Minggu, 14 Februari 2016

The School for Good and Evil by Soman Chainani [review]

Title: The School for Good and Evil (#1)
Author: Soman Chainani
Language: English
488 pages, 2013
Genre: Fantasy
My rating: 3/5


"Beauty can only fight truth so long, Agatha." - Professor Clarissa Dovey
Dua ratus tahun yang lalu, dua orang anak menghilang dari Gavaldon yang dikelilingi hutan belantara. Penduduk mengira mereka tersesat di hutan atau dimakan beruang....hingga empat tahun kemudian dua orang anak lagi menghilang. Demikian seterusnya yang terjadi setiap empat tahun sekali: dua orang anak menghilang secara misterius dari desa tersebut.

Misteri hilangnya dua anak tersebut lambat laun terungkap sejak wajah anak-anak hilang tersebut muncul di lukisan fairytale-fairytale legendaris: Jack and the beanstalk, Hansel and Gretel, Cinderella....you name it. Dua anak yang menghilang setiap empat tahun sekali tersebut diculik oleh Master Sekolah untuk dididik agar menghasilkan fairy tale: satu anak yang tampan atau cantik dan baik hati, dan yang satu anak bertampang muram, jelek dan nakal. Mereka masing masing dibawa ke School for Good dan School for Evil.

Sophie memiliki tubuh bak seorang putri raja; kulit mulus tanpa noda, rambut panjang berkilau berwarna keemasan, serta mata hijau yang indah. Sekali menebar senyum, semua anak laki-laki pastilah bertekuk lutut. Dia sangat ingin Master Sekolah menculiknya dan membawanya ke School for Good demi mengejar impiannya menjadi seorang putri, demi 'happily ever after'. Dia bahkan sengaja melakukan 'good deeds' demi mencapai tujuannya, termasuk berteman dengan gadis aneh penyendiri bernama Agatha yang tinggal di kuburan.

Segalanya menjadi membingungkan ketika Sophie, yang pada akhirnya memang diculik oleh sang Master Sekolah, ditempatkan di School for Evil, sedangkan Agatha ditempatkan di School for Good. Pasti ada kesalahan! Seluruh penghuni sekolah termasuk para gurupun berpendapat Sophie terlalu princessy untuk School for Evil, dan Ahgatha terlalu witchy untuk School for Good.

"Who needs princes in our fairy tales?"
Kekacauan bertubi-tubi terjadi di sekitar Sophie dan Agatha, terutama ketika pangeran Tedros dari Camelot, putra sang Raja Atrhur terlibat dan berhasil memikat hati si cantik Sophie. Sophie berambisi membuat Tedros jatuh cinta padanya, dengan bantuan Agatha yang sangat ingin kabur dari sekolah dan pulang ke desanya. Masalahnya, belum pernah sekalipun seorang pangeran menjalin hubungan dengan seorang witch.

Kekacauan yang lebih besar terjadi dan membuat bingung para guru: Good selalu menang melawan Evil selama dua ratus tahun terakhir, padahal keseimbangan antara Good dan Evil harus dijaga. Apa sebenarnya yang terjadi? Terutama ketika bahkan tak seorangpun pernah bertemu dengan sang Master Sekolah. Di sinilah Agatha dan Sophie merangkai fairy tale mereka sendiri.

Membaca buku ini memang sangat menghibur dan ringan. Namun entah kenapa saya tidak terlalu suka dengan gaya penulisannya. Dua karakter utamanya entah kenapa gampang banget berganti suasana hati dan berganti perasaan, bahkan, well, bukan cuma dua karakter utamanya saja lho, tapi semua karakter di novel ini terkesan plin-plan dan tidak punya pendirian. Yeah, kalau satu atau dua karakter seperti ini, mungkin memang disengaja oleh si penulis, tap kalau semua??? Well, something is wrong here. Memang sih ini buku fantasy dimana hal-hal ajaib bertaburan, tapi plis deh, bukan berarti ...cring...tiba2 si A bisa begini, ....criiing... tiba2 si B bisa begitu. Hubungan sebab-akibat itu harus selalu ada bahkan di novel fantasy loh...tapi entah kenapa saya merasa banyak sekali blank saat membaca novel ini, banyak hal yang seolah2 memang tidak dijelaskan karena ya sudah, memang tidak dijelaskan. Bikin kesel juga sih, dan hampir saya kasih cuma dua bintang aja. Hampir.

