Minggu, 03 Mei 2015

The Elite (Selection Book 2) by Kiera Cass [review]

"And maybe this is silly, but it's my country. I get that it's broken, but that doesn't mean these anarchists can just come and take it. It's still mine. Does that sound crazy?" -Aspen Leger, Chapter 22, the Elite-

Entah kenapa rasanya I can relate banget sama quotation di atas. Rasa kecewa yang amat besar pada negeri sendiri, pada sistem yang ada, pada hukum yang sering berpihak, pada pemimpin-pemimpin bangsa, pada birokrasi juga pada masyarakat luas yang begitu nyata dan tidak bisa disangkal. Kutipan di atas, juga diri saya pribadi, tahu dan yakin bahwa negeri saya tidaklah sempurna, bahkan jauh, jauuuuhhhh dari sempurna. Tapi toh rasa cinta yang saya rasakan untuk negeri ini sangatlah besar, dan saya akan membelanya sampai kapanpun. Rasanya seperti menyayangi keluarga dan saudara sendiri, yang meski kadang menyakiti kita, dan mereka jelas tidak sempurna, tapi rasa cinta yang kita rasakan pasti tidak akan pudar. Kecewa mungkin, benci...never!

Topik itulah yang diangkat di buku kedua ini. Para karakter utamanya, America Singer, Pangeran Maxon, dan juga Aspen Leger terlihat sangat berdedikasi bagi negeri mereka dalam cara mereka masing-masing.

Berkali-kali pemberontak dari utara dan selatan menyerbu istana. Anggota keluarga kerajaan, termasuk Pangeran Maxon dan keenam Elite (6 gadis dari jumah total 35 dari kerajaan Illéa yang lolos seleksi sebagai calon Puteri dan pendamping Pangeran) dipaksa berlarian menuju "safe place" yang ada jauh di dalam istana. "Safe places" ini ada yang khusus untuk royalty dan para elite, juga ada yang khusus diperuntukkan bagi pelayan2 istana dan para penjaga, dengan ukuran lebih mungil namun tersebar di seluruh penjuru istana. Singkat kata, banyak sekali adegan di buku kedua ini terjadi di ruangan2 tersebut, termasuk salah satu adegan "klimaks" di akhir cerita yang tidak akan saya beberkan di sini. Takut spoiler heheeee....

Marlee, salah satu sahabat America di antara para Elite, tertangkap basah melakukan sesuatu yang terlarang. Dia dihukum dan dikeluarkan dari proses "seleksi". America sangat marah pada Maxon karena menurutnya, Maxon tidak melakukan apa-apa untuk menolong sahabatnya. Maxon yang gundah akhirnya menemukan tempat dia bisa "terhibur" oleh Kriss, salah satu gadis Elite yang lemah lembut, sedangkan America yang masih emosi "menghibur diri" di pelukan Aspen. Inilah awal terbentuknya kisah cinta segi empat yang rumit dan menyebalkan di buku ini.

Ya, saya memang bilang MENYEBALKAN. Kenapa?
Jujur saja, saya memang bukan penggemar kisah cinta segitiga. Lha ini malah segi empat. Ewww....
Tambahan lagi, sikap Maxon dan America di buku ini benar2 kelewatan layaknya ABG galau yang sedang bereksperimen sama cinta monyet. Ditambah kegalauan America yang mendominasi hampir 90% isi buku, mengingatkan saya pada karakter Bella Swan di buku New Moon. Maksud saya, kebangetan banget deh kalau sampai tidak bisa menentukan saya ini sebenarnya suka sama si A atau si B. Mungkin memang beberapa orang mengalami hal ini, tapi kan nggak harus juga berhalaman-halaman jadi "aduh aku suka A, eh tapi kok kayaknya aku nggak suka A. Eh ternyata aku suka A, eh tapi kok si A begini ya...bagaimana kalau B? Yasudah, aku sama B saja. Eh bentar, si A lebih keren. Eh eh...tapi B..." and it will go on forever and ever and ever....

Bagi saya pribadi, membaca sebuah novel adalah belajar dari karakter yang menginspirasi. Contohnya, kita bisa belajar tentang keberanian dan persahabatan dari tokoh Harry Potter, lalu sikap "nrimo" atau bersyukur dari tokoh Auggie Pullman dari Wonder, dan juga kreativitas tanpa batas (meski rada2 psycho) dari tokoh Amy dari Gone Girl. Nah, kalau sepanjang buku dua tokoh utamanya hanya menghadirkan rasa galau, saya mau belajar apa? Maaf mbak Kiera Cass, tapi masa ABG saya sudah lewat.

Seperti yang saya singgung di review tentang buku sebelumnya, bahwa unsur politik pasti akan semakin kental. Itu benar terjadi. Ditemukannya buku harian milik George Illéa membuka mata America dan Maxon bahwa negeri mereka memang membutuhkan sebuah "perubahan". Sayangnya konflik polotik ini tenggelam oleh konflik batin America yang mendominasi isi buku, padahal seharusnya bisa lebih dieksplor.

Jujur saja saya kecewa sekali dengan buku kedua ini. Setelah buku pertama yang sangat oke, buku kedua ini hancur berantakan. Namun jika memang penasaran sama keseluruhan isi cerita, ya harus dibaca sih hehe... paling nggak buku ketiganya bagus! Jadi rasa sakit hati saya sedikit terobati. Eh, itu harusnya saya tulis di review selanjutnya ya, hahaaaaa....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...