Tampilkan postingan dengan label Karya Penulis Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Penulis Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Mei 2016

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq [review]

Paperback, 332 halaman
Title: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990
Author: Pidi Baiq
First published: 2014
Publisher: Pastel Books (Mizan Grup)
Language: Indonesian
My rating: 3/5

Tanggal 10 April 2016 kemarin saya dan beberapa teman dari Goodreads Semarang mengadakan Kopdar di Pameran Buku Murah Semarang yang terletak di Gedung Wanita. Bagi yang belum tahu, Semarang Book Fair ini diadakan di Gedung Wanita selama kira-kira seminggu, dua kali setahun, setiap bulan April dan Oktober. Jadi buat yang pengen mborong buku di acara ini dari luar kota, siap-siaplah datang pada bulan-bulan itu. Eniwei, di acara kopdar itu saya mendapat pinjaman buku ini, yang ternyata adalah milik Dina (anggota GRI Semarang dan BBI juga). Usut punya usut, buku ini sudah muter ke hampir semua anak Semarang, dipinjam sana-sini, heheheee... padahal si Dina sendiri sudah pindah dari Semarang ;p

Saya tertarik baca buku ini karena ada angka tahun 1990. Tau sendiri kan bahwa era 90-an dinobatkan sebagai era terfavorit sepanjang sejarah bagi yang mengalami masa kecil atau masa remaja di era ini. Nah, kebetulan di postingan Valentine kemarin, mas Tezar juga merekomendasikan buku ini sebagai romance favorit, jadi bolehlah...coba baca...

Premis yang disajikan buku ini lumayan standar sebenarnya: kisah cewek dan cowok SMA dari mulai kenalan sampai jadian. Sudah. Ya sudah itu saja sebenarnya inti buku ini sih. Serius, cuma itu. Lalu apa sih yang unik sampai sepertinya banyak sekali yang memuji-muji buku ini (setelah melihat bintang bertaburan di Goodreads). Menurut saya pribadi, kelebihan buku ini ada di 3 hal:
  1. Mengangkat tema dan setting tahun 90-an yang pasti, pasti PASTI membuat banyak orang tertarik dan penasaran. Pangsa pasar buku ini jelaslah generasi 90-an yang sedang ingin bernostalgia. Harus diakui mencantumkan angka tahun di judul merupakan teknik pemasaran dan promosi yang luar biasa berhasil.
  2. Bahasanya yang ringan dan menghibur serta tidak menggurui (kecuali beberapa bagian saat si Milea berusaha menerangkan perasaannya sampai sedetail-detailnya dengan segala perumpamaan yang tidak perlu, nah ini baru menggurui...sebel banget kalau sudah nemu bagian yang beginian, untungnya nggak terlalu banyak) di sebagian besar isi buku. Bahasa yang digunakan juga sangat santai. Malah terlalu santai. Anehnya hal ini menjadi sisi unik tersendiri bagi buku ini.
  3. Karakter Dilan yang membuat hampir semua cewek ngiler dan membuat hampir semua cowok ingin menirunya.
Seharusnya buku ini diberi judul "cara-cara pantang gagal untuk mendapatkan cewek cantik", heheheheeee...... Serius ya, baca buku ini rasanya seperti membaca panduan bagi remaja cowok untuk menggaet hati remaja cewek. Bukan berarti itu hal yang jelek sih, bahkan menurut saya bagus. Bagus banget malah bisa memberikan sesuatu yang unik di pasaran novel lokal dengan tema romance tapi tidak lazim.

Buku ini seolah full menceritakan tentang seorang sosok cowok yang tertera dalam judulnya: DILAN.  Dia digambarkan suka seenaknya sendiri, selengehan, lucu, tampan, tegas namun baik hati, memiliki insting yang tajam, anggota genk motor (ini sepertinya disengaja untuk menggambarkan dan menonjolkan ke-cool-an tokoh Dilan ini) namun selalu ranking 1 di kelasnya, dan yang paling utama adalah dia selalu bisa membuat seorang wanita merasa istimewa. Nahhh, siapa coba yang nggak mau merasa diistimewakan?

