Genre: Children
My rating: 3/5
"But I don't want to go among mad people." | "Oh, you can't help that. We're all mad here." -- a dialog between Alice and the Cat--Alice adalah gadis kecil yang serba ingin tahu. Saat sedang bersama kakaknya membaca buku, dia melihat seekor kelinci putih yang memakai jas dan membawa jam saku dengan panik mengira dirinya terlambat. Alice kecil pun mengikuti si kelinci masuk ke lubangnya, yang membuatnya mendarat di Wonerland.
"If your grandmother is Snow White, then you really are a princess." -- JackAfter a funny problem where every boys in the village tried to marry May the Princess, Jack and May went on a daring adventure to rescue Snow White from the Wicked Queen. Easy, right? Of course not. They were kidnapped by the ugly and cruel witch who lived in a candy house, got eaten by a giant, met the Wolf King, the Red Hood, a fairy godmother....and a dragon!
"Because it doesn't matter if you're in a fairy tale or here in real life, doing the right thing still counts for something." -- JackI love this book. It is a funny twist of fairy tales. This is a kind of children book that can make you feel good after reading it. A nice companion before going to bed, heheheee.... When I was reading it, I felt like a child again, enjoying a magical story...such a nice feeling :)
Judul asli: The Famous Five: Five on a Treasure Island
Series number: first
Author: Enid Blyton
Illustrator (original): Eileen Soper
First published in 1942
Tiga kakak beradik Julian, Dick dan Anne batal pergi ke Polseath untuk berlibur musim panas seperti biasanya. Setelah orangtua mereka menghubungi Paman Quentin dan Bibi Fanny, mereka memutuskan untuk menghabiskan musim panas di Pondok Kirrin bersama paman, bibi, serta sepupu mereka Georgina yang belum pernah mereka temui.
Ketiga kakak beradik tersebut sangat bersemangat bertemu sepupu mereka yang sepantaran itu, terutama Anne karena sama-sama anak perempuan. Tak disangka, meskipun pondok di tepi laut itu sangat homey dan bibi Fanny menyambut mereka dengan ramah dan menyuguhi mereka makanan-makanan enak, namun paman Quentin terkesan sangat galak dan Georgina terkesan angkuh.
Anne bahkan lebih kecewa karena Georgina sama sekali tidak seperti anak perempuan kebanyakan yang gemar bermain boneka dan memakai gaun yang cantik. Sepupu mereka lebih suka dipanggil George, berambut pendek, memakai celana dan bertingkah layaknya anak laki-laki. Singkat kata, George adalah anak yang super tomboy. Terlebih lagi George tidak menerima kedatangan sepupu-sepupunya dengan tangan terbuka. Dia adalah anak tunggal yang terbiasa melakukan segalanya sendiri, dan tidak terbiasa berbagi dan bersosialisasi.
Setelah melakukan beberapa hal bersama-sama, seperti mengajak Tim (anjing milik George yang dititipkan ke seorang anak nelayan) berjalan-jalan, melihat shipwreck, dan mengunjungi pulau Kirrin (pulau kecil milik George dan keluarganya, lengkap dengan reruntuhan kastil tua), George bisa menerima keberadaan Julian, Dick dan Anne, dan bahkan berteman dengan mereka.
Petualangan besar mereka terjadi saat mereka mengunjungi pulau Kirrin. Mereka sempat terjebak badai, dan harus bernaung di reruntuhan kastil di pulau itu sampai badai reda. Namun badai yang mengejutkan adalah badai tersebut berhasil membuat shipwreck milik leluhur George yang tadinya ada di dasar laut, terangkat ke permukaan dan terdampar di antara batu karang. Tentu saja keempat anak dan anjing mereka yang gatal akan petualangan langsung menggeledah shipwreck tersebut.
Singkat cerita, mereka berhasil menemukan sebuah kotak tua milik leluhur George, dan peta harta karun!
Okeeeey, membaca cerita ini lagi itu ibaratnya seperti walking down the memory lane. Pada jaman dahulu kala.....saat bumi tak sepanas saat ini, ada seorang gadis kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar (iya itu maksudnya saya. Puass? Puasss?). Gadis kecil itu, yang saat itu berusia kira-kira sembilan tahun, tidak tertarik dengan game2 seperti nintendo yang saat itu sedang marak di kalangan anak seusianya. Gadis kecil itu meminta buku pada ibunya. Sang ibu yang adalah seorang guru di SMA, tentu saja meminjam buku-buku dari perpustakaan tempat beliau mengajar. Setumpuk buku dibawanya; ada lima sekawan, lupus, trio detektif Alfred Hitchcock juga buku-bukunya Agatha Christie. Nah, kira2 inilah salah satu buku yang sempat dibacanya kala itu.
