Sabtu, 09 Mei 2015

Pure (Covenant Book 2) by Jennifer L. Armentrout [review]

Alexandria Andros bahkan belum selesai menjalani pelatihan khusus dari Aiden St. Delphi, seniornya dan juga seorang Sentinel handal, di North Carolina Covenant ketika dia harus melakukan sesuatu yang drastis pada salah satu orang yang paling dia sayangi dalam hidupnya (di akhir buku 1). Hal ini menyebabkan Alex merasa sedih, apalagi dengan banyaknya bekas gigitan daimon di lengan dan lehernya, sebuah pengingat akan peristiwa yang selamanya merupakan titik balik dalam hidupnya.

Alex yang telah mengetahui bahwa dirinya adalah calon Apollyon kedua, harus membagi waktunya berlatih di bawah bimbingan 2 orang pria; Aiden yang melatihnya hand to hand combat, serta Seth sang Apollyon pertama yang melatihnya bertarung menggunakan dan melawan keempat elemen, ditambah elemen kelima yang dahsyat dan mengerikan dan hanya bisa digunakan oleh para dewa dan Apollyon, Akasha.

Kedua Apollyon ditakdirkan bersama; terdiri atas satu jiwa yang berada di dalam 2 tubuh, tak heran jika Alex melewatkan sebagian besar waktunya bersama Seth. Apalagi Seth bisa membaca emosi Alex dengan mudah karena ikatan jiwa mereka. Namun Alex tetap tidak bisa mengingkari perasaannya pada Aiden meski Aiden adalah seorang Pure dan hubungan antara Half dan Pure adalah hubungan terlarang di kehidupan para Hematoi.

Sementara itu, seorang Half daimon berhasil menyusup di semua covenant, dan menghisap aether dari murid Pure. Ini menimbulkan kemarahan para dewa, dan memunculkan 3 patung furies di aula karena dianggap telah terjadi ancaman pada Pure. Para Half pun diperiksa secara menyeluruh, dan kecurigaan serta ketegangan  antara Pure dan Half semakin terasa. Puncaknya terjadi ketika salah satu murid Covenant di North Carolina meninggal akibat perbuatan Half daimon, dan Alex serta saingannya Lea ada di tempat kejadian.

Meninggalnya salah satu murid tersebut membuat Alex depresi berat, untunglah Seth yang sangat sweet selalu bersamanya. Namun Alex tidak bisa berlama2 dirundung kesedihan karena dia harus berangkat ke New York Covenant untuk dimintai kesaksian atas beberapa peristiwa yang menimpanya di hadapan seluruh anggota Council. Bukan hanya itu, berkali2 terjadi percobaan pembunuhan terhadap Alex di tempat ini, dan beberapa pejabat Council pun dicurigai.

Buku kedua ini semakin seru saja dech! Sejak peristiwa terbunuhnya si *sensor* sampai percobaan pembunuhan terhadap karakter utama, ditambah dua tokoh cowok yang sweet (Aiden di gentleman dan Seth si badboy), membuat roaller coaster buku ini semakin terasa. Tentu saja bagian akhirnya juga tidak disangka2 dan penuh dengan darah (eeewwww). Dan chapter tambahan dari sudut pandangnya Seth itu seperti eye-opener bagi pembaca tentang sosok Seth sang Appolyon yang misterius. Dan jujur ya, di buku ini saya sukaaaaaaaaaaaa banget sama sosok Seth (lagi2 deh saya suka sama tipe badboy, hahaaa). Anyway, sukses bagi mbak Jen karena buku keduanya lebih bagus dari buku pertama *wink*.

Selasa, 05 Mei 2015

Half-Blood (The Covenant Book 1) by Jennifer L. Armentrout [review]

"Okay. I'm ready to move onto something else, like practicing with knives or defense against the dark arts. Cool things."
"Did you just quote Harry Potter?"
-Alex and Aiden, Chapter 8, Half-Blood-

Buku apapun yang meng-quote Harry Potter pasti bagus! *plak* #ditendangpembaca
Iya iyaaaa...saya tahu saya bias, wkwkwk...
Okeh, langsung saja ke review.

