Sabtu, 16 April 2016

Demonglass by Rachel Hawkins [review]

Title: Demonglass (Hex Hall #2)
Author: Rachel Hawkins
359 pages (read in e-book version)
First published: 2011
Genre: Fantasy
My rating 4/5

Warning: Jika belum membaca buku pertamanya (Hex Hall), mohon jangan membaca review saya ini, karena mungkin mengandung spoiler. Saya tidak bertanggung jawab jika anda keracunan spoiler.

Sophie Mercer , yang di akhir buku pertama menemukan fakta bahwa dia terlahir sebagai demon generasi keempat, memutuskan untuk melakukan Removal (ritual penghapusan kekuatan sihir yang sangat berbahaya dan mungkin bisa berakibat fatal). Keputusannya ini tentu saja ditentang oleh semua orang, termasuk ibu dan ayahnya, juga tunangannya Cal. Namun ayah Sohie, James Atherton sang Kepala Council, berhasil membujuk Sophie untuk melewatkan musim panas di London, Inggris untuk mempelajari lebih lanjut hal-hal mengenai 'demonisasi'nya sebelum dia memutuskan untuk melakukan Removal. Tentu sahabatnya Jenna si vampir dan Callahan atau Cal tunangannya harus ikut serta.

Bukannya melewatkan musim panas di rumah sang ayah, James Atherton justru membawanya ke markas besar Council yang ternyata merupakan rumah keluarga Thorne, tempat awal mula Alice (nenek buyut Sophie) dirubah menjadi demon melalui sebuah ritual oleh Virgiia Thorne di masa lalu. Pelan-pelan, sejarah keluarga Sophie terungkap di sini. Meskipun begitu, Sophie tetap saja bisa melakukan banyak kegiatan yang menyenangkan di banguanan ala kastil itu, mulai dari father-daughter-bonding time bersama sang ayah, clubbing bersama Nick dan Daisy yang juga sesama demon, hingga pertemuan rahasia dengan Archer Cross yang ditaksirnya.

Buku kedua seri ini terasa lebih "berat" dan lebih "emosional" dari buku pertamanya, meski harus diakui, sarkasme yang lebih banyak bertaburan di buku ini memang membuat suasana membaca jadi segar menyenangkan. Bagian separo awal buku ini rasanya penuh dengan informasi-informasi yang, meskipun tidak bikin terbengong kaget, namun berhasil membuat pertanyaan yang banyak muncul setelah membaca buku pertamanya terjawab dengan masuk akal. Bagi saya, yang memang suka sekali adegan action, bagian separo awal ini agak lambat, namun informatif. Nah, memasuki bagian separo akhir barulah ketegangan memuncak total. Bagian akhir ini pace dan ketegangannya sangat memuaskan, sampai membuat saya berpikir mungkin si penulis sengaja seperti ingin membuat 'bom' maksimal sebagai gong nya, apalagi dengan akhir yang sangaaaaaaattttt menggantung.

Terus terang saya puas maksimal membaca buku kedua ini karena, selain karakter-karakternya yang sepertinya sudah berkembang lebih baik dari buku pertama, ceritanya juga bisa lepas dari bayang-bayang "sekolah sihir Hogwarts". Soalnya memang, jika menengok kembali buku pertama itu, karena settingnya sangat "sekolah sihir", mau tidak mau saya jadi sedikit menganggapnya sebagai fanfiction Harry Potter ala Alternate Universe, hahahaaaa.... Tapi hebatnya, buku ini bisa merubah arah alur cerita agar tidak "Hogwartsy" banget, dan bahkan menyentuh ranah per-politikan dengan lebih menghadirkan peran kelompok-kelompok besar yang berperang di bdang sihir.

Oh iyaaaa, jujur saja, saya di buku ini jatuh cinta sama karakter Alexander Callahan (Cal) yang pendiam, namun hot dan sihir penyembuhannya keren banget.... Dan, jujur saja ya, si Archer Cross, love-interest-nya Sophie itu, saya bahkan nggak tau dia bagusnya apa selain digambarkan sebagai "typical hot guy at school that every girl loves", eurghhh....cetek.

Sekian dulu cuap-cuap saya tentang buku ini, enjoy! See you in the next post ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...