Selasa, 22 Agustus 2017
Oh. My. Gods. by Tera Lynn Childs [review]
Sabtu, 16 Juli 2016
Glass Sword by Victoria Aveyard [review]
"Anyone can betray anyone."
RED
SILVER
NEW-BLOOD
Di Norta, manusia hidup berdasarkan kategori warna darah mereka. RED sebagai manusia biasa yang lemah, maka mereka selalu menjadi bawahan, prajurit, pelayan, orang-orang suruhan. SILVER sebagai manusia dengan kekuatan supernatural yang berbeda bagi tiap individunya, maka mereka selalu menjadi atasan, pemimpin, bangsawan, raja dan ratu.
Lalu ada NEW-BLOOD, manusia yang terlahir dengan darah berwarna merah, namun dengan mutasi genetis yang membuat mereka memiliki kemampuan supernatural layaknya para silver...bahkan... disinyalir mereka bisa lebih kuat dari para silver. Kekuatan mereka jauh lebih beragam dan lebih diluar dugaan...dan tanpa batasan.
Mare Barrow yang didapuk sebagai THE LIGHTNING GIRL, bersama Cal sang pangeran Silver yang terbuang, kakak Mare yang paling akrab Shade yang juga seorang New-Blood, Kilorn sahabat Mare, serta Farley dari Scarlet Guard akhirnya melanjutkan pemberontakan mereka terhadap Maven, Raja baru Norta yang jahat. Mereka sama-sama memiliki daftar nama para New-Blood, dan berlomba-lomba mencari mereka. Mare dan kawan-kawannya untuk menyelamatkan, merekrut dan melatih mereka; Maven untuk menangkap dan membunuh mereka.
Jujur saja sequel ini sungguh klise dan mengecewakan bagi saya, ditambah lagi tidak ada plot twist mengejutkan di akhir cerita layaknya di buku satu kemarin, membuat saya makin "meh" terhadap buku ini. Saya mendengarkan versi audiobooknya dan berkali-kali saya bahkan tertidur saking bosannya, heheee... Saya sampai sengaja mendengarkan ini sambil 'mewarnai' buku coloring book Fantasia saya untuk mencegah saya ketiduran saat mendengarkan, hwahahaaa...
Menurut saya isi novel ini sangat membosan, dari awal sampai akhir hampir seluruh adegannya diisi dengan perjalanan grup pemberontak ini dari satu tempat ke tempat lain, untuk melakukan ini itu yang sebagian besar berupa perekrutan anggota baru New-Blood. Jika tidak begitu, diisi dengan Narasi dari Mare Barrow si tokoh utama yang sedang mempertanyakan "apakah aku bisa mempercayai si ini?" atau "apakah dia akan mengkhianatiku?" Astagaaa.... paranoid boleh lah, tapi kalimat "anyone can betray anyone" yang sepertinya dipegang teguh sebagai pedoman hidup Mare rasanya makin membosankan jika hampir di setiap bab tokoh Mare selalu mengatakan itu dengan frasa yang berbeda-beda namun tetap mengandung makna yang serupa. Saya sebagai pembaca/pendengar jadi bosan bukan kepalang. Iya iyaaa, saya tahu kamu paranoid, Mare Barrow, tapi kan nggak perlu itu dibeberkan di setiap bab. We get the idea, even from the book one, okay?
Hal membosankan ini menurut saya diperparah dengan penokohan-penokohan yang terkesan nanggung, terutama untuk karakter tokoh utama, saya bahkan tidak bisa mendeskripsikan apakah Mare itu baik hati? tidak juga. Egois? tidak juga. Plin-plan tidak juga, tapi tidak punya pendirian mungkin iya. Dan jujur saja, "tidak punya pendirian" sepertinya bukan kata sifat yang keren untuk menggambarkan tokoh utama karena itu akan membuat keseluruhan ceritanya menjadi boring. Karakte yang tergambarkan dengan bagus justru karakter Cal, Maven dan Mr. Barrow, ayahnya Mare. Selebihnya terasa sebagai figuran.
Mungkin karena saya pecinta sarkasme dan humor alam dialog juga berpengaruh terhadap penilaian saya tentang novel ini, karena sepanjang 444 halaman, total novel ini terasa sangat monoton, flat, begituuuuu terus ceritanya: berkelana, merekrut, bentrok dengan Silver, Mare mempertanyakan ini itu di narasinya, lalu begitu lagi dari awal, seperti siklus tanpa henti.
Yah, karena sudah terlanjur kecewa, mungkin saya tidak akan membaca lanjutannya. Eh, bakal ada lanjutannya kan? Atau tidak? Ah, masa bodo, hahahaa...
Eniwei, saya juga nggak ngerti kenapa judulnya Glass Sword. Sepanjang cerita nggak mengungkit-ngungkit keberadaan pedang apapun tuh, atau "glass" apapun tuh. Jadi apa sebenarnya maksud "glass sword" di sini ya? Apa mungkin ungkapan yang menggambarkan sesuatu? Istilah yang merujuk ke sesuatu yang lain mungkin? Ah, sudahlah, mungkin hanya si penulis dan Tuhan yang tahu.... meski harus saya akui, cover bukunya memang cakep banget :)
Oh iya, ngomong-ngomong buku pertamanya sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia lho.... kilat ya... Apakah ini akan diterjemahkan juga?
See you in the next post ^_^
Sabtu, 18 Juni 2016
Half Upon A Time by James Riley [review]
"If your grandmother is Snow White, then you really are a princess." -- JackAfter a funny problem where every boys in the village tried to marry May the Princess, Jack and May went on a daring adventure to rescue Snow White from the Wicked Queen. Easy, right? Of course not. They were kidnapped by the ugly and cruel witch who lived in a candy house, got eaten by a giant, met the Wolf King, the Red Hood, a fairy godmother....and a dragon!
May: You're saying witches actually ride around on brooms? Wow, how old-school.
Jack: It's tradition.
Along the way, they were accompaied by a real-living-breathing prince named Phillip, who was devastatingly handsome, and dressed in golden regalia. The three of them went through a very magical journey to the castle of the Wicked Witch.
"Because it doesn't matter if you're in a fairy tale or here in real life, doing the right thing still counts for something." -- JackI love this book. It is a funny twist of fairy tales. This is a kind of children book that can make you feel good after reading it. A nice companion before going to bed, heheheee.... When I was reading it, I felt like a child again, enjoying a magical story...such a nice feeling :)
I love the character Jack. He is what I think a great main character should be like. A very young yet wise boy (but not too wise. He still had the air of innocence around him). He was adorably naive, but he was brave and kind. His character portrays how a young knight shoud be, eventhough he was a child of a criminal and not a royal-born.
I loved May in the beginning of the story, She was unlike typical princess. But along the way she behaved like a spoiled child and did many things without thinking. And did you really have to take away her sarcasm? It's what made her character unique. But when the sarcasm was "stolen" I was like "Whaaaaat.... now she is a typical princess. damn!". Put that together with Phillip, the "typical prince" character, and you get a cliche :(
I hope May and Phillip characters would be different in the sequel, anyway.