Alexandria Andros, biasa dipanggil Alex, terkepung oleh para Daimon yang membunuh ibunya Rachelle. Alex sudah berhasil membunuh 2 daimon sebelumnya, namun keempat daimon yang tersisa menyudutkannya, hingga salah satunga berhasil menggigit lehernya dan menyedot aether Alex dari dalam tubuhnya. Di tengah rasa sakit yang luar biasa itulah, sekelompok sentinel datang menolongnya.

Kira2 begitulah isi bab 1 dari buku tersebut. The start was a BANG! Belum apa2 sudah langsung disuguhi adegan action yang dahsyat. Well, karena saya termasuk penggila action, dari adegan awalnya saja saya sudah langsung memutuskan akan meneruskan membaca buku ini. Dan benar lho, saya tidak kecewa.

Para sentinel membawa Alex kembali ke Covenant, dan pamannya, Marcus Andros, yang sekarang menjabat sebagai dekan Covenant langsung menginterogasinya perihal Rachelle yang bembawa Alex kabur dari Covenant ke dunia Mortal 3 tahun lalu. Kaburnya mereka yang berakhir dengan kematian Rachelle tentu membuat tanda tanya besar, apalagi sepertinya para daimon mengejar Alex dengan sangat gigih.
Atas dukungan Aiden St.Delphi, salah satu sentinel yang menolongnya, juga Laadan, Alex harus menjalani masa latihan intensif selama musim panas di bawah instruksi langsung dari Aiden, sebelum akhirnya bisa bergabung dengan para murid lainnya di tahun ajaran baru di musim semi.

Para dewa dan dewi Yunani dari dulu memang terkenal dalam "berhubungan" dengan para mortal. Keturunan mereka yang saling menikah satu sama lain, akan menghasilkan keturunan yang sama "murni"nya, memiliki keanggunan dan kecepatan fisik yang jauh diatas para mortal atau manusia biasa, dan memiliki kandungan aether murni dalam darah mereka juga bisa mengendalikan salah satu dari keempat elemen (ter-avatar-Aang heheheee). Mereka dinamakan "Pure Blood". Para Pure yang berhubungan dengan para mortal akan menghasilkan keturunan yang kekuatan fisiknya sama dengan Pure, namun tidak bisa mengendalikan elemen sama sekali. Mereka dinamakan "Half-Blood". Parahnya, sistem hierarki yang dimiliki Covenant dan Council sangat berat sebelah. Pure dianggap sebagai makhluk yang lebih berharga. Half hanya diijinkan menjadi sentinel atau pembasmi daimon, atau guard yang menjaga para Pure. Jika seorang Half melakukan kesalahan, hukumannya adalah pelayanan seumur hidup terhadap para master a.k.a. slavery atau perbudakan.

Alexandria yang merupakan seorang Half tidak punya pilihan lagi; dia harus berlatih untuk menjadi sentinel, atau dihukum sebagai budak. Celakanya Alex bukan gadis yang patuh aturan, berkali2 dia melanggar peraturan dan dianggap "tidak stabil" dan "tidak bertanggung jawab" oleh para instruktur Covenant. Aiden yang melatihnya selama musim panas merupakan satu dari sedikit Pure yang memilih menjadi sentinel. Gagah, ganteng, dan super baik, tidak seperti kebanyakan Pure; hubungan guru-murid Alex dan Aiden pun berkembang menjadi lebih dalam. Namun "Breed Order" melarang hubungan romantis Pure dan Half. Dan hukumannya? Perbudakan bagi si Half, dan kebebasan bagi Pure. Sangat tidak adil.

