Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Mei 2016

Fairytale Beginnings by Holly Martin [review]

Title: Fairytale Beginnings
Author: Holly Martin
299 pages
Language: English
Genre: Romance
First published: 2015
My rating: 3/5

Milly Rose was very passionate about history. She was crazy about historical buildings...especially castles because they remind her of fairytales. Her undying love for anything Disney made her into a hopeless romantic twenty-something-years-old girl who saw the world from a pair of rose-tinted-spectacles. Eventhough she believed in a happy ever after, she also believed that it was not meant for her: she had too many bad relationships in the past to prove that.

Lord Cameron Heartstone inherited a castle full of staff and a debt from his father who had been missing from Cameron's life since he was 5 years old. He couldn't pay the debt, even with his royalty from writing successful series, so he had no choice but to fire the entire staff, making the villagers hated him. He was desperate to find solution for his financial problem, and offered his castle to Castle Heritage, a company dealing with historical buildings.

"What if he is your happy ever after? Isn't it worth taking a risk on?"
It started when Milly accepted the job from her company to test a castle named Clover Castle in a remote village. Her car broke down on the way, and she had to walk the rest of the way to the castle with blue roofs and full of turrets. It looked just like a disney castle from Cinderella, and she fell in love with the building instantly.

The Lord of the castle, on the other hand, was unlike Milly's expectations. He was young, big, handsome, and smoking hot. She couldn't fight off the attraction that was blossoming in her mind.

It started innocently enough, with Milly testing the dust and the wall here and there, but of course everything got a bit steamy when she accidentally fell into a hole on the ground just like Alice in Wonderland. After being rescued by Cameron, and accidentally seeing each other naked (ups), things were getting...*ehem*...better between them.

The good thing about this novel is that it presented a little bit adventure here and there and also a bit of mystery here and there. What with the old castle, the history, the storybook-style village, creepy villagers, and odd traditions, And don't forget, the Gray Lady, the ghost that haunted the dungeon of Clover Castle. She was rumored to be protecting the Heartstone family line and the treasure hidden by one of Cameron's ancestors. And what's with the Hearstone Family Curse? And the thousand years of searching true love to break the curse?

I loved the whole fairytale-ish parts of the story, it gives a feeling of reading a nice fairytale when I was a kid. I loved the first half of the book since I don't know what I expected from the story. But the last half of the story seemed so cliche with the appearance of Olivia the PA. I mean, she was a very typical antagonist girl. Can it be anymore obvious? Personally, Olivia's appearance kind of ruined the whole fairytale atmosphere there in the story and turning it into typical contemporary romance, which is a little meh to be honest.

But still, I really enjoyed reading this immensely. Especially the funny parts that cracked me up everytime. And mind you, future readers, that it is also a little bit *ehem* on the adult side, eventhough the sex scenes are pretty mild, actually. By the way, this is my first Holly Martin book, and I think I quite like her writting style.

Enjoy.
See you in the next post ^_^

Sabtu, 07 Mei 2016

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq [review]

Paperback, 332 halaman
Title: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990
Author: Pidi Baiq
First published: 2014
Publisher: Pastel Books (Mizan Grup)
Language: Indonesian
My rating: 3/5

Tanggal 10 April 2016 kemarin saya dan beberapa teman dari Goodreads Semarang mengadakan Kopdar di Pameran Buku Murah Semarang yang terletak di Gedung Wanita. Bagi yang belum tahu, Semarang Book Fair ini diadakan di Gedung Wanita selama kira-kira seminggu, dua kali setahun, setiap bulan April dan Oktober. Jadi buat yang pengen mborong buku di acara ini dari luar kota, siap-siaplah datang pada bulan-bulan itu. Eniwei, di acara kopdar itu saya mendapat pinjaman buku ini, yang ternyata adalah milik Dina (anggota GRI Semarang dan BBI juga). Usut punya usut, buku ini sudah muter ke hampir semua anak Semarang, dipinjam sana-sini, heheheee... padahal si Dina sendiri sudah pindah dari Semarang ;p

Saya tertarik baca buku ini karena ada angka tahun 1990. Tau sendiri kan bahwa era 90-an dinobatkan sebagai era terfavorit sepanjang sejarah bagi yang mengalami masa kecil atau masa remaja di era ini. Nah, kebetulan di postingan Valentine kemarin, mas Tezar juga merekomendasikan buku ini sebagai romance favorit, jadi bolehlah...coba baca...

Premis yang disajikan buku ini lumayan standar sebenarnya: kisah cewek dan cowok SMA dari mulai kenalan sampai jadian. Sudah. Ya sudah itu saja sebenarnya inti buku ini sih. Serius, cuma itu. Lalu apa sih yang unik sampai sepertinya banyak sekali yang memuji-muji buku ini (setelah melihat bintang bertaburan di Goodreads). Menurut saya pribadi, kelebihan buku ini ada di 3 hal:
  1. Mengangkat tema dan setting tahun 90-an yang pasti, pasti PASTI membuat banyak orang tertarik dan penasaran. Pangsa pasar buku ini jelaslah generasi 90-an yang sedang ingin bernostalgia. Harus diakui mencantumkan angka tahun di judul merupakan teknik pemasaran dan promosi yang luar biasa berhasil.
  2. Bahasanya yang ringan dan menghibur serta tidak menggurui (kecuali beberapa bagian saat si Milea berusaha menerangkan perasaannya sampai sedetail-detailnya dengan segala perumpamaan yang tidak perlu, nah ini baru menggurui...sebel banget kalau sudah nemu bagian yang beginian, untungnya nggak terlalu banyak) di sebagian besar isi buku. Bahasa yang digunakan juga sangat santai. Malah terlalu santai. Anehnya hal ini menjadi sisi unik tersendiri bagi buku ini.
  3. Karakter Dilan yang membuat hampir semua cewek ngiler dan membuat hampir semua cowok ingin menirunya.
Seharusnya buku ini diberi judul "cara-cara pantang gagal untuk mendapatkan cewek cantik", heheheheeee...... Serius ya, baca buku ini rasanya seperti membaca panduan bagi remaja cowok untuk menggaet hati remaja cewek. Bukan berarti itu hal yang jelek sih, bahkan menurut saya bagus. Bagus banget malah bisa memberikan sesuatu yang unik di pasaran novel lokal dengan tema romance tapi tidak lazim.

Buku ini seolah full menceritakan tentang seorang sosok cowok yang tertera dalam judulnya: DILAN.  Dia digambarkan suka seenaknya sendiri, selengehan, lucu, tampan, tegas namun baik hati, memiliki insting yang tajam, anggota genk motor (ini sepertinya disengaja untuk menggambarkan dan menonjolkan ke-cool-an tokoh Dilan ini) namun selalu ranking 1 di kelasnya, dan yang paling utama adalah dia selalu bisa membuat seorang wanita merasa istimewa. Nahhh, siapa coba yang nggak mau merasa diistimewakan?

Pertanyaannya adalah, apakah saya suka dengan tokoh Dilan ini? Jawabannya tentu iya, saya suka dengan tokoh Dilan ini.

Tapi....

Saya juga benci dengan tokoh Dilan ini. Lho kenapa? Karena tokoh ini terlalu dibuat too good to be true sampai rasanya seperti tidak nyata. Menurut saya, tokoh paling sempurna dalam novel adalah ketika dia terasa nyata, baik kelebihan dan kekurangannya. Ketika suatu tokoh terlalu datar, atau terlalu jahat, atau terlalu sempurna....nah, inilah ketika ilusi di sebuah novel justru hancur berantakan dan membuat pembaca mulai mengernyitkan dahi (meski sebagian pembaca juga ada yang sangat menyukai hal ini, lho. Kan setiap orang punya pendapat dan persepsi berbeda).

Nah, kekurangan buku ini sebenarnya cuma satu lho, yaitu tokoh-tokohnya terasa terlalu fiktif, terlalu tidak nyata atau terlalu rata. Misalnya, Dilan yang digambarkan terlalu sempurna, Milea yang digambarkan tidak istimewa, tidak ada kelebihannya kecuali cuma cantik saja, Kang Adi yang digambarkan terlalu klise sebagai saingan cinta Dilan, bahkan tokoh Bunda yang menurut saya agak aneh karena...well, let's face it, itu tahun 1990 lho... sedangkan saya yang mengalami masa remaja tahun 2000-an saja masih banyak menemui teman-teman yang pacaran backstreet gara-gara orangtua tidak mengijinkan pacaran dan sebagainya lah. Nah ini...si tokoh Bunda, juga Ibunya Milea, juga bapak-bapak mereka yang tentara lhoo, tentaraaa.... kok kesannya laid back banget masalah anaknya pacaran gitu. Padahal sejauh pengamatan saya, teman-teman yang memiliki ayah dari latar belakang militer benyak yang mengaku ayah mereka sangat tegas, apalagi ini masalah pacaran-pacaran jaman SMA, di tahun 90 pulaaa... (kalau jaman sekarang sih saya tidak heran, memang lebih banyak orangtua, dari segala kalangan lebih bersikap laid back dan terbuka pada anak-anak mereka). Ya, memang saya tahu bahwa tidak semuanya seperti itu, dan selalu ada pengecualian, tapi ada kan yang namanya balance of probability? Dan kemungkinan akan bertemunya orang-orang dengan karakteristik seperti ini dan menjalin satu kesatuan kisah....hmmm....terlalu kebetulan. Tapi, ah, nggak papa kok, namanya juga novel. Dalam sebuah cerita, berbagai macam kebetulan bisa dimaafkan kok for the sake of the plot, wkwkwk...

