Tampilkan postingan dengan label Children Literature and Middle Grade. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Children Literature and Middle Grade. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juli 2016

Fortunately, The Milk by Neil Gaiman [review]

Title: Fortunately, The Milk
Author: Neil Gaiman
113 pages, audiobook version in English
First published: 2013
Genre: Children
My rating: 3/5

Ketika aku dan adikku akan sarapan sereal pagi itu, ternyata susunya habis! Ibu sedang tidak di rumah. Tentu saja ayah yang akhirnya pergi untuk membeli susu untuk sarapan. Agak lama juga ayah pergi membeli susu, yang seharusnya tak selama itu. Namun begitu kembali dari membeli susu, ayah menceritakan kisah pembelian susunya yang aneh. Ayah berkata dia bertemu alien. Alien! juga dinosaurus, dan perompak! Apakah aku dan adikku percaya cerita ayah?

Saya mendengarkan versi audiobook kisah ini yang hebatnya, dibacakan sendiri oleh om Neil Gaiman!!! And, let me tell you, suaranya dia.... awww....seksi banget! Deep and animated voice, kind of soothing, sampai saya sempat sekali ketiduran waktu mendengarkan gara-gara suaranya si Om menenangkan banget. Pas banget dech buat dongeng sebelum tidur. Alhasil besoknya saya ulangi lagi ndengerin ceritanya dari awal karena lupa ceritanya sampai mana pas ketiduran itu, hehehee... Tapi saya jadi pengen baca buku aslinya untuk melihat berbagai macam ilustrasinya yang denger-denger sangat wow.

Eniwei, ceritanya memang bagus banget, dan karena memang untuk anak-anak, ya ceritanya anak-anak banget, hahaha... Tapi entah kenapa saya ya biasa aja. Suka sihh...tapi nggak sampai ter-wow begitu. Mungkin lain ceritanya kalau saya baca ini pas saya masih umur 9 tahun. Rasanya saya bakal jatuh cinta pada kisah macam ini jika saja buku ini sudah ada saat saya masih kecil :)
Tapi memang sih, jika kalian mencari bacaan untuk anak-anak, buku ini akan masuk dalam daftar top ten rekomendasi dariku, karena ceritanya memang luar biasa bagi anak-anak... mulai dari plot ceritanya, karakternya, diksinya...semuanya pas untuk anak-anak. Taburan adjectives dan advebs yang digunakanpun beragam dan kaya, mengenalkan anak pada kata-kata yang tidak terlalu dipakai dalam percakapan sehari-hari, namun akan sering ditemui pada kisah-kisah dongeng dan fantasy. Ahhh, two thumbs up dech ini. Anak saya besok akan saya bacain ini, hahahaa....

See you in the next post ^_^

Sabtu, 09 Juli 2016

Alice's Adventures in Wonderland by Lewis Caroll [review]

Title: Alice's Adventures in Wonderland (#1)
Author: Lewis Caroll
89 pages, e-book version
Language: English
First published: 1865
Genre: Classic, Children
My rating 1/5

"But I don't want to go among mad people." | "Oh, you can't help that. We're all mad here." -- a dialog between Alice and the Cat--
Alice adalah gadis kecil yang serba ingin tahu. Saat sedang bersama kakaknya membaca buku, dia melihat seekor kelinci putih yang memakai jas dan membawa jam saku dengan panik mengira dirinya terlambat. Alice kecil pun mengikuti si kelinci masuk ke lubangnya, yang membuatnya mendarat di Wonerland.

Alice bertemu banyak hal dan melihat banyak hal di Wonderland, mulai dari kucing yang suka nyengir, caterpilar, the Mad Hatter, sampai sang ratu dan pasukan kartunya.

Saya yakin banyak dari kalian sudah tahu garis besar dari buku anak legendaris ini, meski belum pernah membaca bukunya langsung sekalipun. Itulah kelebihan sebuah cerita klasik, luar biasa terkenal dengan banyak sekali adaptasi hingga tak perlu membacanya pun sudah tahu, hahaaa...

Nah, karena buku ini sangat terkenal, saya sengaja menyempatkan diri membacanya. Mungkin karena terkenal inilah ekspektasi saya terlalu tinggi. Toh ini buku yang disukai banyak sekali pembaca, pasti saya juga suka, begitulah pikir saya. Ah, tapi nyatanya tidak. Saya beneran kecewa dengan isi ceritanya. Rasanya entah kenapa saya mendapat kesan, saat membaca buku ini saya sedang masuk ke gudang yang berantakan. Seolah si penulis melemparkan dengan asal-asalan apa saja yang berkelebat di pikirannya tanpa ditata rapi terlebih dahulu. Makes me wonder....kok cerita bagini bisa terkenal banget ya? Yeah, mungkin waktu pertama kali terbit, belum banyak cerita-cerita dengan makhluk-makhluk ajaib bertebaran di dalamnya, wakakaaa #sotoy ;p

Namun sekali lagi, ini hanya pendapat saya lho, dan karena buku ini tipis, saya justru menyarankan kalian membacanya, baru setelah itu bisa berkomentar apakah kalian suka atau tidak. Karena meskipun saya tidak suka, nyatanya banyak lho, yang memfavoritkan buku ini. Siapa tahu, justru ini bacaan yang 'kamu banget' ^_^

See you in the next post ^_^

Sabtu, 18 Juni 2016

Half Upon A Time by James Riley [review]

Title: Half Upon A Time (#1)
Author: James Riley
385 pages
First published: 2010
Genre: Fantasy, Children Literature
Language: English
My rating: 4/5

Jack: Do you have to be a prince to wake a sleeping princess?
Granfather: Who knows? Smooch her, see what happens.

The funny thing in Jack's family is that every newborn son in the family would be named "Jack". Jack (the Thirteenth) lived in a land where fairy tales happened. He was a 14 years-old boy who had a bad mark in a test of 'saving-a-princess' at school. He couldn't stand royalties. He didn't believe that there is a living breathing princess in this land. And he hated his father, an infamous criminal who went missing years ago for stealing from giants by climbing magical beanstalks. That's whay he lived with his grandfather now. And his grandfather loved adventures, unlike Jack. But he was going on an adventure anyway.

It happened so suddenly when a young girl with blond and blue hair fell from a portal in the sky, right in front of Jack's outstreched arms. The girl was wearing a T-Shirt with the statement "Punk Princess" on the front. Of course Jack thought she was a princess from Punk.

May denied that she was a princess. She was a normal girl from the real world. When the huntsman came to her house and kidnap both her and her grandmother, she was panicked and managed to escape. She was transported through a portal and landed in front of Jack. Of course she was surprised to find out that the fairy tales are real and apparently...her regal and beautiful grandmother was Snow White! The Snow White!!!

May: No, because my grandmother isn't a character in a fairy tale.
Jack: Fairies don't have tails.

"If your grandmother is Snow White, then you really are a princess." -- Jack
After a funny problem where every boys in the village tried to marry May the Princess, Jack and May went on a daring adventure to rescue Snow White from the Wicked Queen. Easy, right? Of course not. They were kidnapped by the ugly and cruel witch who lived in a candy house, got eaten by a giant, met the Wolf King, the Red Hood, a fairy godmother....and a dragon!