Umur segitu memang pas banget untuk membaca kisah petualangan di sebuah pulau dan kastil tua. Maksud saya, ayolah, siapa sih yang saat itu tidak mau menjelajahi kastil tua, berburu harta karun dan menemukan batangan emas? Saya kira hampir semua anak melewati pirate stage dech, hehehe.... *tunjuk hidung sendiri* Jadi wajar saja saya menganggap buku ini bagus sekali.
Saking terkesannya dengan buku ini kala itu, saya memutuskan untuk membaca ulang. Kali ini sengaja dengan yang versi bahasa enggres, biar gregetnya lebih terasa dan bisa membandingkan gitu maksudnya.
Jujur, saya kaget banget waktu membaca ulang kisah ini. Kenapa tidak sebagus yang ada di ingatan saya saat itu????
Oh, well, jelas iya laaah...saya sudah dewasa. Pola pikirnya sudah tidak seperti anak umur sembilan tahun, tentu sekarang saya menganggap buku ini agak hambar, padahal dulu sangat wow.
Dalam hal bahasa, novel ini menggunakan bahasa yang saat ini, yah, sudah tidak lazim digunakan. Kata-katanya terlalu formal untuk dipakai di masa sekarang. Tapi asyik sekali lho membayangkan orang-orang jaman dulu benar-benar berbicara layaknya di novel ini, hehehe... well, it's classic, what d'you expect? Duh...
Ada dua kata yang sampai membuat saya bengong, karena baru kali ini melihatnya digunakan dalam konteks seperti ini; gay dan queer.
Mungkin karena saya kurang piknik ya, atau terlalu banyak membaca buku-buku modern jadi kaget melihat ada kata-kata itu tercetak di buku terbitan tahun 1942 (bahkan Indonesia kita tercinta belum merdeka lho). Saya sampai mengecek kamus, ngoahahaaa..
Berikut contohnya dalam kutipan:
"Rose climbed over the front of it, and the garden was gay with flowers." -Chapter 1
"Isn't she queer -- not waiting to welcome us -- and not coming in to supper -- and not even in yet!" - Chapter 2
"She's awfully queer, I think. She says she didn't want us to come because we'll interfere with her." - Chapter 2
"They thought she qas the queerest girl they had ever known." - Chapter 3
"It would be marvellous to visit the queer little island." - Chapter 5
"It felt very queer and mysterious." - Chapter 5
Contoh di atas hanya sebagian karena masih banyak penggunaan kata queer di buku ini. Jaman sekarang kebanyakan orang tidak memakai dua kata yang saya sebut karena pergeseran makna. Sekarang dua kata tersebut merujuk pada kaum homoseksual. Namun dari banyaknya pengulangan kata itu di buku ini, bisa disimpulkan dahulu kata tersebut masih sering digunakan karena artinya belum seambigu sekarang. Sebenarnya hal ini sering sekali terjadi pada semua bahasa yang hidup (istilah untuk sebuah bahasa yang masih digunakan manusia, dan masih terus berubah dan berkembang).
The Characters
Bicara sebuah novel, apalagi yang klasik seperti ini, tentu tidak lengkap jika tidak membahas masalah karakter. Oke, langsung saja:
Julian adalah "leader" dari grup lima sekawan ini karena memang yang paling tua, dan cowok. Cowok beneran, bukan kayak George yang cowok jadi-jadian, hehehee... Dia penyayang dan perhatian terhadap adik-adiknya. Dia juga tipe orang yang berani mengakui kesalahan (berjiwa ksatria) karena mengaku pada paman Quentin bahwa dia yang melempar box tua yang mereka temukan di bangkai kapal.
Dick adalah adik kandung dari Julian, yang mengalami perubahan karakter, karena dia digambarkan sebagai "cry-baby" oleh Anne beberapa tahun lalu, namun dialah sang "pahlawan" di akhir cerita di novel ini.
Anne ini karakter yang saya paling tidak suka. Kenapa? Yaampun dia itu sok imut, sok cantik dan manja abis! Cintphnya, ada adegan dia disuruh menyimpan rahasia, berkali-kali anak ini membocorkannya. Ember banget deh pokoknya, bermulut besar. Gampang panik, dan di keseluruhan cerita seperti tidak bisa diandalkan. Tipe-tipe cewek damsell in distress, dan saya yg penyuka tipe karakter wanita tangguh tentu otomatis tidak suka sama dia, heheee...