Oh iya, ada satu hal yang saya salut dari penulis. Pidi Baiq ini cowok kan ya? Mas Pidi meskipun cowok tapi bisa membuat kisah dari POV seorang cewek remaja, itu bagus lhooo.... POV dari tokoh dengan gender berbeda dari penulis itu sulit, lebih sulit lagi jika karakternya adalah remaja yang...yah, tahu sendiri, terkadang seperti campuran bahan kimia yang tidak stabil, gampang meledak. Thumbs up bagian ini. Meski saran saja, mungkin lain kalikarakternya bisa diperkuat, tidak hanya ditonjolkan "cuma cantik" saja. Karena terus terang ketika menjabarkan karakteristik Milea, saya hanya bisa bilang dia digambarkan sebagai tokoh yang cantik. Sudah. Apakah dia pintar? Saya tidak tahu. Apakah dia egois? Saya juga tidak tahu. Intinya saya tidak tahu-menahu bagaimana menjabarkan tokoh ini dalam kata sifat. Di samping itu, karakter Dilan dibuat agar dia "kebanjiran" kata sifat untuk menggambarkan karakteristiknya, karena sepertinya dia serba bisa dan serba segalanya. Sungguh dua karakter utama yang sangat bertolak belakang deskripsinya dalam sebuah novel.

Dan bagian Dilan ternyata langganan majalah Tempo, seperti bapak-bapak itu...sumpah bikin ngakak, karena adek saya juga cowok yang dari remaja bacaannya majalah intisari....kayak bapak-bapak juga, hahahaaa.... Duh, semoga si adek nggak baca ini, wakakaka....

Eniwei, terlepas dari semua kelebihan dan kekurangan novel ini, saya sangat terhibur lho saat membacanya.... I read this in one sitting, the same day I got this book. Dan buku ini menyelamatkan saya dari reading slump yang sedang saya alami juga saat itu. Horeeeeee..... Sukses juga buat Mas Pidi karena berhasil menulis novel romance dengan rasa yang unik dan berani berbeda. Semoga karya kedepannya semakin bagus.

See you in the next post ^_^


Sabtu, 02 April 2016

P.S. I Still Love You by Jenny Han [review]

Title: P.S. I Still Love You (To All The Boys I've Loved Before #2)
Author: Jenny Han
First published: 2015
337 pages (audiobook version)
Language: English
Genre: Young Adult, Contemporary, Romance
My rating: 2/5

Masih ingat cerita di buku pertama? Tidak? Oke, saya pancing sedikit ya....buku pertama berakhir sangat mengambang dengan hanya berbunyi "Dear Peter,". Jujur saja, itu akhir sebuah novel paling jenius yang pernah saya baca, beneran sukses membuat saya setengah menjerit dan hampir membanting hape.

Sequel ini berawal dari... apa lagi kalau bukan lanjutan tulisan "Dear Peter," tadi. Lara Jean, yang tidak menyangka bahwa dirinya benar-benar jatuh cinta pada Peter, akhirnya menulis surat yang ditujukan untuk pacarnya itu. Namun tentu saja, ada satu masalah yang bikin galau Lara Jean: bagaimana cara menyampaikannya ke Peter? Haruskah dikirim lewat pos, atau ditaruh di kotak suratnya, atau....diserahkan secara langsung? Untunglah Kitty, adiknya yang lugu dan ceplas-ceplos membujuknya untuk bertemu langsung dengan Peter dan menyerahkan langsung suratnya. Alhasil, pada tahun baru yang dingin, dengan masih mengenakan hanbok, pakaian tradisional Korea, Lara Jean berkunjung ke rumah Peter.

Perjalanan cinta yang easy going antara Lara Jean dan Peter ternyata tidak selalu 'easy'. Ada yang menyebar gossip miring tentang mereka melalui instagram. Sekarang semua orang, dari teman sekolahnya sampai semua gurunya menjadi saksi satu momen paling intim dalam hidup Lara Jean. Lara Jean yakin sekali bahwa Genevive, mantan pacar Peter, berada di balik layar. Belum lagi kemunculan kembali seorang cowok yang dulu sempat menghilang dari kehidupan Lara Jean, salah satu cowok yang mendapatkan 'surat cinta' dari Lara Jean.

Setelah buku pertama yang menurut saya sangat bombastis dengan plotnya yang unik, buku kedua ini terasa 'sangat hambar' dan 'sangat kosong' dan 'sangat memaksa'. Rasanya saya susah berkomentar karena rasanya kecewa luar biasa. Saya cuma memberi 2 bintang saja. Kenapa? Yuk, kita coba analisis...

Pertama, plotnya, aduhmak alamak ini plot di buku kedua ini kenapa bisa klise sekali? Super duper klise, sampai bikin saya sakit hati. Mungkin jika ini novel stand alone, atau novel pertama, saya nggak akan menharapkan banyak ya... Tapi masalahnya ini sequel woy! Sequel dari buku pembuka yang bombastis! Cuma sekelas teri begini...meh...MEH! Cewek biasa yang pacaran sama cowok populer lalu dibully semua orang gara-gara gossip miring yang disebar oleh cewek bitchy yang cemburu? Hellooooo....nggak bisa ya lebih klise lagi?

Kedua, Suspensenya tidak seseru di buku pertama. Buku pertama menghadirkan hal-hal yang, sekali lagi, karena tidak klise, pembaca tidak bisa mengharapkan sesuatu yang spesifik terjadi. Namun di sini...karena dari awal plot yang disajikan adalah sesuatu yang BIASA, suspensnya juga jadi tidak terlalu greget karena unsur surprisenya sangat sangat kurang.

Ketiga, underdeveloped karakter dapat ditemui di dua tokoh penting yang baru muncul pentingnya di buku ini: Genevive dan John Ambrose. Genevive di buku pertama, meski kemunculannya sedikit, justru sangat well-developed. Tapi entah kenapa di sini berkembang menjadi TYPICAL BITCHY GIRL. Terus si John Ambrose ini, muncul sebagai sosok COWOK SUPER SEMPURNA dan TYPICAL SILENT WARRIOR. Oh, God.... cliche much? Sepertinya kok jika mau membuat cerita novel dengan tema cinta segi empat, kau cukup menambahkan karakter typical bitchy pretty girl dan typical perfect pretty boy untuk melengkapi dua karakter utama, dan BOOM, jadi dech. Oh, please.... pembaca juga butuh variasi kan?

Keempat, hubungan kekeluargaan di keluarga Covey, terutama si kakak-beradik Song-Girls yang di buku satu sangat saya kagumi karena selain sangat realistis, tidak lebay, dan banyak memendam pesan moral, justru agak terabaikan di buku kedua ini dengan absennya karakter Margo hampir sepanjang buku. Sangat disayangkan.

Kelima, novel pertama yang berhasil membuat saya GIGGLING di sana-sini, terasa sangat LEMPENG di sequelnya. Tidak ada lagi adegan lucu namun cute, yang bisa membuat saya tertawa di sana-sini. Yang ada justru adegan yang "sok romance" dengan menghadirkan banyak sekali sentuhan klise mulai dari valentine, main bola salju, sampai adegan mergokin si pacar pelukan sama oknum lain yang akhirnya bikin bertengkar parah...eurgh....*tabur-tabur klise*

Eniwei, seperti yang sering saya bilang, tidak ada sesuatu di dunia ini yang benar-benar hitam dan putih...er, kecuali cat tembok hitam dan cat tembok putih... ehem, fokus. Oke, maksud saya, separah-parahnya suatu buku, pasti ada kelebihannya juga kan? Nah, buku ini juga memiliki kelebihan lho....er, meski cuma satu, yaitu: KITTY COVEY. Yups, karakter si adik tokoh utama yang berusia sembilan tahun ini di buku pertama mendapat jatah sedikit dan terkesan cuma numpang lewat. Namun si penulis berhasil menyulapnya menjadi karakter yang perannya cukup signifikan dan cukup well-developed di buku kedua ini.

enjoy! See you in the next post ^_^

Sabtu, 26 Maret 2016

To All The Boys I've Loved Before by Jenny Han [review]

Title: To All The Boys I've Loved Before (#1)
Author: Jenny Han
Language: English (audiobook version)
First published: 2014
Genre: Young Adult, Contemporary, Romance
My rating: 5/5
(sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia)

"If love is like a possession, maybe my letters are like my exorcisms. My letters set me free. Or at least they're supposed to."
Lara Jean Song Covey menyebut dirinya sendiri beserta kakak perempuannya Margo dan adik perempuannya Kitty sebagai "The Song Girls". Mereka semua memiliki nama tengah yang sama "Song" yang merupakan nama keluarga ibunya yang memiliki garis keturunan Korea. Tidak seperti halnya kakak beradik lain pada umumnya, The Song Girls sangat dekat satu sama lain sejak kematian ibu mereka beberapa tahun yang lalu.

Lara Jean yang berusia 16 tahun memiliki sebuah kotak topi vintage pemberian ibunya yang berisi hartanya yang paling berharga dan paling rahasia: surat-surat yang ditulisnya untuk setiap cowok yang pernah dicintainya termasuk cowok super-ganteng-super-populer yang di kelas tujuh mencuri ciuman pertamanya, cowok yang ditemuinya di perkemahan musim panas beberapa tahun lalu, dan mantan pacar kakaknya yang sekaligus juga sahabat dan tetangganya.