Pertanyaannya adalah, apakah saya suka dengan tokoh Dilan ini? Jawabannya tentu iya, saya suka dengan tokoh Dilan ini.

Tapi....

Saya juga benci dengan tokoh Dilan ini. Lho kenapa? Karena tokoh ini terlalu dibuat too good to be true sampai rasanya seperti tidak nyata. Menurut saya, tokoh paling sempurna dalam novel adalah ketika dia terasa nyata, baik kelebihan dan kekurangannya. Ketika suatu tokoh terlalu datar, atau terlalu jahat, atau terlalu sempurna....nah, inilah ketika ilusi di sebuah novel justru hancur berantakan dan membuat pembaca mulai mengernyitkan dahi (meski sebagian pembaca juga ada yang sangat menyukai hal ini, lho. Kan setiap orang punya pendapat dan persepsi berbeda).

Nah, kekurangan buku ini sebenarnya cuma satu lho, yaitu tokoh-tokohnya terasa terlalu fiktif, terlalu tidak nyata atau terlalu rata. Misalnya, Dilan yang digambarkan terlalu sempurna, Milea yang digambarkan tidak istimewa, tidak ada kelebihannya kecuali cuma cantik saja, Kang Adi yang digambarkan terlalu klise sebagai saingan cinta Dilan, bahkan tokoh Bunda yang menurut saya agak aneh karena...well, let's face it, itu tahun 1990 lho... sedangkan saya yang mengalami masa remaja tahun 2000-an saja masih banyak menemui teman-teman yang pacaran backstreet gara-gara orangtua tidak mengijinkan pacaran dan sebagainya lah. Nah ini...si tokoh Bunda, juga Ibunya Milea, juga bapak-bapak mereka yang tentara lhoo, tentaraaa.... kok kesannya laid back banget masalah anaknya pacaran gitu. Padahal sejauh pengamatan saya, teman-teman yang memiliki ayah dari latar belakang militer benyak yang mengaku ayah mereka sangat tegas, apalagi ini masalah pacaran-pacaran jaman SMA, di tahun 90 pulaaa... (kalau jaman sekarang sih saya tidak heran, memang lebih banyak orangtua, dari segala kalangan lebih bersikap laid back dan terbuka pada anak-anak mereka). Ya, memang saya tahu bahwa tidak semuanya seperti itu, dan selalu ada pengecualian, tapi ada kan yang namanya balance of probability? Dan kemungkinan akan bertemunya orang-orang dengan karakteristik seperti ini dan menjalin satu kesatuan kisah....hmmm....terlalu kebetulan. Tapi, ah, nggak papa kok, namanya juga novel. Dalam sebuah cerita, berbagai macam kebetulan bisa dimaafkan kok for the sake of the plot, wkwkwk...

Oh iya, ada satu hal yang saya salut dari penulis. Pidi Baiq ini cowok kan ya? Mas Pidi meskipun cowok tapi bisa membuat kisah dari POV seorang cewek remaja, itu bagus lhooo.... POV dari tokoh dengan gender berbeda dari penulis itu sulit, lebih sulit lagi jika karakternya adalah remaja yang...yah, tahu sendiri, terkadang seperti campuran bahan kimia yang tidak stabil, gampang meledak. Thumbs up bagian ini. Meski saran saja, mungkin lain kalikarakternya bisa diperkuat, tidak hanya ditonjolkan "cuma cantik" saja. Karena terus terang ketika menjabarkan karakteristik Milea, saya hanya bisa bilang dia digambarkan sebagai tokoh yang cantik. Sudah. Apakah dia pintar? Saya tidak tahu. Apakah dia egois? Saya juga tidak tahu. Intinya saya tidak tahu-menahu bagaimana menjabarkan tokoh ini dalam kata sifat. Di samping itu, karakter Dilan dibuat agar dia "kebanjiran" kata sifat untuk menggambarkan karakteristiknya, karena sepertinya dia serba bisa dan serba segalanya. Sungguh dua karakter utama yang sangat bertolak belakang deskripsinya dalam sebuah novel.