May: You're saying witches actually ride around on brooms? Wow, how old-school.
Jack: It's tradition.

Along the way, they were accompaied by a real-living-breathing prince named Phillip, who was devastatingly handsome, and dressed in golden regalia. The three of them went through a very magical journey to the castle of the Wicked Witch.

"Because it doesn't matter if you're in a fairy tale or here in real life, doing the right thing still counts for something." -- Jack
I love this book. It is a funny twist of fairy tales. This is a kind of children book that can make you feel good after reading it. A nice companion before going to bed, heheheee.... When I was reading it, I felt like a child again, enjoying a magical story...such a nice feeling :)

I love the character Jack. He is what I think a great main character should be like. A very young yet wise boy (but not too wise. He still had the air of innocence around him). He was adorably naive, but he was brave and kind. His character portrays how a young knight shoud be, eventhough he was a child of a criminal and not a royal-born.

I loved May in the beginning of the story, She was unlike typical princess. But along the way she behaved like a spoiled child and did many things without thinking. And did you really have to take away her sarcasm? It's what made her character unique. But when the sarcasm was "stolen" I was like "Whaaaaat.... now she is a typical princess. damn!". Put that together with Phillip, the "typical prince" character, and you get a cliche :(

I hope May and Phillip characters would be different in the sequel, anyway.

Overall, this is such a good book to read when you are having a moody-kind-of-feeling-to-read-anything. Because if you're having a reading slump, a nice children book is a good way to get rid of it :)

See you in the next post ^_^

Jumat, 29 April 2016

The Hundred Dresses by Eleanor Estes [review]

Title: The Hundred Dresses
Author: Eleanor Estes
Illustrated by: Louis Slobodkin
Language: English, 80 pages
First published: 1944
Genre: Classic, Children Literature
Awards: Newbery Honor 1945
My rating 4/5

Wanda Petronski adalah gadis kecil dari Polandia yang bersekolah di Connecticut, Amerika. Dia selalu memakai pakaian yang sama setiap kali pergi ke sekolah; gaun warna biru yang warnanya sudah pudar, selalu bersih, namun tidak disetrika dengan rapi. Wanda yang dianggap "berbeda" karena memiliki nama yang keluarga yang tidak lazim, selalu menyendiri, dan memakai pakaian yang sama, akhirnya sering "digoda" oleh teman-temannya. Setiap hari, yang terjadi selalu sama. Peggy, teman sekelas Wanda akan bertanya "Berapa pakaian yang kau punya di rumah?" dan setiap kali Wanda akan menjawab dengan kalimat yang sama "One hundred dresses. All lined up in the closet".

Uniknya, buku ini diceritakan dari sudut pandang sahabat Peggy yang bernama Maddie. Setiap kali Peggy "menggoda" Wanda dengan bertanya jumlah bajunya, Maddie selalu ada di sana, tidak ikut "menggoda" Wanda, namun tidak juga membela Wanda meski Maddie merasa apa yang dilakukan salah. Dan tentu semua orang, termasuk Maddie dan Peggy, jadi bertanya-taya apa yang terjadi pada Wanda ketika tiba-tiba gadis kecil itu tidak muncul di sekolah. Apalagi setelah Wanda memenangkan kontes menggambar!

Novel ini sangat sederhana, namun menurut saya sangat indah dan sarat makna, cocok sekali untuk bacaan anak-anak mengenai arti persahabatan, dan saling memaafkan. Karena ditulis dari sudut pandang Maddie si gadis kecil, bahasanya juga sederhana dan tidak terkesan menggurui, lugu namun jujur. Yang unik, novel ini adalah novel klasik yang menceritakan tentang "bullying" ketika bahkan istilah "bullying" itu sendiri mungkin belum ditemukan atau belum populer. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan kata "tease", "ridicule" atau "game" yang dipakai untuk menggambarkan kegiatan "bullying" di sini, namun tak sekalipun istilah itu disebutkan. Ya iyalahhh.... terbit pertama kali sebelum Indonesia merdeka gitu loh...heheheee...

Review ini ditulis sebagai bagian dari Posting Bareng BBI bulan April 2016 dengan tema #BBIChildrenBooks

Enjoy!
See you in the next post ^_^

Selasa, 01 Maret 2016

Are You There, God? It's Me, Margareth by Judy Blume [review]

Title: Are You There, God? It's Me, Margareth
Author: Judy Blume
First published: 1970
Genre: Children Literature
(audiobook version)
My rating 4/5


Bagi Margareth Simon, usia dua belas tahun adalah usia ketika kau harus memakai deodorant karena pada usia segitulah ketiakmu mulai berbau tidak sedap, untunglah dia masih punya beberapa bulan lagi sebelum usianya dua belas tahun.

Margareth yang baru akan memasuki kelas 6 SD, pindah ke New Jersey, daerah suburban (pinggir kota) New York. karena entah kenapa orang tuanya menginginkan rumah baru dengan halaman untuk berkebun. Margareth bahkan tidak pernah tahu kalau orangtuanya suka berkebun. Kecemasannya akan kepindahannya ke sekolah baru, membuatnya menyambar kesempatan pertama untuk berteman. Dia langsung mengiyakan ketika Nancy, yang tinggal hanya 6 rumah dari rumah baru Margareth, mengajaknya bergabung dengan 'kelompok rahasia'nya bersamma dua orang teman lainnya. Kelompok rahasia tersebut bertemu seminggu sekali sepulang sekolah dan mendiskusikan berbagai hal, seperti misalnya: kapan dan bagaimana rasanya saat pertama kali mendapat menstruasi, daftar cowok paling hot  di sekolah, juga menggosipkan teman sekelas mereka yang tinggi dan berdada besar, Laura Danker.

Ayah Margareth berasal dari keluarga Yahudi. sedangkan Ibu Margareth berasal dari keluarga Nasrani yang taat. Karena perbedaan agama inilah, pernikahan kedua orangtua Margareth ditentang keras oleh orangtua Ibu Margareth, dan selama 15 tahun, mereka menolak berhubungan dengan putri mereka sendiri. Akibatya, Margareth tidak pernah mengenal kakek-neneknya dari pihak Ibu, hanya neneknya dari pihak Ayahlah yang selalu memanjakannya, bahkan mengunjunginya seriap bulan dari New York. Hal inilah yang menyebabkan Margareth tidak beragama karena orangtuanya memutuskan 'elope' atau kawin lari 15 tahun yang lalu dan mengesampingkan perbedaan agama mereka demi cinta. Jadi Margarethlah yang harus memutuskan dia akan memilih agama apa nantinya jika kelak sudah dewasa.

Satu hal yang perlu diingat saat membaca novel ini adalah: BE OPEN MINDED!

Membaca novel ini harus dengan pikiran terbuka karena isu sensitif yang diangkat novel ini, yaitu tentang agama. Ditambah lagi ini novel anak-anak. Ditambah lagi terkadang beberapa orang Indonesia hobi sekali dramatis dan membesar-besarkan hal kecil, dramaqueen. Fiuhh....