Segalanya berawal sejak secara misterius, surat-surat yang ditulisnya terkirim ke semua cowok yang disebut tadi. Tentu saja Lara Jean sangat malu ketika bahkan Peter (yang merupakan idola para cewek dan baru saja putus dari pacarnya) menanyainya tentang hal ini. Apalagi Josh, mantan pacar kakaknya. Rasa malunya membuatnya melakukan tindakan impulsif yang menyeretnya keluar dari dunia fantasinya yang indah...dan menghadapi kenyataan.

I LOVE THIS BOOK...!!!!!

Mungkin teman-teman tahu bahwa saya BUKAN penggemar romance. Apalagi YA romance. Bayangkan betapa terkejutnya saya ketika saya mendapati buku ini sangat W.O.W dan membuat saya terkikik sendiri di sana-sini. Padahal saya mendengarkan versi audiobooknya, yang meskipun sangat bagus dinarasikan, tapi membuat saya jengkel karena saya harus berhenti setiap kira-kira satu jam sekali. Kalau tidak begitu, rasanya panas kuping saya ini disumpal earphone terus-menerus, padahal sebenarnya saya penasaran banget pengen nerusin lagi dan lagi.

Namun seperti segala hal di dunia ini (eaaakk), novel inipun punya kelebihan dan kekurangan; the good and the bad. Jadi mulai dari yang bagus-bagus dulu yaaa....inilah alasan saya sampai kesengsem berat sama novel yang diluar genre favorit saya ini:


  • Plot yang unik. Plot unik yang menceritakan tentang surat-surat yang tidak sengaja terkirim untuk para cowok ini baru pertama kali saya temui di sebuah novel. Tidak klise. Alur ceritanya juga tidak mudah ditebak, bahkan ketika membaca sampai sudah lebih dari separo pun saya masih tidak bisa menebak si penulis akan membuat si tokoh utama berakhir dengan cowok yang mana. Ditambah twist kecil di sana sini yang sangat menghibur, tetap mengandung suspense tapi entah kenapa tetap bisa berkesan 'cute'. Rasanya hampir tiap bab nya mengundang pembaca untuk ber-"aaaaw".
  • Karakter atau penokohan yang kuat, terutama penggambaran karakter para gadis Song. Tokoh utama tidak diceritakan sebagai tokoh yang 'terlalu cantik' atau 'terlalu pintar' atau 'terlalu tidak populer' seperti kebanyakan novel YA lainnya. Penggambaran karakter para cowoknya juga tidak berlebihan dan sempurna, membuat para tokoh terlihat sangat bulat dan nyata. Pokoknya tidak ada kata selain "sempurna" untuk penokohan novel ini.
  • Nyata. Maksud saya dengan "nyata" di sini adalah penggambaran kehidupan keluarga yang sangat nyata. Novel YA pada umumnya terlalu melebih-lebihkan background tokoh utama dengan menambahkan tokoh "ayah yang jahat" atau "ibu yang sakit" atau "perceraian yang bermasalah sehingga membuat si anak depresi berlebihan". Tapi background keluarga yang digambarkan oleh si penulis sangat bagus, tidak "lebay" seperti kebanyakan novel YA lainnya. Pas dan apik.
Daaan....., terlepas dari semua kelebihan yang saya sebutkan di atas, saya mencatat ada dua hal yang bagi saya agak kurang pas:
  • Penggunaan kata "love" yang kesannya sangat gampang terjadi di berbagai situasi. Ini diperjelas dengan narasi si tokoh utama (karena memang diceritakan dari sudut pandang orang pertama) yang seolah-olah melempar kata "love" sembarangan untuk menjelaskan relationship semua orang. Mungkin memang biar pas sama judulnya ya, soalnya kalau pakai kata "like" memang kesannya kurang mantap. Ngoahahahahaaa...
  • Reaksi klise Lara Jean setelah konflik utama terjadi dimana dia harus menghadapi gosip yang beredar bahwa Dia dan Peter...er....oke, cukup, takut spoiler. Intinya reaksi si tokoh utama saat adegan klimaks buku ini justru SANGAT KLISE. Saya sampai mengerutkan dahi pada bagian ini, karena so far...novel ini berhasil menghindari adegan klise, tapi, well,...nothing is perfect kan. Untunglah adegan klise ini tidak berlangsung lama, dan novel ini kembali menemukan ritme uniknya.
Sebenarnya kalau boleh jujur saya memberi 4,7 bintang untuk buku ini. Tapi karena di goodreads tidak berlaku angka desimal kecuali buat average rating, jadi saya bulatkan ke atas. Ahhh, pokoknya saya suka banget lah sama novel ini. Apalagi adegan Halloween dengan banyak referensi ke Harry Potter, just ooowwww.....I love it. 

Dan satu lagi yang saya suka dari novel ini adalah nama si tokoh utama: Lara Jean. Entah kenapa suka banget sama nama ini. Tapi saya memang penggemar nama dengan dua kata sih...semacam Mary Jane, Mary Margareth, Ann Claire, James Olliver atau Don Allen...yah, semacam itulah. Meski nggak bisa mbayangin 'double name' diterapkan di Indonesia sih. Contoh 'Mawar Merah' atau 'Langit Senja' atau 'Bayu Harjo', pasti panggilannya jadi cuma satu kata atau malah satu suku kata saja macam 'Jo' atau 'Ngit', wkwkwk.

Nah, saya yang tidak suka romance saja sampai suka banget lho, sama novel ini...apalagi bagi yang suka romance, sangat rekomended pokoknya. See you in the next post ^_^

Sabtu, 12 Maret 2016

Pride and Prejudice by Jane Austen [review]

Title: Pride and Prejudice
Author: Jane Austen
Language: English
First published: 1813
Genre: Classic, Romance
(the public domain ebook and audiobook version)
My rating: 2/5

"It is a truth universally acknowledged, that a single man in possession of a good fortune must be in want of a wife"
Kalimat tersebut merupakan kalimat legendaris yang menjadi pembuka novel roman klasik legendaris yang merupakan karya legendaris dari penulis wanita yang juga legendaris, Jane Austen. Tolong abaikan berapa kali saya menyebutkan kata 'legendaris' (yes, I'm trying to make a point, thank you).

Elizabeth Bennet merupakan putri kedua dari keluarga Bennet yang memiliki banyak anak gadis yang semuanya belum menikah. Yeah, big deal kan? Tentu saja big deal, karena jaman sekarang pun pertanyaan horror "kapan nikah?" selalu menghantui para gadis yang sudah mulai kuliah (*uhuk* ini bukan curhat *uhuk*), apalagi untuk para gadis muda di abad ke delapan belas. Pada jaman itu (dengan setting Inggris), pernikahan merupakan sebuah "tujuan utama dalam hidup" semua wanita. Dan tentu kau tak bisa menyalahkan bagaimana paniknya Mrs. Bennet memiliki begitu banyak anak perempuan yang belum menikah sehingga beliau berusaha mati-matian untuk membuat putri-putrinya dipinang oleh pria muda kaya.

Ketika Mr. Bingley, pria muda yang kaya datang ke Longborn (maaf kalau nama tempatnya salah, agak-agak lupa #eh), Mrs. Bennet sangat berambisi mengenalkannya dengan putri-putrinya dan berusaha agar salah satu putrinya ada yang "nyantol" dengan si Mr. Bingley ini. Beruntunglah Mr. Bingley tertarik dengan si putri tertua yang paling cantik di antara semuanya, Jane. Sebenarnya saya bingung kenapa si penulis menamai karakter bukunya seperti nama sendiri dan menjadikan karakter ini paling cantik dan paling lemah lembut ya? Hmmm.... narsis much?

Eniwei, Mr. Bingley datang tidak sendiri. Dia ditemani saudara perempuannya Miss Bingley dan Mr. Darcy sahabatnya. Mr. Darcy orang yang...well, katakanlah judes dan dingin, dan Elizabeth yang cerdas sangat tidak suka dengannya. Apalagi ketika mengetahui Mr. Darcy terlibat dalam kerusakan hubungan Mr. Bingley dan saudaranya, Elizabeth tentu sangat marah.

There is a fine line between love and hate
Entah  siapa yang pertama kali bilang seperti itu, tapi buku ini tepat sekali untuk melukiskan kalimat tersebut. Kesan pertama yang buruk, lalu berubah menjadi benci yang sebenarnya diam-diam cinta...well, you know the pattern.

Well, saya nggak akan cerita panjang lebar karena saya kira hampir semua orang tahu kisah dalam buku ini (berkali-kali diadaptasi menjadi film lhooo). Daaaan, bukan hanya tahu lho, tapi banyaaaak banget yang termehek-mehek sama kisah cinta di sini dan terutama terpesona sama si Mr. Darcy yang dari luar dingin tapi sebenarnya sangat perhatian. Terus terang saja karena itulah saya membaca buku ini. Banyak banget yang suka, so why not? I think I'd like it too.

Wrong.

