Sabtu, 30 Juli 2016

Fortunately, The Milk by Neil Gaiman [review]

Title: Fortunately, The Milk
Author: Neil Gaiman
113 pages, audiobook version in English
First published: 2013
Genre: Children
My rating: 3/5

Ketika aku dan adikku akan sarapan sereal pagi itu, ternyata susunya habis! Ibu sedang tidak di rumah. Tentu saja ayah yang akhirnya pergi untuk membeli susu untuk sarapan. Agak lama juga ayah pergi membeli susu, yang seharusnya tak selama itu. Namun begitu kembali dari membeli susu, ayah menceritakan kisah pembelian susunya yang aneh. Ayah berkata dia bertemu alien. Alien! juga dinosaurus, dan perompak! Apakah aku dan adikku percaya cerita ayah?

Saya mendengarkan versi audiobook kisah ini yang hebatnya, dibacakan sendiri oleh om Neil Gaiman!!! And, let me tell you, suaranya dia.... awww....seksi banget! Deep and animated voice, kind of soothing, sampai saya sempat sekali ketiduran waktu mendengarkan gara-gara suaranya si Om menenangkan banget. Pas banget dech buat dongeng sebelum tidur. Alhasil besoknya saya ulangi lagi ndengerin ceritanya dari awal karena lupa ceritanya sampai mana pas ketiduran itu, hehehee... Tapi saya jadi pengen baca buku aslinya untuk melihat berbagai macam ilustrasinya yang denger-denger sangat wow.

Eniwei, ceritanya memang bagus banget, dan karena memang untuk anak-anak, ya ceritanya anak-anak banget, hahaha... Tapi entah kenapa saya ya biasa aja. Suka sihh...tapi nggak sampai ter-wow begitu. Mungkin lain ceritanya kalau saya baca ini pas saya masih umur 9 tahun. Rasanya saya bakal jatuh cinta pada kisah macam ini jika saja buku ini sudah ada saat saya masih kecil :)
Tapi memang sih, jika kalian mencari bacaan untuk anak-anak, buku ini akan masuk dalam daftar top ten rekomendasi dariku, karena ceritanya memang luar biasa bagi anak-anak... mulai dari plot ceritanya, karakternya, diksinya...semuanya pas untuk anak-anak. Taburan adjectives dan advebs yang digunakanpun beragam dan kaya, mengenalkan anak pada kata-kata yang tidak terlalu dipakai dalam percakapan sehari-hari, namun akan sering ditemui pada kisah-kisah dongeng dan fantasy. Ahhh, two thumbs up dech ini. Anak saya besok akan saya bacain ini, hahahaa....

See you in the next post ^_^

Sabtu, 23 Juli 2016

The Martian by Andy Weir [review]

Title: The Martian
Author: Andy Weir
369 pages, audiobook version in English
First published: 2011
Adapted into film: 2015
Genre: Science-Fiction
My rating: 5/5

Mark Watney, seorang engineer dan ahli botani, sedang menjalankan misi bersama kelima anggota kru Ares 3 di Planet Mars ketika badai menghantam Mars dan kecelakaan membuatya terlempar dan terpisah dari anggota kru lainnya. Mengira Mark sudah meninggal dalam misi, kelima astronot yang lain segera hengkang dari Mars dengan mendadak dan segera menghentikan misi di Mars yang sebenarnya belum selesai karena keadaan semakin genting.

Pendarahan yang dialami Mark justru menyelamatkan nyawanya di planet yang hampir tak memiliki tekanan tersebut. Namun Mark yang terdampar di Mars seorang diri tidak menyerah. Dia melakukan usaha-usaha gila untuk bertahan hidup, paling tidak sampai dia bisa mengontak Bumi atau menunggu kedatangan kru Ares 4 yang akan dijadwalkan sampai ke Planet Mars 4 tahun lagi.