Jika pembaca sedikit berpikir, sebenarnya si penulis tidak sedang mengangkat isu agama, tapi lebih ke masalah cultural saja di Amerika sana (dan mungkin juga di negara-negara lainnya). Penulis mencoba membuka awareness bahwa perselisihan dalam keluarga, termasuk yang terjadi akibat pernikahan berbeda agama selalu memakan korban dari pihak "anak". Dalam novel ini, Margareth lah si korban itu. Kebingungan yang dialami Margareth ini tergambar dengan gamblang dan lugu; menyindir namun tidak menggurui, dan dialirkan dalam narasi apik khas anan-anak dari sudut pandang orang pertama.

Isu sensitif lain yang diangkat adalah mengenai puberty dan sex bagi anak perempuan. Saya akui di Indonesia sendiri pendidikan sex masih tergolong tabu bagi sbagian orang. Namun novel ini seolah membawa saya bernostalgia ke masa kelas 6 SD, dimana seorang cewek yang *maaf* menstruasi lebih awal dan berkembang lebih awal daripada teman sepantarannya selalu diperolok dan dijadikan bulan-bulanan, dan digosipkan aneh2, hanya gara-gara sesuatu yang indah dan alami terjadi...well, that's puberty for you, guys. Masa ini juga masa dimana keingintahuan tentang sex dan menjadi dewasa sangat tinggi, dimulai dari tantangan mencium lawan jenis, sampai mencuri majalah playboy milik ayah...dan uniknya, meski pesan moral yang disampaikan tentang pentingnya sex education bagi anak tersampaikan dengan baik, bahasanya pun luwes dan enak...lugu seperti halnya ocehan anak-anak.

Eniwei, saya sangat menikmati membaca, eh, mendengarkan audiobook novel ini yang kurang lebih sepanjang 3 jam. Ah....how to be young... *nostalgia lagi*

Dan, oh iya, ini bacaan yang sangaaaaatttt cewek banget lho, hahahaaa.... 

Enjoy! See you in the next post ^_^

Jumat, 20 November 2015

Five on a Treasure Island by Enid Blyton [review]

Judul asli: The Famous Five: Five on a Treasure Island
Series number: first
Author: Enid Blyton
Illustrator (original): Eileen Soper
First published in 1942

Tiga kakak beradik Julian, Dick dan Anne batal pergi ke Polseath untuk berlibur musim panas seperti biasanya. Setelah orangtua mereka menghubungi Paman Quentin dan Bibi Fanny, mereka memutuskan untuk menghabiskan musim panas di Pondok Kirrin bersama paman, bibi, serta sepupu mereka Georgina yang belum pernah mereka temui.

Ketiga kakak beradik tersebut sangat bersemangat bertemu sepupu mereka yang sepantaran itu, terutama Anne karena sama-sama anak perempuan. Tak disangka, meskipun pondok di tepi laut itu sangat homey dan bibi Fanny menyambut mereka dengan ramah dan menyuguhi mereka makanan-makanan enak, namun paman Quentin terkesan sangat galak dan Georgina terkesan angkuh.

Anne bahkan lebih kecewa karena Georgina sama sekali tidak seperti anak perempuan kebanyakan yang gemar bermain boneka dan memakai gaun yang cantik. Sepupu mereka lebih suka dipanggil George, berambut pendek, memakai celana dan bertingkah layaknya anak laki-laki. Singkat kata, George adalah anak yang super tomboy. Terlebih lagi George tidak menerima kedatangan sepupu-sepupunya dengan tangan terbuka. Dia adalah anak tunggal yang terbiasa melakukan segalanya sendiri, dan tidak terbiasa berbagi dan bersosialisasi.

Setelah melakukan beberapa hal bersama-sama, seperti mengajak Tim (anjing milik George yang dititipkan ke seorang anak nelayan) berjalan-jalan, melihat shipwreck, dan mengunjungi pulau Kirrin (pulau kecil milik George dan keluarganya, lengkap dengan reruntuhan kastil tua), George bisa menerima keberadaan Julian, Dick dan Anne, dan bahkan berteman dengan mereka.

Petualangan besar mereka terjadi saat mereka mengunjungi pulau Kirrin.  Mereka sempat terjebak badai, dan harus bernaung di reruntuhan kastil di pulau itu sampai badai reda. Namun badai yang mengejutkan adalah badai tersebut berhasil membuat shipwreck milik leluhur George yang tadinya ada di dasar laut, terangkat ke permukaan dan terdampar di antara batu karang. Tentu saja keempat anak dan anjing mereka yang gatal akan petualangan langsung menggeledah shipwreck tersebut.

Singkat cerita, mereka berhasil menemukan sebuah kotak tua milik leluhur George, dan peta harta karun!

Okeeeey, membaca cerita ini lagi itu ibaratnya seperti walking down the memory lane. Pada jaman dahulu kala.....saat bumi tak sepanas saat ini, ada seorang gadis kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar (iya itu maksudnya saya. Puass? Puasss?). Gadis kecil itu, yang saat itu berusia kira-kira sembilan tahun, tidak tertarik dengan game2 seperti nintendo yang saat itu sedang marak di kalangan anak seusianya. Gadis kecil itu meminta buku pada ibunya. Sang ibu yang adalah seorang guru di SMA, tentu saja meminjam buku-buku dari perpustakaan tempat beliau mengajar. Setumpuk buku dibawanya; ada lima sekawan, lupus, trio detektif Alfred Hitchcock juga buku-bukunya Agatha Christie. Nah, kira2 inilah salah satu buku yang sempat dibacanya kala itu.

Umur segitu memang pas banget untuk membaca kisah petualangan di sebuah pulau dan kastil tua. Maksud saya, ayolah, siapa sih yang saat itu tidak mau menjelajahi kastil tua, berburu harta karun dan menemukan batangan emas? Saya kira hampir semua anak melewati pirate stage dech, hehehe.... *tunjuk hidung sendiri* Jadi wajar saja saya menganggap buku ini bagus sekali.

Saking terkesannya dengan buku ini kala itu, saya memutuskan untuk membaca ulang. Kali ini sengaja dengan yang versi bahasa enggres, biar gregetnya lebih terasa dan bisa membandingkan gitu maksudnya.

Jujur, saya kaget banget waktu membaca ulang kisah ini. Kenapa tidak sebagus yang ada di ingatan saya saat itu????
Oh, well, jelas iya laaah...saya sudah dewasa. Pola pikirnya sudah tidak seperti anak umur sembilan tahun, tentu sekarang saya menganggap buku ini agak hambar, padahal dulu sangat wow.

Dalam hal bahasa, novel ini menggunakan bahasa yang saat ini, yah, sudah tidak lazim digunakan. Kata-katanya terlalu formal untuk dipakai di masa sekarang. Tapi asyik sekali lho membayangkan orang-orang jaman dulu benar-benar berbicara layaknya di novel ini, hehehe... well, it's classic, what d'you expect? Duh...