I do not like it. Don't get me wrong, I tried soooo hard to like this book. Serius, saya berusaha banget lho untuk suka buku ini, berusaha membaca versi Englishnya meskipun saya tahu banyak versi terjemahannya yang cetak ulang dengan cover-cover lucu. Saya cuma berpendapat bahwa membaca versi aslinya akan lebih greget, lebih mengena karena biasanya ada sesuatu yang hilang dalam sebuah terjemahan, ada yang kurang...you cannot translate culture, just the language, right? Dan saya baru membaca lima chapter pertama ketika berkomentar "ini buku apaan banget sih, berhalaman-halaman gini cuma untuk ngrasani orang"....dan saat itu saya sudah curiga bahwa saya tidak akan suka buku ini. Tapi tentu saya masih berusaha meneruskan membaca dengan harapan chapter berikutnya akan lebih sesuai selera saya. Dan saya juga mendengarkan audiobooknya. Dan saya juga sengaja menonton film adaptasi tentang kehidupannya Jane Austen supaya saya lebih bisa memahami apa sebenarnya yang dirasakannya ketika menulis novel ini.....and nope! nope! Saya masih tidak suka buku ini sampai kalimat terakhir selesai saya baca. Alhasil, saya cuma memberi 2 bintang saja untuk buku ini.

Iya, saya tahu ini termasuk unpopular opinion, but don't hate me, oke? Mungkin karena selera saya bukan yang tipe romance lempeng begini, atau mungkin karena otak saya memang tidak prima untuk mencerna buku ini, tapi hey, boleh kan berbeda pendapat. Dan alasan saya tidak suka buku ini adalah....

1) Bahasa yang mbulet dan cenderung go-around-the-bush. Iya, saya ngerti kok kalau ini klasik yang pada jamannya orang cenderung berkata "Oh my goodness, that particular piece of garment is rather large, dont you think?" untuk mengungkapkan maksud sebenarnya "Shit, the shirt is too big, right?" 
Ya tapi kan nggak perlu juga berlembar-lembar dialog panjaaaaaaaaaang cuma buat ngrasani orang doank. There is a fine line between beautiful and too much.

2) Plot yang cenderung sangat lempeng, tanpa belok kanan kiri dan tanpa benjolan, muluuussss. Atau memang pengetahuan klasik saya yang kurang atau bagaimana ya, tapi kok menurut saya plotnya terlalu lempeng dan setelah selesai membaca saya cuma bisa komentar "that's it?" sambil mengendikkan bahu.

Disamping semua kritik saya di atas, sebenarnya saya mengerti kenapa Jane Austen menulis novel-novel dengan cerita seperti ini. Jane Austen merupakan wanita yang berpikiran modern pada jaman yang masih terlalu kuno, dia adalah penganut keyakinan "pernikahan itu harus atas dasar cinta", tidak peduli status sosial dan tuntutan masyarakat. Dia merupakan revolusioner, yang sebenarnya mengkritik cara pandang masyarakat pada jaman itu. Jane Austen sendiri memilih untuk tidak menikah sejak paman kekasihnya melarang hubungan mereka...yeah, sedih juga sih....

Eniwei, saya menulis begini bukan berarti menganjurkan agar kalian tidak baca ya... justru baca saja, baru bisa berkomentar suka atau tidaknya, toh buku ini merupakan legend lho...

See you in the next post ^_^

Selasa, 08 Maret 2016

These Broken Stars [review]

Title: These Broken Stars (Starbound #1)
Author: Amie Kaufman, Meagan Spooner
First published: 2013
374 pages
Genre: Science-Fiction, Romance
(audiobook version)
My rating: 3/5

Lilac LaRoux yang berambut merah dan terkenal, merupakan putri tunggal dari pria terkaya di galaksi. Tentu saja semua orang memperlakukannya bak seorang tuan puteri. Kemanapun dia pergi, rombongan gadis-gadis lain selalu mengikutinya...rombongan gadis-gadis yang sebenarnya merupakan bodyguard-bodyguard yang disewa ayahnya untuk menjaganya...sekaligus mengekangnya. Tak sembarang orang bisa mendekatinya, sekalipun dia adalah seorang war-hero.

Tarver Merendsen sepanjang hidupnya berasal dari keluarga sederhana, meski ibunya seorang penyair/sastrawan ternama. Keputusannya untuk masuk ke bidang militer mengantarkannya pada pangkat Mayor dan publikasinya sebagai seorang pahlawan perang...a war-hero.

Lilac dan Tarver pertama kali bertemu di atas sebuah spaceliner (pesawat luar angkasa yang biasa dipakai untuk pesiar) megah bernama Icarus. Tarver terpesona pada Lilac, tanpa mengetahui jati diri gadis itu yang sebenarnya. Sementara Lilac terpaksa bersikap dingin dan menjaga jarak dengan Mayor muda itu, agar ayahnya yang overprotektif tidak mengendus apapun yang terjadi di atas Icarus.

Tiga hari kemudian, Icarus terlempar keluar dari hyperspace (semacam dimensi yang bisa membuat perjalanan antar galaksi jadi cepat. Mungkin semacam "isinya" wormhole. Ah, nggak tau juga, agak bingung saya dengan istilah-istilah science tingkat tinggi ini), dan terjun bebas dan terjatuh ke planet terdekat. Beruntunglah Tarver dan Lilac selamat berkat keahlian mekanik Lilac meluncurkan pesawat sekoci, yang membawa mereka terdampar di planet antah-berantah.

Tarver dan Lilac bekerjasama untuk mengirim sinyal SOS ke angkasa, menanti regu penyelamat. Namun pesawat sekoci yang rusak, dan bangkai Icarus yang remuk tak memudahkan jalan mereka untuk kembali pulang. Ditambah lagi sepertinya ada yang aneh dengan planet tak berpenghuni ini: suara-suara tanpa tubuh, vision-vision yang membingungkan, peringatan tanpa sumber, juga kemunculan tiba-tiba berbagai hal membuat mereka bertanya-tanya...mungkin ada sesuatu di planet ini: bentuk kehidupan cerdas yang lain, namun berbeda dari mereka...

Kenapa saya membaca buku ini? Karena covernya cakeeeeppppp..... ngahahahaaa... Iya, iya saya tahu kok itu alasan paling tidak valid untuk menikmati sebuah buku. Tapi gimanapun juga cover itu sangat berpengaruh bagi saya untuk memutuskan apakah buku tertentu layak dibaca atau tidak. Iya, cetek memang. #plakk

Alasan kedua saya membacanya adalah karena premisnya cukup menjanjikan. Bagaimana tidak, saya lumayan tergila-gila pada sci-fi, bintang-bintang, angkasa, pesawat luar angkasa....ahhh...those things are just wonderful! Lalu ada buku yang menawarkan kisah tentang itu semua, tentu saya iyakan.

Lalu, apakah buku ini sebagus ekspektasi? Yuk, kita bahas satu-satu...

Plot novel ini mengkombinasikan sesuatu yang klise dan unik menjadi satu. Klise? Bagaimana tidak kalau cowok dan cewek yang terpaksa berduaan karena keadaan, lalu perjalanan di antah berantah demi melanjutkan hidup...yeah, banyak th film yang menyajikan tipe serupa. Tapi.....penulis menyajikan sesuatu yang sangat unik, bagian sci-fi nya itu dia....top dech! belum pernah tahu yang begini. Bagus banget cara si penulis mengakali plot nya agar original dengan memasukkan unsur sci-fi yang kuat.

Tapi.... ada tapinya nih, unsur sci-fi yang kuat itu baru muncul di bagian akhir-akhir saja. Yaaahh....sayang banget kan.  Jadi dari awal sampai lebih dari separuh buku ini, sangat berat di bagian romance nya. Meh! Meh banget lah bagian itu (iya, saya bias soalnya saya nggak begitu suka romance). Jadi bisa dibayangkan saya kecewa karena pengennya menikmati sci-fi dengan sedikit romance, eeehh..... malah dapet romance dengan sedikit sci-fi. Halah apah ini nggak banget dech..... Saya kecewa karena sebenarnya unsur sci-fi nya bisa lebih dikembangkan lagi karena sangat original dan bagus, base nya kuat...tapi kenapa oh kenapa si penulis justru mengembangkan sisi menye-menye yang nggak penting itu *jedotin kepala ke bantal*

Tapi overall, bagi yang suka romance (bukan aku) pasti lebih bisa menikmati buku ini kok. Enjoy! See you in the next post! ^_^

Senin, 22 Februari 2016

Anna and the French Kiss by Stephanie Perkins [review]

Title: Anna and the French Kiss (#1)
Author: Stephanie Perkins
372 pages
Published: 2010
Genre: Romance, Contemporary
Language: English
My rating: 2/5

Anna dari Atlanta, Amerika, harus merelakan tahun terakhirnya di SMA jauh dari rumahnya, meninggalkan ibunya, adiknya, sahabatnya Bridget, dan cowok-yang-hampir-menjadi-pacarnya Toph. Ayahnya yang merupakan penulis novel yang sedang naik daun, mengirimnya ke School of America in Paris (SOAP), padahal Anna sama sekali tidak bisa bahasa Perancis!

Tentu saja malam pertama Anna di Paris dihabiskan di kamar asramanya sambil menangis, hingga seorang gadis bernama Meredith dari kamar sebelah (yang mendengar tangisannya) berbaik hati menghiburnya dan mengajaknya berteman, bahkan mengundangnya makan bersama di cafetaria keesokan harinya, yang membuatnya berteman dengan geng Meredith yang lain: Josh, adik angkatan yang artistik dan pacarnya Rashmi, juga Etienne St. Clair yang luar biasa tampan.

Bagi Anna, Etienne St. Clair adalah sebuah enigma: dia memiliki mata coklat yang lebar, rambut coklat yang indah, tangan seorang pria dewasa, nama Perancis yang eksotis, Aksen British yang sexy, dan kewarganegaraan Amerika. Dia juga baik hati, lucu, pintar dan percaya diri meski postur tubuhnya tidak terlalu tinggi. Dan dia juga....sudah punya pacar.