Saya sebenarnya masih dalam keadaan hangover parah karena baru 3 jam yang lalu saya selesai mendengarkan audiobooknya, dan baru sejam yang lalu saya selesai menonton film-nya. Dua-duanya cukup membuat saya terkesima, terlebih bukunya, jujur saja.

Sejak tahun 2015 sebenarnya ovel ini sudah bikin heboh karena banyak yang bilang bagus banget lah, lucu lah, dan sebagainya. Saya juga sempat membaca hanya 2 bab, namun entah kenapa saat itu saya memang sedang bosan dengan sci-fi, jadi saya memutuskan menutup buku ini agak lama sejenak. Sebenarnya baru dua hari yang lalu saya mendapatkan audiobooknya, dan W.O.W. saya benar-benar terpesona dari awal hingga akhir. Tidak sia-sia ternyata perjuangan saya untuk tidak menonton filmnya dahulu sebeum membaca bukunya, hahahaaa...

Saya nggak tahu lagi mesti bilang apa kecuali THIS BOOK IS SO DAMN GOOD..!!!
Ehem, please pardon my language.

Karakter Mark Watney yang sangat kocak, inovatif, namun juga pantang menyerah berhasil memukau saya sejak kalimat pertama. Detail-detail tentang dunia per-astronot-an juga berhasil banget membuat saya ter-wow berkali-kali. Saya bahkan sampai berpikir ini jangan-jangan si penulis mantan astronot atau seorang ilmuwan dari NASA juga ya? Hmmm.... saking detail-nya, aduuuh....hebat banget pokoknyaaa.... ini buku sci-fi yang science-nya bertaburan bak bintang di langit *peluk baju astronot* namun di beberapa bagian bisa membuat saya tertawa sampai sakit perut. Aku cinta padamu, Mark Watney....... #Fangirling-mode-on

Adegan yang paling membuat saya gemetar tegang dan excited adalah adegan klimaksnya, puncaknya ketika....*sensor*...... you know what, read it yourself, then you'll know. Dan karena saya memang mendengarkan versi audiobooknya, bagian klimaks cerita ini sukses membuat saya eargasm, hahahaaa.... aduh, pokoknya itu bagus banget gilak! Saya sampai nangis terharu saat endingnya, SOOOOO GOOD...:)

Oh iya, pada tahun 2015 film adaptasi dari novel ini yang disutradarai oleh Ridley Scott dan diperankan oleh Matt Damon dan Jessica Chastain berhasil menyabet 7 nominasi Oscar. Meskipun harus diakui, karakter Mark terkesan agak terlalu serius saat dimainkan oleh Matt Damon, namun overall, filmnya sendiri keren banget, terutama adegan "Iron Man"-nya. You know when you see it yourself *wink*. Berikut penampakan poster film-nya:
See you in the next post ^_^

Sabtu, 16 Juli 2016

Glass Sword by Victoria Aveyard [review]

Title: Glass Sword (Red Queen #2)
Author: Victoria Aveyard
First published: 2016
444 pages, audiobook version
Language: English
Genre: Fantasy
My rating: 2/5

"Anyone can betray anyone."

RED

SILVER

NEW-BLOOD

Di Norta, manusia hidup berdasarkan kategori warna darah mereka. RED sebagai manusia biasa yang lemah, maka mereka selalu menjadi bawahan, prajurit, pelayan, orang-orang suruhan. SILVER sebagai manusia dengan kekuatan supernatural yang berbeda bagi tiap individunya, maka mereka selalu menjadi atasan, pemimpin, bangsawan, raja dan ratu.

Lalu ada NEW-BLOOD, manusia yang terlahir dengan darah berwarna merah, namun dengan mutasi genetis yang membuat mereka memiliki kemampuan supernatural layaknya para silver...bahkan... disinyalir mereka bisa lebih kuat dari para silver. Kekuatan mereka jauh lebih beragam dan lebih diluar dugaan...dan tanpa batasan.