Dan bagian Dilan ternyata langganan majalah Tempo, seperti bapak-bapak itu...sumpah bikin ngakak, karena adek saya juga cowok yang dari remaja bacaannya majalah intisari....kayak bapak-bapak juga, hahahaaa.... Duh, semoga si adek nggak baca ini, wakakaka....

Eniwei, terlepas dari semua kelebihan dan kekurangan novel ini, saya sangat terhibur lho saat membacanya.... I read this in one sitting, the same day I got this book. Dan buku ini menyelamatkan saya dari reading slump yang sedang saya alami juga saat itu. Horeeeeee..... Sukses juga buat Mas Pidi karena berhasil menulis novel romance dengan rasa yang unik dan berani berbeda. Semoga karya kedepannya semakin bagus.

See you in the next post ^_^


Sabtu, 05 September 2015

Cerita Buat Para Kekasih by Agus Noor [review]

Paperback, 276 halaman
Tahun terbit: November 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN 9786020308982

Ketika itu sore menjelang malam, di dalam mobil yang isinya cewek semua dalam perjalanan Jogja-Semarang, setelah kopdar BBI Joglosemar 3 kota di Jogja. Saya ingat betul mbak Cindy dan mbak Lila (teman-teman sesama blogger buku) sedang membahas sebuah buku kumpulan cerpen sambil tertawa terbahak-bahak. Saya pun mendengarkan dengan penuh minat. Ternyata mereka tertawa geli karena beberapa penggambaran dalam buku tersebut menurut mereka terlalu absurd, vulgar, dan menjijikkan. Bahkan mbak Cindy mengaku sudah beberapa minggu tidak berani makan muluk pakai tangan langsung sejak membaca salah satu cerita dalam buku tersebut saking jijiknya. Wow, pengaruhnya sedahsyat itu? Saya tentu saja agak skeptis, dan jadilah kedua kakak-kakak blogger itu menantang saya untuk membaca buku itu sebagai "tantangan menjijikkan" untuk mengetahui apakah saya ini termasuk orang yang gampang jijik gara-gara membaca atau tidak.

Challenge accepted.

Tidak butuh waktu lama sebenarnya untuk membaca buku ini, tapi karena saya memang bukan termasuk penggemar cerpen, dan tidak terbiasa membaca langsung banyak cerita pada saat yang bersamaan, jadi setelah beberapa judul , saya berhenti. Lanjut lagi beberapa jam kemudian. Begitu seterusnya.

Judul buku ini memang sangat sweet. Jadi saya pikir pastilah banyak orang akan tertipu, mengira isinya adalah kisah-kisah cinta mengharu-biru, dan ternyata menemukan kisah-kisah yang...ehm...wow!

Cerpen-cerpennya tidak panjang, bahkan cenderung singkat dan padat seperti yang saya suka. Saya sering bosan membaca cerpen yang agak terlalu panjang, soalnya, hehee....padahal kalau baca novel justru nggak masalah. Oke, lanjut. Cerita-ceritanya sangat original dan unik, dan digambarkan dengan lugas dan gamblang, juga tidak tanggung-tanggung, yang tentu saja menjadi nilai plus buku ini. Bahasanya pun enak dan mengalir lancar. Bagus lah pokoknya. Kritikan-kritikan terhadap masyarakat, bahkan tokoh penting dalam pemerintahan pun tak luput dari sini. Salah satu yang membuat saya terpingkal-pingkal adalah yang mengenai ibu negara yang sedang memotret kupu-kupu. That was wicked.