Mau tau nilai plus nya???

Pesan moral yang disematkan si penulis di buku ini.

Yups, si penulis mengedepankan tema fairy tale dan membeberkan secara mendalam (namun tersirat) segalanya yang salah pada kisah fairy tale. Mulai dari penggambaran para putri yang selalu cantik tanpa cela, berpakaian renda-renda dan bergaun warna pink atau biru atau silver, eurgh...karena, let's face it: terlahir sebagai seorang putri atau bangsawan tidak otomatis membuatmu menjadi cantik! Dan satu lagi kritik si penulis tentang fairy tale: tokoh para putri yang sepertinya selalu "mendambakan kecantikan dan kesempurnaan". Cinderella rings a bell?

Yang kedua, tokoh para putri (atau gadis pada umumnya) yang HARUS selalu menunggu sang ksatria atau sang pangeran berpedang dan berbaju zirah untuk datang menolong. The legendary damsel in distress. Bahkan secara tersirat si penulis mengkritik tentang wanita yang "dilarang mempertanyakan otoritas pria" juga tentang para putri yang "pingsan pada saat yang tepat (seperti saat melihat darah)". Aurora dan Snow White contohnya.

Dan puncaknya, setelah puass mengolok-olok stereotype di dalam kisah-kisah dongen klasik, si penulis seolah menyatakan bahwa sekarang dunia sudah berubah. Penyihir jahat bisa saja bertampang seksi dan cantik menawan, dan seorang putri bisa saja berparas buruk rupa...dan satu lagi: para putri masa kini tidak menunggu untuk diselamatkan oleh sang pangeran. Mereka menulis takdir mereka sendiri, fairy tale mereka sendiri, dengan tangan mereka sendiri....tanpa pangeran.

Oh iya, buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia lho. Happy Valentine and Happy International Book Giving Day 2016, everyone! See you in the next post ;)

Rabu, 10 Februari 2016

Heir of Fire by Sarah J. Mass [review]

Title: Heir of Fire (Throne of Glass #3)
Author: Sarah J. Mass
562 pages
Language: English
Genre: Fantasy
My rating: 5/5

"See what you want, Aelin, and seize it. Don't ask for it; don't wish for it. Take it." -- Prince Rowan the Fae (Chapter 28)
Akhir buku ke dua membeberkan identitas Celaena yang sebenarnya. Long story short, dengan petunjuk yang diberikan Celaena sebelum keberangkatannya ke Wendlyn (beneran ini nggak ya nama negeri seberang itu, agak2 lupa nama2 tempatnya ngahahaaaa) kepada Chaol Westfall sang Captain of the Guard, si Kapten akhirnya mengetahui jatidiri Celaena yang sebenarnya. Untunglah hal ini justru menyelamatkan nyawanya saat berkonfrontasi dengan Aedion yang baru kembali dari Terrasen atas perintah sang raja.

Celaena Sardothien, sang assassin pribadi dan King's Champion, justru mengalami perjumpaan tak terduga namun terduga (halah) dengan sang ratu Fae yang melegenda (iya jelas melegenda, umurnya entah sudah berapa ribu tahun dia, wkwkwk), Maeve. Celaena berusaha mencari jawaban akan pertanyaannya agar bisa mengalahkan sang raja tiran di Adarlan, namun Maeve menuntut agar Celaena bisa membuktikan diri sebelum masuk ke kota Fae dan mendapat jawaban dari pertanyaan misteriusnya. Caranya: Maeve memerintahkan abdinya yang bernama Prince Rowan (warrior yang sudah mengikat sumpah darah untuk setia pada Maeve) untuk menjadi tutor pribadi Celaena. Dan tentu saja, tak ada kisah fantasy tanpa "latihan keras" sang tokoh utama demi meraih cita-cita, wakakaa....klise juga sih, tapi entah kenapa bagian yang rasanya harus wajib ada di semua novel fantasy ini justru bagian paling penting karena merupakan titik balik si tokoh utama dan perubahannya dari ZERO menuju HERO.