Mare Barrow yang didapuk sebagai THE LIGHTNING GIRL, bersama Cal sang pangeran Silver yang terbuang, kakak Mare yang paling akrab Shade yang juga seorang New-Blood, Kilorn sahabat Mare, serta Farley dari Scarlet Guard akhirnya melanjutkan pemberontakan mereka terhadap Maven, Raja baru Norta yang jahat. Mereka sama-sama memiliki daftar nama para New-Blood, dan berlomba-lomba mencari mereka. Mare dan kawan-kawannya untuk menyelamatkan, merekrut dan melatih mereka; Maven untuk menangkap dan membunuh mereka.

Jujur saja sequel ini sungguh klise dan mengecewakan bagi saya, ditambah lagi tidak ada plot twist mengejutkan di akhir cerita layaknya di buku satu kemarin, membuat saya makin "meh" terhadap buku ini. Saya mendengarkan versi audiobooknya dan berkali-kali saya bahkan tertidur saking bosannya, heheee... Saya sampai sengaja mendengarkan ini sambil 'mewarnai' buku coloring book Fantasia saya untuk mencegah saya ketiduran saat mendengarkan, hwahahaaa...

Menurut saya isi novel ini sangat membosan, dari awal sampai akhir hampir seluruh adegannya diisi dengan perjalanan grup pemberontak ini dari satu tempat ke tempat lain, untuk melakukan ini itu yang sebagian besar berupa perekrutan anggota baru New-Blood. Jika tidak begitu, diisi dengan Narasi dari Mare Barrow si tokoh utama yang sedang mempertanyakan "apakah aku bisa mempercayai si ini?" atau "apakah dia akan mengkhianatiku?" Astagaaa.... paranoid boleh lah, tapi kalimat "anyone can betray anyone" yang sepertinya dipegang teguh sebagai pedoman hidup Mare rasanya makin membosankan jika hampir di setiap bab tokoh Mare selalu mengatakan itu dengan frasa yang berbeda-beda namun tetap mengandung makna yang serupa. Saya sebagai pembaca/pendengar jadi bosan bukan kepalang. Iya iyaaa, saya tahu kamu paranoid, Mare Barrow, tapi kan nggak perlu itu dibeberkan di setiap bab. We get the idea, even from the book one, okay?

Hal membosankan ini menurut saya diperparah dengan penokohan-penokohan yang terkesan nanggung, terutama untuk karakter tokoh utama, saya bahkan tidak bisa mendeskripsikan apakah Mare itu baik hati? tidak juga. Egois? tidak juga. Plin-plan tidak juga, tapi tidak punya pendirian mungkin iya. Dan jujur saja, "tidak punya pendirian" sepertinya bukan kata sifat yang keren untuk menggambarkan tokoh utama karena itu akan membuat keseluruhan ceritanya menjadi boring. Karakte yang tergambarkan dengan bagus justru karakter Cal, Maven dan Mr. Barrow, ayahnya Mare. Selebihnya terasa sebagai figuran.

Mungkin karena saya pecinta sarkasme dan humor alam dialog juga berpengaruh terhadap penilaian saya tentang novel ini, karena sepanjang 444 halaman, total novel ini terasa sangat monoton, flat, begituuuuu terus ceritanya: berkelana, merekrut, bentrok dengan Silver, Mare mempertanyakan ini itu di narasinya, lalu begitu lagi dari awal, seperti siklus tanpa henti.

Yah, karena sudah terlanjur kecewa, mungkin saya tidak akan membaca lanjutannya. Eh, bakal ada lanjutannya kan? Atau tidak? Ah, masa bodo, hahahaa...

Eniwei, saya juga nggak ngerti kenapa judulnya Glass Sword. Sepanjang cerita nggak mengungkit-ngungkit keberadaan pedang apapun tuh, atau "glass" apapun tuh. Jadi apa sebenarnya maksud "glass sword" di sini ya? Apa mungkin ungkapan yang menggambarkan sesuatu? Istilah yang merujuk ke sesuatu yang lain mungkin? Ah, sudahlah, mungkin hanya si penulis dan Tuhan yang tahu.... meski harus saya akui, cover bukunya memang cakep banget :)

Oh iya, ngomong-ngomong buku pertamanya sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia lho.... kilat ya... Apakah ini akan diterjemahkan juga?