Ada dua kata yang sampai membuat saya bengong, karena baru kali ini melihatnya digunakan dalam konteks seperti ini; gay dan queer.
Mungkin karena saya kurang piknik ya, atau terlalu banyak membaca buku-buku modern jadi kaget melihat ada kata-kata itu tercetak di buku terbitan tahun 1942 (bahkan Indonesia kita tercinta belum merdeka lho). Saya sampai mengecek kamus, ngoahahaaa..

Berikut contohnya dalam kutipan:

"Rose climbed over the front of it, and the garden was gay with flowers." -Chapter 1

"Isn't she queer -- not waiting to welcome us -- and not coming in to supper -- and not even in yet!" - Chapter 2

"She's awfully queer, I think. She says she didn't want us to come because we'll interfere with her." - Chapter 2

"They thought she qas the queerest girl they had ever known." - Chapter 3

"It would be marvellous to visit the queer little island." - Chapter 5

"It felt very queer and mysterious." - Chapter 5

Contoh di atas hanya sebagian karena masih banyak penggunaan kata queer di buku ini. Jaman sekarang kebanyakan orang tidak memakai dua kata yang saya sebut karena pergeseran makna. Sekarang dua kata tersebut merujuk pada kaum homoseksual. Namun dari banyaknya pengulangan kata itu di buku ini, bisa disimpulkan dahulu kata tersebut masih sering digunakan karena artinya belum seambigu sekarang. Sebenarnya hal ini sering sekali terjadi pada semua bahasa yang hidup (istilah untuk sebuah bahasa yang masih digunakan manusia, dan masih terus berubah dan berkembang).

The Characters

Bicara sebuah novel, apalagi yang klasik seperti ini, tentu tidak lengkap jika tidak membahas masalah karakter. Oke, langsung saja:

Julian adalah "leader" dari grup lima sekawan ini karena memang yang paling tua, dan cowok. Cowok beneran, bukan kayak George yang cowok jadi-jadian, hehehee... Dia penyayang dan perhatian terhadap adik-adiknya. Dia juga tipe orang yang berani mengakui kesalahan (berjiwa ksatria) karena mengaku pada paman Quentin bahwa dia yang melempar box tua yang mereka temukan di bangkai kapal.

Dick adalah adik kandung dari Julian, yang mengalami perubahan karakter, karena dia digambarkan sebagai "cry-baby" oleh Anne beberapa tahun lalu, namun dialah sang "pahlawan" di akhir cerita di novel ini.

Anne ini karakter yang saya paling tidak suka. Kenapa? Yaampun dia itu sok imut, sok cantik dan manja abis! Cintphnya, ada adegan dia disuruh menyimpan rahasia, berkali-kali anak ini membocorkannya. Ember banget deh pokoknya, bermulut besar. Gampang panik, dan di keseluruhan cerita seperti tidak bisa diandalkan. Tipe-tipe cewek damsell in distress, dan saya yg penyuka tipe karakter wanita tangguh tentu otomatis tidak suka sama dia, heheee...

George perubahan karakternya bagus, karena dia yang tadinya anti sosial, bisa mempercayai teman-temannya. Ini memang karakter yang sepertinya dibuat paling "unik" oleh si penulis karena merupakan seorang cewek yang sangat "in denial" bahwa dia terlahir cewek, hehehee...

Aunt Fanny digambarkan sebagai bibi yang baik hati, ramah, pintar masak, dan taat kepada suami. Saking taatnya sampai agak plin plan waktu George kecewa bahwa pulau Kirrin akan dijual dan aunt Fanny seperti bingung sendiri, di satu sisi beliau sudah memberikan pulau itu ke George, di sisi lain, dia harus tunduk pada suami. Tapi menurut saya karakter ini kurang dieksplor. Mungkin karena kemunculannya yang tidak banyak di buku pertama ini.

Uncle Quentin adalah orang yang menurut saya "dangkal". Dia ilmuwan yang sibuk, jika ada yang berisik, dia akan mengusirnya. Sedikit-sedikit memberi hukuman, tidak ramah, dan seperti menyombongkan "aku ini si kepala keluarga! Aku yang bikin aturan!" Kesannya seperti tipikal suami jaman duluuu (iyalah settingnya aja tahun 1942 woy!). Jujur ya, saya jadi ingat almarhum Mbah Kakung yang juga strict seperti tokoh paman ini. Hehee... Tapi waktu di akhir cerita paman Quentin ini berubah ramah karena tiba2 punya harta warisan, beuh...kesannya dia mata duitan bangetttt....

Anyway, novel ini ternyata sudah pernah di film kan pada tahun 1957 dan disutradarai oleh Gerard Landau. Iya, saya juga nggak kenal dia siapa. Bahkan pada tahun itu ibu saya belum lahir, ngoahahaa...

Oh, iya, sekilas mengenai penulis, Enid Blyton ini lahir pada tanggal 11 Agustus tahun 1897 di London dan meninggal pada tanggal 28 November 1968 di London juga. Karya2nya luar biasa banyak dan terkenal, dan kebanyakan tentang anak-anak, karena beliau juga seorang guru. Jika mau lihat dramatisasi kisah hidupnya, ada lho filmnya produksi BBC tahun 2009, dan diperankan oleh Helena Bonham Carter (si pemeran Bellatrix Lestrange di Harry Potter) yang judulnya Enid.

Semoga postingan saya bermanfaat bagi teman2 semuanya. Bye... :-)

Jumat, 31 Juli 2015

The Julian Chapter: A Wonder Story by R.J. Palacio

Julian adalah tokoh antagonis dalam kisah Wonder karya R.J. Palacio, sebuah novel anak yang mengisahkan tentang lika-liku drama anak sekolah, termasuk bullying, yang kita tahu benar sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam dinding sekolah di seluruh dunia. Dalam novel tersebut, kita mungkin bertanya-tanya, apa sih yang ada di dalam pikiran si "tokoh jahat" ini sampai membuatnya bertindak semena-mena? Apa dia tidak punya hati?

The Julian Chapter: A Wonder Story, merupakan buku Spin-Off dari novel tersebut, yang mengisahkan cerita yang sama dengan kisah dalam novel Wonder, namun dari sudut pandang Julian, si tukang bully. Saya membacanya versi e-book karena memang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Julian adalah anak yang normal, punya keluarga yang sangat menyayanginya, dan punya teman-teman yang keren. Dia cukup kaya, dan keren juga menyenangkan, itulah sebabnya dia cukup populer di sekolah. Namun bukan manusia namanya jika tidak punya suatu kekurangan: Julian sangatlah penakut. Julian takut sekali dengan hantu, topeng seram, zombie, alien, bahkan diapun takut pada Voldemort dari film Harry Potter.

Ketika Julian diminta oleh kepala sekolah menjadi salah satu anak yang menyambut kedatangan "murid baru", tentu Julian bangga. Dia bahkan bersedia menjadi teman si anak baru itu karena tentu saja semua orang ingin jadi teman Julian yang populer. Tapi begitu pertama kali melihat Auggie si anak baru, mimpi buruknya seakan keluar ke dunia nyata untuk menghantui jam2 belajarnya di sekolah. Auggie terlihat seperti monster yang selalu membuatnya menjerit ketakutan, literally.