Sementara itu di Adarlan, buku ini diceritakan dengan memfokuskan ke 3 tokoh sentral: Dorian Havilliard sang Putra Mahkota Adarlan yang sedang berusaha melatih kemampuannya sekaligus merahasiakannya dari ayahnya sang raja tiran dengan bantuan seorang Healer muda; Chaol Westfall yang sedang (lagi-lagi) menggalau karena dia tak tahu entah harus setia pada negaranya atau pangerannya atau mantan pacarnya (wakakakkkk, aneh memang bagian ini), dan Aedion  Ashryver, sang Pangeran dari Terrasen yang membelot dan akhirnya menjadi jendral Raja Adarlan.

Saya tidak berani cerita panjang lebar tentang novel ini karena takut menebar spoiler, and you know kalau spoiler itu nyebelin kan? So, saya mau komentar sdikit tentang buku ini saja, okey...

Membaca buku ini itu cukup bikin kaget, karena ceritanya fokusnya jauh dari buku keduanya. Bukannya nggak nyambung atau bagaimana, justru bagus lho. Kepergian Celaena ke seberang lautan menjadi penentu arah cerita ini, karena sepertinya selain Celaena, tokoh-tokoh sentral yang lain pun seperti menemukan jalan ceritanya masing-masing tanpa harus terfokus pada si Celaena. She's not the center of the universe, come on. Walau memang sih...ujung2nya cerita mereka mbulet mbalik terfokus ke Celaena lagi, ngahahahaaa...yah, tokoh utama, gituuu...

Satu hal lagi yang unik dari seri ini adalah, si penulis tidak serta merta menerapkan old-fashioned romance di novel fantasy, seperti misalnya: tokoh cewek dan cowok yang ketemu di awal cerita pastiiiii jadian. NOOO...! Plot seperti itu basi banget sumpah! Uniknya, si tokoh utama bahkan mejalin hubungan dengan tiga individu berbeda di tiga seri yang berbeda, how cool is that, huh? I mean, that's real life. You don't live your life like in a book, focus on one person for the entire plot, meh... Satu hal yang saya agak terkejut tapi senang adalah relationship antara Rowan dan Celaena di buku ke 3 ini, benar2 wow...tapi catet, hubungan mereka lebih seperti best of bestfriends, atau siblings. Nothing romantic, but yeah....you'll get what I mean by reading it yourself.

oke, maap...kenapa saya jadi switch-switch bahasa begini!? *pasang tampang histeris* Satu lagi, saya sudah bilang kan saya nggak begitu suka sama salah satu karakter cowok penting di buku ini (liha review saya sebelumnya) yang tidak akan saya sebutkan namanya *uhuk* Chaol *uhuk*. Ya ampun heran banget kenapa love interest nya tokoh utama nggak memiliki karakter yang lebih jagoan dikit sih, plin-plan abiiisssss..... dannnn kita akan terus menyaksikan keplin-planannya sampai akhir buku ke 3 ini. Bagus, Chaol *sinis*

Overall, saya memberi rating 5/5 karena plot yang tidak biasa untuk sebuah sequel, menurut saya. sangat...apa ya istilahnya...BOLD. Nggak melulu si ini harus begini atau begitu, dan unsur kejutannya juga lebih tidak mudah ditebak. Saya bahkan masih merasa hungover habis baca buku ini dan belum berani lanjut ke buku ke 4 sebelum revisian saya selesai *oh, no....* Jadi inget saya ada deadline, udah dulu yach, bye.... see you in my next post :)

Sabtu, 06 Februari 2016

Crown of Midnight by Sarah J. Mass [review]

Title: Crown of Midnight (Throne of Glass #2)
Author: Sarah J. Mass
418 pages
First published: 2013
Genre: Fantasy
Language: English
My rating: 4/5

"Everything in this world is magic." -- Mort
Ini buku kedua dari serial yang lagi nge-hype "Throne of Glass ". Review buku pertamanya bisa dilihat di postingan review saya sebelumnya. Dan karena ini review buku kedua, jika kalian belum baca buku pertamanya, JANGAN baca postingan ini karena takut mengandung spoiler. Ya, tapi kalau tetap mau baca sih nggak papa, but don't blame me, oke? heheee....

Oke, here goes....