Overall, this is such a good book to read when you are having a moody-kind-of-feeling-to-read-anything. Because if you're having a reading slump, a nice children book is a good way to get rid of it :)
See you in the next post ^_^
Sabtu, 23 April 2016
Spell Bound by Rachel Hawkins [review]
Sabtu, 16 April 2016
Demonglass by Rachel Hawkins [review]
Sabtu, 09 April 2016
Hex Hall by Rachel Hawkins [review]
"So if you can heal with your touch, why are you working here as like, Hagrid, or whatever?" -- Sophie MercerSophie Mercher selama ini dibesarkan oleh ibunya yang manusia biasa, berpindah-pindah tempat tinggal selama 16 tahun hidupnya. Ketika sebuah 'mantra cinta' yang gagal dan memporak-porandakan pesta prom di sekolahnya yang lama, Sophie mendapati ayahnya mengirimnya ke sekolah asrama terpencil bernama Hecate Hall. Di Hecate Hall, Sophie mendapati dirinya seasrama dengan berbagai macam Prodigium; mulai dari witch dan warlock, faery, shapeshifter, sampai vampir.
Kehidupan barunya di Hecate Hall membuka matanya atas beberapa hal yang selama ini tidak diketahuinya; seperti asal mula para makhluk sihir, dan latar belakang keluarganya, dan jati diri ayahnya yang sebenarnya. Celakanya, hal ini justru membuatnya terlibat banyak masalah. Tiga penyihir cantik berusaha merekrutnya masuk coven untuk alasan yang mencurigakan, dan para guru sepertinya membencinya. Belum lagi sepertinya sahabatnya dituduh membunuh teman seasramanya, dan Sophie sepertinya naksir seorang warlock paling ganteng di sekolah yang, ups, sudah punya pacar.
Dari ringkasan cerita di atas, memang sepertinya ini buku fantasy standar yang biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Saya juga tidak mengharap bakal suka sama buku ini, lho.... Tapi tentu saja, ternyata buku ini, diluar dugaan saya, berhasil membuat saya tidak bisa berhenti membacanya sampai selesai, hehehee.... Padahal niatnya cuma iseng baca buku ini sebelum tidur, weleh, kebablasen sampai habis ;p
Jadi, apakah plot buku ini klise? Saya jawab ya! Klise dan tidak original. Maksud saya, let's face it, Hogwarts rings a bell? Nah, dengan ide tentang "sekolah sihir", mau tidak mau, kita akan selalu membandingkannya dengan Harry Potter. Tapi saya salut karena penulis sepertinya tidak terjebak di 'lingkaran klise' itu. Tante Hawkins berhasil meramu kisah yang tidak original menjadi unik dan menemukan orisinalitasnya sendiri secara pelan-pelan. Twist di sana sini, dan suspense yang diletakkan dengan strategis sepanjang isi buku berhasil memukau saya hingga halaman terakhir. Bahasa yang digunakan juga enak dan mengalir lancar, lugas dan tidak berbelit-belit, membuat pace-nya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Passs banget lah pokoknya.
Oh iyaaa, satu lagi, bagian gong-nya...endingnya bagusss. Saya nggak akan cerita karena takut spoiler, intinya endingnya bikin saya nggak sabar pengen buka buku sequelnya, heheheee... Pokoknya buku ini cocok banget buat penggemar low-fantasy seperti saya.
Oh iya, saya baca versi bahasa Inggrisnya. Sebenarnya saya sempat mengelus-elus buku ini di toko buku waktu keluar terjemahan cetak ulangnya, tapi membayangkan kalau beli 3 buku biar serinya lengkap...aduhmak, dompet lagi kosong, heheheee, jadi baca ebook dech biar ngirit ;p Jadi saya tidak tahu apakah terjemahannya sebagus aslinya atau tidak, soalnya sepanjang yang saya baca, banyak jokes-jokes dan sarkasme yang terlalu cultural sih...dan tahu sendiri kadang yang seperti ini terasa lucu di bahasa aslinya, dan jadi tidak lucu lagi saat diterjemahkan. Eniwei, I love this book a lot.
See you in the next post ^_^
Minggu, 14 Februari 2016
The School for Good and Evil by Soman Chainani [review]
"Beauty can only fight truth so long, Agatha." - Professor Clarissa DoveyDua ratus tahun yang lalu, dua orang anak menghilang dari Gavaldon yang dikelilingi hutan belantara. Penduduk mengira mereka tersesat di hutan atau dimakan beruang....hingga empat tahun kemudian dua orang anak lagi menghilang. Demikian seterusnya yang terjadi setiap empat tahun sekali: dua orang anak menghilang secara misterius dari desa tersebut.
Misteri hilangnya dua anak tersebut lambat laun terungkap sejak wajah anak-anak hilang tersebut muncul di lukisan fairytale-fairytale legendaris: Jack and the beanstalk, Hansel and Gretel, Cinderella....you name it. Dua anak yang menghilang setiap empat tahun sekali tersebut diculik oleh Master Sekolah untuk dididik agar menghasilkan fairy tale: satu anak yang tampan atau cantik dan baik hati, dan yang satu anak bertampang muram, jelek dan nakal. Mereka masing masing dibawa ke School for Good dan School for Evil.
Sophie memiliki tubuh bak seorang putri raja; kulit mulus tanpa noda, rambut panjang berkilau berwarna keemasan, serta mata hijau yang indah. Sekali menebar senyum, semua anak laki-laki pastilah bertekuk lutut. Dia sangat ingin Master Sekolah menculiknya dan membawanya ke School for Good demi mengejar impiannya menjadi seorang putri, demi 'happily ever after'. Dia bahkan sengaja melakukan 'good deeds' demi mencapai tujuannya, termasuk berteman dengan gadis aneh penyendiri bernama Agatha yang tinggal di kuburan.
Segalanya menjadi membingungkan ketika Sophie, yang pada akhirnya memang diculik oleh sang Master Sekolah, ditempatkan di School for Evil, sedangkan Agatha ditempatkan di School for Good. Pasti ada kesalahan! Seluruh penghuni sekolah termasuk para gurupun berpendapat Sophie terlalu princessy untuk School for Evil, dan Ahgatha terlalu witchy untuk School for Good.
"Who needs princes in our fairy tales?"Kekacauan bertubi-tubi terjadi di sekitar Sophie dan Agatha, terutama ketika pangeran Tedros dari Camelot, putra sang Raja Atrhur terlibat dan berhasil memikat hati si cantik Sophie. Sophie berambisi membuat Tedros jatuh cinta padanya, dengan bantuan Agatha yang sangat ingin kabur dari sekolah dan pulang ke desanya. Masalahnya, belum pernah sekalipun seorang pangeran menjalin hubungan dengan seorang witch.
Kekacauan yang lebih besar terjadi dan membuat bingung para guru: Good selalu menang melawan Evil selama dua ratus tahun terakhir, padahal keseimbangan antara Good dan Evil harus dijaga. Apa sebenarnya yang terjadi? Terutama ketika bahkan tak seorangpun pernah bertemu dengan sang Master Sekolah. Di sinilah Agatha dan Sophie merangkai fairy tale mereka sendiri.
