Tampilkan postingan dengan label Meg Cabot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meg Cabot. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 September 2014

When Lightning Strikes

Series: 1-800-Where-R-You (first of the series)
Author: Meg Cabot
First published in 2001
Language: English


Jessica Mastriani, gadis SMA yang baru berumur enam belas tahun, secara tidak sengaja memiliki kekuatan supernatural setelah dia tersambar petir sepulang sekolah.

Kekuatan baru Jess memungkinkannya mengetahui lokasi anak-anak hilang yang fotonya tidak sengaja Jess lihat di karton kotak susu yang diminumnya. Tentu saja Jess, sebagai seorang warga negara yang baik, menelepon nomor hotline yang tertera di kotak susu tersebut, dan mengabarkan keberadaan si anak hilang tersebut. Hal tersebut berlangsung beberapa hari, dan beberapa anak hilangpun berhasil ditemukan dengan selamat. Namun masalah mulai muncul ketika salah satu anak hilang ditemukan meninggal di lokasi yang diinformasikan oleh Jess, dan terkubur di bawah sebuah pohon akibat pembunuhan. FBI pun mulai beraksi karena Jess malah dicurigai sebagai dalang berbagai penculikan dan pembunuhan anak.

Saya sebenarnya baca buku ini yang versi English, ebook pula *heheheee*, tapi berhubung saya sedang tidak mood mereview pake English juga, jd pake Indo saja yach. Sepertinya buku ini juga belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yang menurut saya, sayang sekali lho....karena buku-buku Meg Cabot itu selalu layak dibaca karena bahasanya yang, seperti biasa, enak dinikmati dan tidak complicated. Satu hal yang saya suka dari Tante Meg adalah beliau tidak terlalu berlebihan ber-narasi, jadi pembaca pun tidak gampang bosan.

Dari segi cerita, buku ini punya ide cerita yang unik, agak-agak berbau science fiction juga sich...tapi dari segi karakter, hampir semua karakter utama dalam novel-novel tante Meg memang bersifat mirip. Hal ini menurut saya bisa sedikit dirubah dengan membuat karakter utama yang jauh berbeda dari novel-novel yang lain, sebenarnya, jadi tidak terlalu monoton. 3,5 dari 5 bintang dech buat buku ini. ^_^

Sabtu, 05 Juli 2014

Every Boy's Got One #Boy3 by Meg Cabot

Paperback, 328 pages
Published by Pan Macmillian, 2005
Language: English





Jane Harris, cartoonist and creator of Wundercat comic, was very excited to be asked by her best friend (Holly Caputo)'s maid of honour in Italy, when she was eloping with her long-term boyfriend, Mark Levine.

It was supposed to be an enjoyable vacation for Jane until she met the best man of Mark's choice: journalist Cal Langdon who didn't believe in a successful marriage. It was hate at first sight for both Cal and Jane, and it was a nightmare for both of them to share a house in an Italian countryside where someone has to walk down the road to the electronic gate to find the fuse box and turn the power back on because you apparently could not turn on the electronic stove while the light was on (this reminds me of my grand's house *grins*).

The plot was very classic, actually, with the maid of honour and the best man as the main characters, I think most of the readers can guess where the story ends. Plus a very cliche pattern of "turning hate into love". Yet despite the cliche, Ms.Cabot could turn it into a very hilarious and interesting story that I enjoyed thoroughly.

This is the third book of the Boys series, and I actually didn't read the second book (*smiles shyly*) but if I had to compare, I definitely would choose the first book over the third. Why? I was a little disappointed by the ending of the book since the characters seemed to suddenly jump from hate to love. I mean one minute they hated each other, and because of Jane's travel diary that was accidentally read by Cal, and booommm...they loved each other to the point that they extended their vacation in Italy. But thumb's up for the overall story, anyway :)

Rabu, 28 Agustus 2013

The Guy Next Door by Meggin Cabot

Paperback, 560 halaman
Tahun terbit: 2003
Penerbit: Gramedia
Penerjemah: Indah S. Pratidina

Tante Meg Cabot memang salah satu penulis favorit saya. Dan buku ini saya beli saat saya berumur 16 tahun, masih underage gitu deh....beli bukunya saja di toko buku kecil di depan sekolah dan... *lah, ini kenapa malah curhat yah*. Eniwei, saya baru kemarin-kemarin membaca ulang buku ini, dan karena itu saya memutuskan untuk menulis singkat tentang buku ini (haiah, kebayakan basa-basi Ika ini. Langsung saja saja dech...).