Saya mendengarkan versi audiobook buku ini, yang jujur saja bagian British Accent untuk suaranya si Etienne sama sekali tidak mirip British Accent, masih terasa banget Amerika-nya. Tapi untuk narasi lain dan dialog tokoh lainnya cukup okelaahhh....

Saya sebenarnya bukan penikmat kisah romance, jadi mungkin pendapat saya agak bias dan banyak yang tidak setuju saya hanya memberi rating 2 bintang, but don't hate me, ok. Tapi mari kita tengok satu-persatu alasan kenapa saya hanya memberi dua bintang.

Plot nya yang klise menyajikan kisah standar tentang anak SMA yang dipaksa pindah sekolah, lalu bertemu sahabat-sahabat baru dan juga love-interest baru sementara dia juga bingung karena memiliki sahabat dan love-interest di sekolah lamanya. Yah, okelah, saya memang mengerti bahwa tidak ada kisah yang original di dunia ini, dan banyak sekali novel dengan plot yang memiliki garis besar yang sama. Namun setidaknya kan hal itu bisa diakali dengan sedikit twist di sana-sini, dan kejutan tak terduga di sana-sini. Namun nyatanya novel ini memiliki jalan cerita yang lempeng...konfliknya pun lempeng dan standar dan tidak bikin kaget, tidak menyajikan sesuatu yang baru. Jadi jangan salahkan saya kalau saya 3X ketiduran saat mendengarkan novel ini (iya, saya sengaja menghitung, wkwkwk).

Karakter-karakter dalam novel ini juga sangat klise. 

Ada beberapa tipe karakter/penokohan yang sangat sering kau temui ketika kau membaca novel-novel YA romance, diantaranya: 
  1. karakter cewek yang cantik atau menarik namun tidak menyadari bahwa dia cantik plus tidak terlalu percaya diri (kadang berlaku juga untuk karakter cowok, tapi memang lebih sering dijumpai pada karakter cewek)
  2. Karakter love-interest yang hampir sempurna (biasanya digambarkan sebagai luar biasa tampan/cantik, pintar, lucu, baik hati)
  3. Karakter sahabat yang geek
  4. karakter sahabat yang 'weird' namun sebenarnya baik hati
  5. Karakter sahabat yang sebenarnya saingannya si karakter utama (entah dalam cinta atau penampilan atau skill)
  6. Karakter cewek 'bitchy' yang cantik
  7. Karakter cowok yang 'playboy' (biasanya pada awal cerita terkesan baik hati, pada akhir cerita ketahuan bahwa dia 'prat')
  8. Karakter orangtua cool
  9. Karakter orangtua yang 'not-so-cool'
Dan...coba tebaaak, ada berapa karakter di novel ini yang memiliki kesamaan dengan daftar "Your Typical YA Romance Characters" di atas???? Banyaakkk banget...I lost count.

Oke...seterah pembahasan tentang karakter cetek di atas, mari kita lanjut lagi. Kali ini saya akan membahas tentang "overused words/terms". Diantaranya:
  • Breathe --> Entah berapa kali kata "breathe" ini dipakai di novel ini, termasuk kombinasinya seperti "Breathe, Anna. Breathe" lalu "I can't breathe". Saya sampai berpikir, kalau sepanjang mendengarkan novel ini saya minum es kopi tiap kali dengar kata breathe, saya pasti sudah kena diare parah :(
  • Perfect --> kata ini terlalu sering muncul untuk menggambarkan suasana atau si love-interest.
  • Beautiful --> idem. kata ini juga terlalu sering muncul untuk menggambarkan si love-interest
Tambahan lagi, konflik-konflik yang terjadi di novel ini kebanyakan adalah karena karakter-karakternya "bereaksi berlebihan" terhadap sesuatu. Jeez, dramaqueen much?

Disamping kritik saya di atas, harus diakui, si penulis memang sangat jeli menyabet kesempatan dan peluang pasar, terutama para pembaca dari segmen remaja cewek dan wanita muda dengan menghadirkan sesuatu yang "berbau Paris". Karena, akui saja dech...banyaaaaakkk sekali cewek yang tergila-gila dengan image Paris sebagai kota penuh cinta dan kota yang romantis, dan, entah karena mereka memang asli tergila-gila dengan romantisme Paris ini, atau karena latah ikut-ikutan saja suka dengan romantisme Paris karena memang banyak cewek yang suka, atau karena ketularan hype. Entahlah...cobalah tanyakan pada diri anda sendiri. Eniwei, hal inilah yang diangkat si penulis karena dengan mudah, si penulis dengan ahlinya menyulap plot dan karakter biasa yang klise, dan menambahkan bumbu Paris, dan menyajikannya di nampan emas kepada pembaca yang tergila-gila akan Paris, dan BOOM! VOILA... Jadilah kisah ini tiba-tiba secara ajaib terasa romantis dan indah, more than it should be.

Kejelian si penulis juga dapat dilihat jelas dari penggambaran tokoh Etienne St. Clair. I mean, if you want a charachter that is lovable, why don't make him British who has an exotic French name??? Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa logat British itu SEXY. Saya sendiri sering klepek-klepek kalau dengar cowok dengan British accent, terutama yang daerah London, yum.... Dan tentu saja, nama Perancis yang Exotic macam Etienne juga bisa jadi nilai plus kan. Yuk coba dijumlahkan, logat British plus nama Perancis...hasilnya.....yupz! Dijamin banyak cewek akan tergila-gila dengan tokoh ini.

Satu lagi nilai plus buku ini adalah "Aura Paris" yang sangat terasa, mulai dari nama-nama Professor nya, menu makanan, sampai nama jalanan di sudut-sudut kota Paris juga banyaknya adegan jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Paris. Bahkan saya yang tidak tergila-gila dengan Paris pun sangat menikmati jalan-jalan ke Paris ini :)

Senin, 15 Februari 2016

JOGLOSEMAR UNITED: Valentine Specials - Romance Book Recommendations



Hallo...teman-teman semuanyaaa.... Pertama-tama, saya mau mengucapkan Happy Valentine dan Happy International Book Giving Day buat semuanya :)

Posting bareng BBI kali ini lumayan unik lho.... kenapa?! Karena postingannya tidak harus berbentuk review, jadi kita bebas mau nulis apa saja asal sesuai tema, isn't that fun? Yeah?

Itulah sebabnya postingan kali ini berisi rekomendasi novel romance yang passs banget buat dibaca di bulan penuh cinta ini *uhuk* yang disusun bersama dan dipersembahkan oleh anggota BBI Joglosemar dengan penuh cinta untuk semua teman-teman sekalian.

Okey, langsung saja yaaa.... inilah dia....

Joglosemar Romance Recommendations

















Rekomendasi di atas  (atas-bawah = kiri-kanan) merupakan persembahan dari: 


ALVINA, LILA, OPAT, TEZAR, DESTY, ASRI, DION, IKA, NURINA, OPAN, OKY, RAAFI, BZEE, WARDAH, DANI, CINDY, dan NINA.




Happy reading, friends.... ^_^



PS. Gambar cover diambil dari Goodreads

Oh iya, cek juga di sini untuk ngintip linky POSBAR BBI bulan Februari 2016

Kamis, 28 Januari 2016

What Is Hidden by Lauren Skidmore [review]

Title: What Is Hidden
Author: Lauren Skidmore
Language: English
265 pages
Genre: Fairytale retelling, Romance
My Rating: 4/5

Di sebuah negeri nun jauh di sana (iya, saya juga nggak tahu letaknya di mana kok) ada sebuah kerajaan bernama Venesia (ini bukan Venesia yang kota Venice itu lho ya...beda euy). Di negeri itu, semua penduduknya memakai topeng. Jika kau dari keluarga nelayan, kau memakai topeng dengan dominasi warna biru, jika kau dari keluarga seniman, warna hijaulah yang mendominasi. Lain lagi jika kau memiliki darah bangsawan, kau diperbolehkan memakai topeng berwarna ungu. Dan topeng berwarna putih hanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan saja. Ditambah lagi, semakin tinggi status sosialmu, semakin tertutup topengmu....jadi, er, bisa dibayangkan kan bentuk topeng yang dipakai keluarga kerajaan? Putih cemerlang dengan hiasan kristal, berlian dan mutiara juga bulu angsa, dan menutup seluruh wajah, juga masih ditambah dengan seberkas kerudung yang menutupi mata. O-okeee.....er....

Evie merupakan gadis delapan belas tahun dari keluarga seniman pembuat topeng. Dia sering berbelanja pita dan dan renda untuk topeng-topeng bikinannya ditemani sahabat karibnya, seorang bangsawan yang down to earth namun misterius, Aiden. Evie baru saja menerima dua topeng dari istana yang rusak dan hendak diperbaikinya ketika ayahnya terbunuh pada suatu malam, topeng-toping karyanya dirampok, dan rumahnya dibakar oreh seorang pria tak dikenal, kriminal yang bisa menyamar menjadi siapa saja yang terkenal dengan sebutan Chameleon (bunglon).

Jadi bisa dibayangkan kan, di tempat dimana semua orang bertopeng, akan sangat mudah bergonta-ganti identitas. Buka dulu tooopeeengmuuu.... *nyanyi*...dan whusss....ajaib, sekarang kau sudah punya nama baru, dan pekerjaan baru. Nobody really knows what you look like. Btw, ini negeri aneh cocok kayaknya buat tempat tinggal orang-orang dengan krisis identitas parah ;p

Eniwei, lanjut ke ceritanya tadi. Terbunuhnya sang ayah dan hilangnya semua topeng membuat Evie menjadi seseorang yang tak memiliki identitas. Dia dengan putus asa melakukan apapun untuk bertahan hidup dan mencari sang Chameleon. Untunglah topeng istana yang akan direparasinya masih dipegangnya. Dan tentu saja, Evie masuk ke istana dengan topeng baru dan identitas baru sebagai seorang pelayan dapur istana, sambil terus mencari tahu keberadaan sang pembunuh ayahnya.