Membaca buku ini memang sangat menghibur dan ringan. Namun entah kenapa saya tidak terlalu suka dengan gaya penulisannya. Dua karakter utamanya entah kenapa gampang banget berganti suasana hati dan berganti perasaan, bahkan, well, bukan cuma dua karakter utamanya saja lho, tapi semua karakter di novel ini terkesan plin-plan dan tidak punya pendirian. Yeah, kalau satu atau dua karakter seperti ini, mungkin memang disengaja oleh si penulis, tap kalau semua??? Well, something is wrong here. Memang sih ini buku fantasy dimana hal-hal ajaib bertaburan, tapi plis deh, bukan berarti ...cring...tiba2 si A bisa begini, ....criiing... tiba2 si B bisa begitu. Hubungan sebab-akibat itu harus selalu ada bahkan di novel fantasy loh...tapi entah kenapa saya merasa banyak sekali blank saat membaca novel ini, banyak hal yang seolah2 memang tidak dijelaskan karena ya sudah, memang tidak dijelaskan. Bikin kesel juga sih, dan hampir saya kasih cuma dua bintang aja. Hampir.
Mau tau nilai plus nya???
Pesan moral yang disematkan si penulis di buku ini.
Yups, si penulis mengedepankan tema fairy tale dan membeberkan secara mendalam (namun tersirat) segalanya yang salah pada kisah fairy tale. Mulai dari penggambaran para putri yang selalu cantik tanpa cela, berpakaian renda-renda dan bergaun warna pink atau biru atau silver, eurgh...karena, let's face it: terlahir sebagai seorang putri atau bangsawan tidak otomatis membuatmu menjadi cantik! Dan satu lagi kritik si penulis tentang fairy tale: tokoh para putri yang sepertinya selalu "mendambakan kecantikan dan kesempurnaan". Cinderella rings a bell?
Yang kedua, tokoh para putri (atau gadis pada umumnya) yang HARUS selalu menunggu sang ksatria atau sang pangeran berpedang dan berbaju zirah untuk datang menolong. The legendary damsel in distress. Bahkan secara tersirat si penulis mengkritik tentang wanita yang "dilarang mempertanyakan otoritas pria" juga tentang para putri yang "pingsan pada saat yang tepat (seperti saat melihat darah)". Aurora dan Snow White contohnya.
Dan puncaknya, setelah puass mengolok-olok stereotype di dalam kisah-kisah dongen klasik, si penulis seolah menyatakan bahwa sekarang dunia sudah berubah. Penyihir jahat bisa saja bertampang seksi dan cantik menawan, dan seorang putri bisa saja berparas buruk rupa...dan satu lagi: para putri masa kini tidak menunggu untuk diselamatkan oleh sang pangeran. Mereka menulis takdir mereka sendiri, fairy tale mereka sendiri, dengan tangan mereka sendiri....tanpa pangeran.
Oh iya, buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia lho. Happy Valentine and Happy International Book Giving Day 2016, everyone! See you in the next post ;)
Rabu, 10 Februari 2016
Heir of Fire by Sarah J. Mass [review]
"See what you want, Aelin, and seize it. Don't ask for it; don't wish for it. Take it." -- Prince Rowan the Fae (Chapter 28)Akhir buku ke dua membeberkan identitas Celaena yang sebenarnya. Long story short, dengan petunjuk yang diberikan Celaena sebelum keberangkatannya ke Wendlyn (beneran ini nggak ya nama negeri seberang itu, agak2 lupa nama2 tempatnya ngahahaaaa) kepada Chaol Westfall sang Captain of the Guard, si Kapten akhirnya mengetahui jatidiri Celaena yang sebenarnya. Untunglah hal ini justru menyelamatkan nyawanya saat berkonfrontasi dengan Aedion yang baru kembali dari Terrasen atas perintah sang raja.
Celaena Sardothien, sang assassin pribadi dan King's Champion, justru mengalami perjumpaan tak terduga namun terduga (halah) dengan sang ratu Fae yang melegenda (iya jelas melegenda, umurnya entah sudah berapa ribu tahun dia, wkwkwk), Maeve. Celaena berusaha mencari jawaban akan pertanyaannya agar bisa mengalahkan sang raja tiran di Adarlan, namun Maeve menuntut agar Celaena bisa membuktikan diri sebelum masuk ke kota Fae dan mendapat jawaban dari pertanyaan misteriusnya. Caranya: Maeve memerintahkan abdinya yang bernama Prince Rowan (warrior yang sudah mengikat sumpah darah untuk setia pada Maeve) untuk menjadi tutor pribadi Celaena. Dan tentu saja, tak ada kisah fantasy tanpa "latihan keras" sang tokoh utama demi meraih cita-cita, wakakaa....klise juga sih, tapi entah kenapa bagian yang rasanya harus wajib ada di semua novel fantasy ini justru bagian paling penting karena merupakan titik balik si tokoh utama dan perubahannya dari ZERO menuju HERO.
Sementara itu di Adarlan, buku ini diceritakan dengan memfokuskan ke 3 tokoh sentral: Dorian Havilliard sang Putra Mahkota Adarlan yang sedang berusaha melatih kemampuannya sekaligus merahasiakannya dari ayahnya sang raja tiran dengan bantuan seorang Healer muda; Chaol Westfall yang sedang (lagi-lagi) menggalau karena dia tak tahu entah harus setia pada negaranya atau pangerannya atau mantan pacarnya (wakakakkkk, aneh memang bagian ini), dan Aedion Ashryver, sang Pangeran dari Terrasen yang membelot dan akhirnya menjadi jendral Raja Adarlan.
Saya tidak berani cerita panjang lebar tentang novel ini karena takut menebar spoiler, and you know kalau spoiler itu nyebelin kan? So, saya mau komentar sdikit tentang buku ini saja, okey...
Membaca buku ini itu cukup bikin kaget, karena ceritanya fokusnya jauh dari buku keduanya. Bukannya nggak nyambung atau bagaimana, justru bagus lho. Kepergian Celaena ke seberang lautan menjadi penentu arah cerita ini, karena sepertinya selain Celaena, tokoh-tokoh sentral yang lain pun seperti menemukan jalan ceritanya masing-masing tanpa harus terfokus pada si Celaena. She's not the center of the universe, come on. Walau memang sih...ujung2nya cerita mereka mbulet mbalik terfokus ke Celaena lagi, ngahahahaaa...yah, tokoh utama, gituuu...
Satu hal lagi yang unik dari seri ini adalah, si penulis tidak serta merta menerapkan old-fashioned romance di novel fantasy, seperti misalnya: tokoh cewek dan cowok yang ketemu di awal cerita pastiiiii jadian. NOOO...! Plot seperti itu basi banget sumpah! Uniknya, si tokoh utama bahkan mejalin hubungan dengan tiga individu berbeda di tiga seri yang berbeda, how cool is that, huh? I mean, that's real life. You don't live your life like in a book, focus on one person for the entire plot, meh... Satu hal yang saya agak terkejut tapi senang adalah relationship antara Rowan dan Celaena di buku ke 3 ini, benar2 wow...tapi catet, hubungan mereka lebih seperti best of bestfriends, atau siblings. Nothing romantic, but yeah....you'll get what I mean by reading it yourself.