Celaena Sardhotien sudah resmi dinobatkan sebagai King's Champion. Meaning? Sang Raja memiliki kuasa untuk memberikan secarik kertas bertuliskan sebuah nama: nama musuh sang Raja yang harus dibunuh sesegera mungkin oleh Celaena. Dalam hal ini, Celaena tak lain dan tak bukan merupakan assassin pribadi Raja Adarlan yang kejam.

Dorian, Chaol dan Putri Nehemia semua tak meragukan kesetiaan Celaena pada sang Raja, meski mereka tidak menyetujui pekerjaan Celaena. Celaena selalu berhati-hati dengan misinya sampai sang Raja memberinya secarik kertas dengan sebuah nama yang harus dibunuhnya: Archer Finn. Raja berpendapat Archer Finn merupakan salah satu orang dalam para pemberontak. Masalahnya? Celaena sangat mengenal Archer ketika mereka berlatih bersama di Assassin's Keep. Celaena tidak tahu pihak mana yang harus dia pilih hingga tragedi mengerikan merenggut salah satu orang terdekatnya, dan membuatnya terpaksa memburu si pembunuh sahabatnya ini.

Karena takut spoiler, saya tidak akan membeberkan lebih lanjut apa yang akan terjadi di sini, termasuk salah satu tokoh penting yang bakal mati, ngahahaaa...

Oh, iya, jika kalian membaca buku pertama, ada sedikit romantisme antara Celaena dan, ehem, tau sendiri kan? Apakah akan berlanjut di buku kedua? Sayangnya tidak! Celaena justru lebih memilih berhubungan dengan si uhuk, yang menurut saya karakternya agak plin-plan! hih, kenapa pula si Celaena ini mau sama si plin plan....oke, saya ngelantur, maapkeun, hahahaha...

Oh iya, di buku kedua ini, ada dua kejutan yang akan dibeberkan di akhir cerita. Sayangnya saya sudah bisa menebak salah satu kejutannya sejak chapter 11, ouch...jadi kurang greng gitu kejutannya. Tapi saya cukup senang lho dengan kejutan satunya yang tidak bisa saya duga, hehehee.... sayang sekali saya tidak bisa cerita panjang lebar karena takut menebar spoiler ;)

Eniwei, saya sebenarnya memberi 4,5 bintang untuk buku ini, yang saya akui jauh lebih bagus dari buku pertama. Namun saya tidak bisa memberi 5 bintang sempurna karena ya itu tadi...ada bagian yang sudah bisa saya tebak dengan mudah. Berdoalah semoga kalian bukan pembaca yang suka menebak-nebak seperti saya, jadi bisa full menikmati surprise demi surprise yang ditumpahkan di akhir cerita.

Disamping kekurangan tadi, nilai plus buku ini bisa dilihat dari penokohannya yang bagus, penggambaran karakter-karakternya hampir semuanya bulat, plotnya juga kuat, dan pacenya passss sekali, cepat namun tidak terlalu cepat. Oh iya, dengar-dengar saat ini series ini sedang dalam proses diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia lho.... ;)

Kamis, 28 Januari 2016

Throne of Glass by Sarah J. Mass [review]

Title: Throne of Glass (first of the series)
Author: Sarah J. Mass
Language: English
404 pages
First published: 2012
Genre: Fantasy
My rating: 4/5

Celaena Sardothien telah ditawan di tambang garam Endovier selama setahun berkat aktivitasnya yang malang melintang sebagai seorang Assassin paling ditakuti di Adarlan. Dia dibawa paksa oleh kapten pengawal Chaol Westfall dan diseret ke hadapan sang Putra Mahkota, Dorian Havilliard. Celaena mengira inilah akhir hidupnya, dipenggal di hadapan calon raja Adarlan. Namun diluar dugaannya, Celaena justru ditawari posisi sebagai champion pilihan Dorian, untuk mengikuti kompetisi memperebutkan gelar King's Champion. Jika dia berhasil memenangkan kompetisi, maka Celaena akan dianugerahi gelar King's Champion dan menjadi assassin yang melapor langsung kepada sang raja selama empat tahun sebelum akhirnya dia dibebaskan. Antara kebebasan yang tertunda atau kematian di Endovier, tentu Celaena lebih memilih yang pertama.

