Sabtu, 07 Mei 2016

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq [review]

Paperback, 332 halaman
Title: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990
Author: Pidi Baiq
First published: 2014
Publisher: Pastel Books (Mizan Grup)
Language: Indonesian
My rating: 3/5

Tanggal 10 April 2016 kemarin saya dan beberapa teman dari Goodreads Semarang mengadakan Kopdar di Pameran Buku Murah Semarang yang terletak di Gedung Wanita. Bagi yang belum tahu, Semarang Book Fair ini diadakan di Gedung Wanita selama kira-kira seminggu, dua kali setahun, setiap bulan April dan Oktober. Jadi buat yang pengen mborong buku di acara ini dari luar kota, siap-siaplah datang pada bulan-bulan itu. Eniwei, di acara kopdar itu saya mendapat pinjaman buku ini, yang ternyata adalah milik Dina (anggota GRI Semarang dan BBI juga). Usut punya usut, buku ini sudah muter ke hampir semua anak Semarang, dipinjam sana-sini, heheheee... padahal si Dina sendiri sudah pindah dari Semarang ;p

Saya tertarik baca buku ini karena ada angka tahun 1990. Tau sendiri kan bahwa era 90-an dinobatkan sebagai era terfavorit sepanjang sejarah bagi yang mengalami masa kecil atau masa remaja di era ini. Nah, kebetulan di postingan Valentine kemarin, mas Tezar juga merekomendasikan buku ini sebagai romance favorit, jadi bolehlah...coba baca...

Premis yang disajikan buku ini lumayan standar sebenarnya: kisah cewek dan cowok SMA dari mulai kenalan sampai jadian. Sudah. Ya sudah itu saja sebenarnya inti buku ini sih. Serius, cuma itu. Lalu apa sih yang unik sampai sepertinya banyak sekali yang memuji-muji buku ini (setelah melihat bintang bertaburan di Goodreads). Menurut saya pribadi, kelebihan buku ini ada di 3 hal:
  1. Mengangkat tema dan setting tahun 90-an yang pasti, pasti PASTI membuat banyak orang tertarik dan penasaran. Pangsa pasar buku ini jelaslah generasi 90-an yang sedang ingin bernostalgia. Harus diakui mencantumkan angka tahun di judul merupakan teknik pemasaran dan promosi yang luar biasa berhasil.
  2. Bahasanya yang ringan dan menghibur serta tidak menggurui (kecuali beberapa bagian saat si Milea berusaha menerangkan perasaannya sampai sedetail-detailnya dengan segala perumpamaan yang tidak perlu, nah ini baru menggurui...sebel banget kalau sudah nemu bagian yang beginian, untungnya nggak terlalu banyak) di sebagian besar isi buku. Bahasa yang digunakan juga sangat santai. Malah terlalu santai. Anehnya hal ini menjadi sisi unik tersendiri bagi buku ini.
  3. Karakter Dilan yang membuat hampir semua cewek ngiler dan membuat hampir semua cowok ingin menirunya.
Seharusnya buku ini diberi judul "cara-cara pantang gagal untuk mendapatkan cewek cantik", heheheheeee...... Serius ya, baca buku ini rasanya seperti membaca panduan bagi remaja cowok untuk menggaet hati remaja cewek. Bukan berarti itu hal yang jelek sih, bahkan menurut saya bagus. Bagus banget malah bisa memberikan sesuatu yang unik di pasaran novel lokal dengan tema romance tapi tidak lazim.

Buku ini seolah full menceritakan tentang seorang sosok cowok yang tertera dalam judulnya: DILAN.  Dia digambarkan suka seenaknya sendiri, selengehan, lucu, tampan, tegas namun baik hati, memiliki insting yang tajam, anggota genk motor (ini sepertinya disengaja untuk menggambarkan dan menonjolkan ke-cool-an tokoh Dilan ini) namun selalu ranking 1 di kelasnya, dan yang paling utama adalah dia selalu bisa membuat seorang wanita merasa istimewa. Nahhh, siapa coba yang nggak mau merasa diistimewakan?

Pertanyaannya adalah, apakah saya suka dengan tokoh Dilan ini? Jawabannya tentu iya, saya suka dengan tokoh Dilan ini.

Tapi....