Di lain pihak, alasan kaburnya Rachelle 3 tahun lalu pun pelan2 terungkap. Rachelle kabur dari covenant untuk melindungi putrinya, yang ternyata bukan seorang Half-Blood biasa. Siapa sebenarnya Alex?
Dan ternyata, Rachelle sang ibu yang dikira sudah meninggal, ternyata belum benar2 mati tapi.............*sensor*

4 bintang deh buat buku ini, karena tokoh utamanya benar2 Heroine sejati. Banyak adegan pukul2an, tendang2an, dan bunuh2an, hahahaa.... ditambah lagi karakter Alex yang kocak namun tangguh, membuat buku ini makin asik dibaca. Oh iya, karakter Alex sedikit mengingatkan saya pada karakter Katniss Everdeen di saga Hunger Games sebenarnya; stubborn, susah diatur, kadang bertindak seenaknya sendiri dan tidak bertanggung jawab, namun benar2 kickass, tipe2 jagoan cewek sejati yang keren pokoknya, bukan tipe damsel in distress. Tapi bedanya, karakter Alex ini lebih easygoing dan kocak, lebih lovable dech pokoknya.

Oh ya, ada 1 tokoh lagi yang muncul belakangan, Seth sang Apollyon, baru muncul di tengah2 buku. Dia adalah seorang Half yang memiliki kemampuan mengendalikan 4 elemen sekaligus, ditambah elemen kelima, elemen para dewa. Kekuatannya melebihi Pure manapun meski dia seorang Half. Sang Apollyon yang hanya ada 1 tiap generasi, merupakan penyeimbang dunia.

Terus, apa hubungan kemunculan Seth dan Alex? Nah, ini juga akan terbongkar habis2an di buku, meski beberapa sudah agak bisa ditebak sejak awal, tp karakter Seth yang bener2 badboy itu bikin gemes, hahaa...

Sudah ah, mau baca buku selanjutnya nih...bye...

The One (Selection Book 3) by Kiera Cass [review]

"I'm going to love you more than any man has ever loved a woman, more than you ever dreamed you could be loved. I promise you that." -Prince Maxon, chapter 27, The One-

Thank God the third book is far better than the second!
Tinggal 4 gadis yang tersisa dari proses seleksi sebagai calon Puteri Illéa dan pendamping Pangeran Maxon yang tampan dan super sweet dan baik hati. Mereka adalah Elise yang perfeksionis yang masih memiliki hubungan keluarga dengan New Asia yang sedang berkonflik dengan Illéa; Celeste sang model dari kasta nomor 2 yang cantik dan tangguh; Kriss yang lemah lembut dan favorit masyarakat; dan tentu saja America Singer sang musisi miskin dari kasta nomor 5.

Raja Clarkson mengancam America untuk "tutup mulut" karena setiap tingkah lakunya dianggap membahayakan sistem Kerajaan Illéa. Namun Pangeran Maxon yang memihak America mencoba mencari cara agar America bisa menjadi favorit masyarakat, menaikkan pamornya sehingga Raja Clarkson mau tak mau harus menerimanya. Namun tentu saja, bukan America namanya kalau tidak membuat ulah, yang justru malah membuat karakternya bersinar di mata banyak orang, yang akhirnya menuntutnya untuk menjadi ratu. Tentu saja ini membuat Raja Clarkson makin geram.

Pergulatan batin Amerika yang membuat pembaca bosan di buku kedua akhirnya berakhir, syukurlah. America akhirnya menyadari dia mencintai Pangeran Maxon. Tetapi bagaimana dengan Aspen yang mengatakan bahwa dia akan menunggu America? Well, singkatnya hal ini selesai tuntas juga di akhir buku ini, yang, lagi2 karena takut spoiler tak akan saya beberkan.

Lumayan banyak juga kejadian2 lucu di buku ini, termasuk usaha aneh America saat merayu sang Pangeran, juga girls bonding time para 4 gadis Elite yang tersisa, yang akhirnya bersahabat satu sama lain meskipun mereka bersaing di ajang Seleksi.

Dari sisi politik, baik America dan Maxon pun melakukan langkah2 drastis dan meminta bantuan dari pihak Italia dengan bantuan Puteri Nicoletta dari Italy, juga bergabung dengan pihak pemberontak Utara untuk menumpas Pemberontak Selatan yang semakin garang. Berhasilkah mereka sebelum pihak Selatan menyerang? Apalagi dengan Pihak pemberontak Selatan yang membabi buta melakukan pembunuhan di kasta2 asal para gadis Elite, dan menyebarkan teror dimana-mana, termasuk di dalam tembok istana.

