Selasa, 08 Maret 2016

These Broken Stars [review]

Title: These Broken Stars (Starbound #1)
Author: Amie Kaufman, Meagan Spooner
First published: 2013
374 pages
Genre: Science-Fiction, Romance
(audiobook version)
My rating: 3/5

Lilac LaRoux yang berambut merah dan terkenal, merupakan putri tunggal dari pria terkaya di galaksi. Tentu saja semua orang memperlakukannya bak seorang tuan puteri. Kemanapun dia pergi, rombongan gadis-gadis lain selalu mengikutinya...rombongan gadis-gadis yang sebenarnya merupakan bodyguard-bodyguard yang disewa ayahnya untuk menjaganya...sekaligus mengekangnya. Tak sembarang orang bisa mendekatinya, sekalipun dia adalah seorang war-hero.

Tarver Merendsen sepanjang hidupnya berasal dari keluarga sederhana, meski ibunya seorang penyair/sastrawan ternama. Keputusannya untuk masuk ke bidang militer mengantarkannya pada pangkat Mayor dan publikasinya sebagai seorang pahlawan perang...a war-hero.

Lilac dan Tarver pertama kali bertemu di atas sebuah spaceliner (pesawat luar angkasa yang biasa dipakai untuk pesiar) megah bernama Icarus. Tarver terpesona pada Lilac, tanpa mengetahui jati diri gadis itu yang sebenarnya. Sementara Lilac terpaksa bersikap dingin dan menjaga jarak dengan Mayor muda itu, agar ayahnya yang overprotektif tidak mengendus apapun yang terjadi di atas Icarus.

Tiga hari kemudian, Icarus terlempar keluar dari hyperspace (semacam dimensi yang bisa membuat perjalanan antar galaksi jadi cepat. Mungkin semacam "isinya" wormhole. Ah, nggak tau juga, agak bingung saya dengan istilah-istilah science tingkat tinggi ini), dan terjun bebas dan terjatuh ke planet terdekat. Beruntunglah Tarver dan Lilac selamat berkat keahlian mekanik Lilac meluncurkan pesawat sekoci, yang membawa mereka terdampar di planet antah-berantah.

Tarver dan Lilac bekerjasama untuk mengirim sinyal SOS ke angkasa, menanti regu penyelamat. Namun pesawat sekoci yang rusak, dan bangkai Icarus yang remuk tak memudahkan jalan mereka untuk kembali pulang. Ditambah lagi sepertinya ada yang aneh dengan planet tak berpenghuni ini: suara-suara tanpa tubuh, vision-vision yang membingungkan, peringatan tanpa sumber, juga kemunculan tiba-tiba berbagai hal membuat mereka bertanya-tanya...mungkin ada sesuatu di planet ini: bentuk kehidupan cerdas yang lain, namun berbeda dari mereka...

Kenapa saya membaca buku ini? Karena covernya cakeeeeppppp..... ngahahahaaa... Iya, iya saya tahu kok itu alasan paling tidak valid untuk menikmati sebuah buku. Tapi gimanapun juga cover itu sangat berpengaruh bagi saya untuk memutuskan apakah buku tertentu layak dibaca atau tidak. Iya, cetek memang. #plakk

Alasan kedua saya membacanya adalah karena premisnya cukup menjanjikan. Bagaimana tidak, saya lumayan tergila-gila pada sci-fi, bintang-bintang, angkasa, pesawat luar angkasa....ahhh...those things are just wonderful! Lalu ada buku yang menawarkan kisah tentang itu semua, tentu saya iyakan.

Lalu, apakah buku ini sebagus ekspektasi? Yuk, kita bahas satu-satu...

Plot novel ini mengkombinasikan sesuatu yang klise dan unik menjadi satu. Klise? Bagaimana tidak kalau cowok dan cewek yang terpaksa berduaan karena keadaan, lalu perjalanan di antah berantah demi melanjutkan hidup...yeah, banyak th film yang menyajikan tipe serupa. Tapi.....penulis menyajikan sesuatu yang sangat unik, bagian sci-fi nya itu dia....top dech! belum pernah tahu yang begini. Bagus banget cara si penulis mengakali plot nya agar original dengan memasukkan unsur sci-fi yang kuat.

Tapi.... ada tapinya nih, unsur sci-fi yang kuat itu baru muncul di bagian akhir-akhir saja. Yaaahh....sayang banget kan.  Jadi dari awal sampai lebih dari separuh buku ini, sangat berat di bagian romance nya. Meh! Meh banget lah bagian itu (iya, saya bias soalnya saya nggak begitu suka romance). Jadi bisa dibayangkan saya kecewa karena pengennya menikmati sci-fi dengan sedikit romance, eeehh..... malah dapet romance dengan sedikit sci-fi. Halah apah ini nggak banget dech..... Saya kecewa karena sebenarnya unsur sci-fi nya bisa lebih dikembangkan lagi karena sangat original dan bagus, base nya kuat...tapi kenapa oh kenapa si penulis justru mengembangkan sisi menye-menye yang nggak penting itu *jedotin kepala ke bantal*

Tapi overall, bagi yang suka romance (bukan aku) pasti lebih bisa menikmati buku ini kok. Enjoy! See you in the next post! ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...