Novel ini sebenarnya cerita retelling Cinderella yang penuh dengan twist di sana sini. Jujur saja, bagian paling mirip Cinderella dari novel ini sebenarnya cuma adegan pesta dansa yang berakhir jam 12 malam itu. Adegan akhir novel ini sebenarnya sudah bisa ditebak dengan mudah (ya iyalah...cerita Cinderella gitu...pasti adegan gongnya pesta dansa jam 12 malam itu, wkwkwk), namun entah kenapa saya enjoy banget baca buku ini. Tahu kan, ada masa-masa saat kau sedang tidak ingin baca buku dengan plot yang berat, adegan yang bikin mikir atau sakit hati...ya, pokoknya pengen bacaan yang ringan banget, serasa makan snack. Hehe, ya, inilah buku itu. Retelling Cinderella ringan yang enak dibaca dan menurut saya sangat menghibur, ditambah chemistry dua karakter utamanya yang menurut saya dapet banget feel nya.

Jumat, 08 Januari 2016

Winter by Marissa Meyer [review]

Title: Winter (The Lunar Chronicles #4)
Author: Marissa Meyer
824 pages
First published: 2015
Genre: sci-fi, dystopia, romance
My rating: 4/5


"I would be honored to die in service of my country." -- Emperor Kaito
After the big 'kidnapping' mission in the end of book three, the final of the saga started with the nice and peaceful life aboard the rampion. Kai and Cinder developed a lovey dovey relationship, despite the war between Earth and Luna. The happy atmosphere was increased by Carswell Thorne's miraculeous comeback of his eyesight. Sadly, it was also the time for Kai to return to Earth to take back his place as the Emperor and take care of his people in the middle of a devastating war.

Thorne piloted Kai back to the Eastern Commonwealth, and (this is one of my favorite part, because you can practically feel the bromance oozing from the pages) had a man-to-man and heart-to-heart conversation. I love this scene so much because I've been dying to se some bromance or friendship between the male characters, and finally! Finally it happened in the last book. Thank you, Ms. Meyer. Yes, I know I'm weird that way. Okay, moving on...

Their plan to stop the war was simple: Kai would try to convince Levana to have the royal wedding on Luna, and he would smuggle Cinder and the crew to Luna. From there, Cinder would try to gain trust from the citizen of Luna and take back the crown with the support of the people of Luna. Simple, ringht? Yeah, right.... (yes, I'm being synical). The plan had many loopholes of course, and everything did not work out as smooth as they planned...but you have to read it yourself to get the feel of the story.

Meanwhile, on Luna, Levana's step daughter (Winter) was rumored to have a natural beauty without glamour: lips as red as rose petals, hair as dark as the night sky and as silk as the silk....remember those? Yes, the famous fairy tale of Snow White. But the most interesting is, winter did not have the skin the colour of snow!!! An epic and beautiful twist, if I may say, bravo, Ms. Meyer. For the first time in history, Snow White was not pictured as white. Anyway, Winter vowed to stop using glamour several years back because she thought it was not right to use it. The problem was, when you stop using something you were born with, you would not be as healthy as you should be. In short, Winter had crazy halucination and sometimes she could not differenciate between reality and halucination. She should take a page out of Peeta Mellark from Hunger Games, I say. Real or not real? Ups...hehe... Well, basically, Winter tried to help Cinder and defy her stepmother despite her lack of grap in reality.

To be honest, after reading such a wonderful third book (Cress), this finale seemed a little 'go around the bush'. The pace of the story is not as fast as I like it to be. The best thing about reading a sequel is the characters; they are usually very well-developed. But I have to say, I do not like Wolf, Winter, and Jacin's character very much. They tend to focus more on themselves and their love life than the bigger picture of the war. I know it is human nature, self-preservation, but still...I don't have to like them, right?

Another thing that disturbed me was the similarity between this book and the classic fairy tale of Snow White was a little forced and a little too much. I know it is a fairy tale retelling, but there is a term of 'too much retelling'. It happened in this book and in the second book.

Despite all that, I really like the hidden meaning behind the saga. All the characters are from different places, different backgrounds, different skin colors, and different races...but they interact with each other without batting an eyelid, like those silly things do not matter, like we all are the same in the future....well, of course you have to forgive the glamour issues of Luna and the cyborg thingy that lead the story to all these drama of manipulation and discrimination, hahahaaa....

Over all, these series are some of the best sci-fi books I read in 2015. Enjoy... ^_^

Rabu, 16 Desember 2015

Cress by Marissa Meyer [review]

Title: Cress (The Lunar Chronicles #3)
Author: Marissa Meyer
Genre: Sci-fi, Dystopia, Romance
Published: 2014
550 pages
My rating: 5/5



"You know, when I was a kid, I was tricked into thinking that princesses wore tiaras and hosted tea parties. Now that I've met a real princess, I must say, I'm kind of disappointed" - Carswell Thorne
"You can help me pick out a tiara when we're done saving the world" - Cinder
The scene from the third book of the series started with the interaction in the Rampion spaceship among 4 people (Cinder, Thorne, Scarlet and Wolf) and one android named Iko with a suspected-faulty-personality. Wolf allowed Cinder to practice her Lunar gift on him and taught her in hand-to-hand combat.

When Cinder managed to communicate with the girl with the long hair who gave her information regarding Levana the Evil Queen, the whole crew decided to help rescue the girl from her confinement in a tiny satelite orbiting the Earth. The rescue plan didn't work out as they planned because the head thaumaturge Sybil Mira was waiting for them and set a trap, resulting in Cress and Thorne to fell to Earth in the satelite, Scarlet was kidnapped by Sybil Mira, and Wolf was critically injured. Cinder was forced to accept help from Jacin, the former pilot of Sybil who declared himself as "faithful to his Princess".

Cinder, Jacin and Wolf found themself in Farafrah, a small town in Africa where Lunar and Earthen lived in open harmony, to meet Dr.Erland. Meanwhile, Cress and Thorne (who was blind because of the satelite incident) must cross the terrifying Sahara Desert.

And where s Kai? This handsome Emperor of the Eastern Commonwealth found information regarding Cinder and now believed that She was actually doing something good by trying to find the missing Lunar Princess Selene. In the meantime, he believed that the only way to save the people of Earth is by agreeing to a marriage aliance with Luna and marry Levana.

Was Cinder going to stay calm and accept the love of her life marrying her evil aunt slash queen? Of course not! that was why she was going to kidnap Kai on his wedding day!

This is the best book of the series! yes, you read that right. THE BEST! Believe me, I've finished reading the whole series, and this book is still the best! I got this dreamy look and the euforic feeling several hours after reading this book, heheheee....

So, if you are my blog reader, you must knw that I am a big fan of action and fast pace in a novel. And trust me, this novel can offer you both! It is packed with action from the get go, till the end, which is also good in keeping the suspense running! I literally cannot put it down....oh, God...so good!

The characters are better developed in this book than the first two. It is really no surprise because this happens a lot with series book. Book one is a good warming up, book two usually sucks, and the book before the last book is usually the best. But, hey, this is just my own silly observation, by the way. But this series happens to fit the pattern. So, conclusion: THIS BOOK ROCKS!

I actually cannot say anything more because well, the plot: good.
Characters: good.
Pace: fast.
Action: full.
Suspense: totally page-turning.
Language: well-written.
Sarkasm: sarcastic enough for me.
Humor: it cracked me up in several parts.

So what can I say? It is that good! Love it so much!

Kamis, 10 Desember 2015

Scarlet by Marissa Meyer [review]


Title: Scarlet (The Lunar Chronicles #2)
Author : Marissa Meyer
Published: 2013
452 pages
Genre: sci-fi, dystopia, romance, fairytale retelling
My rating: 3/5
"Wolf, are you asking me to be... your alpha female?" -Scarlet

That single line quoted from the book above totally sent me into a fit of laughter there. And here goes my review of the second book of the series...

Scarlet Benoit was a red headed girl, who loved wearing a red hoodie anywhere she wanted, and lived with her grandmother in the small town of Rioux, France. Ding Dong! That's right, she was our little red riding hood from the famous fairytale! Except, she was actually not so little anymore. She was eighteen years old, and she was in such a state of panic and rage because her grandmother, Michelle Benoit was kidnapped. Her ID chip was cut of from her wrist, her portscreen was left behind, and the police gave up her case. Of course, as a good grandaughter, she could not leave it like this. So she took the case into her own hands, looking for the poor old grandmother through the forest accompanied by.....Wolf!

Just like the good old fairytale, isn't it?

Wait for it, this is the real twist. Remember Linh Cinder from book 1? And gorgeously handsome Prince (now Emperor) Kaito?
Cinder managed to escape her prison before Evil Queen Levana of Lunar Kingdom executed her, and she brought a friend (a fellow prisoner) along the way. Together, they travelled into the orbit outside Earth and tried to go to Europe. Emperor Kai was confused because Queen Levana gave him an ultimatum to capture Cinder or she would attack Earth. Of course there had to be several close call scenes in this book related to Linh Cinder. Moreover, Cinder knew something new about her past, and she intended to see Michelle Benoit for answers.

