Tampilkan postingan dengan label Judy Blume. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Judy Blume. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2016

Are You There, God? It's Me, Margareth by Judy Blume [review]

Title: Are You There, God? It's Me, Margareth
Author: Judy Blume
First published: 1970
Genre: Children Literature
(audiobook version)
My rating 4/5


Bagi Margareth Simon, usia dua belas tahun adalah usia ketika kau harus memakai deodorant karena pada usia segitulah ketiakmu mulai berbau tidak sedap, untunglah dia masih punya beberapa bulan lagi sebelum usianya dua belas tahun.

Margareth yang baru akan memasuki kelas 6 SD, pindah ke New Jersey, daerah suburban (pinggir kota) New York. karena entah kenapa orang tuanya menginginkan rumah baru dengan halaman untuk berkebun. Margareth bahkan tidak pernah tahu kalau orangtuanya suka berkebun. Kecemasannya akan kepindahannya ke sekolah baru, membuatnya menyambar kesempatan pertama untuk berteman. Dia langsung mengiyakan ketika Nancy, yang tinggal hanya 6 rumah dari rumah baru Margareth, mengajaknya bergabung dengan 'kelompok rahasia'nya bersamma dua orang teman lainnya. Kelompok rahasia tersebut bertemu seminggu sekali sepulang sekolah dan mendiskusikan berbagai hal, seperti misalnya: kapan dan bagaimana rasanya saat pertama kali mendapat menstruasi, daftar cowok paling hot  di sekolah, juga menggosipkan teman sekelas mereka yang tinggi dan berdada besar, Laura Danker.

Ayah Margareth berasal dari keluarga Yahudi. sedangkan Ibu Margareth berasal dari keluarga Nasrani yang taat. Karena perbedaan agama inilah, pernikahan kedua orangtua Margareth ditentang keras oleh orangtua Ibu Margareth, dan selama 15 tahun, mereka menolak berhubungan dengan putri mereka sendiri. Akibatya, Margareth tidak pernah mengenal kakek-neneknya dari pihak Ibu, hanya neneknya dari pihak Ayahlah yang selalu memanjakannya, bahkan mengunjunginya seriap bulan dari New York. Hal inilah yang menyebabkan Margareth tidak beragama karena orangtuanya memutuskan 'elope' atau kawin lari 15 tahun yang lalu dan mengesampingkan perbedaan agama mereka demi cinta. Jadi Margarethlah yang harus memutuskan dia akan memilih agama apa nantinya jika kelak sudah dewasa.

Satu hal yang perlu diingat saat membaca novel ini adalah: BE OPEN MINDED!

Membaca novel ini harus dengan pikiran terbuka karena isu sensitif yang diangkat novel ini, yaitu tentang agama. Ditambah lagi ini novel anak-anak. Ditambah lagi terkadang beberapa orang Indonesia hobi sekali dramatis dan membesar-besarkan hal kecil, dramaqueen. Fiuhh....

Jika pembaca sedikit berpikir, sebenarnya si penulis tidak sedang mengangkat isu agama, tapi lebih ke masalah cultural saja di Amerika sana (dan mungkin juga di negara-negara lainnya). Penulis mencoba membuka awareness bahwa perselisihan dalam keluarga, termasuk yang terjadi akibat pernikahan berbeda agama selalu memakan korban dari pihak "anak". Dalam novel ini, Margareth lah si korban itu. Kebingungan yang dialami Margareth ini tergambar dengan gamblang dan lugu; menyindir namun tidak menggurui, dan dialirkan dalam narasi apik khas anan-anak dari sudut pandang orang pertama.

Isu sensitif lain yang diangkat adalah mengenai puberty dan sex bagi anak perempuan. Saya akui di Indonesia sendiri pendidikan sex masih tergolong tabu bagi sbagian orang. Namun novel ini seolah membawa saya bernostalgia ke masa kelas 6 SD, dimana seorang cewek yang *maaf* menstruasi lebih awal dan berkembang lebih awal daripada teman sepantarannya selalu diperolok dan dijadikan bulan-bulanan, dan digosipkan aneh2, hanya gara-gara sesuatu yang indah dan alami terjadi...well, that's puberty for you, guys. Masa ini juga masa dimana keingintahuan tentang sex dan menjadi dewasa sangat tinggi, dimulai dari tantangan mencium lawan jenis, sampai mencuri majalah playboy milik ayah...dan uniknya, meski pesan moral yang disampaikan tentang pentingnya sex education bagi anak tersampaikan dengan baik, bahasanya pun luwes dan enak...lugu seperti halnya ocehan anak-anak.

Eniwei, saya sangat menikmati membaca, eh, mendengarkan audiobook novel ini yang kurang lebih sepanjang 3 jam. Ah....how to be young... *nostalgia lagi*

Dan, oh iya, ini bacaan yang sangaaaaatttt cewek banget lho, hahahaaa.... 

Enjoy! See you in the next post ^_^

Selasa, 30 Juli 2013

Tales of a Fourth Grade Nothing (by Judy Blume)

Paperback, 120 pages
Publisher: Scholastic
Printed in September 2003
ISBN: 0-439-55986-3
This edition is only available for distribution through the school market

I got this book in a secondhand bookshop in Semarang for only IDR 15.000,- and I didn't actually looking for this book. Since, it was Judy Blume's, so why not? I thought. It stayed on top of my book-pile for several months before I read it (I was having a break from fantasy, my favorite genre so far) and surprise..surprise...I loved it from the first paragraph.

Peter Warren Hatcher, a fourth grade boy who won a turtle from Jimmy Fargo's birthday party was so happy. He named it 'Dribble'. He thought he deserved a pet because he was a big boy and totally responsible, although his Mom didn't like the smell of it. She always said 'I don't like the way he smells' which was so silly since of course Dribble smelled like turtle..he was supposed to smell like turtle. Peter's Dad worked in an advertising company, and his little brother a three-year-old toddler named Farley Drexel Hatcher was considered the biggest problem in his life.

See the text taken from the book below:

Everybody calls him Fudge. I feel sorry for him if he's going to grow up with a name like Fudge, but I don't say a word. It's none of my business.
   Fudge is always in my way. He messes up everything he sees. And when he gets mad he throws himself flat on the floor and he screams. And he kicks. And he bangs his fists. The only time I really like him is when he's sleeping. He sucks four fingers on his left hand and make slurping noise.

The story is very unique since it was told from Peter's point of view as the first person. Thus making it childish, innocent, honest, and everything you can expect from a fourth-grader journal. It is amazing how we can understand a thorough expressions and feelings of a little boy through such simple phrases and sentences. It really reminds me of my childhood. I really can relate to Peter's situation because I have a little brother too...and I remember a bunch of silly situations with my little brother (just like Peter and Fudge) that made me upset years ago, yet I can think of with fondness right now.

There was a part that really stuck in my head though...it was when Peter and his two friends got an assignment, and he had to make a poster (which he kept in his bedroom, under the bed). I don't know why, but I just could see him, nearly burst in tears, with a sinking feeling in his stomach when he found out that his poster was ruined by his little brother. Ohhh, the feeling... I almost cried because I remember...*pause*...oh forget it. I got carried away.

By the way...if I have to give stars...then 4,5 out of 5! Yeayy!!!

PS. This post is written as a requirement of Posting Bareng BBI Children Literature.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...