Tampilkan postingan dengan label Contemporary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Contemporary. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2016

P.S. I Still Love You by Jenny Han [review]

Title: P.S. I Still Love You (To All The Boys I've Loved Before #2)
Author: Jenny Han
First published: 2015
337 pages (audiobook version)
Language: English
Genre: Young Adult, Contemporary, Romance
My rating: 2/5

Masih ingat cerita di buku pertama? Tidak? Oke, saya pancing sedikit ya....buku pertama berakhir sangat mengambang dengan hanya berbunyi "Dear Peter,". Jujur saja, itu akhir sebuah novel paling jenius yang pernah saya baca, beneran sukses membuat saya setengah menjerit dan hampir membanting hape.

Sequel ini berawal dari... apa lagi kalau bukan lanjutan tulisan "Dear Peter," tadi. Lara Jean, yang tidak menyangka bahwa dirinya benar-benar jatuh cinta pada Peter, akhirnya menulis surat yang ditujukan untuk pacarnya itu. Namun tentu saja, ada satu masalah yang bikin galau Lara Jean: bagaimana cara menyampaikannya ke Peter? Haruskah dikirim lewat pos, atau ditaruh di kotak suratnya, atau....diserahkan secara langsung? Untunglah Kitty, adiknya yang lugu dan ceplas-ceplos membujuknya untuk bertemu langsung dengan Peter dan menyerahkan langsung suratnya. Alhasil, pada tahun baru yang dingin, dengan masih mengenakan hanbok, pakaian tradisional Korea, Lara Jean berkunjung ke rumah Peter.

Perjalanan cinta yang easy going antara Lara Jean dan Peter ternyata tidak selalu 'easy'. Ada yang menyebar gossip miring tentang mereka melalui instagram. Sekarang semua orang, dari teman sekolahnya sampai semua gurunya menjadi saksi satu momen paling intim dalam hidup Lara Jean. Lara Jean yakin sekali bahwa Genevive, mantan pacar Peter, berada di balik layar. Belum lagi kemunculan kembali seorang cowok yang dulu sempat menghilang dari kehidupan Lara Jean, salah satu cowok yang mendapatkan 'surat cinta' dari Lara Jean.

Setelah buku pertama yang menurut saya sangat bombastis dengan plotnya yang unik, buku kedua ini terasa 'sangat hambar' dan 'sangat kosong' dan 'sangat memaksa'. Rasanya saya susah berkomentar karena rasanya kecewa luar biasa. Saya cuma memberi 2 bintang saja. Kenapa? Yuk, kita coba analisis...

Pertama, plotnya, aduhmak alamak ini plot di buku kedua ini kenapa bisa klise sekali? Super duper klise, sampai bikin saya sakit hati. Mungkin jika ini novel stand alone, atau novel pertama, saya nggak akan menharapkan banyak ya... Tapi masalahnya ini sequel woy! Sequel dari buku pembuka yang bombastis! Cuma sekelas teri begini...meh...MEH! Cewek biasa yang pacaran sama cowok populer lalu dibully semua orang gara-gara gossip miring yang disebar oleh cewek bitchy yang cemburu? Hellooooo....nggak bisa ya lebih klise lagi?

Kedua, Suspensenya tidak seseru di buku pertama. Buku pertama menghadirkan hal-hal yang, sekali lagi, karena tidak klise, pembaca tidak bisa mengharapkan sesuatu yang spesifik terjadi. Namun di sini...karena dari awal plot yang disajikan adalah sesuatu yang BIASA, suspensnya juga jadi tidak terlalu greget karena unsur surprisenya sangat sangat kurang.

Ketiga, underdeveloped karakter dapat ditemui di dua tokoh penting yang baru muncul pentingnya di buku ini: Genevive dan John Ambrose. Genevive di buku pertama, meski kemunculannya sedikit, justru sangat well-developed. Tapi entah kenapa di sini berkembang menjadi TYPICAL BITCHY GIRL. Terus si John Ambrose ini, muncul sebagai sosok COWOK SUPER SEMPURNA dan TYPICAL SILENT WARRIOR. Oh, God.... cliche much? Sepertinya kok jika mau membuat cerita novel dengan tema cinta segi empat, kau cukup menambahkan karakter typical bitchy pretty girl dan typical perfect pretty boy untuk melengkapi dua karakter utama, dan BOOM, jadi dech. Oh, please.... pembaca juga butuh variasi kan?