Celaena pun pergi ke istana, dilatih secara pribadi oleh sang kapten yang dingin, disponsori langsung oleh sang putra mahkota, dan berusaha mengalahkan saingan-saingannya dibawah nama samaran Lillian Gordaina, seorang pencuri berlian dari Bellhaven. Masalah mulai muncul ketika satu persatu calon King's Champion terbunuh dengan cara mengenaskan, dengan kondisi otak dan organ dalam tubuh hilang dari jasad mereka. Celaena menduga pastilah tanda aneh bernama Wyrd itu penyebabnya. Tentu saja dia harus menyelidiki masalah ini seperti tokoh utama sebuah novel yang baik, hehehee...

Sebagai buku pertama dari sebuah saga, buku ini menghadirkan pembukaan yang sangat seru dan menarik meskipun tema yang diangkat (cewek tangguh penyelamat dunia) sudah sangat klise untuk genre ini. Latar belakang Celaena sebagai Assassin juga sangat menarik dan menimbulkan banyak sekali pertanyaan. Misteri-misteri yang sedikit demi sedikit dibeberkan pun bukannya menjawab pertanyaan, namun justru berhasil membuat pembaca makin bertanya-tanya. Seolah-olah dalam novel ini berhamburan tanda tanya-tanda tanya besar untuk menggoda para pembacanya. Oh iya, bagi yang suka adegan berantem dan bunuh-bunuhan seperti saya, pasti akan suka dengan novel ini, karena, well....kompetisi untuk menjadi assassin pribadi raja, what do you expect? Adegan action seolah bertaburan di buku ini. Meski begitu, chemistry ketiga karakter utamanya sudah terlihat jelas bahkan sejak buku pertama lho... ini bukti bahwa karakter-karakternya sudah sangat kuat sejak awal, bulat sempurna. Thumbs up :)

What Is Hidden by Lauren Skidmore [review]

Title: What Is Hidden
Author: Lauren Skidmore
Language: English
265 pages
Genre: Fairytale retelling, Romance
My Rating: 4/5

Di sebuah negeri nun jauh di sana (iya, saya juga nggak tahu letaknya di mana kok) ada sebuah kerajaan bernama Venesia (ini bukan Venesia yang kota Venice itu lho ya...beda euy). Di negeri itu, semua penduduknya memakai topeng. Jika kau dari keluarga nelayan, kau memakai topeng dengan dominasi warna biru, jika kau dari keluarga seniman, warna hijaulah yang mendominasi. Lain lagi jika kau memiliki darah bangsawan, kau diperbolehkan memakai topeng berwarna ungu. Dan topeng berwarna putih hanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan saja. Ditambah lagi, semakin tinggi status sosialmu, semakin tertutup topengmu....jadi, er, bisa dibayangkan kan bentuk topeng yang dipakai keluarga kerajaan? Putih cemerlang dengan hiasan kristal, berlian dan mutiara juga bulu angsa, dan menutup seluruh wajah, juga masih ditambah dengan seberkas kerudung yang menutupi mata. O-okeee.....er....

Evie merupakan gadis delapan belas tahun dari keluarga seniman pembuat topeng. Dia sering berbelanja pita dan dan renda untuk topeng-topeng bikinannya ditemani sahabat karibnya, seorang bangsawan yang down to earth namun misterius, Aiden. Evie baru saja menerima dua topeng dari istana yang rusak dan hendak diperbaikinya ketika ayahnya terbunuh pada suatu malam, topeng-toping karyanya dirampok, dan rumahnya dibakar oreh seorang pria tak dikenal, kriminal yang bisa menyamar menjadi siapa saja yang terkenal dengan sebutan Chameleon (bunglon).

Jadi bisa dibayangkan kan, di tempat dimana semua orang bertopeng, akan sangat mudah bergonta-ganti identitas. Buka dulu tooopeeengmuuu.... *nyanyi*...dan whusss....ajaib, sekarang kau sudah punya nama baru, dan pekerjaan baru. Nobody really knows what you look like. Btw, ini negeri aneh cocok kayaknya buat tempat tinggal orang-orang dengan krisis identitas parah ;p

Eniwei, lanjut ke ceritanya tadi. Terbunuhnya sang ayah dan hilangnya semua topeng membuat Evie menjadi seseorang yang tak memiliki identitas. Dia dengan putus asa melakukan apapun untuk bertahan hidup dan mencari sang Chameleon. Untunglah topeng istana yang akan direparasinya masih dipegangnya. Dan tentu saja, Evie masuk ke istana dengan topeng baru dan identitas baru sebagai seorang pelayan dapur istana, sambil terus mencari tahu keberadaan sang pembunuh ayahnya.