We can guess from those plot that our two girls were going to meet each other. Perhaps, in a spectacular way of some sort.

For me, I like the first book better because of several reasons:

1) Book 1 has all perfectly developed characters, I think. but I don't know...I just don't really like Scarlet's character a lot. Throughout the book, she seemed to be always in panic, or anger, or confusion....so, eventhough she was a pilot, and could shoot with a gun, the character seemed off for me. Not perfectly round.

2) The suspense is better in book 1 (and the pace is faster in book 1). Reading book 1 a.k.a. Cinder, felt like things happened so fast. On minute the King died, then the next is the arrival of the Evil Queen, then the ball, then bam bam bam! Fast! It kept me reading through the whole book like flying, which, I didn't find in this second book.Several times I found myself sleepy through some scenes in this book.

3) The romance from this book is a little forced for me, not really natural. But, that's me. Hey, don't judge, I'm not a good romance reader, apparently, heheheee...

4) The plot or should I say the content, is too light. I mean, it is okay. But that's it. Just okay. After the first fantastic book, this book is not so good.

5) And the last is my own personal selfish reason. WHERE IS KAI?! I know he was pictured in several chapters, but I need more! Kai is supposed to be all over the pages!!! *please don't mind me. I'm just having this prince phase that every girl has, apparently*

So, all in all....this book is good. Eventhough the first book was better, but let's keep our fingers crossed, right? I hope the next book is better.

See you!

Rabu, 02 Desember 2015

Cinder by Marissa Meyer [review]

Title: Cinder (Lunar Chronicles #1)
Author: Marissa Meyer
First published: 2012
390 pages
Genre: Sci-fi, dystopia, romance
My rating: 4/5

What's in your mind when you hear the word "Cinderella"? Perhaps the blue dress, the pumpkin carriage, the glass shoes, the midnignt curfew, and the happily ever after? Well, those are not what you'll get by reading this fairytale retelling novel.

"It is easier to trick others into perceiving you as beautiful if you can convince yourself you are beautiful. But mirrors have an uncanny way of telling the truth." --chapter 19
Linh Cinder is a famously gifted mechanic who worked and lived in New Beijing, 126 years after the World War IV. Eventhough she was a very skillful mechanic, she was considered a second-class citizen because she is a cyborg (part human, part machine). Almost 40% of her body was machine because of a very traumatic accident in the past that she lost one of her feet and hands...and her memories since before she was turned into a cyborg. She was adopted at the age of 11, and she lived with her guardian slash stepmother Linh Adri and her two stepsisters (Linh Pearl and Linh Peony).

She was brooding on a hot day in her small shop in the market when Prince Kai of Eastern Commonwealth came to get his tutor android repaired. And of course the prince had to be very handsome, and polite and funny and in short, Cinder was interested in the prince and vice versa. But of course things got a little complicated when the market was shut down because of 'the plague'. Letumosis is an extremely deadly sickness that attacts randomly and the patients' life would be numbered in days.

Peony and Cinder loved each other like real siblings eventhough they are stepsisters. Cinder was devastated when Peony was infected by the plague and must be taken to quarantie. Adri blamed Cinder for Peony's sickness and offered her as a 'test subject' to the royal health research for letumosis' antidote. She thought she was going to die as a guinea pig, but she was immune to letumosis, and offered a position as a blood donor (to be researched for the antidote) by the lead doctor. This was where she eventually met Prince Kai for the second time, and the third time...and so on.

Unlike the traditional Cinderella fairytale, the main antagonist in the story was not the stepmother. Queen Levana of the Lunar Kingdom (who was rumored to have murdered her older sister the real Queen, and her niece to take over the throne) had an ambition to take over the Earth by marrying Prince Kai after the death of the Emperor. Cinder tried to help Kai to defy the evil Queen.

Honestly, I was amazed by the story because it is very very creative and unique to turn a very traditional fairytale into an action sci-fi. Linh Cinder was unlike the old-time-Cinderella who accepted her fate, and got help from the fairygodmother and waited for the prince to find her. Linh Cinder was a kick-ass, a rebel, a real heroine because she took action throughout the story (you know I like strong women character, hehehe). The whole retelling is absolutely fantastic and very well-written. And of course the prince had to be soooo kind, sooo handsome, soooo sarcastic, soooo funny.... *melting*. I also like the Asian setting of this novel, because come on, I'm not being racist or anything, but most dystopian that I read has either the U.S or the U.K as the setting. I mean, come on, this world is BIG, BIG, BIG! I need to see other places as settings in novels too.

The only bad thing about the novel is that, I can predict the ending from only reading 30% of it. I mean, come on, it's to early to be able to guess the ending, about the real identity of Cinder and so on, but the clues are there for everyone to see, blindingly clear like chrystal. I don't know if it is intentional or not, but it definitely decreases the suspense for me. I wasn't even surprised when the lead doctor told Cinder that she actually was...*censored*...I'm disappointed.

But you know what, I still read it in only one day because the writing is good and you can just fly through it like I did. And the amazement factor of 'how could you make such a whole different world from traditional fairytale?' did get me till the end of the story and I intend to read the sequel. hahaaa.... So I guess, still 4 stars for this book.

It is recomended for you if you like sci-fi, dystopia, romance, and fairytale in a package. Enjoy :))

Rabu, 25 November 2015

Alienated by Melissa Landers [review]

Title: Alienated (Alienated #1)
Author: Melissa Landers
344 pages
First published: 2014
Genre: Sci-fi, romance

"It took surprisingly little to destroy an ecosystem. Thickening plant life would block sunlight and deoxygenize the water, and once the chemical makeup changed, it was only a matter of time before the water became unfit for consumption. Rainfall wouldn't generate enough to support all of Earth's life-forms, and humans would die painfully, battling for whatever drops remained." -- Chapter 18

According to Merriam-Webster dictionary, the term alien (n) means a creature that comes from somewhere other than the planet Earth. Moreover, the term alienate (v) refers to 'to cause (someone) to feel that she or he no longer belongs in a particular group, society, etc'. Thus, the title of the book actually can mean 2 things; a book about alien or a book about someone who is being shunned. Interestingly, it is a book about both.

Alienated is the title of the blog that was written by our main character in this book, Cara Sweeney. She was a readheaded girl with a temper to match her fiery hair, and vibrant blue eyes. She was a very competitive girl and the smartest student of Midtown High School. No wonder she was also the valedictorian and an excellent debater. This was why she was chosen to be an exchange student with.....wait for it....yeah, right, with another student form another planet!

Aelyx, a very intelligent student from Aegis in planet L'eihr (an alien planet that was able to contact planet Earth 2 years ago and the creatures had the same DNA pattern with humans of Earth) came to live with Cara under the same roof, before the girl leaves for L'eihr the following year.

"Supposedly, their planet was way older than Earth, and all races sort of blended together thousands of years ago. Thenbthey started evolving. Or mutating." -- Chapter 3

The first few days of living with the Sweeneys, Aelyx was cold and distant. He couldn't bear Earth's vibrant colors in autumn, he couldn't stomach Earth's food with strong seasonings, he even couldn't stand the music. He despised the whole exchange student thing and planned to sabotage it with his other two friends, Syrine and Eron, who came to Earth in the same program as Aelyx.

Cara, on the other hand, who really needed the scholarships from this exchange program, tried her hardest to be a good host for Aelyx. She even asked her Mom to decorate Aelyx's room in L'eihrian style and tried to recreate weird food from L'eihr. This made Aelyx felt more than grateful towards the girl, a feeling that was very alien to him because for generations, L'eihrs did not portray emotions.

"Our sky isn't blue. It's grey. The shade changes as the days goes on." -- Chapter 5

While Aelyx and Cara's relationships goes from acquaintances to close friends, the girl must suffer broken heart because her boyfriend and bestfriend dumped her and they joined an extreme organization of L'eihr haters. Cara even receives threatening notes in her locker, and being ignored by the whole school population. Things escalated when accidents started to happen to her and her friends and family.

"Our last war ended thousands of years ago. Your wars in the Middle East have barely ceased, and already there's conflict shimmering again. Humans have yet to move beyond the cycle of aggression ." -- Chapter 9

I read this book because the cover is beautiful. I know, I'm a sucker for pretty covers. But come on, the sparkling stars all over it? I just had to read it. And also, because of the synopsis. I mean exchange student with another planet. Hello....this theme has not been written before. It's very unique and original and it sounds bizarrely interesting.

At first, I didn't expect much from this book. Even after I read 50% of it, I was only "okay" with the story because so far, the story is very YA with a lot of teenage stuffs, and high school problems, which for me, are not really interesting. And romance. Big chunks of romance is not really my favorite. But hey, after about 60%, things getting interesting because the problems are getting bigger and bigger, and even the romance is getting hotter, and it was successful in making me laugh out loud because of some funny scenes. I mean, really laugh. Seriously, this book is really funny -- the humour and sarcasm from the writer are golden.

But something really serious happened in the 80% of the book that turned my opinion of the book upside down. I thought this book was about all funny things, teenage things and blah blah blah...but wow! It can get really serious. Like murder serious. Like dead serious. Like war serious. And it just made me like "whaaaaaaaattttt...!!!!???". That was pretty much my reaction. Honest. But I'm not talking about it. You have to read it yourself to get that effect, heheheeh...

Honestly, this book is more about romance than sci-fi, but it's okay because I think it is well-written and unique. Remember romeo and juliet? Two people who fell in love despite their different families? Yeah, this book takes star-crossed-lovers theme to a new extreme! Woohooo...

