Selasa, 18 Juni 2013

Review: Uglies by Scott Westerfeld

Paperback, 432 halaman
Penerbit: Matahati
Tahun terbit: 2010
Penerjemah: Yunita Candra
ISBN: 6028590126

"Mungkin mereka tak ingin kau sadar bahwa setiap masyarakat punya kelemahan. Selalu ada satu hal yang menjadi tempat kita bergantung. Dan jika hal itu diambil, yang tersisa hanyalah cerita di kelas sejarah." -hal 354-

Apakah sebenarnya konsep kecantikan itu? Sejak jaman purbakala, menjadi cantik dan rupawan adalah impian setiap wanita; kulit yang bersih dan mulus, rambut yang panjang indah tergerai bak iklan shampo, bibir penuh ala Angelina Jolie, dan bentuk tubuh yang seperti peragawati yang melenggak lenggok di atas catwalk. Para pria pun tak kalah heboh dengan berlomba-lomba membentuk otot ala iklan produk susu pria ternama dan rajin ke gym. Isu tentang kecantikan inilah yang diangkat oleh sang penulis melalui kisah fiksi dystopian.

Diceritakan bahwa di masa yang akan datang, manusia melakukan berbagai cara untuk menjadi "sempurna". Inilah yang menyebabkan terjadinya operasi yang memungkinkan setiap anak yang berusia enam belas tahun untuk berubah menjadi "rupawan". Tally Youngblood adalah seorang "buruk rupa" yang tidak sabar untuk menjadi rupawan. Namun entah karena kemalangan apa, dia bertemu dengan seorang anak buruk rupa lain yang tidak ingin menjadi rupawan yang bernama Shay. Tally sendiri tidak peduli sebenarnya, hingga insiden kaburnya Shay menyeret Tally berhadapan dengan kaum "Spesial", agen khusus yang memaksa Tally mengejar Shay. Pengejaran ini berbuah pada pertemuan Tally dengan kelompok pemberontak di Smoke yang dipimpin David, dan sudah bisa diduga, permainan cinta segitiga pun muncul antara Tally-David-Shay, dimana Tally harus memilih antara impiannya menjadi rupawan, atau cinta dan persahabatan.

Ide ceritanya sangat menarik menurut saya, namun twist-twist yang dipakai si penulis agak klise karena di beberapa bagian saya bisa menebak apa yang akan terjadi....yeah, mungkin ini gegara saya saja yang kebanyakan baca kisah fantasi hehee.... anyway, pace-nya sebenarnya cukup oke untuk diikuti, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, namun suspensnya tidak terlalu menegangkan *ups*. Karakter si tokoh utama sendiri menurut saya terlalu "galau", padahal pembaca cenderung menyukai karakter dengan pendirian teguh yang lebih ditonjolkan oleh karakter Shay sebagai supporting character. Mungkin di sequelnya akan ada perubahan karakter bagai si tokoh Tally ini, atau si penulis sengaja membuat tokoh yang tumbuh bersama cerita, itu bisa saja. So, if you are a dystopian fan, this is the story for you!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...