Buku terakhir ini menurut saya adalah yang paling bagus dari ketiga buku yang sudah ada, karena merupakan paket lengkap; romance, action, politic, angst, dan juga family dan friendship moment tertuang semua di sini. Pokoknya lengkap. Pace nya juga lebih cepat dari buku2 sebelumnya, dan isinya lebih padat.
Oh iya, jangan lupa membaca Epilognya juga yang super duper sweet.

Minggu, 03 Mei 2015

The Elite (Selection Book 2) by Kiera Cass [review]

"And maybe this is silly, but it's my country. I get that it's broken, but that doesn't mean these anarchists can just come and take it. It's still mine. Does that sound crazy?" -Aspen Leger, Chapter 22, the Elite-

Entah kenapa rasanya I can relate banget sama quotation di atas. Rasa kecewa yang amat besar pada negeri sendiri, pada sistem yang ada, pada hukum yang sering berpihak, pada pemimpin-pemimpin bangsa, pada birokrasi juga pada masyarakat luas yang begitu nyata dan tidak bisa disangkal. Kutipan di atas, juga diri saya pribadi, tahu dan yakin bahwa negeri saya tidaklah sempurna, bahkan jauh, jauuuuhhhh dari sempurna. Tapi toh rasa cinta yang saya rasakan untuk negeri ini sangatlah besar, dan saya akan membelanya sampai kapanpun. Rasanya seperti menyayangi keluarga dan saudara sendiri, yang meski kadang menyakiti kita, dan mereka jelas tidak sempurna, tapi rasa cinta yang kita rasakan pasti tidak akan pudar. Kecewa mungkin, benci...never!

Topik itulah yang diangkat di buku kedua ini. Para karakter utamanya, America Singer, Pangeran Maxon, dan juga Aspen Leger terlihat sangat berdedikasi bagi negeri mereka dalam cara mereka masing-masing.

Berkali-kali pemberontak dari utara dan selatan menyerbu istana. Anggota keluarga kerajaan, termasuk Pangeran Maxon dan keenam Elite (6 gadis dari jumah total 35 dari kerajaan Illéa yang lolos seleksi sebagai calon Puteri dan pendamping Pangeran) dipaksa berlarian menuju "safe place" yang ada jauh di dalam istana. "Safe places" ini ada yang khusus untuk royalty dan para elite, juga ada yang khusus diperuntukkan bagi pelayan2 istana dan para penjaga, dengan ukuran lebih mungil namun tersebar di seluruh penjuru istana. Singkat kata, banyak sekali adegan di buku kedua ini terjadi di ruangan2 tersebut, termasuk salah satu adegan "klimaks" di akhir cerita yang tidak akan saya beberkan di sini. Takut spoiler heheeee....

Marlee, salah satu sahabat America di antara para Elite, tertangkap basah melakukan sesuatu yang terlarang. Dia dihukum dan dikeluarkan dari proses "seleksi". America sangat marah pada Maxon karena menurutnya, Maxon tidak melakukan apa-apa untuk menolong sahabatnya. Maxon yang gundah akhirnya menemukan tempat dia bisa "terhibur" oleh Kriss, salah satu gadis Elite yang lemah lembut, sedangkan America yang masih emosi "menghibur diri" di pelukan Aspen. Inilah awal terbentuknya kisah cinta segi empat yang rumit dan menyebalkan di buku ini.

Ya, saya memang bilang MENYEBALKAN. Kenapa?
Jujur saja, saya memang bukan penggemar kisah cinta segitiga. Lha ini malah segi empat. Ewww....
Tambahan lagi, sikap Maxon dan America di buku ini benar2 kelewatan layaknya ABG galau yang sedang bereksperimen sama cinta monyet. Ditambah kegalauan America yang mendominasi hampir 90% isi buku, mengingatkan saya pada karakter Bella Swan di buku New Moon. Maksud saya, kebangetan banget deh kalau sampai tidak bisa menentukan saya ini sebenarnya suka sama si A atau si B. Mungkin memang beberapa orang mengalami hal ini, tapi kan nggak harus juga berhalaman-halaman jadi "aduh aku suka A, eh tapi kok kayaknya aku nggak suka A. Eh ternyata aku suka A, eh tapi kok si A begini ya...bagaimana kalau B? Yasudah, aku sama B saja. Eh bentar, si A lebih keren. Eh eh...tapi B..." and it will go on forever and ever and ever....