Mellisa Fuller (orang-orang biasa memanggilnya Mel), adalah gadis mungil berambut merah yang berumur 27 tahun yang bekerja sebagai kolumnis gosip di The New York Journal, salah satu surat kabar di kota Ney York, Amerika. Suatu ketika dia mendapati tetangga sebelah apartemennya, Mrs. Helen Friedlander terkapar dengan bekas pukulan di kepalanya, dan dalam keadaan koma. Kasihan memang, namun Mel malah jadi ketiban sampur (istilah apa lagi ini?!) untuk mengurus peliharaan Mrs. Friedlander yang terdiri dari seekor anjing Great Dane raksasa bernama Paco yag butuh diajak jalan-jalan sehari dua kali, dan dua ekor kucing. Tentu saja Mel kerepotan, hingga dia memutuskan untuk meng-email keponakan Mrs. Friedlander yang bernama Max untuk mengambil alih kepengurusan binatang-binatang tersebut. Masalah mulai muncul ketika bukannya muncul langsung ke hadapan Mel, Max malah menyuruh temannya yang bernama John Trent (yang terpaksa melakukannya karena hutang budi pada Max), untuk berpura-pura menjadi Max dan menemui Mel. Tapi tentu saja masalahnya bukan berhenti di situ karena Mel dan John malah saling tertarik satu sama lain, padahal John masih dalam penyamaran.

Yang paling unik dari novel ini adalah formatnya yang seperti e-mail sepanjang novel ini. Apalagi pertama kali saya membaca novel ini waktu saya SMA, masih cupu, kalau main internet aja masih di warnet depan sekolah tidak seperti sekarang yang bisa e-mail-emailan dari handphone. Jadi bagi saya saat itu, novel ini memang terlihat unik banget, seperti eye-opener bahwa 'waaaah, ternyata di Amrik sono begini yah, kereeennn'. Bahasanya tante Meg juga enak banget dibaca, humoris tapi nggak muluk-muluk. Mungkin faktor penerjemahnya juga sih yang bagus. Yang jelas saat itu meskipun masih underage, saya tidak merasa kesulitan membacanya.

Ada juga sih satu hal yang bagi saya saat itu agak sedikit mengganggu, yaitu cuplikan novel yang ditulis oleh John Trent dengan judul "Bab 17: Kembalinya Parker" yang bagi saya saat itu agak...er...membuat muka merah kalau dibaca. Agak hot dan kipas gimanaaaa gitu. Saat itu menurut saya vulgar banget. Tapi yang lucu, saat saya baca ulang beberapa hari yang lalu, ternyata bagian itu sudah tidak mengganggu tuh, biasa aja, tidak terlalu hot. Mungkin gara-gara faktor umur (aduh, saya jadi merasa tua *meringuk di pojokan*).

Jadi intinya, ini buku yang oke kok, padahal saya bukan pecinta romance, tapi kalau romance-nya tante Meg, saya lahap dengan senang hati. heheheee....

Senin, 29 April 2013

Review: Victoria dan Sang Earl by Meg Cabot

Paperback, 248 halaman
Judul asli: Victoria and the Rogue
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: 2010
ISBN: 978-979-22-6550-7

"Aku khawatir sekali aku tidak akan pernah menemukan cinta sejatiku. Seandainya aku tidak berjumpa dengannya, atau seandainya aku sudah berjumpa dengannya, dan membiarkannya pergi? Seandainya cinta sejatiku Robert Dunleavy? Minggu lalu aku bilang kepada Robert Dunleavy bahwa giginya mengingatkanku pada...pada kuburan!"-hal.136-

Kutipan di atas sukses membuat saya terpingkal-pingkal. Begitulah gaya tulisan tante Meg ini: ringan dan menghibur, namun seringkali membuat pembaca berpikir "iya juga yach?".