Novel ini sebenarnya cerita retelling Cinderella yang penuh dengan twist di sana sini. Jujur saja, bagian paling mirip Cinderella dari novel ini sebenarnya cuma adegan pesta dansa yang berakhir jam 12 malam itu. Adegan akhir novel ini sebenarnya sudah bisa ditebak dengan mudah (ya iyalah...cerita Cinderella gitu...pasti adegan gongnya pesta dansa jam 12 malam itu, wkwkwk), namun entah kenapa saya enjoy banget baca buku ini. Tahu kan, ada masa-masa saat kau sedang tidak ingin baca buku dengan plot yang berat, adegan yang bikin mikir atau sakit hati...ya, pokoknya pengen bacaan yang ringan banget, serasa makan snack. Hehe, ya, inilah buku itu. Retelling Cinderella ringan yang enak dibaca dan menurut saya sangat menghibur, ditambah chemistry dua karakter utamanya yang menurut saya dapet banget feel nya.

Rabu, 27 Januari 2016

Red Queen by Victoria Aveyard [review]

383 pages (English edition)
Genre: Fantasy
Published: 2015
My rating: 4/5

"Anyone can betray anyone."
Sejak entah kapan, dunia ini sudah terbagi menjadi kelompok-kelompok tertentu. Semua orang dilahirkan dengan memiliki label tergantung dari warna kulit atau status sosial atau kepercayaan. Novel ini menghadirkan pertentangan akan sebuah perbedaan ke tingkat yang lebih ekstrim: warna darah yang mengalir dalam tubuh manusia.

RED

SILVER

Merah dan perak adalah warna darah manusia yang menjadi pemicu sebuah kesenjangan sosial yang sangat ekstrim. Jika kau memiliki darah berwarna merah, maka kau adalah kaum terendah di negeri ini; miskin, petani rendah, kuli rendah atau tentara yang tidak mungkin berpangkat tinggi dan selalu dikirim ke garis depan medan pertempuran. Namun jika kau terberkati dengan warna perak di dalam nadimu, kau otomatis menjadi warga kelas atas, mungkin royalty, mungkin bangsawan, mungkin juga pengusaha kaya....dan memiliki satu kekuatan super, entah itu telekinetis, mengendalikan api, kemampuan membaca pikiran, atau apapun. Kaum berdarah merah tidak punya kesempatan menentangmu, karena secara fisik kau lebih kuat.

Mare Barrow, seorang gadis tujuh belas tahun dari keluarga Red yang miskin, dengan tiga kakak laki-laki yang dipaksa maju ke medan perang, hampir putus asa ketika dia bertemu Cal yang baik hati dan memberinya pekerjaan di istana sebagai pelayan. Mare sedang bekerja ketika kontes pemilihan calon ratu sedang berlangsung, namun jangan membayangkan beauty peagant macam pemilihan Miss Universe ya....karena para gadis Silver dari keluarga-keluarga terpandang satu persatu maju dan memamerkan kekuatan super mereka: yang terkuatlah yang akan menjadi Putri Mahkota dan bertunangan dengan sang Putra Mahkota.

Kecelakaan yang terjadi di arena membuat Mare menunjukkan kekuatannya di hadapan ratusan Silver dan keluarga kerajaan. Namun bagaimana bisa? Bukankah Mare adalah seorang Red? Inilah yang membuat keluarga kerajaan memutuskan untuk menyembunyikan identitas Mare yang sebenarnya, dan menyamarkannya menjadi seorang Silver dan menyusupkannya ke Istana sebagai Putri dan bertunangan dengan Maven Sang Pangeran, adik dari Putra Mahkota.

Sementara itu kelompok pemberontak berdarah merah sedang membuat istana berkeringat, dan Mare tidak tahu siapa yang sebenarnya bisa dia percaya kerena....seperti yang terus diulang-ulang sepanjang buku "anyone can betray anyone".