Bagi saya pribadi, membaca sebuah novel adalah belajar dari karakter yang menginspirasi. Contohnya, kita bisa belajar tentang keberanian dan persahabatan dari tokoh Harry Potter, lalu sikap "nrimo" atau bersyukur dari tokoh Auggie Pullman dari Wonder, dan juga kreativitas tanpa batas (meski rada2 psycho) dari tokoh Amy dari Gone Girl. Nah, kalau sepanjang buku dua tokoh utamanya hanya menghadirkan rasa galau, saya mau belajar apa? Maaf mbak Kiera Cass, tapi masa ABG saya sudah lewat.

Seperti yang saya singgung di review tentang buku sebelumnya, bahwa unsur politik pasti akan semakin kental. Itu benar terjadi. Ditemukannya buku harian milik George Illéa membuka mata America dan Maxon bahwa negeri mereka memang membutuhkan sebuah "perubahan". Sayangnya konflik polotik ini tenggelam oleh konflik batin America yang mendominasi isi buku, padahal seharusnya bisa lebih dieksplor.

Jujur saja saya kecewa sekali dengan buku kedua ini. Setelah buku pertama yang sangat oke, buku kedua ini hancur berantakan. Namun jika memang penasaran sama keseluruhan isi cerita, ya harus dibaca sih hehe... paling nggak buku ketiganya bagus! Jadi rasa sakit hati saya sedikit terobati. Eh, itu harusnya saya tulis di review selanjutnya ya, hahaaaaa....

Rabu, 29 April 2015

The Selection (Book 1) by Kiera Cass

"...love can wear away under the stress of being married. Someone you think you love now, you might start to hate when he couldn't provide for you. And if you couldn't take care of your children, it'd be worse. Love doesn't always survive under those types of circumstances." -Mr. Singer, Chapter 3, The Selection-

Masih ingat dongeng klasik Cinderella? "Pada jaman dahulu, hiduplah seorang gadis cantik bersama ibu tiri dan dua saudara tirinya...bla..bla..bla..".
Tapi pernahkah kau berpikir dari sudut pandang si Pangeran dalam kisah tersebut? Mungkin akan jadi sedikit berbeda misalnya:
"Alkisah ada seorang pangeran dari negeri antah berantah yang sudah cukup umur. Dia dituntut oleh sang raja agar segera mencari istri. Maka diundanglah gadis2 lajang dari seluruh negeri untuk datang ke sebuah perhelatan maha besar, dengan harapan sang pangeran akan menemukan cinta sejatinya"

Nah, kisah itulah yg saya tangkap saat membaca garis besar novel karya Kiera Cass ini.

Jujur saja saya bukan penikmat kisah roman, namun sekali2, saya ternyata membutuhkan old-fashioned-romance sebagai vitamin, hehehee... Jadi inilah yang akhirnya mempertemukan saya pada novel ini. Apa yang membuat saya tertarik membaca? Ada 2 alasan. Pertama krena covernya yang menurut saya cantik banget (bisa dilihat di bawah), dan review singkat novel tersebut. Dalam review singkat tersebut (bisa dicari di goodreads), disebutkan bahwa ada 35 gadis yang akan dipilih dari seluruh penjuru negeri untuk menjadi seorang puteri dan sekaligus istri dari sang pangeran. Wow, cinderella bangeeeeeetttt.....

Ternyata setelah membaca buku tersebut, saya sedikit kaget juga karena ternyata genrenya Dystopia, bukan pure romens, yang justru saya lebih suka. Jadi teruslah saya membaca buku ini seharian (sampai kepala saya rasanya pusing, karena saya baca versi ebook di tab, ugh...).