Beberapa hal yang tidak sreg bagi saya adalah covernya. Saya bukan penggemar cover buku dengan gambar terbalik, jujur saja, karena membuat saya pusing saat melihatnya, hehehee... Lalu di dalam buku, bertebaran foto hitam putih cewek-cewek yang SEMUANYA langsing, berambut panjang, memakai pakaian seksi, dan memakai bulu mata palsu super pangjang dan super lentik yang jika dikedipkan pastilah akan menimbulkan angin ribut di berbagai belahan bumi. Euuuurrgh....ini menurut saya nggak banget dech. Okelah, bagi sebagian orang hal itu dianggap artistik, tapi kenapa foto-foto begitu nggak masuk majalah di bagian iklan bulu mata saja yach? Pembaca kan membeli buku ini buat membaca cerpen, bukan melihat foto. Oh iya, satu lagi, sepertinya banyak cerita yang fokusnya ke salah satu anggota tubuh, misal mata, tangan, mulut...yah gitu dech. Mungkin ini maksudnya biar tambah wow jijiknya ya, yang tentu saja berhasil. Bagi orang yang gampang jijik, mereka bakal girap-girap, tapi saya sih malah salut karena ceritanya jadi makin gamblang segamblang-gamblangnya.

Jadi jika ada orang yang bertanya apakah buku ini bagus menurut saya? Tentu saya akan objektif dan menjawab bagus sekali. Tapi jika pertanyaannya apakah saya suka buku ini? Jawabannya tidak. Buku seperti ini bukan selera saya dan tidak akan saya baca dua kali, kenapa? Karena pertanyaan terakhir sangat subjektif. Jujur ya, ini baru pernah terjadi pada saya, mengakui sebuah buku yang tidak saya sukai sebagai sangat bagus. So, I learned that people can be objective if they want to.

Oh iya, fyi, setelah baca buku ini, saya tetep aja makan muluk tanpa masalah, hahaaaa....sorry to disappoint, guys.

Minggu, 29 September 2013

Rencana Besar by Tsugaeda


Paperback, 372 halaman
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Agustus 2013
Genre: Thriller
ISBN: 978-602-7888-65-4








Ini buku yang mendarat di tangan saya tanpa sengaja. Kok bisa? Jadi ceritanya nih, Kak Cindy (yang dapet buku ini sebagai buntelan langsung dari penulisnya) meminjamkan buku ini ke Kak Lila, yang karena sering banget ketemu saya, maka buku ini dititipkan pada saya untuk diberikan ke kak Lila. Nah, proses titip-menitip yang njlimet ini tentu saja melalui proses SBI (Sensor By Ika)yang artinya saya baca dulu sendiri, hehehee.... ini juga dari koar-koar kak Cindy yang bilang bahwa buku ini "nggak kusangka bisa sebagus ini" (demikian kutipan langsung dari kak Cindy di Gramed Pandanaran, Semarang pada Sabtu siang itu #tsahhh XD

Buku ini cukup mengesankan, mengingat ini buku tentang intrik perbankan pertama yang saya baca dan ditulis orang indonesia pula! Untuk sebuah buku yang bukan kategori genre favorit saya, buku ini bisa menemani malam minggu saya dengan sukses.

Makarim Ghanin yang bukan seorang detektif tiba-tiba mendapat tawaran pekerjaan yang tidak biasa dari teman masa kuliahnya yang saat ini menjabat sebagai Wakil Direktur di Universal Bank of Indonesia (UBI). Agung, si wakil direktur, memintanya menyelidiki kasus menghilangnya sejumlah besar uang, yang mengacu pada tiga tersangka utama: Rifad Akbar si Patriot yang militan dan pemimpin Serikat Pekerja, Reza Ramaditya sang jenius muda yang entah karena alasan apa sedang mengalami demotivasi, dan Amanda Suseno si perayu yang cantik dan seorang pegawai teladan yang sangat dipercaya.

Untuk menyelidiki dan terjun langsung dalam kasus ini, Makarim memutuskan mengambil "cuti" dari kantor yang didirikannya bersama dua koleganya, dan terbang ke Surabaya, tempat ketiga tersangka menjalankan aktifitas kantornya. Ketiganya memiliki posisi yang berbeda di UBI, maka Makarim pun memakai cara-cara yang berbeda untuk bisa bertemu langsung, bercakap-cakap, dan mengenal para tersangka tanpa dicurigai. Dengan kedok sebagai calon nasabah, dia mendekati Reza dan Amanda secara terpisah, dan saat menemui Rifad, Makarim berpura-pura sedang melakukan pengecekan sistem yang pernah dibuatnya untuk UBI di masa lalu. Namun semakin menyelami kasus tersebut semakin Makarim menyadari bahwa kasus ini tidak seperti kelihatannya, hingga muncul sebuah nama misterius: Ayumi Pratiwi.