Keempat, hubungan kekeluargaan di keluarga Covey, terutama si kakak-beradik Song-Girls yang di buku satu sangat saya kagumi karena selain sangat realistis, tidak lebay, dan banyak memendam pesan moral, justru agak terabaikan di buku kedua ini dengan absennya karakter Margo hampir sepanjang buku. Sangat disayangkan.

Kelima, novel pertama yang berhasil membuat saya GIGGLING di sana-sini, terasa sangat LEMPENG di sequelnya. Tidak ada lagi adegan lucu namun cute, yang bisa membuat saya tertawa di sana-sini. Yang ada justru adegan yang "sok romance" dengan menghadirkan banyak sekali sentuhan klise mulai dari valentine, main bola salju, sampai adegan mergokin si pacar pelukan sama oknum lain yang akhirnya bikin bertengkar parah...eurgh....*tabur-tabur klise*

Eniwei, seperti yang sering saya bilang, tidak ada sesuatu di dunia ini yang benar-benar hitam dan putih...er, kecuali cat tembok hitam dan cat tembok putih... ehem, fokus. Oke, maksud saya, separah-parahnya suatu buku, pasti ada kelebihannya juga kan? Nah, buku ini juga memiliki kelebihan lho....er, meski cuma satu, yaitu: KITTY COVEY. Yups, karakter si adik tokoh utama yang berusia sembilan tahun ini di buku pertama mendapat jatah sedikit dan terkesan cuma numpang lewat. Namun si penulis berhasil menyulapnya menjadi karakter yang perannya cukup signifikan dan cukup well-developed di buku kedua ini.

enjoy! See you in the next post ^_^

Sabtu, 26 Maret 2016

To All The Boys I've Loved Before by Jenny Han [review]

Title: To All The Boys I've Loved Before (#1)
Author: Jenny Han
Language: English (audiobook version)
First published: 2014
Genre: Young Adult, Contemporary, Romance
My rating: 5/5
(sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia)

"If love is like a possession, maybe my letters are like my exorcisms. My letters set me free. Or at least they're supposed to."
Lara Jean Song Covey menyebut dirinya sendiri beserta kakak perempuannya Margo dan adik perempuannya Kitty sebagai "The Song Girls". Mereka semua memiliki nama tengah yang sama "Song" yang merupakan nama keluarga ibunya yang memiliki garis keturunan Korea. Tidak seperti halnya kakak beradik lain pada umumnya, The Song Girls sangat dekat satu sama lain sejak kematian ibu mereka beberapa tahun yang lalu.

Lara Jean yang berusia 16 tahun memiliki sebuah kotak topi vintage pemberian ibunya yang berisi hartanya yang paling berharga dan paling rahasia: surat-surat yang ditulisnya untuk setiap cowok yang pernah dicintainya termasuk cowok super-ganteng-super-populer yang di kelas tujuh mencuri ciuman pertamanya, cowok yang ditemuinya di perkemahan musim panas beberapa tahun lalu, dan mantan pacar kakaknya yang sekaligus juga sahabat dan tetangganya.

Segalanya berawal sejak secara misterius, surat-surat yang ditulisnya terkirim ke semua cowok yang disebut tadi. Tentu saja Lara Jean sangat malu ketika bahkan Peter (yang merupakan idola para cewek dan baru saja putus dari pacarnya) menanyainya tentang hal ini. Apalagi Josh, mantan pacar kakaknya. Rasa malunya membuatnya melakukan tindakan impulsif yang menyeretnya keluar dari dunia fantasinya yang indah...dan menghadapi kenyataan.

I LOVE THIS BOOK...!!!!!