oke, maap...kenapa saya jadi switch-switch bahasa begini!? *pasang tampang histeris* Satu lagi, saya sudah bilang kan saya nggak begitu suka sama salah satu karakter cowok penting di buku ini (liha review saya sebelumnya) yang tidak akan saya sebutkan namanya *uhuk* Chaol *uhuk*. Ya ampun heran banget kenapa love interest nya tokoh utama nggak memiliki karakter yang lebih jagoan dikit sih, plin-plan abiiisssss..... dannnn kita akan terus menyaksikan keplin-planannya sampai akhir buku ke 3 ini. Bagus, Chaol *sinis*
Overall, saya memberi rating 5/5 karena plot yang tidak biasa untuk sebuah sequel, menurut saya. sangat...apa ya istilahnya...BOLD. Nggak melulu si ini harus begini atau begitu, dan unsur kejutannya juga lebih tidak mudah ditebak. Saya bahkan masih merasa hungover habis baca buku ini dan belum berani lanjut ke buku ke 4 sebelum revisian saya selesai *oh, no....* Jadi inget saya ada deadline, udah dulu yach, bye.... see you in my next post :)
Sabtu, 06 Februari 2016
Crown of Midnight by Sarah J. Mass [review]
"Everything in this world is magic." -- MortIni buku kedua dari serial yang lagi nge-hype "Throne of Glass ". Review buku pertamanya bisa dilihat di postingan review saya sebelumnya. Dan karena ini review buku kedua, jika kalian belum baca buku pertamanya, JANGAN baca postingan ini karena takut mengandung spoiler. Ya, tapi kalau tetap mau baca sih nggak papa, but don't blame me, oke? heheee....
Oke, here goes....
Celaena Sardhotien sudah resmi dinobatkan sebagai King's Champion. Meaning? Sang Raja memiliki kuasa untuk memberikan secarik kertas bertuliskan sebuah nama: nama musuh sang Raja yang harus dibunuh sesegera mungkin oleh Celaena. Dalam hal ini, Celaena tak lain dan tak bukan merupakan assassin pribadi Raja Adarlan yang kejam.
Dorian, Chaol dan Putri Nehemia semua tak meragukan kesetiaan Celaena pada sang Raja, meski mereka tidak menyetujui pekerjaan Celaena. Celaena selalu berhati-hati dengan misinya sampai sang Raja memberinya secarik kertas dengan sebuah nama yang harus dibunuhnya: Archer Finn. Raja berpendapat Archer Finn merupakan salah satu orang dalam para pemberontak. Masalahnya? Celaena sangat mengenal Archer ketika mereka berlatih bersama di Assassin's Keep. Celaena tidak tahu pihak mana yang harus dia pilih hingga tragedi mengerikan merenggut salah satu orang terdekatnya, dan membuatnya terpaksa memburu si pembunuh sahabatnya ini.
Karena takut spoiler, saya tidak akan membeberkan lebih lanjut apa yang akan terjadi di sini, termasuk salah satu tokoh penting yang bakal mati, ngahahaaa...
Oh, iya, jika kalian membaca buku pertama, ada sedikit romantisme antara Celaena dan, ehem, tau sendiri kan? Apakah akan berlanjut di buku kedua? Sayangnya tidak! Celaena justru lebih memilih berhubungan dengan si uhuk, yang menurut saya karakternya agak plin-plan! hih, kenapa pula si Celaena ini mau sama si plin plan....oke, saya ngelantur, maapkeun, hahahaha...
Oh iya, di buku kedua ini, ada dua kejutan yang akan dibeberkan di akhir cerita. Sayangnya saya sudah bisa menebak salah satu kejutannya sejak chapter 11, ouch...jadi kurang greng gitu kejutannya. Tapi saya cukup senang lho dengan kejutan satunya yang tidak bisa saya duga, hehehee.... sayang sekali saya tidak bisa cerita panjang lebar karena takut menebar spoiler ;)
Eniwei, saya sebenarnya memberi 4,5 bintang untuk buku ini, yang saya akui jauh lebih bagus dari buku pertama. Namun saya tidak bisa memberi 5 bintang sempurna karena ya itu tadi...ada bagian yang sudah bisa saya tebak dengan mudah. Berdoalah semoga kalian bukan pembaca yang suka menebak-nebak seperti saya, jadi bisa full menikmati surprise demi surprise yang ditumpahkan di akhir cerita.
Disamping kekurangan tadi, nilai plus buku ini bisa dilihat dari penokohannya yang bagus, penggambaran karakter-karakternya hampir semuanya bulat, plotnya juga kuat, dan pacenya passss sekali, cepat namun tidak terlalu cepat. Oh iya, dengar-dengar saat ini series ini sedang dalam proses diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia lho.... ;)
Kamis, 28 Januari 2016
Throne of Glass by Sarah J. Mass [review]
Rabu, 27 Januari 2016
Red Queen by Victoria Aveyard [review]
"Anyone can betray anyone."
Senin, 23 November 2015
Poison Study (Study #1) by Maria V. Snyder [review]
Title: Poison Study (Study #1)
Author: Maria V. Snyder
First published: 2005
Genre: Fantasy
In Ixia, the Code of Behavior and the rules are absolute: if you kill a person, no matter the reason, even in self-defence, you are executed. The strict Commander Ambrose (highest rank in the country) ensured it that way since the takeover years ago.
Yelena was going to face her execution when the Commander's right-hand man (who also happens to be a trained assassin and a poison master) named Valek offered her a chance to live... sort of. She was offered the position of being the Commander's food taster for poisons.
Her new life of being the food taster was not a picnic. She was given a poison named Butterfly's Dust, and had to be given an antidote every morning to avoid painful death, by Valek. Under Valek's strict training, she became the best food taster in Ixia. But not all people were happy with Yelena's new position.
General Brazell was very determined to have Yelena killed for revenge of his dead son by the girl's hands. He ordered several of his personal guards to hunt the girl, forcing Valek to step up and protect Yelena to an extreme; she was to live in Valek's personal quarters.
On the other hand, General Brazell was not the only one who wants Yelena killed. The poor girl must suffer an abundance of murder attempts by a Southern Magician lady, a torturer from Yelena's past who turned out to be a powerful Magician too (named Mogkan), an opposition underground organization lead by a woman named Star, and a Captain in Commander's guard. Lucky for her, Valek was always there to help her. These things also forced her to learn self-defence with Ari and Janco (two guards who were promoted to captains and acted just like Yelena's older brothers).
Things got more confusing when weird things kept happening to Yelena (like hearing buzzing sounds in her ears in the face of dangers, and seeing the ghost of the man that she had killed everywhere), and the Commander started to act weird. And of course, just like any other stories out there, the main characters to the rescue and save the day blah blah blah will happen in the end.
I actually read this book because of a recommendation by a certain booktuber that I follow on youtube (I follow a lot, so please don't ask me which one). I looked it up on Goodreads an it has four point some stars, so I guess, yeah whatever, I'll try reading it. It's an old book, anyway. But funny thing is, it hasn't been translated into Bahasa Indonesia although it was first released like a decade ago. Huh, so that's why only a few BBI friends read it, then.
Anyway, I actually intended to read it slowly, as a bed time story (like maybe 10% a day before bed, because I read it in ebook version, and it has no pages, only percentage), but after only 20% , I could not stop reading it. I didn't expect it to be that good, like omygod really good I like it so much now I'm rambling...
Okay, focus. Huft...
So why do I like it?
It has a badass heroine. Able to jump literally from tree to tree, able to use bow and knife, able to kill, and literally kick some ass. Pardon my language. She's very determined, and definitely not a damsell in distress although she needs rescuing from time to time. So, check!