Saya juga benci dengan tokoh Dilan ini. Lho kenapa? Karena tokoh ini terlalu dibuat too good to be true sampai rasanya seperti tidak nyata. Menurut saya, tokoh paling sempurna dalam novel adalah ketika dia terasa nyata, baik kelebihan dan kekurangannya. Ketika suatu tokoh terlalu datar, atau terlalu jahat, atau terlalu sempurna....nah, inilah ketika ilusi di sebuah novel justru hancur berantakan dan membuat pembaca mulai mengernyitkan dahi (meski sebagian pembaca juga ada yang sangat menyukai hal ini, lho. Kan setiap orang punya pendapat dan persepsi berbeda).

Nah, kekurangan buku ini sebenarnya cuma satu lho, yaitu tokoh-tokohnya terasa terlalu fiktif, terlalu tidak nyata atau terlalu rata. Misalnya, Dilan yang digambarkan terlalu sempurna, Milea yang digambarkan tidak istimewa, tidak ada kelebihannya kecuali cuma cantik saja, Kang Adi yang digambarkan terlalu klise sebagai saingan cinta Dilan, bahkan tokoh Bunda yang menurut saya agak aneh karena...well, let's face it, itu tahun 1990 lho... sedangkan saya yang mengalami masa remaja tahun 2000-an saja masih banyak menemui teman-teman yang pacaran backstreet gara-gara orangtua tidak mengijinkan pacaran dan sebagainya lah. Nah ini...si tokoh Bunda, juga Ibunya Milea, juga bapak-bapak mereka yang tentara lhoo, tentaraaa.... kok kesannya laid back banget masalah anaknya pacaran gitu. Padahal sejauh pengamatan saya, teman-teman yang memiliki ayah dari latar belakang militer benyak yang mengaku ayah mereka sangat tegas, apalagi ini masalah pacaran-pacaran jaman SMA, di tahun 90 pulaaa... (kalau jaman sekarang sih saya tidak heran, memang lebih banyak orangtua, dari segala kalangan lebih bersikap laid back dan terbuka pada anak-anak mereka). Ya, memang saya tahu bahwa tidak semuanya seperti itu, dan selalu ada pengecualian, tapi ada kan yang namanya balance of probability? Dan kemungkinan akan bertemunya orang-orang dengan karakteristik seperti ini dan menjalin satu kesatuan kisah....hmmm....terlalu kebetulan. Tapi, ah, nggak papa kok, namanya juga novel. Dalam sebuah cerita, berbagai macam kebetulan bisa dimaafkan kok for the sake of the plot, wkwkwk...

Oh iya, ada satu hal yang saya salut dari penulis. Pidi Baiq ini cowok kan ya? Mas Pidi meskipun cowok tapi bisa membuat kisah dari POV seorang cewek remaja, itu bagus lhooo.... POV dari tokoh dengan gender berbeda dari penulis itu sulit, lebih sulit lagi jika karakternya adalah remaja yang...yah, tahu sendiri, terkadang seperti campuran bahan kimia yang tidak stabil, gampang meledak. Thumbs up bagian ini. Meski saran saja, mungkin lain kalikarakternya bisa diperkuat, tidak hanya ditonjolkan "cuma cantik" saja. Karena terus terang ketika menjabarkan karakteristik Milea, saya hanya bisa bilang dia digambarkan sebagai tokoh yang cantik. Sudah. Apakah dia pintar? Saya tidak tahu. Apakah dia egois? Saya juga tidak tahu. Intinya saya tidak tahu-menahu bagaimana menjabarkan tokoh ini dalam kata sifat. Di samping itu, karakter Dilan dibuat agar dia "kebanjiran" kata sifat untuk menggambarkan karakteristiknya, karena sepertinya dia serba bisa dan serba segalanya. Sungguh dua karakter utama yang sangat bertolak belakang deskripsinya dalam sebuah novel.

Dan bagian Dilan ternyata langganan majalah Tempo, seperti bapak-bapak itu...sumpah bikin ngakak, karena adek saya juga cowok yang dari remaja bacaannya majalah intisari....kayak bapak-bapak juga, hahahaaa.... Duh, semoga si adek nggak baca ini, wakakaka....

Eniwei, terlepas dari semua kelebihan dan kekurangan novel ini, saya sangat terhibur lho saat membacanya.... I read this in one sitting, the same day I got this book. Dan buku ini menyelamatkan saya dari reading slump yang sedang saya alami juga saat itu. Horeeeeee..... Sukses juga buat Mas Pidi karena berhasil menulis novel romance dengan rasa yang unik dan berani berbeda. Semoga karya kedepannya semakin bagus.

See you in the next post ^_^


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...