Ketakutannya terhadap Auggie semakin terasa ketika salah satu sahabatnya Jack Will justru malah berteman dengan Auggie. Tentu saja Julian tidak bisa tinggal diam, maka entah bagaimanapun caranya dia berusaha membuat Auggie menderita. Salah sendiri Auggie si monster datang tanpa diundang ke sekolah Julian dan mencuri semua perhatian. Ugh, apa-apa Auggie, apa-apa Auggie. Apa mereka semua tidak melihat bahwa wajah Auggie sangatlah menakutkan?!

Akhirnya setelah insiden notes ejekan yang menghebohkan dengan Auggie, ayah Julian menarik Julian dari sekolah dan berusaha memindahkannya ke sekolah lain. Selama itu, Julian pun menghabiskan liburan bersama neneknya di Perancis. Nenek Julian adalah wanita tua yang keren dan sangat "vain". Beliau selalu mementingkan penampilan, dan ke salon, tidak seperri nenek2 lain yang memakai sweater rajutan dan memanggang kuw kering untuk cucunya. Namun siapa sangka, sang nenek yang eksentrik ini justru menjadi sosok yang membuat Julian akhirnya menyadari keaalahannya. Nenek bahkan menceritakan kisahnya saat masih sekolah dulu, kisah yang membuat Julian sangat terharu.

Jujur saja, teman2, kisah si neneknya Julian ini sempat membuat saya menangis lho....benar2 menyedihkan, tapi mengharukan dan sangat indah. Kalau kalian membaca Wonder, buku yang satu ini wajib dibaca lho....kita jadi tahu bahwa sisi lain dari sebuah cerita, meski dari sisi yang gelap, juga bisa sangat menakjubkan.

Posting ini juga dibuat dalam rangka #PosbarAnak BBI.

Sabtu, 20 Juni 2015

Wonder by R.J. Palacio [review]

Judul asli: Wonder
Penulis : R.J. Palacio
Penerbit: Atria
Tahun terbit: 2012
Penerjemah: Harisa Permatasari
ISBN: 978-979-024-508-2
Paperback, 428 halaman

"Bisa dibilang kami bagaikan Beauty and the Beast." (hal. 80)

Ketika kita melihat sebuah kisah, entah itu dari buku, ataupun dari film, kita (uhuk, maksudnya saya. Iya, saya) biasanya terpesona oleh penampilan si tokoh utama. Kenapa? Soalnya tokoh utama biasanya digambarkan sebagai sosok cantik rupawan atau sangat tampan, meski kadang si tokoh tersebut tidak menyadarinya. Namun Wonder menyajikan sesuatu yang menurut saya berani berbeda di novel2 modern: tokoh utama yang buruk rupa.

August (Auggie) Pullman adalah seorang anak laki-laki yang buruk rupa sejak lahir karena menderita penyakit langka Mandibulofacial Dysostosis, sebuah kondisi rumit yang membuat wajahnya tampak tidak biasa. Dan tentu saja di akhir cerita tidak akan ada gadis cantik yang jatuh cinta padanya dan merubahnya menjadi pangeran tampan. Pliss deh...

Don't judge a book by its cover. Ungkapan itu adalah ungkapan yg paling pas untuk tokoh Auggie ini. Meski penampilan luarnya tampak seperti monster, namun bagi orang2 yang sungguh mengenalnya, dia adalah anak yang spesial. Dia lucu, pemberani, baik hati, dan pintar. Dia juga sangat sangat menyadari keburukan penampilannya, dan meskipun terkadang hal tersebut membuatnya dibully orang2 sekitarnya, Auggie menerimanya dengan tabah.

"Kenapa aku harus sejelek ini, Mommy?"
"Tidak sayang, kau tidak..."
"Aku tahu aku jelek" (hal. 85)

"Kurasa seperti Sentuhan Keju di dalam Diary of a Wimpy Kid. Para murid di cerita itu takut terjangkit kutu jika menyentuh keju tua berjamur yang ada di lapangan basket. Di Beecher Prep, akulah keju tua berjamur itu." (hal. 108)

Pem-bully-an terhadap Auggie terjadi ketika untuk pertama kalinya, dia masuk sekolah umum yang bernama Beecher Prep. Karena biasanya home-schooled, Auggie harus menghadapi banyak sekali perubahan yang terjadi. Dia harus bergaul dengan teman2 seangkatannya yang "normal". Summer, seorang gadis cantik yang tadinya kasihan terhadap Auggie menemaninya makan siang, dan sejak saat itu mereka bersahabat. Jack Will, salah satu murid yang diperintah kepala sekolah sebagai bagian dari tim penyambutan Auggie di Beecher Prep pun akhirnya bersahabat dengan Auggie, tidak seperti Julian yang terang2an membenci Auggie.

Buku ini mengisahkan kisah Auggie bukan hanya dari sudut pandng si tokoh utama saja, tapi juga dari berbagai karkter yang berinteraksi dengan Auggie, seperti misalnya si kakak perempuan yang bernama Via, ataupun mantan sahabat Via yang telah menganggap Auggie sebagai adik sendiri, bahkan dari sudut pandang kedua sahabat Auggie: Summer dan Jack Will.

"Aku tak bisa membayangkan setiap hari menatap cermin dan melihat diriku seperti itu." (hal. 109)

Yang menarik dari buku ini adalah banyaknya perubahan dan pelajaran yang disadari tokoh2 di sekitar Auggie, karena kondisi Auggie. Kita bisa melihat dengan jelas perubahan drastis karakter A atau B dari baik menjadi buruk, ataupun sebaliknya.

"Alam semesta menjaga makhluk ciptaan paling rapuh dengan berbagai cara yang tidak bisa kita lihat." (hal. 278)

"Kau tak membutuhkan mata untuk mencintai, ya kan? Kau hanya merasakannya di dalam dirimu ." (hal. 309)

Overall, dari segi terjemahan, buku ini enak dibaca. Bahasa yg digunakan penulisnya juga tidak muluk2, namun sederhana dan mudah dipahami. Meski begitu, buku ini berhasil membuat saya menangis terharu di akhir cerita. Thumbs up dech pokoknya.

Jadi, sesuai janji, buku yg saya beli saat Kopdar BBI Joglosemar di Jogja ini sudah direview ya....heheee....meski luamaaaaa.....
Eh, ternyata ada banyak lho, spin-off dari duku ini. So far spin-off yg sudah saya baca baru "Julian Chapter" yang juga baguuuussss dech..... tapi 2 spin-off lain, yaitu "365 Days of Wonder" dan "Pluto" masih tertimbun rapi di dalam tablet karena spin-off nya memang versi Inggris, belum diterjemahkan (dan sepertinya juga tidak akan diterjemahkan dech), heheheee.....

