Kamis, 27 Desember 2012

Secret Santa 2012: Eona and Unsolved Riddle

Ini dia HOT topic bulan ini: Kado dan Riddle from Secret Santa!!!

Program Secret Santa yang baru pertama kali saya ikuti ini merupakan ajang tukar kado bagi sesama anggota BBI. Agar semua orang mendapat jatah kado dari orang yang berbeda, maka undian pun dilakukan oleh Okky dan Ndari, berupa nama seorang "X" atau target kita. Karena ini merupakan SECRET Santa, jadilah si X itu harus menebak identitas Santa dari Riddle atau teka-teki yang disertakan bersama kado dari Santa. Oh ya, karena ini adalah salah satu event BBI, tentu saja kadonya BUKU yang bisa dicari di wishlist akun Goodreads si target.

Lucu juga lho kejadian-kejadian yang muncul saat proses pengiriman, terutama masalah "kerahasiaan identitas" yang agak gampang-gampang susah dengan pihak pengiriman, yang meskipun biasanya diperbolehkan anonim, harus nego sedikit sama "mas-mas ganteng" yang melayani jasa pengiriman itu. Kalau tidak percaya, baca saja cerita di bawah ini:
     Tepat jam 1 siang itu, udara panas menyengat di kota Semarang. Seorang gadis dengan rok melambai dan jaket Mickey Mouse melenggang masuk ke kantor salah satu jasa pengiriman barang. Sebuah bingkisan tergenggam dalam cengkeramannya. Saat itu kantor agak sepi, maka si gadis langsung mendatangi mas-mas ganteng di konter setelah mengambil nomor antrian dengan terburu-buru.
     "Mas, saya mau kirim paket," gadis itu menyapa.
     "Namanya siapa, mbak?" Si mas-mas ganteng bertanya.
     "Santa,"
     "Mbak Santa, bisa minta nomor teleponnya?"
     "Rahasia mas!"
     "Tapi ini prosedur lho mbak."
     "Tolong diusahakan dong mas."
     "Tetep nggak bisa mbak."
     "Mas ganteng dech!"
     Hening.
     "Oke mbak, boleh tanpa nomor telepon!"

Anyway, setelah masalah pengiriman beres, saya pun tinggal duduk manis menunggu kiriman dari Secret Santa saya, hingga pada suatu pagi...jreng jreng jreng! Kiriman dari Santa dataaaangggg!!!! Kiriman yang teronggok manis di dasar tangga itu dibungkus dengan brosur promosi diskon salah satu minmarket yang menjamur di Indonesia, ide yang lumayan kreatif dan irit juga sebagai pengganti kertas kado. Karena tak sabar, langsung kubuka bungkusnya dan inilah dia isinya:

(Isi kado terdiri dari buku Eona oleh Alison Goodman, dan Riddle+Sticker, tidak termasuk laptop, heheheeeee)

Senaaaaang banget rasanya dapet kado ini. Untuk Santa yang entah siapa dan entah dimana, terima kasih banyak yaaaaa.... *cium* *peluk*
Meski sebenarnya saya belum bisa nebak identitasmu, habis riddle-mu panjang banget siiiii ;p
Anyway, berikut adalah foto close-up si riddle:
Karena tulisan dalam riddle tersebut kurang jelas dalam foto, bisa dilihat seperti di bawah ini:

I am a rash in a ran
I'm just a shower rain
An act without thinking
Hastly without due consideration
Sometimes bad tempered and rude

I am a rash in a ran
I'm walking but sometimes on air
But only at simple past tense
Proceed when quick actio needed
Of a voluntary personal action

I am a rash in a ran
Just ignore what the meaning of me
For it just what google would told you
What you need is a genius generator online
To get me back for what it is once

Just remember, 
I AM A RASH IN A RAN

So far, saya belum bisa nebak siapa Secret Santa ini. Ada ide, teman-teman? heheee...

Rabu, 26 Desember 2012

Book Kaleidoscope 2012: Top 5 Book Boy Friends

Hai haiii.....ini pertama kalinya saya menulis book kaleidoscope, yang di hosting oleh mbak Fanda. Agak bingung juga mau nulis apa *duh*. Tahun ini sebenarnya tidak terlalu banyak buku yang saya baca, tapi apapun adanya, ada beberapa karakter cowok dari buku-buku tersebut yang kalau ada beneran di dunia, layak mendapat ciuman hot dari saya *eh*.
Anyway, inilah dia...jreng jreng jreng *backsound musik serem*...Top 5 Book Boyfriends!