Buku ini merupakan kisah Historical Romance untuk remaja, jadi bisa dikatakan versi Teenlit-nya HisRom. Berkisah mengenai Lady Victoria Arbuthnot, seorang Lady muda berusia enam belas tahun yang mandiri, tegas, berani dan suka mengatur pada abad ke-18. Sepeninggal orangtuanya, yang tentu saja setelah itu Victoria lantas mewarisi gelar dan harta orangtuanya yang berlimpah, dia dibesarkan di India oleh tiga orang pamannya yang semuanya bujangan dan bergerak di bidang militer. Pada usianya yang keenam belas tahun, ketiga walinya memutuskan untuk memulangkannya ke London, Inggris untuk mencari calon suami. Yang mengejutkan, belum juga menginjakkan kaki di London, Victoria sudah bertunangan dengan Hugo Rothschild, Earl of Malfrey kesembilan yang sangat tampan dan memesona yang melamarnya di atas kapal Harmony dalam perjalanan dari India menuju Inggris. Mereka sebenarnya berniat merahasiakan pertunangan ini untuk sementara, namun siapa sangka, Kapten Jacob Carstairs yang tidak sengaja menyaksikan kejadian tersebut di kapal dengan sengaja keceplosan bicara di hadapan paman dan bibi Victoria, juga sepupu-sepupu Gardiner. Apalagi sepupu Rebecca Gardiner sangat tergila-gila pada sang Kapten.

Kejadian-kejadian lucu pun terjadi saat Victoria dan Kapten Jacob Carstairs tidak sengaja bertemu: mulai dari adegan turun tangga dari kapal Harmony yang dramatis sampai pencopet kecil yang menjambret tas Rebecca dan akhirnya dibekuk Victoria, yang sayangnya setelah dipikir-pikir menunjukkan bahwa Victoria bertingkah agak tidak seperti Lady kalangan atas di Inggris. Namun siapa peduli? Toh menurut Victoria, budaya Inggris agak kuno.

Masalah pun mulai muncul saat satu-persatu kedok Hugo Rothschild terbongkar, dan siapa lagi yang menguaknya selain Kapten Jacob Carstairs yang ujung-ujung kerahnya selalu lima senti lebih rendah daripada umumnya, dan membuat Victoria jengkel?

Seperti yang saya ungkapkan di atas, buku ini sangat ringan karena memang diperuntukkan untuk remaja, dan cukup menghibur soalnya hanya butuh satu hari bagi saya untuk menamatan buku tipis ini. Karakter utama wanita di buku ini sangat khas karakter tante Meg; seorang wanita yang berpendirian, tangguh, berani berbeda, berani berpendapat, dan berani mengejar impian...pokoknya heroine banget! Memang plot-nya sedikit klise, namun gurauan-gurauan yang ada cukuplah buat sedikit menutup kekurangan ini. Bagaimanapun saya selalu suka baca tulisan Tante Meg selama ini ^_^

PS. Post ini sebenarnya diikutsertakan dalam rangka "Posting Bareng BBI" dengan tema "Penulis Wanita", meski saya mem-posting ini sudah telat 13 jam. So sorry... ;p

Selasa, 04 September 2012

The Princess Diaries (Meg Cabot)


Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Review ini ditulis dalam rangka mengenang masa lalu (ceilah...). Pada jaman dahulu kala, saat saya masih duduk di bangku SMA, salah seorang teman mengajak saya pulang bareng, nebeng mobil ayahnya (lah,,,kok jadi gini ceritanya?!). Singkat cerita, kita sempat mampir di toko buku deket sekolah gitu. Pas jaman itu (saat itu saya tinggal di Purwokerto), TB Gramedia belum exis, jadilah kita mampir ke toko buku antah-berantah (saya sebut antah-berantah karena saya lupa namanya). saya bahkan masih ingat, susah sekali mencari beberapa buku tertentu yang ingin saya baca, dan...oke, kembali ke topik semula. Intinya, ketika masuk ke toko buku, mata saya tertambat pada sebuah buku PINK dengan cover yang imuuut sekali. Judulnya juga manis: "The Princess Diaries". Maklumlah, saya yang saat itu masih berumur 15 tahun, masih belum meninggalkan fase kekaguman-terhadap-cerita-tentang-princess. Mungkin karena pengaruh kebanyakan nonton kisah Disney. Anyway, cover yang membuat saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama itulah yang menimbulkan dorongan untuk memiliki dan membacanya. Dan jujur saja, saat itu saya tidak kecewa lho! Bahkan ini adalah salah satu buku favorit saya saat SMA (mungkin sampai sekarang masih, heheheee...).