Sabtu, 05 Juli 2014

A Dash of Magic by Kathryn Littlewood

Paperback, 300 halaman
Seri kedua Bliss novel
Penerbit: Nourabooks, Mizan Fantasi
Tahun terbit: 2013
Penerjemah: Sujatrini Liza


"Kau sudah menjadi sous-chef yang luar biasa selama sembilan tahun terakhir, walaupun kue-kue yang dibuat tidak seajaib yang kita inginkan. Sekaang waktunya bagi Mama untuk menjadi sous-chef-mu. Mama akan berada di sisimu sepanjang waktu." -hal 47-

Setelah pencurian atas Bliss Cookery Booke oleh Aunt Lily di buku pertama, buku kedua ini dimulai dengan Aunt Lily yang memanfaatkan Booke untuk kepantingannya sendiri agar dia bisa terkenal. Lily bahkan memiliki acara TV sendiri, dan menjual produk memasak yang "berbau sihir jahat". Untuk menghentikannya, Rose, yang merasa bertanggung jawab atas hilangnya Booke, menerima tantangan Bibi Lily untuk mengikuti kompetisi Gala (kompetisi memasak internasional) di Paris. Jika Rose menang, maka bibi Lily akan mengembalikan Booke, jika tidak maka Rose dan keluarga Bliss harus merelakan hilangnya Booke untuk selamanya.

Petualangan Rose dan keluarga Bliss pun dimulai ketika mereka harus mengumpulkan bahan-bahan ajaib untuk membuat kue ajaib seperti Deantang Lonceng Notre Dame, atau Rona Ratu Sejati. Untunglah dengan bantuan kakek Balthazar, Gus si kucing yang bisa bicara, juga Jaques yang selalu siap membantu, mereka berhasil mengumpulkan bahan-bahan ajaib tersebt. Namun apakah Rose masih bisa memenangkan Gala ketika bawahan Lily yang jahat berhasil mencuri semua bahan ajaib yang teah dikumpulkan dengan susah payah itu?

Hal yang paling saya suka dari buku ini adalah: Biru. Pinggirannya yang berwarna biru itu memang sangat menggemaskan, jadi tak kuasalah saya untuk menolak panggilan hati untuk memiliki buku ini *halah*. Hal yang saya tidak suka adalah karakter Rose. Dia seharusnya adalah tokoh utama yang...yah, spesial, tapi disini menurut saya Rose sama sekali tidak menonjol. Rasa percaya diri kurang, kemampuan yang pas-pasan, plin-plan, dan...pokoknya biasa saja. Jujur saja saya agak bosan membaca buku ini karena karakter si Rose yang tidak mencolok sebagai "main" karakter ini.

Bagian akhir juga terlihat sangat "berlebihan". Pertama, penampilan Rose saat final. Memang dari awal buku pertama udah digambarkan bahwa Rose memang seorang gadis yang penampilannya "biasa saja". Namun apa iya, kata "biasa saja" itu lantas diartikan dengan Rose yang menghadiri final kejuaraan "memasak" dengan pakaian "tidak higienis"? Baju belepotan adonan kue yang sudah mengering? Heloooo, memangnya dia ke Paris tidak membawa pakaian ganti atau apa? Kenapa pula ibunya membiarkannya tampil di final kompetisi internasional yang notabene "masuk tivi" dengan penampilan kumal? Dan yang kedua, bagian Rose saat menengis dengan air mata mengalir tanpa henti sambil memasak....err, agak berlebihan dech.

Yah, memag sekali lagi saya sarankan, buku ini untuk konsumsi anak SD dan SMP saja, soalnya ceritanya kurang kompleks untuk konsumsi dewasa. Lah terus kenapa saya yang dewasa ini juga baca buku ini? *meringis* #kabur

Sabtu, 26 April 2014

Ways to Live Forever by Sally Nicholls

Paperback, 214 halaman
Judul Terjemahan: Setelah Aku Pergi
Judul Asli: Ways to Live Forever
Penulis: Sally Nicholls
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: 2008 (Indonesia)
Harga: Rp. 22.500,- (harga obral)
ISBN 978-979-22-3653-8


"Itu," kata Felix, "omong kosong paling konyol yang pernah kudengar. Tuhan membuatmu kena kanker supaya kau bisa menyadari betapa enaknya naik sepeda? Masa kau mau tulis begitu!" -pg. 51-

Ucapan di atas memang terdengar sangat sinis. Namun mungkin jika kau berada di posisi Felix, anak lelaki berusia tiga belas tahun yang mengidap kanker, kau juga mungkin akan sesinis itu.

Setiap orang menghadapi cobaan hidup dengan cara yang berbeda-beda. Itulah yang menurut saya sedang coba disampaikan Ms. Nicholls dalam bukunya yang fenomenal ini. Ada yang menghadapinya dengan sinis seperti Felix, ada pula yang menghadapinya dengan penyangkalan seperti Mr. McQueen, atau dengan mencari cara untuk mencapai keabadian, seperti tokoh utama kita Sam.
Daftar No. 1: FAKTA-FAKTA TENTANG AKU
1. Namaku Sam
2. Umurku sebelas tahun
3. Aku suka mengumpulkan cerita dan fakta-fakta yang fantastis
4. Aku mengidap leukimia
5. Saat kalian membaca buku ini, kemungkinan aku sudah pergi. -pg.13-
Intro di atas menurut saya cukup bombastis karena to the point tapi intriguing. Dengan membaca pembukaannya saja, kita sudah bisa mengharapkan dan menebak-nebak apa yang bakal terjadi di buku ini tanpa menghilangkan unsur suspense di sepanjang cerita.

Sam, yang berumur sebelas tahun dan menderita leukimia stadium akhir, mendapatkan ide dari guru privatnya Mrs. Willis untuk menulis sebuah buku tentang dirinya. Berawal dari sebuah proyek sekolah, Sam menulis sebuah "Bucket List" (daftar mengenai hal-hal yang ingin dilakukan sebelum meninggal). Bucket list tersebut hanya keisengan Sam yang tidak benar-benar berniat mewujudkannya, namun Felix, sahabatnya sesama penderita kanker 'mendorongnya' untuk mewujudkannya, satu demi satu.

Dua sosok sahabat ini sangat menarik menurut saya. Felix yang hanya dua tahun lebih tua dari Sam bersikap seperti seorang kakak pemberontak yang badung. Sedangkan Sam yang lebih kalem seperti adik yang penurut namun juga suka bersenang-senang. Mereka melakukan berbagai macam hal 'ajaib' untuk mewujudkan bucket list milik Sam. Keduanya memiliki cara pandang yang sangat berbeda dalam menghadapi penyakit mereka, namun hal tersebut justru menjadi pelengkap persahabatan mereka.

Tokoh Sam, yang hanya berumur sebelas tahun, adalah sosok yang cerdas dan pemberani. Dia menghadapi 'kematian' dengan pikiran logis seperti orang dewasa, bukannya menangis dalam pelukan orangtua, namun dia justru mempertanyakan alasan-alasan ilmiah di balik penyakitnya, hingga sikap 'nrimo'-nya yang terpampang jelas pada detik-detik akhir kehidupannya dengan cara berusaha hidup semaksimal mungkin.