Siapa Ayumi Pratiwi sebenarnya hingga nama orang yang sudah meninggal tersebut seolah-olah menjadi dalang dari sebuah intrik terselubung ini? Kejadian semakin memanas ketika Reza akhirnya....... oke cukup sekian saja, saya takut malah nantinya menyebar spoiler, heheheee...

Untuk buku fiksi karya pertama, mas Tsugaeda cukup sukses menggarapnya. Apalagi genre seperti ini termasuk langka diangkat oleh para penulis lokal. Ketiga tokoh sentral yang disorot memang memiliki karakter yang sangat khas, namun karakter Makarim sendiri menurut saya justru biasa-biasa saja, seperti orang yang berpapasan dengan kita di pinggir jalan dan kita tak akan melirik dua kali. Padahal seharusnya tokoh ini bisa digali lagi agar lebih 'berpendar' mengingat sebagian besar adegan di buku ini, meskipun diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, sangat menitikberatkan pada apa yang dilihat dan dirasakan oleh tokoh Makarim. Lalu tokoh antagonis di sini (yang tidak akan saya sebutkan namanya karena kemungkinan spoiler) juga terkesan seperti tokoh penjahat yang sangat klise.

Ada satu hal lagi yang agak sedikit mengganggu adalah disebut-sebutnya pada awal cerita tentang salah satu kolega Makarim yang mendapatkan tawaran dari BNN dan Pemerintah untuk menyelidiki kasus sindikat Narkotika. Ini masih di bagian awal novel, namun saya sudah menduga, 'nah ini pasti jadi 'gong'-nya nih', dan ternyata memang seperti dugaan saya! Agak kecewa juga karena akhir kisahnya agak terlalu mudah saya tebak, sebenarnya. Ini juga sebaiknya jadi pertimbangan saat merilis novel selanjutnya, bahwa clue-clue yang diberikan pada pembaca sebaiknya jangan terlalu kentara.

Terlepas dari semuanya, rating 4 dari 5 bintang rasanya pantas diterima buku ini. Semoga karya yang selanjutnya bisa membuat saya begadang samalaman juga :))

Jumat, 30 November 2012

Review: IBUK, (by Iwan Setyawan)


Paperback, 293 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2012

Novel ini termasuk salah satu dari nominasi sepuluh besar KLA (Khatulistiwa Literary Award) 2012. Tentu saja ekspektasi saya sangat besar. Jadi saya membeli buku ini, berharap kehausan saya akan karya anak bangsa yang bagus bisa terobati—jujur saja saya jauh lebih sering membaca novel dengan genre fantasy, yang lebih mudah didapatkan dari novel non-Indonesia.

Buku ini jelas sekali berkisah tentang kehidupan si penulis sendiri, anak lelaki satu-satunya dari lima bersaudara. Tokoh “Ibuk” dalam buku ini tak lain adalah si Ibu dari penulis, bernama Tinah, yang menikah di usia belia dengan sopir angkot bernama Hasyim yang sempat mendapat julukan playboy pasar. Settingnya sendiri di kota Batu, Malang, dan dituturkan sejak kisah cinta Bapak-Ibuk terjalin hingga meninggalnya sang Bapak di bulan Februari 2012.

Beberapa bab awal buku ini berkisah tentang kisah cinta yang lugu dan manis antara seorang pemuda playboy pasar dan gadis belia. Kisah tersebut berlanjut hingga pernikahan mereka, dan kelahiran kelima anak mereka. Setelah itu kisah lebih terfokus pada si anak lelaki dalam keluarga (Bayek), mulai dari kuliah, bekerja di Jakarta, hingga lika-liku kehidupan dan kariernya di New York.