5. Murtagh (Inheritance by Christopher Paolini)
Tokoh ini dari awal memang bikin pembaca galau berat. Pertama kali dia muncul sebagai "knight in a shining armor" yang menolong Eragon dan Saphira dari musuh dan setelah itu dia menjelma sebagai sahabat yang baik hati dan setia untuk Eragon. Usut punya usut, dia ternyata putra dari Morzan, salah satu dari Kaum Terkutuk bawahan Galbatorix yang kejam. Murtagh sendiri lari dari cengkeraman Galbatorix. Namun di akhir kisah buku pertama, dia menghilang! Setelah sempat dicurigai meninggal, dia muncul kembali dengan kekuatan maha dahsyat sebagai Penunggang Naga beserta naga merahnya, Thorn, dan mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa dia adalah saudara tiri Eragon.
Kenapa tokoh ini layak masuk kategori?
Dalam kisah Inheritance, Galbatorix, atas usul Murtagh, menyandera Nasuada sang pemimpin Varden. Namun ternyata perasaan Murtagh yang dalam kepada Nasuada membuatnya bekerja ekstra keras untuk lepas dari sumpah setia kepada Galbatorix demi Nasuada. Kisah cinta Murtagh-Nasuada akhirnya tidak berakhir bahagia, namun tetap saja dia layak masuk 5 besar book boy friends of the year.

4. Leo Valdez (The Mark of Athena by Rick Riordan)

Leo Valdez adalah seorang demigod dari Camp Half-Blood. Dia merupakan putra dari Hephaestus, Greek God yang merupakan penemu dan kreator. Leo  bahkan bisa "berbicara" dengan mesin dan mengeluarkan api dari tubuhnya *lansung ingat avatar Aang*. Dia merupakan salah satu dari 7 Demigod dalam ramalan yang sedang menjalankan misi untuk mencegah bangkitnya Gaea. Anggota lain dalam kelompoknya merupakan pasangan-pasangan yang bahagia yang kadang membuat Leo merasa agak tersisihkan. Namun kesetiaannya pada sahabat-sahabatnya, keuletannya, dan terutama selera humornya yang agak gila berhasil menyelamatkan buku ini dari jurang ke-boring-an *hadeh*.

3. Peeta Mellark (The Hunger Games Trilogy by Suzanne Collins)
Tokoh yang satu ini memang membuat banyak gadis termehek-mehek. Peeta Mellark terpilih sebagai salah satu Tribute dari distrik 12, untuk berlaga di ajang pembantaian gila yang oleh Capitol disebut The Hunger Games. Meski kekuatanya tidak seberapa, namun kegigihannya, kelembutan perasaannya, bahkan selera humornya berhasil membuatnya melelui Hunger Games dengan selamat. Cinta pada pandangan pertama-nya dengan Katniss Everdeen membuatnya melangkah drastis melindungi gadis ini dengan cara apapun, bahkan hingga membahayakan nyawanya. Apalagi setelah dirilis film-nya, ternyata tokoh ini dimainkan oleh Josh Hutcherson!!! aw aw awwwww *sakau*

2. Percy Jackson (The Mark of Athena by Rick Riordan)
Demigod jebolan camp Half-Blood yang merupakan putra dari Poseidon ini memiliki kekuatan maha dahsyat untuk mengontrol lautan, seni berpedang dan juga berbicara pada binatang laut. Sikapnya yang cuek dan asal-asalan membuat Percy memiliki kesan bocah urakan, namun dia sangat perceptif, dan berani *meski kadang bisa juga dibilang nekat*. Ucapannya yang blak-blakan sering menjadi humor dan sarkasme yang menghibur di novel ini. Bahkan beberapa idenya bisa dibilang sangat gila dan ekstrim saat menghadapi krisis. Hubungannya dengan Annabeth Chase, putri Athena merupakan bagian yang spektakuler yang membuatnya masuk dalam jajaran 2 besar kategori ini. Bayangkan saja, nekat terjun ke "lubang tak berdasar" demi bersama dengan gadis yang dcintainya. how sweet......