George perubahan karakternya bagus, karena dia yang tadinya anti sosial, bisa mempercayai teman-temannya. Ini memang karakter yang sepertinya dibuat paling "unik" oleh si penulis karena merupakan seorang cewek yang sangat "in denial" bahwa dia terlahir cewek, hehehee...
Aunt Fanny digambarkan sebagai bibi yang baik hati, ramah, pintar masak, dan taat kepada suami. Saking taatnya sampai agak plin plan waktu George kecewa bahwa pulau Kirrin akan dijual dan aunt Fanny seperti bingung sendiri, di satu sisi beliau sudah memberikan pulau itu ke George, di sisi lain, dia harus tunduk pada suami. Tapi menurut saya karakter ini kurang dieksplor. Mungkin karena kemunculannya yang tidak banyak di buku pertama ini.
Uncle Quentin adalah orang yang menurut saya "dangkal". Dia ilmuwan yang sibuk, jika ada yang berisik, dia akan mengusirnya. Sedikit-sedikit memberi hukuman, tidak ramah, dan seperti menyombongkan "aku ini si kepala keluarga! Aku yang bikin aturan!" Kesannya seperti tipikal suami jaman duluuu (iyalah settingnya aja tahun 1942 woy!). Jujur ya, saya jadi ingat almarhum Mbah Kakung yang juga strict seperti tokoh paman ini. Hehee... Tapi waktu di akhir cerita paman Quentin ini berubah ramah karena tiba2 punya harta warisan, beuh...kesannya dia mata duitan bangetttt....
Anyway, novel ini ternyata sudah pernah di film kan pada tahun 1957 dan disutradarai oleh Gerard Landau. Iya, saya juga nggak kenal dia siapa. Bahkan pada tahun itu ibu saya belum lahir, ngoahahaa...
Oh, iya, sekilas mengenai penulis, Enid Blyton ini lahir pada tanggal 11 Agustus tahun 1897 di London dan meninggal pada tanggal 28 November 1968 di London juga. Karya2nya luar biasa banyak dan terkenal, dan kebanyakan tentang anak-anak, karena beliau juga seorang guru. Jika mau lihat dramatisasi kisah hidupnya, ada lho filmnya produksi BBC tahun 2009, dan diperankan oleh Helena Bonham Carter (si pemeran Bellatrix Lestrange di Harry Potter) yang judulnya Enid.
Semoga postingan saya bermanfaat bagi teman2 semuanya. Bye... :-)
Julian adalah tokoh antagonis dalam kisah Wonder karya R.J. Palacio, sebuah novel anak yang mengisahkan tentang lika-liku drama anak sekolah, termasuk bullying, yang kita tahu benar sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam dinding sekolah di seluruh dunia. Dalam novel tersebut, kita mungkin bertanya-tanya, apa sih yang ada di dalam pikiran si "tokoh jahat" ini sampai membuatnya bertindak semena-mena? Apa dia tidak punya hati?
The Julian Chapter: A Wonder Story, merupakan buku Spin-Off dari novel tersebut, yang mengisahkan cerita yang sama dengan kisah dalam novel Wonder, namun dari sudut pandang Julian, si tukang bully. Saya membacanya versi e-book karena memang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Julian adalah anak yang normal, punya keluarga yang sangat menyayanginya, dan punya teman-teman yang keren. Dia cukup kaya, dan keren juga menyenangkan, itulah sebabnya dia cukup populer di sekolah. Namun bukan manusia namanya jika tidak punya suatu kekurangan: Julian sangatlah penakut. Julian takut sekali dengan hantu, topeng seram, zombie, alien, bahkan diapun takut pada Voldemort dari film Harry Potter.
Ketika Julian diminta oleh kepala sekolah menjadi salah satu anak yang menyambut kedatangan "murid baru", tentu Julian bangga. Dia bahkan bersedia menjadi teman si anak baru itu karena tentu saja semua orang ingin jadi teman Julian yang populer. Tapi begitu pertama kali melihat Auggie si anak baru, mimpi buruknya seakan keluar ke dunia nyata untuk menghantui jam2 belajarnya di sekolah. Auggie terlihat seperti monster yang selalu membuatnya menjerit ketakutan, literally.