Ibuk dan Bapak merupakan tokoh orangtua tangguh yang meskipun dalam kemiskinan dan kesulitan, selalu berjuang untuk masa depan dan kebahagiaan kelima anaknya (Isa, Nani, Bayek, Rini, Mira). Mereka bahkan harus berhutang hanya demi membeli sepatu baru anaknya. Yang patut dikagumi adalah kesadaran kedua orangtua mereka terhadap pentingnya pendidikan, dan inilah, yang menurut saya menjadi kunci perubahan nasib dan kehidupan mereka sekeluarga di masa depan.

Jujur saja, buku ini agak dibawah ekspektasi saya. Saya menikmati membaca beberapa bab awalnya sebagai sebuah kisah yang manis, namun semakin ke belakang, banyak sekali tulisan-tulisan yang menurut saya terus diulang-ulang oleh si penulis (meski dengan kalimat yang agak berbeda, namun intinya sama); contohnya adalah ketika si penulis menggambarkan karakter dan sifat si Ibuk atau si Bapak, dan ketika si penulis berkali kali menceritakan hasrat hatinya sepanjang pertengahan cerita hingga akhir (agak seperti curcol). Saya tahu bahwa si penulis ingin memberi penekanan tertentu terhadap beberapa bagian di buku ini, namun hal ini malah membuat saya agak jengah dengan membaca hal yang sama diulang-ulang. Juga ketika dalam beberapa bab tertentu, tiba tiba sudut pandang berubah dari orang ketiga menjadi orang pertama (biasanya hanya dua sampai tiga halaman saja), lalu berubah lagi menjadi sudut pandang orang ketiga. Bagian ini saya rasa agak tidak perlu, kecuali dari awal kisah memang sudah direncanakan akan berganti-ganti sudut pandang.

Finally, meskipun disana-sini masih banyak kekurangan, buku ini mampu menginspirasi pembaca untuk selalu menggapai mimpi tanpa kenal lelah. Lumayan juga quote-quote yang bisa diambil, terutama dari dialog si tokoh Ibuk. Dan yang terpenting, siapapun kita bebas untuk bermimpi dan berusaha untuk meraihnya. Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?

Jumat, 15 Juni 2012

The Naked Traveler 2 (by Trinity)


Buku The Naked Traveler 2 ini terdiri dari 8 bagian (Gila-Gilaan, Indonesiana, Traveling Membawa Nikmat,Apa Rasanya, Sekolah ϑî Filipina,Belajar dari Sini, Bandingkan, dan Narsis.com) yang masing2 bagiannya terdiri dari beberapa potongan cerita Trinity saat menjelajah dunia.

Konsepnya masih sama, tentang suka duka si penulis mengenai pengalamannya saat traveling. Banyak juga kisah2 yang unik dan lucu sampai yang bikin ngakak. Gaya bahasanya ringan namun enak diikuti, pembaca pun jadi enjoy bacanya.

Namun sepertinya ãϑα beberapa bab yang sudah ãϑα ϑî buku pertama, ternyata eh ternyata muncul lagi ϑî buku kedua. Sayang sekali. Jadi saat membacanya agak2 de javu, "kok sepertinya saya sudah baca cerita ini..dimana Ɣªª? Oh iya, ϑî buku yang pertama!".

Pernah suatu kali buku ini saya bawa ϑî kelas (karena kebetulan saya seorang guru) saat murid2 sedang ujian; itu artinya si guru bisa duduk manis sambil membaca buku. Sialan! Gak lagi2 dech...saya sampai hampir terkencing-kencing menahan tawa saat membaca bagian yang lucu! Ga enak kan murid saya serius ujian tapi saya sebagai pengawas malah cekikikan. Fiuuhhh...