It has an assassin, which is, I know he was like 33 years old man in the story, but come on... 30 years something for men is really like golden age. It is the stage where a man is at his most stunning appearance. Take a look at many Hollywood actors. Even Brad Pitt and Tom Cruise are still smoking hot in their fifties. Damn. Sorry. Pardon my language again. But you have to understand that Valek is like a dream come true; cold but caring, agile and basically able to do anything! Yum...
It has a fast pace of the story. Like super duper lightningy (is that even a word?) fast like you wouldn't believe. Some people say it's too fast, but for me it's just perfect. I like fast movements *wink*
It's a complete package of fantasy story. Eventhough the title is Poison Study, thank God it's not actually a book full about poison. Otherwise, it would be a Poison Encyclopedia, hehehee... It has magic, ghost, action full of killings and kicking and stabbing and slashing, you name it. It has assassination, murder, intrigue, politics, friendship, romance, mind control, and of course poison! I couldn't ask for more.
Anyway, I gave this book 4,5 stars out of 5.
It is really good if you're into fantasy and fast pace.
Enjoy! :-)
Sabtu, 09 Mei 2015
Pure (Covenant Book 2) by Jennifer L. Armentrout [review]
Alexandria Andros bahkan belum selesai menjalani pelatihan khusus dari Aiden St. Delphi, seniornya dan juga seorang Sentinel handal, di North Carolina Covenant ketika dia harus melakukan sesuatu yang drastis pada salah satu orang yang paling dia sayangi dalam hidupnya (di akhir buku 1). Hal ini menyebabkan Alex merasa sedih, apalagi dengan banyaknya bekas gigitan daimon di lengan dan lehernya, sebuah pengingat akan peristiwa yang selamanya merupakan titik balik dalam hidupnya.
Alex yang telah mengetahui bahwa dirinya adalah calon Apollyon kedua, harus membagi waktunya berlatih di bawah bimbingan 2 orang pria; Aiden yang melatihnya hand to hand combat, serta Seth sang Apollyon pertama yang melatihnya bertarung menggunakan dan melawan keempat elemen, ditambah elemen kelima yang dahsyat dan mengerikan dan hanya bisa digunakan oleh para dewa dan Apollyon, Akasha.
Kedua Apollyon ditakdirkan bersama; terdiri atas satu jiwa yang berada di dalam 2 tubuh, tak heran jika Alex melewatkan sebagian besar waktunya bersama Seth. Apalagi Seth bisa membaca emosi Alex dengan mudah karena ikatan jiwa mereka. Namun Alex tetap tidak bisa mengingkari perasaannya pada Aiden meski Aiden adalah seorang Pure dan hubungan antara Half dan Pure adalah hubungan terlarang di kehidupan para Hematoi.
Sementara itu, seorang Half daimon berhasil menyusup di semua covenant, dan menghisap aether dari murid Pure. Ini menimbulkan kemarahan para dewa, dan memunculkan 3 patung furies di aula karena dianggap telah terjadi ancaman pada Pure. Para Half pun diperiksa secara menyeluruh, dan kecurigaan serta ketegangan antara Pure dan Half semakin terasa. Puncaknya terjadi ketika salah satu murid Covenant di North Carolina meninggal akibat perbuatan Half daimon, dan Alex serta saingannya Lea ada di tempat kejadian.
Meninggalnya salah satu murid tersebut membuat Alex depresi berat, untunglah Seth yang sangat sweet selalu bersamanya. Namun Alex tidak bisa berlama2 dirundung kesedihan karena dia harus berangkat ke New York Covenant untuk dimintai kesaksian atas beberapa peristiwa yang menimpanya di hadapan seluruh anggota Council. Bukan hanya itu, berkali2 terjadi percobaan pembunuhan terhadap Alex di tempat ini, dan beberapa pejabat Council pun dicurigai.
Buku kedua ini semakin seru saja dech! Sejak peristiwa terbunuhnya si *sensor* sampai percobaan pembunuhan terhadap karakter utama, ditambah dua tokoh cowok yang sweet (Aiden di gentleman dan Seth si badboy), membuat roaller coaster buku ini semakin terasa. Tentu saja bagian akhirnya juga tidak disangka2 dan penuh dengan darah (eeewwww). Dan chapter tambahan dari sudut pandangnya Seth itu seperti eye-opener bagi pembaca tentang sosok Seth sang Appolyon yang misterius. Dan jujur ya, di buku ini saya sukaaaaaaaaaaaa banget sama sosok Seth (lagi2 deh saya suka sama tipe badboy, hahaaa). Anyway, sukses bagi mbak Jen karena buku keduanya lebih bagus dari buku pertama *wink*.
Selasa, 05 Mei 2015
Half-Blood (The Covenant Book 1) by Jennifer L. Armentrout [review]
"Okay. I'm ready to move onto something else, like practicing with knives or defense against the dark arts. Cool things."
"Did you just quote Harry Potter?"
-Alex and Aiden, Chapter 8, Half-Blood-
Buku apapun yang meng-quote Harry Potter pasti bagus! *plak* #ditendangpembaca
Iya iyaaaa...saya tahu saya bias, wkwkwk...
Okeh, langsung saja ke review.
Alexandria Andros, biasa dipanggil Alex, terkepung oleh para Daimon yang membunuh ibunya Rachelle. Alex sudah berhasil membunuh 2 daimon sebelumnya, namun keempat daimon yang tersisa menyudutkannya, hingga salah satunga berhasil menggigit lehernya dan menyedot aether Alex dari dalam tubuhnya. Di tengah rasa sakit yang luar biasa itulah, sekelompok sentinel datang menolongnya.
Kira2 begitulah isi bab 1 dari buku tersebut. The start was a BANG! Belum apa2 sudah langsung disuguhi adegan action yang dahsyat. Well, karena saya termasuk penggila action, dari adegan awalnya saja saya sudah langsung memutuskan akan meneruskan membaca buku ini. Dan benar lho, saya tidak kecewa.
Para sentinel membawa Alex kembali ke Covenant, dan pamannya, Marcus Andros, yang sekarang menjabat sebagai dekan Covenant langsung menginterogasinya perihal Rachelle yang bembawa Alex kabur dari Covenant ke dunia Mortal 3 tahun lalu. Kaburnya mereka yang berakhir dengan kematian Rachelle tentu membuat tanda tanya besar, apalagi sepertinya para daimon mengejar Alex dengan sangat gigih.
Atas dukungan Aiden St.Delphi, salah satu sentinel yang menolongnya, juga Laadan, Alex harus menjalani masa latihan intensif selama musim panas di bawah instruksi langsung dari Aiden, sebelum akhirnya bisa bergabung dengan para murid lainnya di tahun ajaran baru di musim semi.