America Singer adalah seorang gadis dari kasta kelima dan seorang musisi di sebuah kerajaan bernama Illéa. Kerajaan tersebut adalah the United States yang baru, karena negara tersebut hancur setelah perang dunia keempat. Sistem 8 kasta di negeri tersebut memang sangat ketat, karena penduduk diharuskan bekerja sesuai kasta mereka. Itulah kenapa America merahasiakan hubungannya sengan seorang pemuda gagah bernama Aspen Leger karena pemuda tersebut berasal dari kasta keenam. Hubungan tersebut tentu tidak mudah bagi mereka karena Aspen yang berada satu kasta di bawah America merasa tidak pantas dan tidak bisa membiayai kehidupan mereka setelah pernikahan. Itulah sebabnya Aspen memutuskan hubungan mereka secara sepihak.

America yang patah hati akhirnya menyerah pada tuntutan ibunya yang ambisius untuk mendaftar di acara "Seleksi" karena Pangeran Maxon sedang mencari seorang pendamping. 35 gadis dari 35 provinsi pun diumumkan dan diundang ke Istana di Angeles untuk menjalani proses seleksi yang dilakukan secara langsung oleh Pangeran Maxon. America dimanjakan oleh dayang2 pribadi, gaun-gaun indah, makanan-makanan lezat, serta status barunya sebagai kasta ketiga. Apalagi pangeran Maxon yang ternyata sangat baik hati sepertinya memberi perhatian khusus padanya.

Buku pertama ini menurut saya sangat bagus kerena, yah, selain alasan tidak logis saya yang pada saat membaca buku ini memang sedang membutuhkan sebuah old fashioned romance *uhuk*, karakter America yang cenderung stubborn dan kocak, juga pangeran Maxon yang superrrrrrr baik hati sampai bikin meleleh itu juga menjadi nilai plus buku ini. Oh iya, memang di buku pertama ini lebih fokus ke romens antara kedua tokoh utamanya, namun ternyata ada berbagai macam unsur politik yang sudah disebar si penulis di buku ini sebagai clue, yang sepertinya akan dibahas lebih mendalam di buku2 selanjutnya.

Oh iya, ada satu hal sih sebenarnya yang bikin saya agak sebel, yaitu nama tokoh utama di buku ini. Jujur saja saya bukan penggemar nama orang yang diambil dari nama tempat, jadi sempat saya beberapa kali mengurungkan niat membaca buku ini karena nama tokoh utamanya America. Oh plisss.... memangnya tidak ada nama yang lebih cocok? Maksud saya, saya juga pernah lho bertemu dengan cewek bernama Indonesia, yang menurut saya, nggak bangeeett.... setipe dengan nama seperti Sidney, Virginia, London, Paris. Aduh maaaak....lebih kreatif dikit kenapa kalau ngasih nama anak. Saya nggak bisa membayangkan ada anak bernama Jakarta, Semarang, Purwokerto, Solo. Dikira trayek angkot?? Yah, tapi kembali lagi sih, itu masalah selera.

Oke, jd selain masalah nama tokoh yg nggak banget, hati2 kalau baca buku ini, jangan sampai termehek-mehek dan jatuh cinta sama Pangeran Maxon saking sweet-nya *uhuk*

Senin, 13 April 2015

Me After You

Selamat ulang tahun BEBI (BBI, Blogger Buku Indonesia), semoga semakin jaya, semakin bermutu, dan anggotanya semakin unyu-unyu *gigit bakpao sambil minum spiritus (yang penting warnanya biru)*

Posting bareng dalam rangka ultah BBI tahun ini adalah tentang perubahan setelah bergabung dengan BBI.

Me after you, my bebi....
Adalah hari yang dipenuhi timbunan tertinggi yang pernah saya miliki. Benar kata orang, semakin kita tahu sesuatu, semakin kita merasa bodoh. Semakin kita tahu banyak referensi buku bagus dari teman-teman BBI, semakin saya merasa harus memiliki ((koleksi)) kisah-kisah abadi dalam paparback, hardcover, atau ebook sekalipun. Diskonan dan book festival pun adalah neraka bagi dompet saya. Apalagi jika ada sesama teman BBI yang kebetulan sedang belanja buku diskon, ah....tak kuasa tangan ini untuk tak bergerak ke ATM dan titip dibelikan teman. Lalu timbunan buku-buku pun makin tinggi dan tinggi hingga ke langit ketujuh #ngaco.

