah satu anggota tubuh, misal mata, tangan, mulut...yah gitu dech. Mungkin ini maksudnya biar tambah wow jijiknya ya, yang tentu saja berhasil. Bagi orang yang gampang jijik, mereka bakal girap-girap, tapi saya sih malah salut karena ceritanya jadi makin gamblang segamblang-gamblangnya.
Jadi jika ada orang yang bertanya apakah buku ini bagus menurut saya? Tentu saya akan objektif dan menjawab bagus sekali. Tapi jika pertanyaannya apakah saya suka buku ini? Jawabannya tidak. Buku seperti ini bukan selera saya dan tidak akan saya baca dua kali, kenapa? Karena pertanyaan terakhir sangat subjektif. Jujur ya, ini baru pernah terjadi pada saya, mengakui sebuah buku yang tidak saya sukai sebagai sangat bagus. So, I learned that people can be objective if they want to.
Oh iya, fyi, setelah baca buku ini, saya tetep aja makan muluk tanpa masalah, hahaaaa....sorry to disappoint, guys.
Minggu, 29 September 2013
Rencana Besar by Tsugaeda
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Agustus 2013
Genre: Thriller
ISBN: 978-602-7888-65-4
Ini buku yang mendarat di tangan saya tanpa sengaja. Kok bisa? Jadi ceritanya nih, Kak Cindy (yang dapet buku ini sebagai buntelan langsung dari penulisnya) meminjamkan buku ini ke Kak Lila, yang karena sering banget ketemu saya, maka buku ini dititipkan pada saya untuk diberikan ke kak Lila. Nah, proses titip-menitip yang njlimet ini tentu saja melalui proses SBI (Sensor By Ika)yang artinya saya baca dulu sendiri, hehehee.... ini juga dari koar-koar kak Cindy yang bilang bahwa buku ini "nggak kusangka bisa sebagus ini" (demikian kutipan langsung dari kak Cindy di Gramed Pandanaran, Semarang pada Sabtu siang itu #tsahhh XD
Buku ini cukup mengesankan, mengingat ini buku tentang intrik perbankan pertama yang saya baca dan ditulis orang indonesia pula! Untuk sebuah buku yang bukan kategori genre favorit saya, buku ini bisa menemani malam minggu saya dengan sukses.
Makarim Ghanin yang bukan seorang detektif tiba-tiba mendapat tawaran pekerjaan yang tidak biasa dari teman masa kuliahnya yang saat ini menjabat sebagai Wakil Direktur di Universal Bank of Indonesia (UBI). Agung, si wakil direktur, memintanya menyelidiki kasus menghilangnya sejumlah besar uang, yang mengacu pada tiga tersangka utama: Rifad Akbar si Patriot yang militan dan pemimpin Serikat Pekerja, Reza Ramaditya sang jenius muda yang entah karena alasan apa sedang mengalami demotivasi, dan Amanda Suseno si perayu yang cantik dan seorang pegawai teladan yang sangat dipercaya.
Untuk menyelidiki dan terjun langsung dalam kasus ini, Makarim memutuskan mengambil "cuti" dari kantor yang didirikannya bersama dua koleganya, dan terbang ke Surabaya, tempat ketiga tersangka menjalankan aktifitas kantornya. Ketiganya memiliki posisi yang berbeda di UBI, maka Makarim pun memakai cara-cara yang berbeda untuk bisa bertemu langsung, bercakap-cakap, dan mengenal para tersangka tanpa dicurigai. Dengan kedok sebagai calon nasabah, dia mendekati Reza dan Amanda secara terpisah, dan saat menemui Rifad, Makarim berpura-pura sedang melakukan pengecekan sistem yang pernah dibuatnya untuk UBI di masa lalu. Namun semakin menyelami kasus tersebut semakin Makarim menyadari bahwa kasus ini tidak seperti kelihatannya, hingga muncul sebuah nama misterius: Ayumi Pratiwi.
Siapa Ayumi Pratiwi sebenarnya hingga nama orang yang sudah meninggal tersebut seolah-olah menjadi dalang dari sebuah intrik terselubung ini? Kejadian semakin memanas ketika Reza akhirnya....... oke cukup sekian saja, saya takut malah nantinya menyebar spoiler, heheheee...