Mungkin teman-teman tahu bahwa saya BUKAN penggemar romance. Apalagi YA romance. Bayangkan betapa terkejutnya saya ketika saya mendapati buku ini sangat W.O.W dan membuat saya terkikik sendiri di sana-sini. Padahal saya mendengarkan versi audiobooknya, yang meskipun sangat bagus dinarasikan, tapi membuat saya jengkel karena saya harus berhenti setiap kira-kira satu jam sekali. Kalau tidak begitu, rasanya panas kuping saya ini disumpal earphone terus-menerus, padahal sebenarnya saya penasaran banget pengen nerusin lagi dan lagi.

Namun seperti segala hal di dunia ini (eaaakk), novel inipun punya kelebihan dan kekurangan; the good and the bad. Jadi mulai dari yang bagus-bagus dulu yaaa....inilah alasan saya sampai kesengsem berat sama novel yang diluar genre favorit saya ini:


  • Plot yang unik. Plot unik yang menceritakan tentang surat-surat yang tidak sengaja terkirim untuk para cowok ini baru pertama kali saya temui di sebuah novel. Tidak klise. Alur ceritanya juga tidak mudah ditebak, bahkan ketika membaca sampai sudah lebih dari separo pun saya masih tidak bisa menebak si penulis akan membuat si tokoh utama berakhir dengan cowok yang mana. Ditambah twist kecil di sana sini yang sangat menghibur, tetap mengandung suspense tapi entah kenapa tetap bisa berkesan 'cute'. Rasanya hampir tiap bab nya mengundang pembaca untuk ber-"aaaaw".
  • Karakter atau penokohan yang kuat, terutama penggambaran karakter para gadis Song. Tokoh utama tidak diceritakan sebagai tokoh yang 'terlalu cantik' atau 'terlalu pintar' atau 'terlalu tidak populer' seperti kebanyakan novel YA lainnya. Penggambaran karakter para cowoknya juga tidak berlebihan dan sempurna, membuat para tokoh terlihat sangat bulat dan nyata. Pokoknya tidak ada kata selain "sempurna" untuk penokohan novel ini.
  • Nyata. Maksud saya dengan "nyata" di sini adalah penggambaran kehidupan keluarga yang sangat nyata. Novel YA pada umumnya terlalu melebih-lebihkan background tokoh utama dengan menambahkan tokoh "ayah yang jahat" atau "ibu yang sakit" atau "perceraian yang bermasalah sehingga membuat si anak depresi berlebihan". Tapi background keluarga yang digambarkan oleh si penulis sangat bagus, tidak "lebay" seperti kebanyakan novel YA lainnya. Pas dan apik.
Daaan....., terlepas dari semua kelebihan yang saya sebutkan di atas, saya mencatat ada dua hal yang bagi saya agak kurang pas:
  • Penggunaan kata "love" yang kesannya sangat gampang terjadi di berbagai situasi. Ini diperjelas dengan narasi si tokoh utama (karena memang diceritakan dari sudut pandang orang pertama) yang seolah-olah melempar kata "love" sembarangan untuk menjelaskan relationship semua orang. Mungkin memang biar pas sama judulnya ya, soalnya kalau pakai kata "like" memang kesannya kurang mantap. Ngoahahahahaaa...
  • Reaksi klise Lara Jean setelah konflik utama terjadi dimana dia harus menghadapi gosip yang beredar bahwa Dia dan Peter...er....oke, cukup, takut spoiler. Intinya reaksi si tokoh utama saat adegan klimaks buku ini justru SANGAT KLISE. Saya sampai mengerutkan dahi pada bagian ini, karena so far...novel ini berhasil menghindari adegan klise, tapi, well,...nothing is perfect kan. Untunglah adegan klise ini tidak berlangsung lama, dan novel ini kembali menemukan ritme uniknya.
Sebenarnya kalau boleh jujur saya memberi 4,7 bintang untuk buku ini. Tapi karena di goodreads tidak berlaku angka desimal kecuali buat average rating, jadi saya bulatkan ke atas. Ahhh, pokoknya saya suka banget lah sama novel ini. Apalagi adegan Halloween dengan banyak referensi ke Harry Potter, just ooowwww.....I love it. 