Selasa, 29 Mei 2012

The Naked Traveler (Trinity)

Status: buku pinjaman
Page: 282
Publisher: C Publishing

Sebenarnya saya tidak sengaja dipinjami buku ini oleh salah seorang teman kantor saya, yang ternyata dia pinjam juga dari teman kantor saya yg lain, yang yang juga teman saya yang tidak tahunya pinjam juga dari teman lain dari Goodreads semarang yang juga teman saya. Halah...sampai bingung sendiri saya nulisnya. Tapi tidak usah saya sebutkan namanya, yang bersangkutan pasti tahu kan? Heheee...

Buku tulisan Trinity ini sangat unik. Reaksi yang muncul saat saya membaca buku ini kebanyakan hanya "Oooh, ternyata begitu yaa..", soalnya banyak sekali informasi-informasi yang baru saya tahu (maklum, saya wong ndeso yang belum pernah ke luar negeri selain ke Singapore yg cuma sekali).

Buku setebal 282 halaman ini menceritakan pengalaman si penulis saat Travelling sebagai backpacker. Tulisannya pun lucu dan informatif. Dibagi menjadi 7 bagian (Airport, Alat Transportasi, life Sucks!, Tips, Sok Beranalisa, Adrenaline, Ups!) dengan beberapa cerita pendek ϑî dalamnya, membuat buku ini asik dinikmati sebagai bacaan ringan sebelum tidur. Pendapat-pendapat yang dilontarkan penulis dalam buku ini pun menurut saya sangat jujur dan lucu, seperti saat dia menggambarkan bahwa cowok-cowok terganteng ϑî dunia adalah cowok Italy, dan berbagai hal kecil lainnya yang jika diceritakan bisa menjadi topik yang menghibur. Saya bahkan baru tahu, lagi-lagi gara-gara membaca buku ini, bahwa ãϑα total 11 negara ϑî dunia yang pasti bisa didatangi tanpa visa oleh orang Indonesia. Namun kita juga harus hati-hati dengan beberapa negara yang mencantumkan "tanpa visa" untuk dikunjungi, karena bisa jadi itu adalah negara jajahan yang visanya harus diurus ϑî kedutaaan negara yang menjajah. Hadehh..ribet pokoknya. But really informative.

Salut juga buat jiwa petualang Trinity yang luar biasa dan sepertinya gak ãϑα matinya itu.

 ^_^

-Love, Ika-

Selasa, 22 Mei 2012

Perahu Kertas by Dee

 

Baru dua hari lalu selesai baca buku ini. Terus terang saya bukan penggemar cerita cinta atau drama, jadi kalau disuruh kasih pendapat agak sedikit bias, heheee....
Meskipun saya memang tidak banyak membaca novel romantis, saya cukup menikmati cerita Perahu Kertas-nya Dee Lestari ini.

Ceritanya terfokus pada kisah dua anak manusia yang sebenarnya sudah saling mencintai sejak mereka sama-sama di bangku kuliah, namun karena satu dan lain hal, mereka sama-sama memendam perasaan masing-masing hingga terpisah selama tiga tahun. Kugy dan Keenan; Penulis dongeng dan Pelukis yang luar biasa, mempunyai impian yang tidak biasa untuk sama-sama menulis dan melukis (semacam karya berdua gitu...). Namun mereka juga tidak bisa mengabaikan realitas. Impian mereka layaknya kisah di negeri dongeng yang tidak pas jika diterapkan dalam kehidupan nyata. Apalagi ditambah konflik cinta mereka yang seolah-olah tidak ada ujungnya. Bisakah mereka bersama menggapai impian?

Satu hal yang menjadi nilai plus adalah pesan moral dari buku ini tentang pentingnya sebuah impian, dan bagaimana kita harus berusaha sekeras mungkin mewujudkan impian itu. Yach,,,kalau diistilahkan si bisa seperti "Us Againts the World" dalam meraih mimpi. Buku yang bagus sekali dibaca untuk memotivasi kita menggapai impian kita yang, mungkin kalau dipikir-pikir lagi, sangat muluk muluk, aneh, dan mustahil. Namun satu hal yang pasti, "NOTHING IS IMPOSSIBLE" guys..!

Chase your dreams!
-Love, Ika-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...