See you in the next post ^_^

Sabtu, 09 Juli 2016

Alice's Adventures in Wonderland by Lewis Caroll [review]

Title: Alice's Adventures in Wonderland (#1)
Author: Lewis Caroll
89 pages, e-book version
Language: English
First published: 1865
Genre: Classic, Children
My rating 1/5

"But I don't want to go among mad people." | "Oh, you can't help that. We're all mad here." -- a dialog between Alice and the Cat--
Alice adalah gadis kecil yang serba ingin tahu. Saat sedang bersama kakaknya membaca buku, dia melihat seekor kelinci putih yang memakai jas dan membawa jam saku dengan panik mengira dirinya terlambat. Alice kecil pun mengikuti si kelinci masuk ke lubangnya, yang membuatnya mendarat di Wonerland.

Alice bertemu banyak hal dan melihat banyak hal di Wonderland, mulai dari kucing yang suka nyengir, caterpilar, the Mad Hatter, sampai sang ratu dan pasukan kartunya.

Saya yakin banyak dari kalian sudah tahu garis besar dari buku anak legendaris ini, meski belum pernah membaca bukunya langsung sekalipun. Itulah kelebihan sebuah cerita klasik, luar biasa terkenal dengan banyak sekali adaptasi hingga tak perlu membacanya pun sudah tahu, hahaaa...

Nah, karena buku ini sangat terkenal, saya sengaja menyempatkan diri membacanya. Mungkin karena terkenal inilah ekspektasi saya terlalu tinggi. Toh ini buku yang disukai banyak sekali pembaca, pasti saya juga suka, begitulah pikir saya. Ah, tapi nyatanya tidak. Saya beneran kecewa dengan isi ceritanya. Rasanya entah kenapa saya mendapat kesan, saat membaca buku ini saya sedang masuk ke gudang yang berantakan. Seolah si penulis melemparkan dengan asal-asalan apa saja yang berkelebat di pikirannya tanpa ditata rapi terlebih dahulu. Makes me wonder....kok cerita bagini bisa terkenal banget ya? Yeah, mungkin waktu pertama kali terbit, belum banyak cerita-cerita dengan makhluk-makhluk ajaib bertebaran di dalamnya, wakakaaa #sotoy ;p

Namun sekali lagi, ini hanya pendapat saya lho, dan karena buku ini tipis, saya justru menyarankan kalian membacanya, baru setelah itu bisa berkomentar apakah kalian suka atau tidak. Karena meskipun saya tidak suka, nyatanya banyak lho, yang memfavoritkan buku ini. Siapa tahu, justru ini bacaan yang 'kamu banget' ^_^

See you in the next post ^_^

Sabtu, 02 Juli 2016

The Viscount Who Loved Me by Julia Quinn [review]

Title: The Viscount Who Loved Me (Bridgerton #2)
Author: Julia Quinn
354 pages, e-book version
Language: English
First published: 2000
Genre: Historical Romance
My rating: 4/5

"Love isn't about being afraid that it will all be snatched away. Love's about finding the one person who makes your heart complete, who makes you a better person than you ever dreamed you could be." --Anthony Bridgerton--
Anthony Bridgerton sang Viscount yang berumur 29 tahun memutuskan untuk menikah tahun ini. Dia memutuskan untuk menikahi wanita yang cantik dan pintar, namun tidak dicintainya. Dia tidak mau terikat pernikahan yang membuat istrinya jatuh cinta padanya, ataupun sebaliknya. Dia punya alasan kuat dalam hal ini. Alasan yang mungkin dianggap aneh oleh sebagian besar orang, namun baginya terasa nyata.