Para dewa dan dewi Yunani dari dulu memang terkenal dalam "berhubungan" dengan para mortal. Keturunan mereka yang saling menikah satu sama lain, akan menghasilkan keturunan yang sama "murni"nya, memiliki keanggunan dan kecepatan fisik yang jauh diatas para mortal atau manusia biasa, dan memiliki kandungan aether murni dalam darah mereka juga bisa mengendalikan salah satu dari keempat elemen (ter-avatar-Aang heheheee). Mereka dinamakan "Pure Blood". Para Pure yang berhubungan dengan para mortal akan menghasilkan keturunan yang kekuatan fisiknya sama dengan Pure, namun tidak bisa mengendalikan elemen sama sekali. Mereka dinamakan "Half-Blood". Parahnya, sistem hierarki yang dimiliki Covenant dan Council sangat berat sebelah. Pure dianggap sebagai makhluk yang lebih berharga. Half hanya diijinkan menjadi sentinel atau pembasmi daimon, atau guard yang menjaga para Pure. Jika seorang Half melakukan kesalahan, hukumannya adalah pelayanan seumur hidup terhadap para master a.k.a. slavery atau perbudakan.
Alexandria yang merupakan seorang Half tidak punya pilihan lagi; dia harus berlatih untuk menjadi sentinel, atau dihukum sebagai budak. Celakanya Alex bukan gadis yang patuh aturan, berkali2 dia melanggar peraturan dan dianggap "tidak stabil" dan "tidak bertanggung jawab" oleh para instruktur Covenant. Aiden yang melatihnya selama musim panas merupakan satu dari sedikit Pure yang memilih menjadi sentinel. Gagah, ganteng, dan super baik, tidak seperti kebanyakan Pure; hubungan guru-murid Alex dan Aiden pun berkembang menjadi lebih dalam. Namun "Breed Order" melarang hubungan romantis Pure dan Half. Dan hukumannya? Perbudakan bagi si Half, dan kebebasan bagi Pure. Sangat tidak adil.
Di lain pihak, alasan kaburnya Rachelle 3 tahun lalu pun pelan2 terungkap. Rachelle kabur dari covenant untuk melindungi putrinya, yang ternyata bukan seorang Half-Blood biasa. Siapa sebenarnya Alex?
Dan ternyata, Rachelle sang ibu yang dikira sudah meninggal, ternyata belum benar2 mati tapi.............*sensor*
4 bintang deh buat buku ini, karena tokoh utamanya benar2 Heroine sejati. Banyak adegan pukul2an, tendang2an, dan bunuh2an, hahahaa.... ditambah lagi karakter Alex yang kocak namun tangguh, membuat buku ini makin asik dibaca. Oh iya, karakter Alex sedikit mengingatkan saya pada karakter Katniss Everdeen di saga Hunger Games sebenarnya; stubborn, susah diatur, kadang bertindak seenaknya sendiri dan tidak bertanggung jawab, namun benar2 kickass, tipe2 jagoan cewek sejati yang keren pokoknya, bukan tipe damsel in distress. Tapi bedanya, karakter Alex ini lebih easygoing dan kocak, lebih lovable dech pokoknya.
Oh ya, ada 1 tokoh lagi yang muncul belakangan, Seth sang Apollyon, baru muncul di tengah2 buku. Dia adalah seorang Half yang memiliki kemampuan mengendalikan 4 elemen sekaligus, ditambah elemen kelima, elemen para dewa. Kekuatannya melebihi Pure manapun meski dia seorang Half. Sang Apollyon yang hanya ada 1 tiap generasi, merupakan penyeimbang dunia.
Terus, apa hubungan kemunculan Seth dan Alex? Nah, ini juga akan terbongkar habis2an di buku, meski beberapa sudah agak bisa ditebak sejak awal, tp karakter Seth yang bener2 badboy itu bikin gemes, hahaa...
Sudah ah, mau baca buku selanjutnya nih...bye...
Selasa, 23 September 2014
When Lightning Strikes
Author: Meg Cabot
First published in 2001
Language: English
Jessica Mastriani, gadis SMA yang baru berumur enam belas tahun, secara tidak sengaja memiliki kekuatan supernatural setelah dia tersambar petir sepulang sekolah.
Kekuatan baru Jess memungkinkannya mengetahui lokasi anak-anak hilang yang fotonya tidak sengaja Jess lihat di karton kotak susu yang diminumnya. Tentu saja Jess, sebagai seorang warga negara yang baik, menelepon nomor hotline yang tertera di kotak susu tersebut, dan mengabarkan keberadaan si anak hilang tersebut. Hal tersebut berlangsung beberapa hari, dan beberapa anak hilangpun berhasil ditemukan dengan selamat. Namun masalah mulai muncul ketika salah satu anak hilang ditemukan meninggal di lokasi yang diinformasikan oleh Jess, dan terkubur di bawah sebuah pohon akibat pembunuhan. FBI pun mulai beraksi karena Jess malah dicurigai sebagai dalang berbagai penculikan dan pembunuhan anak.
Saya sebenarnya baca buku ini yang versi English, ebook pula *heheheee*, tapi berhubung saya sedang tidak mood mereview pake English juga, jd pake Indo saja yach. Sepertinya buku ini juga belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yang menurut saya, sayang sekali lho....karena buku-buku Meg Cabot itu selalu layak dibaca karena bahasanya yang, seperti biasa, enak dinikmati dan tidak complicated. Satu hal yang saya suka dari Tante Meg adalah beliau tidak terlalu berlebihan ber-narasi, jadi pembaca pun tidak gampang bosan.
Dari segi cerita, buku ini punya ide cerita yang unik, agak-agak berbau science fiction juga sich...tapi dari segi karakter, hampir semua karakter utama dalam novel-novel tante Meg memang bersifat mirip. Hal ini menurut saya bisa sedikit dirubah dengan membuat karakter utama yang jauh berbeda dari novel-novel yang lain, sebenarnya, jadi tidak terlalu monoton. 3,5 dari 5 bintang dech buat buku ini. ^_^
Sabtu, 05 Juli 2014
A Dash of Magic by Kathryn Littlewood
Seri kedua Bliss novel
Penerbit: Nourabooks, Mizan Fantasi
Tahun terbit: 2013
Penerjemah: Sujatrini Liza
"Kau sudah menjadi sous-chef yang luar biasa selama sembilan tahun terakhir, walaupun kue-kue yang dibuat tidak seajaib yang kita inginkan. Sekaang waktunya bagi Mama untuk menjadi sous-chef-mu. Mama akan berada di sisimu sepanjang waktu." -hal 47-
Setelah pencurian atas Bliss Cookery Booke oleh Aunt Lily di buku pertama, buku kedua ini dimulai dengan Aunt Lily yang memanfaatkan Booke untuk kepantingannya sendiri agar dia bisa terkenal. Lily bahkan memiliki acara TV sendiri, dan menjual produk memasak yang "berbau sihir jahat". Untuk menghentikannya, Rose, yang merasa bertanggung jawab atas hilangnya Booke, menerima tantangan Bibi Lily untuk mengikuti kompetisi Gala (kompetisi memasak internasional) di Paris. Jika Rose menang, maka bibi Lily akan mengembalikan Booke, jika tidak maka Rose dan keluarga Bliss harus merelakan hilangnya Booke untuk selamanya.
Petualangan Rose dan keluarga Bliss pun dimulai ketika mereka harus mengumpulkan bahan-bahan ajaib untuk membuat kue ajaib seperti Deantang Lonceng Notre Dame, atau Rona Ratu Sejati. Untunglah dengan bantuan kakek Balthazar, Gus si kucing yang bisa bicara, juga Jaques yang selalu siap membantu, mereka berhasil mengumpulkan bahan-bahan ajaib tersebt. Namun apakah Rose masih bisa memenangkan Gala ketika bawahan Lily yang jahat berhasil mencuri semua bahan ajaib yang teah dikumpulkan dengan susah payah itu?