Dan satu lagi yang saya suka dari novel ini adalah nama si tokoh utama: Lara Jean. Entah kenapa suka banget sama nama ini. Tapi saya memang penggemar nama dengan dua kata sih...semacam Mary Jane, Mary Margareth, Ann Claire, James Olliver atau Don Allen...yah, semacam itulah. Meski nggak bisa mbayangin 'double name' diterapkan di Indonesia sih. Contoh 'Mawar Merah' atau 'Langit Senja' atau 'Bayu Harjo', pasti panggilannya jadi cuma satu kata atau malah satu suku kata saja macam 'Jo' atau 'Ngit', wkwkwk.

Nah, saya yang tidak suka romance saja sampai suka banget lho, sama novel ini...apalagi bagi yang suka romance, sangat rekomended pokoknya. See you in the next post ^_^

Senin, 22 Februari 2016

Anna and the French Kiss by Stephanie Perkins [review]

Title: Anna and the French Kiss (#1)
Author: Stephanie Perkins
372 pages
Published: 2010
Genre: Romance, Contemporary
Language: English
My rating: 2/5

Anna dari Atlanta, Amerika, harus merelakan tahun terakhirnya di SMA jauh dari rumahnya, meninggalkan ibunya, adiknya, sahabatnya Bridget, dan cowok-yang-hampir-menjadi-pacarnya Toph. Ayahnya yang merupakan penulis novel yang sedang naik daun, mengirimnya ke School of America in Paris (SOAP), padahal Anna sama sekali tidak bisa bahasa Perancis!

Tentu saja malam pertama Anna di Paris dihabiskan di kamar asramanya sambil menangis, hingga seorang gadis bernama Meredith dari kamar sebelah (yang mendengar tangisannya) berbaik hati menghiburnya dan mengajaknya berteman, bahkan mengundangnya makan bersama di cafetaria keesokan harinya, yang membuatnya berteman dengan geng Meredith yang lain: Josh, adik angkatan yang artistik dan pacarnya Rashmi, juga Etienne St. Clair yang luar biasa tampan.

Bagi Anna, Etienne St. Clair adalah sebuah enigma: dia memiliki mata coklat yang lebar, rambut coklat yang indah, tangan seorang pria dewasa, nama Perancis yang eksotis, Aksen British yang sexy, dan kewarganegaraan Amerika. Dia juga baik hati, lucu, pintar dan percaya diri meski postur tubuhnya tidak terlalu tinggi. Dan dia juga....sudah punya pacar.

Saya mendengarkan versi audiobook buku ini, yang jujur saja bagian British Accent untuk suaranya si Etienne sama sekali tidak mirip British Accent, masih terasa banget Amerika-nya. Tapi untuk narasi lain dan dialog tokoh lainnya cukup okelaahhh....

Saya sebenarnya bukan penikmat kisah romance, jadi mungkin pendapat saya agak bias dan banyak yang tidak setuju saya hanya memberi rating 2 bintang, but don't hate me, ok. Tapi mari kita tengok satu-persatu alasan kenapa saya hanya memberi dua bintang.

Plot nya yang klise menyajikan kisah standar tentang anak SMA yang dipaksa pindah sekolah, lalu bertemu sahabat-sahabat baru dan juga love-interest baru sementara dia juga bingung karena memiliki sahabat dan love-interest di sekolah lamanya. Yah, okelah, saya memang mengerti bahwa tidak ada kisah yang original di dunia ini, dan banyak sekali novel dengan plot yang memiliki garis besar yang sama. Namun setidaknya kan hal itu bisa diakali dengan sedikit twist di sana-sini, dan kejutan tak terduga di sana-sini. Namun nyatanya novel ini memiliki jalan cerita yang lempeng...konfliknya pun lempeng dan standar dan tidak bikin kaget, tidak menyajikan sesuatu yang baru. Jadi jangan salahkan saya kalau saya 3X ketiduran saat mendengarkan novel ini (iya, saya sengaja menghitung, wkwkwk).

Karakter-karakter dalam novel ini juga sangat klise. 