Me after you, my bebi...
Adalah pagi yang penuh drama, siang yang penuh tawa hingga air mata bergulir karena bahagia, sore yang penuh kisanak, serta malam yang penuh kismis berkat teman2 BBI Joglosemar (Jogja Solo Semarang dan sekitarnya). Mereka adalah sahabat terbaik yang bisa saya dapatkan. Dan obrolan santai yang tadinya hanya membahas buku pun, jauh berkembang karena kami jadi saling mengenal dan menyayangi satu sama lain. Dan apakah sahabat-sahabat itu hanya dari kota saya dan kota-kota sekitarnya saja? Tentu saja tidak! Mereka juga berasal dari seluruh indonesia, dan menyenangkan sekali rasanya punya banyak teman yang meliliki hobby yang sama, baik itu yang sering ber-chatting ria di grup WA Bajay, atau yang saya kenal hanya dari blog mereka. Terimakasih bebi, sudah mempertemukan saya dengan teman-teman yang berharga *peluk bebi*

Me after you, my bebi...
Adalah hari-hari ketika saya mulai membuka diri pada genre-genre baru yang sebelumnya tidak pernah saya sentuh, namun sudah berani saya cicipi berkat reading challenge yang ada tiap bulan. Yeah, meski saya akui saya tidak selalu mengikuti program ini sih *sembunyi dari bebi*.

Me after you, my bebi...
Adalah ketika saya jadi termotivasi untuk terus membaca dan menulis. Melihat teman-teman bebi yang luar biasa, tentu menjadi penggerak sendiri bagi saya untuk tetap fokus mencapai impian. Apalagi dengan ancaman DO dari bebi jika absen menulis blog selama beberapa bulan *eh*, tentu saja itu seperti cambuk yang memacu saya untuk semakin rajin ngeblog *pecut mana pecut*.

Me after you, bebi....adalah saya yang (menurut saya) lebih baik dari me before you....

Terima kasih, my bebi...

Sabtu, 04 April 2015

Sky Burial by Xinran [review]

Judul Asli : Sky Burial
Judul terjemahan: Pemakaman Langit, Sebuah Kisah Cinta Heroik dari Tibet
Penulis: Xinran
Penerjemah: Ken Nadya Irawardhani Kartakusuma
Penerbit: Serambi
Tahun terbit: 2007
ISBN: 978-979-1275-02-6

Apa sih yang selama ini kita tahu tentang Tibet? Pakaian tebal warna-warni, kepang rambut, dataran tinggi, dan Dalai Lama? Well, sebenarnya jawaban seperti itulah yang akan saya berikan sebelum saya membaca buku ini.

Saya pertama kali mendengar tentang buku ini dari teman sesama blogger kak Lila, yang meminta buku ini sebagai hadiah ulang tahun arisan BBI Joglosemar 2 tahun lalu. Saat itupun buku ini sudah termasuk susah dicari, padahal saya adalah salah satu petugas pencari kado. Untunglah mas Tezar yg banyak akal, yg saat itu juga bertindak sebagai sesama rekan pencari kado bisa menemukan buku ini entah di mana. Setelah itu buku ini sempat terlupakan dari ingatan saya, sampai saya mendengar teman sesama blogger buku lain yg mencari-cari buku ini juga. Nah lho, sebegitu bagusnyakah buku ini sampai dicari banyak orang? Padahal di toko-toko buku biasa sudah tidak lagi dijual.

Ingat postingan saya yang lalu mengenai LPM (Laporan Pandangan Mata) Kopdar 3 kota Joglosemar di Jogja? Saat itu saya sedikit membahas bahwa rombongan Semarang sempat mampir sebentar ke JBS (Jual Buku Sastra) yang berlokasi di Gang Semangat di Jogja. Saya hanya membeli 2 buku saja (yang keduanya sudah selesai dibaca lho, uhuk, jadi bukan ditimbun) yaitu Wonder oleh R.J. Palacio (review menyusul yach) dan Sky Burial oleh Xinran. Beruntung sekali saya ketemu dua buku yang saat ini sudah sulit dicari, jadi langsunglah saya beli.