Katherine (Kate) Sheffield yang berumur 21 tahun datang ke London dari Somerset sebagai debutante pada musim ini. Memang umurnya yang sudah terbilang "tua" untuk pertama kalinya mengikuti London Season. Namun apa mau dikata, keluarganya tidak punya cukup uang, sehingga dia menjadi debutante pada tahun yang sama dengan adiknya, Edwina yang meski baru berumur 17 tahun, sudah menjadi primadona baru di London Season tahun 1814 ini.

Anthony yang hanya berpikir praktis, berencana menjadikan Edwina Sheffield yang luar biasa cantik sebagai istrinya. Namun Edwina telah dengan tegas menyatakan bahwa dia takkan menikahi pria dengan persetujuan kakaknya, Kate. Anthony pun berusaha menarik hati Kate, namun Kate yang sudah mendengar reputasi buruk Anthony yang suka bermain perempuan tentu berusaha menghalang-halangi usaha Anthony mendekati adik kesayangannya yang cantik jelita. Namun apakah usaha Kate ini berhasil ketika kebencian yang timbul antara Kate dan Anthony justru memunculkan hasrat dan nafsu yang tak bisa dijelaskan?

Novel ini adalah buku kedua dari seri Bridgerton. Jika Novel pertama menceritakan tentang anak keluarga Bridgerton yang nomor 4, novel ini justru bercerita tentang anak nomor 1. Jika dibandingkan dengan buku pertamanya, penokohan-penokohan di novel ini terasa lebih matang dari buku sebelumnya, dua karakter utamanya kuat dalam pendeskripsiannya. Yang terlihat paling jelas memang karakter utama wanita yang digambarkan memiliki sikap dan sifat, maupun tindak-tanduk yang khas (tidak seperti karakter Daphne di buku pertama yang cuma digambarkan biasa saja).

Secara plot juga lebih menarik dari buku pertama, terlebih karena mengangkat isu psikologis dari kedua tokoh sentral, meski menurut saya memang reaksi kedua tokoh ini agak terlalu lebay hehehe... Humor-humor yang terselip di sana sini juga sangat lucu dan sukses membuat saya terpingkal-pingkal. Namun entah kenapa adegan "lebah" yang digadang-gadang tidak selucu yang saya harapkan karena, well, beberapa teman saya sudah sedikit membocorkan mereka akan "blablabla karena lebah". Jadi saya sudah agak menebak arah ceritanya sejak itu, dan...benar saja, adegan yang seharusnya lucu sudah tidak lucu lagi bagi saya, sayang sekali...

Setelah dua kali membaca seri Bridgerton ini, saya menemukan sedikit kesamaan dalam kedua buku ini, yaitu menurut saya, dua pertiga bagian pertama novel2 ini justru bagian yang paling bagus. Entah kenapa dua kali saya tidak terlalu sreg membaca bagian klimaks dan penyelesaiannya yang terdapat di sepertiga terakhir novel2 ini. Saya justru cenderung mengantuk membaca bagian yang mendekati ending ini, hmmm.....

Eniwei, setelah 2 kali membaca genre ini, sumpahhh saya sudah bosaaannn dengan genre iniii.... hahahaa.... sepertinya saya memang masih setia pada fantasi atau sci-fi atau children book saja :D :D

Oh iya, buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan cover seperti ini:

See you in the next post ^_^

Selasa, 28 Juni 2016

Seven Bookish Confession

Bulan Juni ini hectic banget buat saya sampi-sampai saya tidak sempat sama sekali membuka dan mengurusi blog. Utunglah postingan-postingan saya sudah dijadwal muncul seminggu sekali, heheheee..... Nah, berhubung saya sudah keluar dari gua dan berhenti bersemedi, kebetulan juga tema posbarnya sepertinya unik, saya sekalian mau buka-buka rahasia nih...