Ada beberapa tipe karakter/penokohan yang sangat sering kau temui ketika kau membaca novel-novel YA romance, diantaranya: 
  1. karakter cewek yang cantik atau menarik namun tidak menyadari bahwa dia cantik plus tidak terlalu percaya diri (kadang berlaku juga untuk karakter cowok, tapi memang lebih sering dijumpai pada karakter cewek)
  2. Karakter love-interest yang hampir sempurna (biasanya digambarkan sebagai luar biasa tampan/cantik, pintar, lucu, baik hati)
  3. Karakter sahabat yang geek
  4. karakter sahabat yang 'weird' namun sebenarnya baik hati
  5. Karakter sahabat yang sebenarnya saingannya si karakter utama (entah dalam cinta atau penampilan atau skill)
  6. Karakter cewek 'bitchy' yang cantik
  7. Karakter cowok yang 'playboy' (biasanya pada awal cerita terkesan baik hati, pada akhir cerita ketahuan bahwa dia 'prat')
  8. Karakter orangtua cool
  9. Karakter orangtua yang 'not-so-cool'
Dan...coba tebaaak, ada berapa karakter di novel ini yang memiliki kesamaan dengan daftar "Your Typical YA Romance Characters" di atas???? Banyaakkk banget...I lost count.

Oke...seterah pembahasan tentang karakter cetek di atas, mari kita lanjut lagi. Kali ini saya akan membahas tentang "overused words/terms". Diantaranya:
  • Breathe --> Entah berapa kali kata "breathe" ini dipakai di novel ini, termasuk kombinasinya seperti "Breathe, Anna. Breathe" lalu "I can't breathe". Saya sampai berpikir, kalau sepanjang mendengarkan novel ini saya minum es kopi tiap kali dengar kata breathe, saya pasti sudah kena diare parah :(
  • Perfect --> kata ini terlalu sering muncul untuk menggambarkan suasana atau si love-interest.
  • Beautiful --> idem. kata ini juga terlalu sering muncul untuk menggambarkan si love-interest
Tambahan lagi, konflik-konflik yang terjadi di novel ini kebanyakan adalah karena karakter-karakternya "bereaksi berlebihan" terhadap sesuatu. Jeez, dramaqueen much?

Disamping kritik saya di atas, harus diakui, si penulis memang sangat jeli menyabet kesempatan dan peluang pasar, terutama para pembaca dari segmen remaja cewek dan wanita muda dengan menghadirkan sesuatu yang "berbau Paris". Karena, akui saja dech...banyaaaaakkk sekali cewek yang tergila-gila dengan image Paris sebagai kota penuh cinta dan kota yang romantis, dan, entah karena mereka memang asli tergila-gila dengan romantisme Paris ini, atau karena latah ikut-ikutan saja suka dengan romantisme Paris karena memang banyak cewek yang suka, atau karena ketularan hype. Entahlah...cobalah tanyakan pada diri anda sendiri. Eniwei, hal inilah yang diangkat si penulis karena dengan mudah, si penulis dengan ahlinya menyulap plot dan karakter biasa yang klise, dan menambahkan bumbu Paris, dan menyajikannya di nampan emas kepada pembaca yang tergila-gila akan Paris, dan BOOM! VOILA... Jadilah kisah ini tiba-tiba secara ajaib terasa romantis dan indah, more than it should be.

Kejelian si penulis juga dapat dilihat jelas dari penggambaran tokoh Etienne St. Clair. I mean, if you want a charachter that is lovable, why don't make him British who has an exotic French name??? Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa logat British itu SEXY. Saya sendiri sering klepek-klepek kalau dengar cowok dengan British accent, terutama yang daerah London, yum.... Dan tentu saja, nama Perancis yang Exotic macam Etienne juga bisa jadi nilai plus kan. Yuk coba dijumlahkan, logat British plus nama Perancis...hasilnya.....yupz! Dijamin banyak cewek akan tergila-gila dengan tokoh ini.