Halaman pertama buku ini sudah membuat saya tergerak untuk membacanya lagi dan lagi. Bagian pengantarnya menceritakan kisah si penulis saat masih kecil, mendengar ucapan orang mengenai "pemakaman langit". Nah, penasaran kan apa itu pemakaman langit? Apakah itu ritual pemakaman yang dilakukan di atas helikopter atau balon udara? Ternyata itu adalah tradisi warga Tibet yang mencincang jasad si mati dan ditaburkan di atas bukit agar dimakan burung-burung pemakan bangkai yang keramat. Konon, dengan menjadi makanan para burung tersebut, itu adalah salah satu bentuk harmonisme manusia dan alam, dan arwah si mati dapat terbang ke surga dibantu oleh para burung yg memakan jasad tersebut dan terbang ke langit. Jujur saja saya juga ngeri membayangkan hal ini, namun saya tergelitik untuk terus membacanya karena saya jadi lebih mengenal budaya dan cara hidup orang Tibet yang awalnya masih asing bagi saya.

Bagaimana kisah ini dimulai?

Saya akan memulainya dengan menanyakan "Apa yang akan kau lakukan demi cinta?" Relakah kau maju ke medan perang tanpa berbekal apapun selain tekad membara untuk menemukan suamimu? Relakah kautinggalkan kemewahan dunia modern dengan segala pernak-perniknya seperti internet, gadget, bahkan jam dinding dan buku yang kaubaca untuk hidup dalam pengasingan di dataran tinggi Tibet secara nomaden selama lebih dari 30 tahun demi suamimu?

Itulah Shu Wen. Dia adalah wanita terpelajar dari Cina dan merupakan seorang dokter dan dermatologis. Suaminya, Kejun yang juga sesama dokter, ditugaskan ke Tibet saat terjadi konflik Cina-Tibet sebagai salah satu "Tentara Pembebasan" saat usia pernikahan mereka baru sekitar tiga minggu. Belum menginjak usia 100 hari pernikahan, Shu Wen menerima kabar bahwa Kejun telah tewas. Anehnya, kabar tentang tewasnya Kejun sangat "hush-hush". Wen tentu saja merasa ada yang janggal. Dengan emosi meluap, dan keinginan kuat mencari tahu kebenaran kabar tentang apa yang terjadi pada suaminya, Wen pun mendaftar sebagai tentara wanita ke Tibet. Di tengah perjalanannya, dia bertemu sengan Zhuoma, wanita Tibet bernasib tragis dari keluarga terpandang yang juga sedang mencari kacung dan kekasihnya, Tiananmen. Mereka berdua tidak sengaja terpisah dari para tentara dan terluka parah, dan ditolong oleh keluarga nomaden Tibet, yang akhirnya menganggap mereka bagian dari keluarga tersebut. Dari situlah Wen akhirnya menjelma dari seorang wanita Cina menjadi Wanita Tibet dan penganut Budha yang taat.

Lalu apakah Wen dan Zhuoma berhasil bertemu cinta sejati mereka yang terpisah? Nah, bagian ini yang harus dicari tahu dengan baca langsung bukunya yach...hehee...

Bagian paling memesona dari buku ini adalah tentang budaya Tibet. Setelah membaca buku ini, saya jadi memahami budaya Tibet yang kata orang dikenal keras, dan barbar , ternyata sarat makna, dan mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga keharmonisan dengan alam dan sang pencipta. Kita bisa belajar banyak dari masyarakat Tibet tentang kesederhanaan dari cara hidup mereka yang semuanya dari alam, tentang kesabaran yang ditempa dengan pergantian musim, tentang keuletan mereka bekerja keras memerah susu dan membuat gerst untuk makan sehari-hari, dan juga tentang keramahan dari bagaimana mereka memperlakukan tamu yang datang layaknya raja. Sungguh buku ini membuka mata saya tentang banyak hal indah di dunia ini yg bisa kita lihat dari mempelajari budaya asing.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...