Oke, langsung saja. Ceritanya dikisahkan dari sudut pandang orang pertama (ya iyalah, bentuknya DIARY gitu loohh...), seorang anak SMA Albert Einstein di Manhattan, New York. Mia Thermopolis tinggal di sebuah apartemen sederhana bersama ibunya (Helen Thermopolis) yang bekerja sebagai pelukis freelance. Kehidupan Mia jauh dari glamour; dia bukan anggota cheerleader atau grup populer manapun, dia punya masalah harian dengan rambut yang susah diatur, kucing (Fat Louie) yang kegemukan dan sering menelan kaus kaki, sahabat super jenius yang lumayan rese, dan dada rata yang sering menjadi ejekan Lana Weinberger, musuhnya di sekolah. Pokoknya derita anak SMA gitu lah,,,(merasa senasib, saya meneruskan membaca).Namun kehidupannya berubah total saat Neneknya dari pihak ayahnya (Clarisse Marie Grimaldi Renaldo) datang, dan terungkaplah bahwa dia adalah pewaris tahta kerajaan Genovia (terletak di dekat Perancis--katanya sih), dan harus segera menjalani pelatihan menjadi puteri karena Ayahnya yang menderita kanker buah zakar, tidak bisa memiliki keturunan lagi. Lalu dimulailah kehidupan baru Mia sebagai puteri dari kota New York. Dia beranjak dari seorang anak yang paling tidak populer menjadi gadis paling diidamkan di sekolah; bahkan namanya pun berubah menjadi Amelia Mignonette Grimaldi Thermopolis Renaldo.

Ceritanya seru, namun diceritakan dengan gaya bahasa anak muda yang enak dimengerti, ringan dan humoris. Bentuk diary pada novel ini juga sangat memberikan gambaran jelas mengenai karakter si tokoh utama, maupun pemikiran-pemikirannya mengenai karakter lain dan interaksinya. Kredit juga layak diberikan bagi penerjemahnya, karena menurut saya terjemahannya sangat oke. Berikut adalah beberapa karakter utama dalam buku ini:

Amelia Mignonette Grimaldi Thermopolis Renaldo (Mia Thermopolis)
Gadis jangkung dengan dada rata dan rambut yang susah diatur ini lebih suka dipanggil MIA, dan punya kebiasaan menggigiti kuku jari (yang harus ditempeli kuku palsu saat memulai pelajaran menjadi Puteri). Dia punya bakat menulis, dan pada akhir cerita berhasil menerbitkan sebuah buku berjudul Ransom My Heart, namun di buku pertama ini, dia belum menyadari bakatnya sama sekali, dan masih dalam tahap pencarian jati diri dan pencapaian aktualisasi diri. Pada awal cerita, Mia sempat naksir seorang cowok yang bernama Josh Richter (pacar saingannya Lana Weinberger), namun lambat laun menyadari bahwa dia sebenarnya jatuh cinta pada kakak sahabatnya, Michael Moscovitz yang jenius.

Clarisse Marie Grimaldi Renaldo (Grandmere)
Nenek Mia yang merupakan Janda Pangeran ini memang memang memiliki sifat unik. Jarang sekali menunjukkan kabaikan hatinya, sangat disiplin dan keras namun sebenarnya lembut hati. Hal yang aneh adalah dia mentato eyeliner di kelopak matanya agar dia tak perlu memperbarui eyeliner-nya setiap pagi (cape deeech...).

Lily Moscovitz
Lily adalah sahabat Mia sejak TK. Mia sering bilang mukanya mirip anjing pug (itu jenis anjing apa sich?). Namun Lily adalah gadis jenius yang memiliki acara TV sendiri di TV cable berjudul "Lily Tells It Like It Is". Dia adalah seorang idealis yang terkadang bertindak agak melanggar batas dan sering membuat Mia jengkel.

Ada juga beberapa karakter lain seperti Michael Moscovitz (pacar Mia dan kakak Lily), Tina Hakim Baba (sahabat Mia di sekolah), Lars (Bodyguard Mia yang mengikuti Mia kemanapun), dan lain-lain yang kalau saya sebutkan satu persatu bisa menimbulkan masalah copyright karena mending dicopy paste aja tuch buku, hihiii... Anyway, this book is one of the books I enjoyed so much.

Sedikit Tentang Penulis (Meg Cabot)
Meggin Patricia Cabot (Meg Cabot) adalah penulis asal Amerika yang lahir pada 1 Februari 1967. Kebanyakan buku yang ditulisnya bertemakan fiksi dan young-adult, atau chick literature. Karyanya bahkan sudah lebih dari 50 buah.

Daftar buku The Princess Diaries Series (yang terbit di Indonesia):
Daftar diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Meg_Cabot
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...