Selasa, 05 Mei 2015

Half-Blood (The Covenant Book 1) by Jennifer L. Armentrout [review]

"Okay. I'm ready to move onto something else, like practicing with knives or defense against the dark arts. Cool things."
"Did you just quote Harry Potter?"
-Alex and Aiden, Chapter 8, Half-Blood-

Buku apapun yang meng-quote Harry Potter pasti bagus! *plak* #ditendangpembaca
Iya iyaaaa...saya tahu saya bias, wkwkwk...
Okeh, langsung saja ke review.

Alexandria Andros, biasa dipanggil Alex, terkepung oleh para Daimon yang membunuh ibunya Rachelle. Alex sudah berhasil membunuh 2 daimon sebelumnya, namun keempat daimon yang tersisa menyudutkannya, hingga salah satunga berhasil menggigit lehernya dan menyedot aether Alex dari dalam tubuhnya. Di tengah rasa sakit yang luar biasa itulah, sekelompok sentinel datang menolongnya.

Kira2 begitulah isi bab 1 dari buku tersebut. The start was a BANG! Belum apa2 sudah langsung disuguhi adegan action yang dahsyat. Well, karena saya termasuk penggila action, dari adegan awalnya saja saya sudah langsung memutuskan akan meneruskan membaca buku ini. Dan benar lho, saya tidak kecewa.

Para sentinel membawa Alex kembali ke Covenant, dan pamannya, Marcus Andros, yang sekarang menjabat sebagai dekan Covenant langsung menginterogasinya perihal Rachelle yang bembawa Alex kabur dari Covenant ke dunia Mortal 3 tahun lalu. Kaburnya mereka yang berakhir dengan kematian Rachelle tentu membuat tanda tanya besar, apalagi sepertinya para daimon mengejar Alex dengan sangat gigih.
Atas dukungan Aiden St.Delphi, salah satu sentinel yang menolongnya, juga Laadan, Alex harus menjalani masa latihan intensif selama musim panas di bawah instruksi langsung dari Aiden, sebelum akhirnya bisa bergabung dengan para murid lainnya di tahun ajaran baru di musim semi.

Para dewa dan dewi Yunani dari dulu memang terkenal dalam "berhubungan" dengan para mortal. Keturunan mereka yang saling menikah satu sama lain, akan menghasilkan keturunan yang sama "murni"nya, memiliki keanggunan dan kecepatan fisik yang jauh diatas para mortal atau manusia biasa, dan memiliki kandungan aether murni dalam darah mereka juga bisa mengendalikan salah satu dari keempat elemen (ter-avatar-Aang heheheee). Mereka dinamakan "Pure Blood". Para Pure yang berhubungan dengan para mortal akan menghasilkan keturunan yang kekuatan fisiknya sama dengan Pure, namun tidak bisa mengendalikan elemen sama sekali. Mereka dinamakan "Half-Blood". Parahnya, sistem hierarki yang dimiliki Covenant dan Council sangat berat sebelah. Pure dianggap sebagai makhluk yang lebih berharga. Half hanya diijinkan menjadi sentinel atau pembasmi daimon, atau guard yang menjaga para Pure. Jika seorang Half melakukan kesalahan, hukumannya adalah pelayanan seumur hidup terhadap para master a.k.a. slavery atau perbudakan.

Alexandria yang merupakan seorang Half tidak punya pilihan lagi; dia harus berlatih untuk menjadi sentinel, atau dihukum sebagai budak. Celakanya Alex bukan gadis yang patuh aturan, berkali2 dia melanggar peraturan dan dianggap "tidak stabil" dan "tidak bertanggung jawab" oleh para instruktur Covenant. Aiden yang melatihnya selama musim panas merupakan satu dari sedikit Pure yang memilih menjadi sentinel. Gagah, ganteng, dan super baik, tidak seperti kebanyakan Pure; hubungan guru-murid Alex dan Aiden pun berkembang menjadi lebih dalam. Namun "Breed Order" melarang hubungan romantis Pure dan Half. Dan hukumannya? Perbudakan bagi si Half, dan kebebasan bagi Pure. Sangat tidak adil.

Di lain pihak, alasan kaburnya Rachelle 3 tahun lalu pun pelan2 terungkap. Rachelle kabur dari covenant untuk melindungi putrinya, yang ternyata bukan seorang Half-Blood biasa. Siapa sebenarnya Alex?
Dan ternyata, Rachelle sang ibu yang dikira sudah meninggal, ternyata belum benar2 mati tapi.............*sensor*

4 bintang deh buat buku ini, karena tokoh utamanya benar2 Heroine sejati. Banyak adegan pukul2an, tendang2an, dan bunuh2an, hahahaa.... ditambah lagi karakter Alex yang kocak namun tangguh, membuat buku ini makin asik dibaca. Oh iya, karakter Alex sedikit mengingatkan saya pada karakter Katniss Everdeen di saga Hunger Games sebenarnya; stubborn, susah diatur, kadang bertindak seenaknya sendiri dan tidak bertanggung jawab, namun benar2 kickass, tipe2 jagoan cewek sejati yang keren pokoknya, bukan tipe damsel in distress. Tapi bedanya, karakter Alex ini lebih easygoing dan kocak, lebih lovable dech pokoknya.

Oh ya, ada 1 tokoh lagi yang muncul belakangan, Seth sang Apollyon, baru muncul di tengah2 buku. Dia adalah seorang Half yang memiliki kemampuan mengendalikan 4 elemen sekaligus, ditambah elemen kelima, elemen para dewa. Kekuatannya melebihi Pure manapun meski dia seorang Half. Sang Apollyon yang hanya ada 1 tiap generasi, merupakan penyeimbang dunia.

Terus, apa hubungan kemunculan Seth dan Alex? Nah, ini juga akan terbongkar habis2an di buku, meski beberapa sudah agak bisa ditebak sejak awal, tp karakter Seth yang bener2 badboy itu bikin gemes, hahaa...

Sudah ah, mau baca buku selanjutnya nih...bye...

4 komentar:

  1. kalo "covenant" diganti jadi "vampire", jadinya berasa baca vampire academy dunk...
    *ditendang Ika ke Hogwarts* :) :) :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih, aku juga ngrasa ini ceritanya rada-rada mirip vampire academy XD

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...