Satu lagi nilai plus buku ini adalah "Aura Paris" yang sangat terasa, mulai dari nama-nama Professor nya, menu makanan, sampai nama jalanan di sudut-sudut kota Paris juga banyaknya adegan jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Paris. Bahkan saya yang tidak tergila-gila dengan Paris pun sangat menikmati jalan-jalan ke Paris ini :)

Kamis, 18 Februari 2016

Looking For Alaska by John Green [review]

Title: Looking for Alaska
Author: John Green
263 pages
First published: 2013
Genre: Young Adult, Drama, Contemporary
My rating: 3/5

Segalanya berawal dari kepindahan Miles Halter ke sekolah menengah asrama Culver Creek di Alabama, Amerika bagian selatan yang panas, tempat ayahnya dulu juga bersekolah, untuk memenuhi ambisi pribadinya mencari "the Great Perhaps". Miles termasuk seorang penyendiri yang tidak punya teman di sekolah lamanya, dan lebih nyaman berdiam diri di kamar sambil membaca buku-buku biografi karena dia sangat terobsesi dengan "last words" dari orang-orang terkenal.

Teman sekamarnya di asrama, Chip Martin, atau biasa dipanggil "The Colonel" menjadi sahabat pertamanya. Melalui dia jugalah dia bertemu teman-teman yang bisa disebutnya sahabat: Takumi si murid dari Jepang, Lara si gadis Rusia...er...Norwegia, dan tentu saja Alaska Young yang serampangan yang membuatnya terpesona meski Alaska sudah punya pacar bernama Jack.

Kehidupan Miles (atau yang biasa dijuluki Pudge oleh teman-teman se-genk barunya) di sekolah asrama dipenuhi drama khas remaja: percintaan, persahabatan, kenakalan terhadap teman, diam-diam melanggar aturan sekolah dan berusaha untuk tidak ketahuan para guru, dan sebagainya. Hingga sebuah tragedi terjadi, dan Miles serta teman-temannya berusaha mencari jawaban akan sebuah misteri di balik tragedi tersebut: Apa? Kenapa? Mengapa?

Terus terang, buku ini memang nge-hype banget beberapa saat yang lalu (iya sih, semua buku John Green kayaknya lagi happening banget), dan banyak juga teman-teman yang memuji-muji buku ini dan memberi 5 bintang. Bahkan kala itu, saat buku ini baru diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia, saya sempat membelinya karena berbarengan dengan diskon besar salah satu online shop. Dan....buku ini sukses masuk timbunan koleksi buku-buku TBR yang well, entah kapan akan dibaca. Bahkan segelnya saja belum dibuka sampai sekarang, ngahahahaaaaa.....

Lha terus saya bisa selesai baca ini bagaiman caranya??

Begini ceritanya, beberapa hari yang lalu saya mendapatkan versi audiobook dari novel ini. Saya bahkan lupa siapa naratornya, namun yang jelas naratornya ini pinterrrr banget menyuarakan karakter setiap tokoh di buku ini: mulai dari suara The Colonel yang dalam dan bernada lambat, lalu suara Alaska yang kental dengan southern accent khas Alabama, lalu Lara dengan pronunciation huruf R kental ala Rusia....bahkan bagian lagu RAP nya pun dinyanyikan dengan bagus oleh si narator. Benar-benar menghibur :)

Terus terang saja ini audiobook pertama yang selesai saya dengarkan lho... hahahaa... Biasanya saya selalu mendengarkan audiobook untuk buku-buku klasik, yang sukses membuat saya tidur setelah 3 bab, kisah-kisah dongeng Perault atau Grimm atau HC Anderson yang biasaya saya dengarkan satu-persatu sebelum tidur, tidak terus menerus komplit satu buku selesai. Yeah, hasilnya banyak sekali buku klasik yang "mangkrak" karena saya sukses ketiduran tiap kali baru sebentar mendengarkan. Dan karena buku ini sangat kontemporer, dan tidak ada kata mendayu-dayu yang bikin ngantuk....well, you know I finished it.

Eniwei, buku ini sendiri menurut saya sama sekali tidak ada yang spesial.

Kenapa?

Plot yang biasa saja. Ini nggak buruk lho, nggak. Saya nggak bilang plotnya jelek kok *sembunyi dari para fans John Green* Namun demikian, menurut saya plot nya juga tidak spesial. Seperti kata saya tadi: biasa saja. So so. Drama anak SMA yang termasuk nerd, lalu punya teman, lalu suka sama cewek yang menurut dia 'out of his league', terjebak dalam dunia friendzone. Sounds familiar, guys? Yeah, I see this kind of pattern everywhere. Jadi, ya sudah....biasa saja.