Hal yang paling saya suka dari buku ini adalah: Biru. Pinggirannya yang berwarna biru itu memang sangat menggemaskan, jadi tak kuasalah saya untuk menolak panggilan hati untuk memiliki buku ini *halah*. Hal yang saya tidak suka adalah karakter Rose. Dia seharusnya adalah tokoh utama yang...yah, spesial, tapi disini menurut saya Rose sama sekali tidak menonjol. Rasa percaya diri kurang, kemampuan yang pas-pasan, plin-plan, dan...pokoknya biasa saja. Jujur saja saya agak bosan membaca buku ini karena karakter si Rose yang tidak mencolok sebagai "main" karakter ini.
Bagian akhir juga terlihat sangat "berlebihan". Pertama, penampilan Rose saat final. Memang dari awal buku pertama udah digambarkan bahwa Rose memang seorang gadis yang penampilannya "biasa saja". Namun apa iya, kata "biasa saja" itu lantas diartikan dengan Rose yang menghadiri final kejuaraan "memasak" dengan pakaian "tidak higienis"? Baju belepotan adonan kue yang sudah mengering? Heloooo, memangnya dia ke Paris tidak membawa pakaian ganti atau apa? Kenapa pula ibunya membiarkannya tampil di final kompetisi internasional yang notabene "masuk tivi" dengan penampilan kumal? Dan yang kedua, bagian Rose saat menengis dengan air mata mengalir tanpa henti sambil memasak....err, agak berlebihan dech.
Yah, memag sekali lagi saya sarankan, buku ini untuk konsumsi anak SD dan SMP saja, soalnya ceritanya kurang kompleks untuk konsumsi dewasa. Lah terus kenapa saya yang dewasa ini juga baca buku ini? *meringis* #kabur
Selasa, 19 November 2013
Ruby Red (Book 1) by Kerstin Gier
Judul asli: Rubinrot
Penulis: Kerstin Gier
Penerjemah: Fransisca Paula Imelda
Pertama kali diterbitkan di Wurzburg, Germany tahun 2009
Tahun terbit di Indonesia: 2013
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 978-602-02-1422-1
"Aku mengagumi perempuan. Sungguh! Aku hanya tidak percaya kalau mereka berkuasa atas kemajuan umat manusia. Oleh sebab itu dalam kelompokku, perempuan tidak mendapatkan apa-apa." -hal 208-Itu adalah salah satu dialog dari Bangsawan von Saint Germain yang sempat membuat saya jengkel sama tokoh yang satu ini.
Oke, saya mulai ceritaya dari awal. Gwendolyn Shepherd merasa tidak secantik sepupunya Charlotte. Menurut Gwen, Charlotte punya segala-galanya, keanggunan, kecerasan, kecantikan, dan seorang pembawa gen penjelajah waktu. Lady Arista sang nenek pun sampai memberi perhatian berlebih pada cucunya yang spesial ini. Namun bayangkan betapa kagetnya Gwendolyn ketika tiba-tiba dia terdampar di masa lalu. Ketika ketiga kalinya hal ini terjadi, Gwendolyn yang panik menelepon ibunya, yang langsung membawanya ke sebuah perkumpulan rahasia para penjaga.
Singkat cerita, ternyata Gwendolynlah (bukan sepupunya yang cantik Charlotte) yang merupakan seorang pembawa gen panjelajah waktu, sang penjelajah terakhir, nomor dua belas, yang dilambangkan dengan batu Ruby dan dikabarkan memiliki kekuatan ajaib. Dialah yang akhirnya bisa menutup lingkaran keduabelas penjelajah waktu untuk mengungkapkan rahasia besar dibalik rahasia.
Untuk mengontrol penjelajahan waktu, darah masing-masing penjelajah perlu dimasukkan ke kronograf, agar para penjelajah bisa melakukan elapsi (penjelajahan terkontrol). Elapsi pertama yang dilakukan Gwendolyn dilakukan bersama dengan seorang pembawa gen lain dari keluarga de Villiers, Gideon yang tampan. Namun elapsi yang seharusnya aman-aman saja berakhir penuh darah dan membuat mereka hampir terbunuh. Belum lagi pertemuannya dengan bangsawan von Saint Germain di masa lalu yang mengerikan. Dan segalanya menjadi semakin membingungkan sejak Gwen dan Gideon bertemu dengan Lucy dan Paul di masa lalu. Apakah benar Lucy dan Paul mencuri salah satu kronograf untuk membuka rahasia, atau malah untuk mencegah terkuaknya rahasia besar?
Jujur saja, saya membaca novel ini karena menurut saya covernya cakep, apalagi sulur dan dedaunan yang melingkar-lingkar keemasan di pinggirnya, heheheee.... Dan yang aneh, setelah membaca satu buku peuh, saya masih tidak yakin yang mana penjahat yang sesungguhnya di novel ini. Apakah Lucy dan Paul yang mencuru Kronograf? Ataukah Bangsawan von Saint Germain yang aneh dan menyeramkan? ataukah para penjaga sendiri? Kalau saya sih paling benci sama si bangsawan, siapapun yang merendahkan wanita bagi saya penjahat deh pokoknya, heheheee.....
Anyway, pertama kali baca ini, saya pikir si penulis orang Inggris karena settingnya memang di Inggris, ternyata si penulis itu orang Germany loh....wkwkwk...
Intinya, kalau nyari bacaan yang nggak terlalu berat, ringan dan menghibur, buku ini lumayan loh, buat menemani sarapan pagi dan minum teh soremu ;)
How To Train Your Dragon (Book 1) by Cressida Cowell
Publisher: Little, Brown and Company (Boston, New York)
Price: $5.99
First published in Great Britain in 2003
ISBN: 978-0-316-08527-4
Disclaimer: I borrowed this book from Resvinta, a member of GRI Semarang
"Hiccup was just absolutely average, the kind of unremarkable, skinny, freckled boy who was easy to overlook in a crowd." -page 15-In order to be a true member of the Hairy Hooligan Tribe, the youngsters had to complete the inisiation process wich included picking a dragon; training a dragon for the most common commands such as 'go', 'fly', and 'stay'; and performing the abilities of your dragons in front of the whole tribe. And of course, Hiccup being Hiccup managed to get himself the tiniest and the most stubborn dragon ever, named Toothless. Hiccup and Toothless' training was quite amusing, because Toothless kept asking for jokes in every opportunity. Who knew that dragons love jokes, eh?
Anyway, Hiccup, despite his father's order, was the only one in the tribe who can speak Dragonese. It actually came in handy when there were two huge ancient dragons on the Isle. Well, as you can guess, just like almost every story, Hiccup transformed from zero to hero when he finally saved the entire tribe from those two vicious dragons.
Actually, I read this book because I watched the movie based on the book. It was produced by Dreamworks with the same title "How To Train Your Dragon". I totally fell in love with the movie.
There are some major differences between them, although the names of several main characters are the same.
Hiccup was the son of Stoick The Vast, the Chief of a Viking Tribe who lived in the Isle of Berk. The people in Berk had a big problem with the pest, because they had a big war with the dragons for over 300 years. Killing dragons was everything in Berk.