Tokoh Felix, sementara itu, bersikap sinis karena dia marah, namun dia tidak tahu harus marah pada siapa. Ada beberapa bagian cerita yang menunjukkan amarahnya yang merskipun hanya tersirat, jika diperhatikan terasa cukup jelas. Kutipan di atas yang saya pakai sebagai pembuka post ini contohnya, merupakan ungkapan kemarahan Felix pada Tuhan yang memberi penyakit padanya tanpa alasan yang dia belum mengerti. Point nomor dua dari daftar yang dibuat Felix bahkan berbunyi "mengebom semua dokter pakai bom nuklir"(pg 33) -ini jelas-jelas menunjukkan amarahnya pada para dokter yang dalam sosok seorang anak, seharusnya memiliki sentuhan ajaib yang bisa menyembuhkan segalanya, namun ternyata juga angkat tangan dalam kasus Felix. Dilema Felix inilah yang membuatnya menjadi sinis, dan pemberontak. Sepertinya dia ingin menyampaikan pada dunia bahwa "kalau aku besok mati, sebaiknya kulakukan saja semua hal gila yang ingin kulakukan sekarang".

Lain halnya dengan reaksi para orangtua Sam. Sang ayah, Mr. McQueen berusaha sebaik mungkin untuk menghadapi segalnya dengan "melakukan hal-hal normal". Puncak penyangkalan sang ayah terjadi ketika sang ayah memaksa Ella (adik kecil Sam) untuk ke sekolah "seperti biasa" sedangkan Sam ingin sekali mereka semua bermain seluncuran salju, yang mungkin untuk terakhir kalinya dalam hidupnya. Sang ibu sementara itu, hampir selalu menuruti kemauan Sam selagi ada kesempatan.

Karena diceritakan dari sudut pandang anak lelaki berumur sebelas tahun, gaya bahasanya pun lugas seperti penuturan anak-anak. Jujur dan tidak bertele-tele. Namun bukan berarti dangkal lho, soalnya buku ini sukses membuat saya menangis di akhir cerita , heheee.... Dan bagi saya, buku yang sukses membuat saya meneteskan air mata itu sangat layak dapat bintang 5 :)
Dan salut juga buat Gramedia yang bikin cover buku yang cakeeeeeeppp dan imuuutttt banget. Luv it so much ^_^

Dan....ternyata ini sudah difilmkan lho!!!! Poster filmnya bisa dilihat di bawah ini. Dari posternya sih, itu film menang banyak penghargaan juga. *langsung ngacir kalang kabut nyari filmnya*

Jumat, 28 Maret 2014

Revolting Rhymes by Roald Dahl

Author: Roald Dahl
Ilustrator: Quentin Blake
Language: English
Genre: Children's Poetry, Satire
First Published in 1982

Gambar di atas adalah "penampakan" asli dari Roald Dahl's Revolting Rhymes, tapi karena saya baca yang versi e-book (hasil dikasih teman pula hihiii..), maka saya sertakan juga gambar di bawah:
Posbar kali ini, temanya "Puisi". Tapi karena ini pertama kalinya saya mereview puisi (dan saya juga tidak tahu bagaimana caranya mereview puisi yang baik), maka saya sengaja membuat review saya sedikit "berbau" puisi.
Let's check it out....

A long time ago, I got this e-book from kind miss Lila
It took me an hour to fully read this little fella
Six stories of fairy tales in rhymes
Inside this Roald Dahl's Revolting Rhymes
Cinderella's story is supposed to be pretty
Yet right here, it is instead crazy
Jack and the Beanstalk is second in line
The Giant ate Jack's poor mom with brandy and wine
The third story is no better
Since the original Snow White is much cuter
Later comes Goldilocks the criminal
Who treats the Bear family like animal
The last two tales are of wolfs in the woods
Alas, Red Riding Hood makes them into fashionable goods
So, my friend, if you look for something different
Please read Revolting Rhymes as your cliche-detterent

-The End-


Komentar tambahan dari blogger:

Terima kasih buat teman-teman BBI yang memilih postingan ini sebagai "Review of the Month" bulan Maret 2014 :)

Selasa, 19 November 2013

How To Train Your Dragon (Book 1) by Cressida Cowell

Paperback, 214 pages
Publisher: Little, Brown and Company (Boston, New York)
Price: $5.99
First published in Great Britain in 2003
ISBN: 978-0-316-08527-4

Disclaimer: I borrowed this book from Resvinta, a member of GRI Semarang





I tell the mighty Big Blue Whale,
his life is over soon,
With one swish of this armoured tail
I put out the sun and moon....
The winds and gales are quivering,
when I begin to roar,
The waves themselves are shivering
and trembling back to shore.... 
-Page 199-

Hiccup Horrendous Haddock III was the son of Stoick the Vast, the chief of the Hairy Hooligan Tribe of the Vikings who lived in the Isle of Berk. Stoick was big and proud, yet sadly his son was nothing like him.
"Hiccup was just absolutely average, the kind of unremarkable, skinny, freckled boy who was easy to overlook in a crowd." -page 15-
In order to be a true member of the Hairy Hooligan Tribe, the youngsters had to complete the inisiation process wich included picking a dragon; training a dragon for the most common commands such as 'go', 'fly', and 'stay'; and performing the abilities of your dragons in front of the whole tribe. And of course, Hiccup being Hiccup managed to get himself the tiniest and the most stubborn dragon ever, named Toothless. Hiccup and Toothless' training was quite amusing, because Toothless kept asking for jokes in every opportunity. Who knew that dragons love jokes, eh?

Anyway, Hiccup, despite his father's order, was the only one in the tribe who can speak Dragonese. It actually came in handy when there were two huge ancient dragons on the Isle. Well, as you can guess, just like almost every story, Hiccup transformed from zero to hero when he finally saved the entire tribe from those two vicious dragons.

Actually, I read this book because I watched the movie based on the book. It was produced by Dreamworks with the same title "How To Train Your Dragon". I totally fell in love with the movie.
There are some major differences between them, although the names of several main characters are the same.

Hiccup was the son of Stoick The Vast, the Chief of a Viking Tribe who lived in the Isle of Berk. The people in Berk had a big problem with the pest, because they had a big war with the dragons for over 300 years. Killing dragons was everything in Berk.

Hiccup was a skinny boy who prefered to work with his head than his hands. Yet it wasn't the way vikings are supposed to live. Everyone looked down on him, and he decided to prove himself by capturing a Night Fury, a species of dragon that was believed to be the most vicious ever. Did he manage to capture it? Yes, of course. But instead of killing it, Hiccup named it Toothless and trained it....er,...rode it, actually.

Hiccup's life span out of control when his father found out his secret, and disowned him. Stoick then brought Toothless to the Dragons' Lair to kill the dragons, unaware of the danger since there was also the nest of a very huge and wild dragon. And of course, cliche thing happened, Hiccup came to save the day in the nick of the moment, almost killed by his action and managed to lost his left foot.

Personally, I liked the movie better since it was much more dramatic, heheee.... but the book was worth reading too.