1) Saya mengaku sebagai pembaca yang cinta printed books, dan, memang benar...saya bahagia jika melihat printed books terpajang di dalam lemari saya. Terpajang doank tapi...nggak dibaca, karena kenyataannya saya justru sering membaca e-book.

2) Sudah dua tahun belakangan ini saya hampir tidak pernah membeli buku baru dengan harga normal. Jujur saya, buku baru dengan harga normal itu bagi saya sangatlah mahal. Jadi saya justru sering membeli buku-buku yang sudah didiskon, memang sih biasanya buku-buku itu terbitan lama, pinggirannya kadang sudah kuning, plastiknya sudah agak robek, tapi jika bisa mendapatkan buku dengan harga hanya 10 atau 20 ribu saja, saya tak masalah.

3) Saya lebih sering membaca buku berbahasa Inggris yang kadang bahkan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan biasanya berbentuk e-book. Seenarnya pengeeeeeennnnn banget koleksi printed booksnya, tapi harganya itu biasanya sangat WOW buat saya, juga saya yang tinggal di desa ini susah sekali untuk mendapatkan akses ke buku-buku bebahasa Inggris. Jadi maafkan kalau e-book yang biasanya saya dapatkan memang diragukan...ehm...legalitasnya *malu*

4) Saya baru mengenal novel-novel berbau kipas sejak kenal BBI dan sudah berumur kepala dua ;p

5) Guilty pleasure saya adalah memaca fanfiction. Fandom Harry Potter adalah tempat kerinduan saya pada Harry bisa sedikit terhapuskan (halah) ;p, karena bagi saya, Harry Potter yang cuma 7 buku itu nggak akan pernah cukup, lagi...lagi....lagiii.... *maruk*. Dan pairings favorit saya itu Harry/Draco ngahahahaaaa..... aduh ini pengakuan dosa banget inihhh... *sembunyi di balik bantal* #IkaKotor

6) Sampai sekarang saya tidak tahu dan masih bingung tata cara blogtour karena belum pernah ikutan dan tidak tertarik, hahahaaa.... Blogtour itu apa? Aku di mana? Kamu siapa?

7) Saya sering kemana-mana bawa buku, dengan niat mau membaca di semua tempat kalau pas lagi senggang, atau lagi menunggu sesuatu, ngantri dan sebagainya, tapi biasanya saya buka cuma satu halaman, dan apa yang saya baca justru tidak tertangkap otak saya sama sekali. Sering satu paragraf saya baca berulang-ulang namun tetap nggak mudeng. Iya sih saya tahu saya memang lebih enjoy baca di tempt sepi. Tapi toh tetap aja saya mencoba bawa dan baca buku di tempat umum meski tahu sebenarnya besoknya bakal saya baca ulang di kamar, heheheeee...

Sekian pengakuan tujuh dosa saya mengenai buku, jangan diketawain yaaa, malu, heheheeee....

See you in the next post ^_^

Sabtu, 25 Juni 2016

The Duke and I by Julia Quinn [review]

Title: The Duke and I (Bridgerton #1)
Author: Julia Quinn
384 pages, e-book version
First published: 2000
Language: English
Genre: Historical Romance
My rating: 4/5

"Men are sheep. Where one goes, the rest will soon follow."
Simon Basset sang Duke of Hastings yang baru, akhirnya kembali ke London setelah berkelana ke berbagai negara. Dia kembali tak lama setelah ayahnya meninggal dan bertepatan dengan London Season (musim perjodohan di London). Simon tidak berencana kembali ke 'society' secara resmi karena dia sudah bersumpah bahwa darah Basset akan mati dengan dirinya, yang artinya dia berencana tidak akan menikah dan memiliki keturunan.