Hiccup was a skinny boy who prefered to work with his head than his hands. Yet it wasn't the way vikings are supposed to live. Everyone looked down on him, and he decided to prove himself by capturing a Night Fury, a species of dragon that was believed to be the most vicious ever. Did he manage to capture it? Yes, of course. But instead of killing it, Hiccup named it Toothless and trained it....er,...rode it, actually.
Hiccup's life span out of control when his father found out his secret, and disowned him. Stoick then brought Toothless to the Dragons' Lair to kill the dragons, unaware of the danger since there was also the nest of a very huge and wild dragon. And of course, cliche thing happened, Hiccup came to save the day in the nick of the moment, almost killed by his action and managed to lost his left foot.
Personally, I liked the movie better since it was much more dramatic, heheee.... but the book was worth reading too.
Memorable Quotes from the book:
"JUST ONCE," yelled Hiccup. "Why couldn't you let me be a Hero JUST ONCE? I didn't want anything amazing, just to pass this STUPID TEST so I could become a proper Viking like everybody else." -page 125-
The first dragon was enough to give you nightmares. The second dragon was enough to give your nightmares nightmares. -page 128-
"But it's all unfair!" said Hiccup. "Why do YOU get to eat everybody, just because you're bigger than everybody else?" -page 152-
Sabtu, 26 Oktober 2013
Magician: Master (Riftwar Saga) by Raymond E. Feist
Seri ke-2 dari Riftwar Saga
Penerbit: Elex Media Komputindo
Alih Bahasa: Loe Nur Dwihayati
ISBN: 978-602-02-1363-7
"Ada banyak cara mencintai seseorang. Terkadang kita begitu menginginkan cinta sehingga tidak terlalu memilih siapa yang kita cintai. Di waktu lain kita menganggap cita begitu murni dan berharga, tidak ada seorangpun yang sesuai keinginan kita. Tapi umumnya cinta itu mengenali, kesempatan untuk mengatakan 'ada sesuatu dari dirimu yang kusukai'. Hal ini belum tentu berwujud pernikahan atau bahkan cinta fisik. Ada cinta orangtua, cinta pada kota atau negara, cinta pada hidup, dan cinta pada masyarakat. Semuanya berbeda, semuanya cinta." -hal 49-Demikian ucap Laurie suatu ketika saat dia sedang menasihati kawannya sesama budak yang bernama Pug.
Orang-orang Tsurani melihat Pug hanya sebagai budak dan orang barbar. Dia dipekerjakan di kamp rawa dan sudah menjalani kehidupannya sebagai budak selama empat tahun. Dia bahkan berusaha melepaskan masa lalunya karena masa lalunya. Namun siapa sebenarnya Pug di masa lalu sebelum dia menjadi budak Tsurani?
Ketika sang pengawas kamp rawa yang kejam menyuruhnya memotong sebuah pohon, Pug berkilah bahwa mereka seharusnya mencari pohon yang lain karena pohon tersebut telah busuk. Namun karena kekeraskepalaan si pengawas, Pug pun terjepit dan terluka, namun Laurie beserta seorang prajurit muda berhasil menolongnya. Tak disangka, prajurit muda tersebut adalah Hokanu dari klan Shinzawai, putra dari bangsawan Shinzawai. Berkat kebaikan hati Hokanu, Laurie dan Pug pun dibawa ke Shinzawai.
Meski masih berstatus budak, Pug dan Laurie diperlakukan dengan lebih baik oleh Hokanu: mereka ditugaskan melatih kuda, dan khusus untuk Laurie si mantan pengamen jalanan, diperintahkan untuk membuat kecapi dan bermain musik. Kehiupan mereka dirasa sudah menjadi lebih baik, hingga Sang Agung yang berjubah hitam membongkar rahasia Pug di depan publik bahwa pug adalah "murid dari penyihir Kulgan".
Sementara itu peperangan masih berlangsung antara dua dunia: Midkemia, dunia asal Pug dan Laurie, melawan Kelewan dan orang-orang Tsurani.
Sementara itu Tomas di Midkemia, memerintah para prajurit Elf dan Dwarf berperang melawan orang-orang Tsurani yang menyerbu, dan berencana menangkap 'Jubah Hitam'. Akankah Tomas berhasil melakukan misinya ketika dia juga mewarisi sebuah kekuatan kuno yang misterius? Akankah hubungannya dengan sang Ratu Elf bisa selamat di tengah peperangan?
Gaya bahasa yang dipakai di novel ini sederhana dan nggak muluk-muluk, bagi saya yang tidak suka berbelit-belit, itu poin plus. Typo hampir tidak ada, hebaaatttt. Tapi ada beberapa hal yang mengganjal: pertama, sang Ratu Elf Aglaranna, ketika muncul bersama Tomas, kadang disebut dengan "sang ratu" dan kadang "sang putri". Ini kan bikin saya bingung, dia itu sebenarnya putri atau ratu?
Lalu yang kedua, karena ini adalah buku kedua, jujur saja saya agak sedikit kesulitan mengikuti alur ceritanya, apalagi bagian "kekuatan" Tomas yang selalu berpindah-pindah tokoh dengan nama-nama yang sangaaattttt ajaib. Karena hal ini sudah saya prediksi, maka saya berusaha mencari buku pertama Riftwar Saga ini di toko buku, dan berniat akan membaca buku pertamanya dulu sebelum membaca buku ini. Namun, alas, toko buku se-Semarang siubek-ubek juga nggak nemu. Jadilah saya membaca buku nomor 2 ini tanpa membaca buku nomor 1 terlebih dahulu. Bingung? Jelas, tapi mau bagaimana lagi. Hal inilah yang menyebabkan review saya telat terbitnya. Mohon maaf kepada pihak-pihak yang bersangkutan yang telah menantikan review saya yang ala kadarnya ini, semoga tidak kapok memberi saya buntelan. Heheheee....
Selasa, 07 Mei 2013
Review: Harry Potter and the Goblet of Fire by J.K Rowling
- The return of the Dark Lord. That part was a massive part of the story in this book. Let's face it guys; the darkest, scariest, cruelest, and dumbest got his body back, complete with snake nose and red pupil! If that was not a climax, then I don't know what is.
- A bunch of big events: Quidditch World Cup and the scenes of terror, the Triwizard Tournaments and the three tasks (dragon, merpeople, and crazy maze with blast-ended skrewts), The Yule Ball, The death of Cedric Diggory and of course the return of Lord Voldemort.
- The beginning of sparks of love between the characters.
- A row in Harry-Ron friendship after Halloween until the end of the first task.
- The introduction of three Unforgivable Curses.
- Funny moments with Fred and George and Weasleys' Wizard Wheezes: Ton-Tongue Toffee, Canary Cream, Fainting Fancies, Nousebleed Nougats - and beginning of their carrier.
- The location of Hogwarts' Kitchen was revealed!!!
- A secret about Hagrid was exposed.
- What is pensieve? This object was also introduced in this book, and it will have a big part in the last book.
- A brief overview of Magical Politics and the Ministry of Magic.
- First death scene in the Harry Potter series.
- Brief appearance of James and Lily Potter.
- Hotter Potter RC
- Books in English RC
- Fantasy RC

