Memorable Quotes from the book:
"JUST ONCE," yelled Hiccup. "Why couldn't you let me be a Hero JUST ONCE? I didn't want anything amazing, just to pass this STUPID TEST so I could become a proper Viking like everybody else." -page 125-

 The first dragon was enough to give you nightmares. The second dragon was enough to give your nightmares nightmares. -page 128-

"But it's all unfair!" said Hiccup. "Why do YOU get to eat everybody, just because you're bigger than everybody else?" -page 152-

Selasa, 30 Juli 2013

Tales of a Fourth Grade Nothing (by Judy Blume)

Paperback, 120 pages
Publisher: Scholastic
Printed in September 2003
ISBN: 0-439-55986-3
This edition is only available for distribution through the school market

I got this book in a secondhand bookshop in Semarang for only IDR 15.000,- and I didn't actually looking for this book. Since, it was Judy Blume's, so why not? I thought. It stayed on top of my book-pile for several months before I read it (I was having a break from fantasy, my favorite genre so far) and surprise..surprise...I loved it from the first paragraph.

Peter Warren Hatcher, a fourth grade boy who won a turtle from Jimmy Fargo's birthday party was so happy. He named it 'Dribble'. He thought he deserved a pet because he was a big boy and totally responsible, although his Mom didn't like the smell of it. She always said 'I don't like the way he smells' which was so silly since of course Dribble smelled like turtle..he was supposed to smell like turtle. Peter's Dad worked in an advertising company, and his little brother a three-year-old toddler named Farley Drexel Hatcher was considered the biggest problem in his life.

See the text taken from the book below:

Everybody calls him Fudge. I feel sorry for him if he's going to grow up with a name like Fudge, but I don't say a word. It's none of my business.
   Fudge is always in my way. He messes up everything he sees. And when he gets mad he throws himself flat on the floor and he screams. And he kicks. And he bangs his fists. The only time I really like him is when he's sleeping. He sucks four fingers on his left hand and make slurping noise.

The story is very unique since it was told from Peter's point of view as the first person. Thus making it childish, innocent, honest, and everything you can expect from a fourth-grader journal. It is amazing how we can understand a thorough expressions and feelings of a little boy through such simple phrases and sentences. It really reminds me of my childhood. I really can relate to Peter's situation because I have a little brother too...and I remember a bunch of silly situations with my little brother (just like Peter and Fudge) that made me upset years ago, yet I can think of with fondness right now.

There was a part that really stuck in my head though...it was when Peter and his two friends got an assignment, and he had to make a poster (which he kept in his bedroom, under the bed). I don't know why, but I just could see him, nearly burst in tears, with a sinking feeling in his stomach when he found out that his poster was ruined by his little brother. Ohhh, the feeling... I almost cried because I remember...*pause*...oh forget it. I got carried away.

By the way...if I have to give stars...then 4,5 out of 5! Yeayy!!!

PS. This post is written as a requirement of Posting Bareng BBI Children Literature.

Jumat, 12 Juli 2013

Rise of Nine (Lorien Legacies #3) by Pittacus Lore

Paperback, 404 halaman
Indonesian Edition
Publisher: Mizan Fantasi
Cetakan 1, April 2013
Peneerjemah: Nur Aini
ISBN: 978-979-433-773-8

Buku ketiga dari serial "Lorien Legacies" ini makin seru loh... Kalau buku pertamanya "I Am Number Four" bercerita dari sudut pandang John Smith saja, dan di buku keduanya "The Power of Six", sudah bermunculan tokoh-tokoh penting lain, maka buku ketiga ini yang menurut saya paling seru. Kenapa? Soalnya selain diceritakan dari sudut pandang berbagai tokoh yang berbeda, adegan kejar-kejaran dan berantemnya juga makin seru, heheheeeeee.....

Planet Lorien hancur oleh serangan bangsa Mogadorian, namun sepuluh orang Garde bersama Cepan masing-masing berhasil sampai ke bumi. Mereka diberi nomor urut serta mantera pelindung, namun ketika nomor satu, dua dan tiga terbunuh, bersama-sama para Garde yang tersisa saling mencari satu sama lain dan mematahkan mantera pelindung mereka. Para Cepan pun semuanya terbunuh. Kini mereka harus bersatu untuk melawan para Mogadorian dan mengalahkan Setrakus Ra.

Nomor Enam, yang berpisah dengan John si nomor Empat untuk menjalankan misi masing-masing, berhasil bergabung bersama Marina si nomor Tujuh, dan Ella si nomor Sepuluh dan Crayton (Cepan Ella). Mereka berpetualang ke India untuk mencari nomor Delapan. Sosok nomor Delapan memang sedikit mengejutkan di sini, karena dia bisa berubah wujud (dan sering menyamar sebagai Dewa Wisnu) dan bisa teleportasi, yang menurut saya keren bangeeettttt. Nomor Delapan merupakan pemuda manis yang ceria dan ramah, sampai bikin saya jatuh cinta sama kepribadian cowok fiksi ini loh waktu baca, heheee.... Nomor Delapan pun mengajak rombongan cewek-cewek Garde ini ke sebuah gua, dan mendapati berbahai lukisan dinding gua kuno yang meramalkan nasib mereka. Apakah ini berarti bangsa Lorien sebelum mereka sudah pernah datang ke bumi? Mereka juga menemukan fakta bahwa mereka bisa berteleportasi ke tempat-tempat tertentu di bumi, dan inilah yang mereka lakukan: berteleportasi dari India ke Amerika untuk menemui John. Tapi tentu saja semua tidak berjalan lancar ketika nomor Enam tidak sengaja terpisah dari rombongan saat berteleportasi, dan berakhir sebagai tawanan agen pemerintah yang juga menyekap Sarah Heart, pacar John, dan menahan pesawat luar angkasa yang dulu digunakan para Garde saat mendarat di Bumi.

Sementara itu John malah bertemu nomor Sembilan, dan melakukan perjalanan bersama. Sifat John yang melankolis dan nomor Sembilan yang blak-blakan, jahil, dan sering seenaknya sendiri membuat mereka sering bertengkar, apalagi John masih berambisi menyelamatkan sahabatnya Sam yang ditawan oleh Mogadorian. Perkelahian sengit sempat terjadi di antara keduanya saat John mengatakan bahwa dia adalah Pittacus Lore, tetua tertinggi Lorien yang memiliki kekuatan untuk mengalahkan Setrakus Ra. Tapi benarkah begitu? Terutama saat berkelahi, John selalu kalah oleh nomor Sembilan. Namun mereka berdamai karena urusan yang lebih penting: Menyelamatkan nomor Enam yang ditawan agen pemerintah yang bekerjasama dengan Mogadorian. Tentu saja waktu mereka persis sama dengan rombongan dari India yang memiliki niat yang sama, menyebabkan para Garde yang baru bergabung ini menyerbu markas pemerintah bersama-sama. Dari sini cerita berantemnya seru deh...hahaaa...

Yah, intinya saya sih masih akan setia menanti buku keempatnya. How about you? ;)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...