Plot yang menyajikan sebuah perbedaan, penindasan, lalu terjadi pemberontakan sebenarnya adalah plot yang sering sekali dipakai di novel-novel dengan genre ini. Novel ini tidak terlalu spesial pada awalnya, namun begitu mencapai puncaknya, klimaksnya...wow! Plot twist nya sungguh WOW! Saya sampai terkaget-kaget dan syok bahkan sampai buku ini sudah selesai saya baca. Inilah kenapa buku ini layak mendapat penghargaan Goodreads Choice Award 2015. Dan kabarnya, buku ini akan segera diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia lho....jadi tunggu saja ya....

Dan oh iya, saran saya kalau membaca buku ini, jika agak-agak bosan di bagian awal atau tengah, tetaplah bertahan dan sabar, hahaha...karena the best is the last. Dan jangan. sekali lagi JANGAN sekali-kali mengintip bagian belakangnya, atau membaca spoiler atau apapun deh. JANGAN! Karena that'll definitely ruin the fun.

Jumat, 08 Januari 2016

Winter by Marissa Meyer [review]

Title: Winter (The Lunar Chronicles #4)
Author: Marissa Meyer
824 pages
First published: 2015
Genre: sci-fi, dystopia, romance
My rating: 4/5


"I would be honored to die in service of my country." -- Emperor Kaito
After the big 'kidnapping' mission in the end of book three, the final of the saga started with the nice and peaceful life aboard the rampion. Kai and Cinder developed a lovey dovey relationship, despite the war between Earth and Luna. The happy atmosphere was increased by Carswell Thorne's miraculeous comeback of his eyesight. Sadly, it was also the time for Kai to return to Earth to take back his place as the Emperor and take care of his people in the middle of a devastating war.

Thorne piloted Kai back to the Eastern Commonwealth, and (this is one of my favorite part, because you can practically feel the bromance oozing from the pages) had a man-to-man and heart-to-heart conversation. I love this scene so much because I've been dying to se some bromance or friendship between the male characters, and finally! Finally it happened in the last book. Thank you, Ms. Meyer. Yes, I know I'm weird that way. Okay, moving on...

Their plan to stop the war was simple: Kai would try to convince Levana to have the royal wedding on Luna, and he would smuggle Cinder and the crew to Luna. From there, Cinder would try to gain trust from the citizen of Luna and take back the crown with the support of the people of Luna. Simple, ringht? Yeah, right.... (yes, I'm being synical). The plan had many loopholes of course, and everything did not work out as smooth as they planned...but you have to read it yourself to get the feel of the story.

Meanwhile, on Luna, Levana's step daughter (Winter) was rumored to have a natural beauty without glamour: lips as red as rose petals, hair as dark as the night sky and as silk as the silk....remember those? Yes, the famous fairy tale of Snow White. But the most interesting is, winter did not have the skin the colour of snow!!! An epic and beautiful twist, if I may say, bravo, Ms. Meyer. For the first time in history, Snow White was not pictured as white. Anyway, Winter vowed to stop using glamour several years back because she thought it was not right to use it. The problem was, when you stop using something you were born with, you would not be as healthy as you should be. In short, Winter had crazy halucination and sometimes she could not differenciate between reality and halucination. She should take a page out of Peeta Mellark from Hunger Games, I say. Real or not real? Ups...hehe... Well, basically, Winter tried to help Cinder and defy her stepmother despite her lack of grap in reality.

To be honest, after reading such a wonderful third book (Cress), this finale seemed a little 'go around the bush'. The pace of the story is not as fast as I like it to be. The best thing about reading a sequel is the characters; they are usually very well-developed. But I have to say, I do not like Wolf, Winter, and Jacin's character very much. They tend to focus more on themselves and their love life than the bigger picture of the war. I know it is human nature, self-preservation, but still...I don't have to like them, right?

Another thing that disturbed me was the similarity between this book and the classic fairy tale of Snow White was a little forced and a little too much. I know it is a fairy tale retelling, but there is a term of 'too much retelling'. It happened in this book and in the second book.

Despite all that, I really like the hidden meaning behind the saga. All the characters are from different places, different backgrounds, different skin colors, and different races...but they interact with each other without batting an eyelid, like those silly things do not matter, like we all are the same in the future....well, of course you have to forgive the glamour issues of Luna and the cyborg thingy that lead the story to all these drama of manipulation and discrimination, hahahaaa....

Over all, these series are some of the best sci-fi books I read in 2015. Enjoy... ^_^
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...