Another thing that I like about this book, is I think the topic that was brought (either intentionally or not) by the author is about differences. About human nature and that humans are still afraid of something different...afraid of someone different. Remember our histories about war in our beloved planet? Most of them were caused by different ideologies, skin colors, tribes, countries, races, and religions....sadly, until now. The book shows how people are afraid of other species, aliens, and took it to an extreme. The book actually made me realize that, in essence, we are all humans and children of Earth, brothers and sisters despite our differences. Silly things that differenciate us now, such as skin colors or races, who knows, in thousands of years in the future, just like in L'eihr, we will mix with each other, and there will only one race in this world. Thank God we still have differences to make our life colorful, don't you agree? :-)

Anyway, I really enjoyed reading it eventhough the pace is not fast enough for me in the first half of the book. But I had a lot of fun, anyway, so... 4 out of 5 stars for this book for making me laugh.

See ya in the next review, guys!

Selasa, 05 Mei 2015

The One (Selection Book 3) by Kiera Cass [review]

"I'm going to love you more than any man has ever loved a woman, more than you ever dreamed you could be loved. I promise you that." -Prince Maxon, chapter 27, The One-

Thank God the third book is far better than the second!
Tinggal 4 gadis yang tersisa dari proses seleksi sebagai calon Puteri Illéa dan pendamping Pangeran Maxon yang tampan dan super sweet dan baik hati. Mereka adalah Elise yang perfeksionis yang masih memiliki hubungan keluarga dengan New Asia yang sedang berkonflik dengan Illéa; Celeste sang model dari kasta nomor 2 yang cantik dan tangguh; Kriss yang lemah lembut dan favorit masyarakat; dan tentu saja America Singer sang musisi miskin dari kasta nomor 5.

Raja Clarkson mengancam America untuk "tutup mulut" karena setiap tingkah lakunya dianggap membahayakan sistem Kerajaan Illéa. Namun Pangeran Maxon yang memihak America mencoba mencari cara agar America bisa menjadi favorit masyarakat, menaikkan pamornya sehingga Raja Clarkson mau tak mau harus menerimanya. Namun tentu saja, bukan America namanya kalau tidak membuat ulah, yang justru malah membuat karakternya bersinar di mata banyak orang, yang akhirnya menuntutnya untuk menjadi ratu. Tentu saja ini membuat Raja Clarkson makin geram.

Pergulatan batin Amerika yang membuat pembaca bosan di buku kedua akhirnya berakhir, syukurlah. America akhirnya menyadari dia mencintai Pangeran Maxon. Tetapi bagaimana dengan Aspen yang mengatakan bahwa dia akan menunggu America? Well, singkatnya hal ini selesai tuntas juga di akhir buku ini, yang, lagi2 karena takut spoiler tak akan saya beberkan.

Lumayan banyak juga kejadian2 lucu di buku ini, termasuk usaha aneh America saat merayu sang Pangeran, juga girls bonding time para 4 gadis Elite yang tersisa, yang akhirnya bersahabat satu sama lain meskipun mereka bersaing di ajang Seleksi.

Dari sisi politik, baik America dan Maxon pun melakukan langkah2 drastis dan meminta bantuan dari pihak Italia dengan bantuan Puteri Nicoletta dari Italy, juga bergabung dengan pihak pemberontak Utara untuk menumpas Pemberontak Selatan yang semakin garang. Berhasilkah mereka sebelum pihak Selatan menyerang? Apalagi dengan Pihak pemberontak Selatan yang membabi buta melakukan pembunuhan di kasta2 asal para gadis Elite, dan menyebarkan teror dimana-mana, termasuk di dalam tembok istana.

Buku terakhir ini menurut saya adalah yang paling bagus dari ketiga buku yang sudah ada, karena merupakan paket lengkap; romance, action, politic, angst, dan juga family dan friendship moment tertuang semua di sini. Pokoknya lengkap. Pace nya juga lebih cepat dari buku2 sebelumnya, dan isinya lebih padat.
Oh iya, jangan lupa membaca Epilognya juga yang super duper sweet.

Minggu, 03 Mei 2015

The Elite (Selection Book 2) by Kiera Cass [review]

"And maybe this is silly, but it's my country. I get that it's broken, but that doesn't mean these anarchists can just come and take it. It's still mine. Does that sound crazy?" -Aspen Leger, Chapter 22, the Elite-

Entah kenapa rasanya I can relate banget sama quotation di atas. Rasa kecewa yang amat besar pada negeri sendiri, pada sistem yang ada, pada hukum yang sering berpihak, pada pemimpin-pemimpin bangsa, pada birokrasi juga pada masyarakat luas yang begitu nyata dan tidak bisa disangkal. Kutipan di atas, juga diri saya pribadi, tahu dan yakin bahwa negeri saya tidaklah sempurna, bahkan jauh, jauuuuhhhh dari sempurna. Tapi toh rasa cinta yang saya rasakan untuk negeri ini sangatlah besar, dan saya akan membelanya sampai kapanpun. Rasanya seperti menyayangi keluarga dan saudara sendiri, yang meski kadang menyakiti kita, dan mereka jelas tidak sempurna, tapi rasa cinta yang kita rasakan pasti tidak akan pudar. Kecewa mungkin, benci...never!

Topik itulah yang diangkat di buku kedua ini. Para karakter utamanya, America Singer, Pangeran Maxon, dan juga Aspen Leger terlihat sangat berdedikasi bagi negeri mereka dalam cara mereka masing-masing.

Berkali-kali pemberontak dari utara dan selatan menyerbu istana. Anggota keluarga kerajaan, termasuk Pangeran Maxon dan keenam Elite (6 gadis dari jumah total 35 dari kerajaan Illéa yang lolos seleksi sebagai calon Puteri dan pendamping Pangeran) dipaksa berlarian menuju "safe place" yang ada jauh di dalam istana. "Safe places" ini ada yang khusus untuk royalty dan para elite, juga ada yang khusus diperuntukkan bagi pelayan2 istana dan para penjaga, dengan ukuran lebih mungil namun tersebar di seluruh penjuru istana. Singkat kata, banyak sekali adegan di buku kedua ini terjadi di ruangan2 tersebut, termasuk salah satu adegan "klimaks" di akhir cerita yang tidak akan saya beberkan di sini. Takut spoiler heheeee....

Marlee, salah satu sahabat America di antara para Elite, tertangkap basah melakukan sesuatu yang terlarang. Dia dihukum dan dikeluarkan dari proses "seleksi". America sangat marah pada Maxon karena menurutnya, Maxon tidak melakukan apa-apa untuk menolong sahabatnya. Maxon yang gundah akhirnya menemukan tempat dia bisa "terhibur" oleh Kriss, salah satu gadis Elite yang lemah lembut, sedangkan America yang masih emosi "menghibur diri" di pelukan Aspen. Inilah awal terbentuknya kisah cinta segi empat yang rumit dan menyebalkan di buku ini.

Ya, saya memang bilang MENYEBALKAN. Kenapa?
Jujur saja, saya memang bukan penggemar kisah cinta segitiga. Lha ini malah segi empat. Ewww....
Tambahan lagi, sikap Maxon dan America di buku ini benar2 kelewatan layaknya ABG galau yang sedang bereksperimen sama cinta monyet. Ditambah kegalauan America yang mendominasi hampir 90% isi buku, mengingatkan saya pada karakter Bella Swan di buku New Moon. Maksud saya, kebangetan banget deh kalau sampai tidak bisa menentukan saya ini sebenarnya suka sama si A atau si B. Mungkin memang beberapa orang mengalami hal ini, tapi kan nggak harus juga berhalaman-halaman jadi "aduh aku suka A, eh tapi kok kayaknya aku nggak suka A. Eh ternyata aku suka A, eh tapi kok si A begini ya...bagaimana kalau B? Yasudah, aku sama B saja. Eh bentar, si A lebih keren. Eh eh...tapi B..." and it will go on forever and ever and ever....

Bagi saya pribadi, membaca sebuah novel adalah belajar dari karakter yang menginspirasi. Contohnya, kita bisa belajar tentang keberanian dan persahabatan dari tokoh Harry Potter, lalu sikap "nrimo" atau bersyukur dari tokoh Auggie Pullman dari Wonder, dan juga kreativitas tanpa batas (meski rada2 psycho) dari tokoh Amy dari Gone Girl. Nah, kalau sepanjang buku dua tokoh utamanya hanya menghadirkan rasa galau, saya mau belajar apa? Maaf mbak Kiera Cass, tapi masa ABG saya sudah lewat.

Seperti yang saya singgung di review tentang buku sebelumnya, bahwa unsur politik pasti akan semakin kental. Itu benar terjadi. Ditemukannya buku harian milik George Illéa membuka mata America dan Maxon bahwa negeri mereka memang membutuhkan sebuah "perubahan". Sayangnya konflik polotik ini tenggelam oleh konflik batin America yang mendominasi isi buku, padahal seharusnya bisa lebih dieksplor.

Jujur saja saya kecewa sekali dengan buku kedua ini. Setelah buku pertama yang sangat oke, buku kedua ini hancur berantakan. Namun jika memang penasaran sama keseluruhan isi cerita, ya harus dibaca sih hehe... paling nggak buku ketiganya bagus! Jadi rasa sakit hati saya sedikit terobati. Eh, itu harusnya saya tulis di review selanjutnya ya, hahaaaaa....

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...