Ketakutannya terhadap Auggie semakin terasa ketika salah satu sahabatnya Jack Will justru malah berteman dengan Auggie. Tentu saja Julian tidak bisa tinggal diam, maka entah bagaimanapun caranya dia berusaha membuat Auggie menderita. Salah sendiri Auggie si monster datang tanpa diundang ke sekolah Julian dan mencuri semua perhatian. Ugh, apa-apa Auggie, apa-apa Auggie. Apa mereka semua tidak melihat bahwa wajah Auggie sangatlah menakutkan?!
Akhirnya setelah insiden notes ejekan yang menghebohkan dengan Auggie, ayah Julian menarik Julian dari sekolah dan berusaha memindahkannya ke sekolah lain. Selama itu, Julian pun menghabiskan liburan bersama neneknya di Perancis. Nenek Julian adalah wanita tua yang keren dan sangat "vain". Beliau selalu mementingkan penampilan, dan ke salon, tidak seperri nenek2 lain yang memakai sweater rajutan dan memanggang kuw kering untuk cucunya. Namun siapa sangka, sang nenek yang eksentrik ini justru menjadi sosok yang membuat Julian akhirnya menyadari keaalahannya. Nenek bahkan menceritakan kisahnya saat masih sekolah dulu, kisah yang membuat Julian sangat terharu.
Jujur saja, teman2, kisah si neneknya Julian ini sempat membuat saya menangis lho....benar2 menyedihkan, tapi mengharukan dan sangat indah. Kalau kalian membaca Wonder, buku yang satu ini wajib dibaca lho....kita jadi tahu bahwa sisi lain dari sebuah cerita, meski dari sisi yang gelap, juga bisa sangat menakjubkan.
Posting ini juga dibuat dalam rangka #PosbarAnak BBI.
Judul asli: Wonder
Penulis : R.J. Palacio
Penerbit: Atria
Tahun terbit: 2012
Penerjemah: Harisa Permatasari
ISBN: 978-979-024-508-2
Paperback, 428 halaman
"Bisa dibilang kami bagaikan Beauty and the Beast." (hal. 80)
Ketika kita melihat sebuah kisah, entah itu dari buku, ataupun dari film, kita (uhuk, maksudnya saya. Iya, saya) biasanya terpesona oleh penampilan si tokoh utama. Kenapa? Soalnya tokoh utama biasanya digambarkan sebagai sosok cantik rupawan atau sangat tampan, meski kadang si tokoh tersebut tidak menyadarinya. Namun Wonder menyajikan sesuatu yang menurut saya berani berbeda di novel2 modern: tokoh utama yang buruk rupa.
August (Auggie) Pullman adalah seorang anak laki-laki yang buruk rupa sejak lahir karena menderita penyakit langka Mandibulofacial Dysostosis, sebuah kondisi rumit yang membuat wajahnya tampak tidak biasa. Dan tentu saja di akhir cerita tidak akan ada gadis cantik yang jatuh cinta padanya dan merubahnya menjadi pangeran tampan. Pliss deh...
Don't judge a book by its cover. Ungkapan itu adalah ungkapan yg paling pas untuk tokoh Auggie ini. Meski penampilan luarnya tampak seperti monster, namun bagi orang2 yang sungguh mengenalnya, dia adalah anak yang spesial. Dia lucu, pemberani, baik hati, dan pintar. Dia juga sangat sangat menyadari keburukan penampilannya, dan meskipun terkadang hal tersebut membuatnya dibully orang2 sekitarnya, Auggie menerimanya dengan tabah.
"Kenapa aku harus sejelek ini, Mommy?"
"Tidak sayang, kau tidak..."
"Aku tahu aku jelek" (hal. 85)
"Kurasa seperti Sentuhan Keju di dalam Diary of a Wimpy Kid. Para murid di cerita itu takut terjangkit kutu jika menyentuh keju tua berjamur yang ada di lapangan basket. Di Beecher Prep, akulah keju tua berjamur itu." (hal. 108)
Pem-bully-an terhadap Auggie terjadi ketika untuk pertama kalinya, dia masuk sekolah umum yang bernama Beecher Prep. Karena biasanya home-schooled, Auggie harus menghadapi banyak sekali perubahan yang terjadi. Dia harus bergaul dengan teman2 seangkatannya yang "normal". Summer, seorang gadis cantik yang tadinya kasihan terhadap Auggie menemaninya makan siang, dan sejak saat itu mereka bersahabat. Jack Will, salah satu murid yang diperintah kepala sekolah sebagai bagian dari tim penyambutan Auggie di Beecher Prep pun akhirnya bersahabat dengan Auggie, tidak seperti Julian yang terang2an membenci Auggie.