Karakter-karakter yang juga biasa saja kecuali Miles. Dalam masalah karakter, saya akui karakter Miles memang sangat hidup dan sangat bulat, lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Namun karakter-karakter lainnya seolah memang "dipaksa" seperti itu. Terlalu kaku dan tidak luwes, termasuk karakter Alaska yang menurut saya menyebalkan. Bayangkan saja si Pudge mengagung-agungkan si Alaska ini bagai seorang Dewi dari khayangan, segalanya tentang dia dipuji-puji, padahal, let's face it, nothing special about her. Bad childhood? So what, banyak kok yang begitu. Moody. Eurgh....can this character be more annoying than that? Suka merokok, doyan mabuk dan doyan flirting sana-sini.....hmm, sounds like a total slut to me. Dan tentu saja kesan pertama si Pudge saat melihat Alaska....her boobs. Gosh, so cliche and booooriiinggg!

Tapi, tentu saja, saya sedang belajar melihat sesuatu secara objektif *muntah*, jadi saya akan beberkan juga kelebihan buku ini, yaitu:

Karakter Miles (Pudge) yang sangat well-developed, dan menarasikan seluruh buku ini karena memang buku ini diceritakan dari sudut pandang dia. Ini dia yang memberi nyawa buku ini, dan membuat buku ini seolah hidup dengan karakter utama yang begitu nyata. Apalagi kita seolah diajak berbicara langsung dengan Miles, dari cara si penulis menarasika tokoh ini. Mantap lah, untuk menutup kekurangan karakter-karakter lain yang tidak se-well-developed karakter Miles ini.

Filosofi-filosofi hidup yang diselipkan si penulis di sana sini, dari awal sampai akhir merupakan terobosan baru dalam penulisan buku bergende Young Adult. Mungkin memang saya saja yang kurang piknik, tapi saya memang belum menjumpai buku YA lain yang dipenuhi filosofi sebanyak buku ini. Ibaratnya hampir semua narasi di buku ini memang sengaja ditulis John Green agar quotable. Is that even a word? Da menurut saya inilah nilai plus plus buku ini. Oh, iya, satu lagi, adegan percobaan blowjob di buku ini freakin' hilarious! Bikin saya ketawa sampai nangis, yeah yeah...I'm low *hides behind a pillow*

Overall, buku ini menurut saya termasuk "okay" saja , jadi ya 3 bintang saja yaaa....heheee... Tapi bagi yang suka drama remaja kontemporer, pasti bakalan suka buku ini dech. See you in the next post! ^_^

Sabtu, 05 Juli 2014

Every Boy's Got One #Boy3 by Meg Cabot

Paperback, 328 pages
Published by Pan Macmillian, 2005
Language: English





Jane Harris, cartoonist and creator of Wundercat comic, was very excited to be asked by her best friend (Holly Caputo)'s maid of honour in Italy, when she was eloping with her long-term boyfriend, Mark Levine.

It was supposed to be an enjoyable vacation for Jane until she met the best man of Mark's choice: journalist Cal Langdon who didn't believe in a successful marriage. It was hate at first sight for both Cal and Jane, and it was a nightmare for both of them to share a house in an Italian countryside where someone has to walk down the road to the electronic gate to find the fuse box and turn the power back on because you apparently could not turn on the electronic stove while the light was on (this reminds me of my grand's house *grins*).

The plot was very classic, actually, with the maid of honour and the best man as the main characters, I think most of the readers can guess where the story ends. Plus a very cliche pattern of "turning hate into love". Yet despite the cliche, Ms.Cabot could turn it into a very hilarious and interesting story that I enjoyed thoroughly.

This is the third book of the Boys series, and I actually didn't read the second book (*smiles shyly*) but if I had to compare, I definitely would choose the first book over the third. Why? I was a little disappointed by the ending of the book since the characters seemed to suddenly jump from hate to love. I mean one minute they hated each other, and because of Jane's travel diary that was accidentally read by Cal, and booommm...they loved each other to the point that they extended their vacation in Italy. But thumb's up for the overall story, anyway :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...