Untuk buku fiksi karya pertama, mas Tsugaeda cukup sukses menggarapnya. Apalagi genre seperti ini termasuk langka diangkat oleh para penulis lokal. Ketiga tokoh sentral yang disorot memang memiliki karakter yang sangat khas, namun karakter Makarim sendiri menurut saya justru biasa-biasa saja, seperti orang yang berpapasan dengan kita di pinggir jalan dan kita tak akan melirik dua kali. Padahal seharusnya tokoh ini bisa digali lagi agar lebih 'berpendar' mengingat sebagian besar adegan di buku ini, meskipun diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, sangat menitikberatkan pada apa yang dilihat dan dirasakan oleh tokoh Makarim. Lalu tokoh antagonis di sini (yang tidak akan saya sebutkan namanya karena kemungkinan spoiler) juga terkesan seperti tokoh penjahat yang sangat klise.
Ada satu hal lagi yang agak sedikit mengganggu adalah disebut-sebutnya pada awal cerita tentang salah satu kolega Makarim yang mendapatkan tawaran dari BNN dan Pemerintah untuk menyelidiki kasus sindikat Narkotika. Ini masih di bagian awal novel, namun saya sudah menduga, 'nah ini pasti jadi 'gong'-nya nih', dan ternyata memang seperti dugaan saya! Agak kecewa juga karena akhir kisahnya agak terlalu mudah saya tebak, sebenarnya. Ini juga sebaiknya jadi pertimbangan saat merilis novel selanjutnya, bahwa clue-clue yang diberikan pada pembaca sebaiknya jangan terlalu kentara.
Terlepas dari semuanya, rating 4 dari 5 bintang rasanya pantas diterima buku ini. Semoga karya yang selanjutnya bisa membuat saya begadang samalaman juga :))
Jumat, 30 November 2012
Review: IBUK, (by Iwan Setyawan)
Jumat, 15 Juni 2012
The Naked Traveler 2 (by Trinity)
Selasa, 29 Mei 2012
The Naked Traveler (Trinity)
Sebenarnya saya tidak sengaja dipinjami buku ini oleh salah seorang teman kantor saya, yang ternyata dia pinjam juga dari teman kantor saya yg lain, yang yang juga teman saya yang tidak tahunya pinjam juga dari teman lain dari Goodreads semarang yang juga teman saya. Halah...sampai bingung sendiri saya nulisnya. Tapi tidak usah saya sebutkan namanya, yang bersangkutan pasti tahu kan? Heheee...
Buku tulisan Trinity ini sangat unik. Reaksi yang muncul saat saya membaca buku ini kebanyakan hanya "Oooh, ternyata begitu yaa..", soalnya banyak sekali informasi-informasi yang baru saya tahu (maklum, saya wong ndeso yang belum pernah ke luar negeri selain ke Singapore yg cuma sekali).
Buku setebal 282 halaman ini menceritakan pengalaman si penulis saat Travelling sebagai backpacker. Tulisannya pun lucu dan informatif. Dibagi menjadi 7 bagian (Airport, Alat Transportasi, life Sucks!, Tips, Sok Beranalisa, Adrenaline, Ups!) dengan beberapa cerita pendek ϑî dalamnya, membuat buku ini asik dinikmati sebagai bacaan ringan sebelum tidur. Pendapat-pendapat yang dilontarkan penulis dalam buku ini pun menurut saya sangat jujur dan lucu, seperti saat dia menggambarkan bahwa cowok-cowok terganteng ϑî dunia adalah cowok Italy, dan berbagai hal kecil lainnya yang jika diceritakan bisa menjadi topik yang menghibur. Saya bahkan baru tahu, lagi-lagi gara-gara membaca buku ini, bahwa ãϑα total 11 negara ϑî dunia yang pasti bisa didatangi tanpa visa oleh orang Indonesia. Namun kita juga harus hati-hati dengan beberapa negara yang mencantumkan "tanpa visa" untuk dikunjungi, karena bisa jadi itu adalah negara jajahan yang visanya harus diurus ϑî kedutaaan negara yang menjajah. Hadehh..ribet pokoknya. But really informative.
Salut juga buat jiwa petualang Trinity yang luar biasa dan sepertinya gak ãϑα matinya itu.
^_^
-Love, Ika-