Buku ini mengisahkan kisah Auggie bukan hanya dari sudut pandng si tokoh utama saja, tapi juga dari berbagai karkter yang berinteraksi dengan Auggie, seperti misalnya si kakak perempuan yang bernama Via, ataupun mantan sahabat Via yang telah menganggap Auggie sebagai adik sendiri, bahkan dari sudut pandang kedua sahabat Auggie: Summer dan Jack Will.
"Aku tak bisa membayangkan setiap hari menatap cermin dan melihat diriku seperti itu." (hal. 109)
Yang menarik dari buku ini adalah banyaknya perubahan dan pelajaran yang disadari tokoh2 di sekitar Auggie, karena kondisi Auggie. Kita bisa melihat dengan jelas perubahan drastis karakter A atau B dari baik menjadi buruk, ataupun sebaliknya.
"Alam semesta menjaga makhluk ciptaan paling rapuh dengan berbagai cara yang tidak bisa kita lihat." (hal. 278)
"Kau tak membutuhkan mata untuk mencintai, ya kan? Kau hanya merasakannya di dalam dirimu ." (hal. 309)
Overall, dari segi terjemahan, buku ini enak dibaca. Bahasa yg digunakan penulisnya juga tidak muluk2, namun sederhana dan mudah dipahami. Meski begitu, buku ini berhasil membuat saya menangis terharu di akhir cerita. Thumbs up dech pokoknya.
Jadi, sesuai janji, buku yg saya beli saat Kopdar BBI Joglosemar di Jogja ini sudah direview ya....heheee....meski luamaaaaa.....
Eh, ternyata ada banyak lho, spin-off dari duku ini. So far spin-off yg sudah saya baca baru "Julian Chapter" yang juga baguuuussss dech..... tapi 2 spin-off lain, yaitu "365 Days of Wonder" dan "Pluto" masih tertimbun rapi di dalam tablet karena spin-off nya memang versi Inggris, belum diterjemahkan (dan sepertinya juga tidak akan diterjemahkan dech), heheheee.....
"Kau sudah menjadi sous-chef yang luar biasa selama sembilan tahun terakhir, walaupun kue-kue yang dibuat tidak seajaib yang kita inginkan. Sekaang waktunya bagi Mama untuk menjadi sous-chef-mu. Mama akan berada di sisimu sepanjang waktu." -hal 47-
"Itu," kata Felix, "omong kosong paling konyol yang pernah kudengar. Tuhan membuatmu kena kanker supaya kau bisa menyadari betapa enaknya naik sepeda? Masa kau mau tulis begitu!" -pg. 51-
Daftar No. 1: FAKTA-FAKTA TENTANG AKU
1. Namaku Sam
2. Umurku sebelas tahun
3. Aku suka mengumpulkan cerita dan fakta-fakta yang fantastis
4. Aku mengidap leukimia
5. Saat kalian membaca buku ini, kemungkinan aku sudah pergi. -pg.13-Intro di atas menurut saya cukup bombastis karena to the point tapi intriguing. Dengan membaca pembukaannya saja, kita sudah bisa mengharapkan dan menebak-nebak apa yang bakal terjadi di buku ini tanpa menghilangkan unsur suspense di sepanjang cerita.
"Hiccup was just absolutely average, the kind of unremarkable, skinny, freckled boy who was easy to overlook in a crowd." -page 15-In order to be a true member of the Hairy Hooligan Tribe, the youngsters had to complete the inisiation process wich included picking a dragon; training a dragon for the most common commands such as 'go', 'fly', and 'stay'; and performing the abilities of your dragons in front of the whole tribe. And of course, Hiccup being Hiccup managed to get himself the tiniest and the most stubborn dragon ever, named Toothless. Hiccup and Toothless' training was quite amusing, because Toothless kept asking for jokes in every opportunity. Who knew that dragons love jokes, eh?
"JUST ONCE," yelled Hiccup. "Why couldn't you let me be a Hero JUST ONCE? I didn't want anything amazing, just to pass this STUPID TEST so I could become a proper Viking like everybody else." -page 125-
The first dragon was enough to give you nightmares. The second dragon was enough to give your nightmares nightmares. -page 128-
"But it's all unfair!" said Hiccup. "Why do YOU get to eat everybody, just because you're bigger than everybody else?" -page 152-