Simon terkenal sebagai 'rake' beserta sahabatnya Anthony Bridgerton. (Istilah rake sekarang lebih mirip ke istilah playboy. Pria yang suka main perempuan--pada masa itu digambarkan 'sering menyimpan Mistress). Dia hampir saja merayu gadis yang tidak sengaja ditemuinya, sebelum menahan diri karena tahu bahwa gadis itu merupakan adik perempuan Anthony yang bernama Daphne Bridgerton (ini sih karena Bro Code terkenal yang menyatakan Thou Shalt Not Lust After Thy Friend's Sister. Saya agak heran juga, apakah Bro Code ini memang sudah ada dari tahun 1813? Entahlah...)

Singkat kata, mereka (Simon dan Daphne) merasa nyaman bercanda dan berbincang-bincang sejak pandangan pertama. Ditambah lagi posisi Simon yang sedang menghindari para wanita, dan Daphne yang sedang mencari calon suami namun tidak bayak yang datang melamar, membuat mereka memutuskan untuk berkonspirasi: Simon berpura-pura mendekati Dahne selama musim ini karena alasan pribadi masing-masing. Tapi tindakan ini justru membuat Anthony marah besar. Ditambah lagi ketertarikan Simon dan Daphne terhadap satu sama lain yang malah membuat keadaan makin runyam.

Ini pertama kalinya saya membaca genre Historical Romance, dan karena pertama kali, saya mencoba mengikuti rekomendasi teman-teman karena untuk urusan HisRom, seri ini jagoannya. Saya memang merasa sangat terhibur saat membaca ini. Beberapa kali saya bahkan sampai terpingkal-pingkal karenanya. Memang sih, ada beberapa hal yang lumayan cheesy dan gampang ditebak, seperti misalnya reaksi Anthony saat mengetahui hubungan Daphne-Simon, juga reaksi Daphne saat menghadapi pertikaian Anthony-Simon yang terasa sangat antiklimaks, juga reaksi Simon terhadap masa lalunya yang, meskipun mudah diprediksi, terasa sangat lebay.

Lepas dari itu, karena buku ini menurut saya cukup "lumayan" sebagai buku HisRom pertama yang saya baca, saya beri bintang 3,5. Dibulatkan jadi 4 karena cukup menghibur dengan humor di sana sini. Terlebih karena saya mendapat kesan bahwa novel ini adalah novel yang akan saya baca jika saya sedang "butuh sesuatu yang ringan". Novel yang bisa "membuatmu merasa nyaman" karena konfliknya yaaa standar lah, begitu-begitu saja, jadi tidak membuat yang baca ikut tegang. Semacam buku relaksasi.

Untuk masalah karakter, karakter utama pria di sini sebenarnya sangat "adorable" dan bisa bikin "aaaaawwww" hehehee... rasanya pengen deh ngelus-ngelus rambut Simon dengan sayang, apalagi background masa lalunya itu, membuat tokoh ini lebih berkarakter (meski sedikit lebay). Nah, tokoh Anthony juga lumayan oke sih karena sosok big brother sejati gitu selalu membuat saya meleleh, ngahahaaa...iya alasan say ini nggak objektif ;p
Tapi tapi tapii.... si Daphne ini, meskipun digambarkan sebagai gadis tangguh, namun kok kesannya tangguh-nya nanggung ya.... sepertinya si penulis ingin menggambarkan ketangguhan gadis ini namun eksekusinya kurang sempurna, jadilah menurut saya tokoh Daphne ini "tidak menarik".

Eniwei, buku ini berhasil mengubah pendapat saya yang tadinya menyatakan bahwa "ah, buku hisrom pasti membosankan" menjadi "ooh, bisa juga hisrom lucu. Lumayan juga nih buat selingan kalo lagi bosen yang tegang2"... wahahaa meskipun, kalau harus baca buku model begini terus-terusan ya saya bisa mati bosan sih, heheee....

So, yang memang suka hisrom atau pengen baca hisrom, buku ini rekomended kok, asal nggak keberatan sama sedikit adegan panas di bagian sepertiga terakhir cerita saja, heheee... Dan tambahan lagi, novel ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan cover seperti ini:


See you in the next post ^_^
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...