1. Artemis Fowl (The Last Guardian by Eoin Colfer)
Nah, kalau tokoh ini memang belum difilmkan, jadi ya belum tahu juga dia seperti apa. Tapi kalau boleh memilih, cast untuk Artemis paling cocok diberikan pada Freddie Highmore.
Kenapa Artemis nomor 1?
Artemis merupakan tokoh yang menurut saya sangat komplex. Bermula dari seorang kriminal mastermind cilik yang menculik seorang peri demi emas tebusan, dia berubah menjadi penyelamat dunia dengan caranya. Bukan hanya mengandalkan otak semata, namun dia berkali-kali keluar dari zona nyamannya demi teman-temannya. Puncaknya adalah dalam seri terakhir yang berjudul The Last Guardian, kejeniusan Artemis diuji dengan pengorbanan dirinya demi mencegah armageddon, dan kebangkitannya sendiri dari kematian yang dirancang dengan manis oleh Artemis sendiri. Dialog-dialog cerdas dan terkadang selera humornya yang penuh sarkasme saat berbicara dengan Foaly sering membuat saya menyunggingkan senyum.

Sekian. Bagaimana dengan kalian? :)

Jumat, 21 Desember 2012

Reading Challenge 2013

Tahun baru = Reading challenge baru


Menyambut tahun baru 2013, saya akan mengikuti (untuk sementara, soalnya mungkin bisa nambah lagi ;p) 2 Reading Challenge: Hotter Potter Reading Challenge 2013 yang diselenggarakan oleh Melisa dan Fantasy Reading Challenge 2013 yang diselenggarakan oleh Hobby Buku dan Ally




Hotter Potter Reading Challenge 2013
Sebagai penggemar berat Harry Potter rasanya saya harus mengikuti event ini. Bukan hanya ini adalah seri favorit saya, tapi membaca ulang Harry Potter seperti mengenang masa kecil saya, karena jujur saja, saya tumbuh dewasa bersama Harry melalui kisah petualangannya yang spektakuler. Jika teman-teman tertarik untuk berpartisipasi dalam event ini, silahkan kunjungi Hotter Potter.



Fantasy Reading Challenge 2013
Kisah-kisah fantasy yang penuh hal-hal yang ajaib selalu membuat saya berdecak kagum, karena apa yang tidak bisa saya alami di dunia nyata dengan mudah saya dapatkan dalam dunia fantasy. Dalam reading challenge kali ini peserta diharuskan membaca minimal 12 novel fantasi yang diterbitkan tahun 2012 atau sebelumnya. 

Berikut daftar novel fantasy yang ingin saya baca di tahun 2013:
1) Eona by Alison Goodman (Additional Challenge: Mythology)
2) Daughter of Smoke and Bone by Laini Taylor
3) City of Lost Souls by Cassandra Clare
4) Sabriel by Garth Nix (Additional Challenge: Award Winner)
5) Abandon by Meg Cabot
6) Bartimaeus Trilogy#2 (Golem's Eye) by Jonathan A. Stroud (Additional Challenge: High Fantasy)
7) Bartimaeus Trilogy#3 (Ptolemy's Gate) by Jonathan A. Stroud
8) Delirium by Lauren Oliver
9) The Alchemyst by Michael Scott
10) Harry Potter and the Philosopher's Stone (Additional Challenge: Movie Adaptation)
11) Die For Me by Amy Plum
12) Frostbite (Vampire Academy#2) by Richelle Mead

Tertarik mengikuti challenge ini? Silahkan kunjungi Fantasy Reading Challenge 2013.

Selasa, 11 Desember 2012

Review: INHERITANCE (by Christopher Paolini)

Paperback, 916 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Eragon, Penunggang naga pertama setelah Kejatuhan para Penunggang, dan naganya Saphira harus bersiap-siap menghadapi pertempuran terakhir dengan kekaisaran menghadapi raja Galbatorix yang kejam dan naga hitam raksasanya, Shru’ikan. Namun semua itu tidaklah semulus yang dibayangkan.

Bagian pertama buku keempat dan pamungkas seri Inheritance ini dibuka dengan bagian prolog yang menceritakan rangkiman kisah dari tiga buku terdahulu, dimulai dari penemuan batu biru oleh Eragon yang menetas menjadi naga Saphira, petualangannya keluar dari Carvahall bersama Brom si pendongeng, pertemuan dan persahabatannya bersama Murtagh dan Arya, bergabung dengan kaum Varden, hingga beberapa pertarungan terakhir Eragon dengan Murtagh dan Thorn juga terbunuhnya guru Eragon, Oromis dan Glaedr. Bagian prolog ini bahkan sangat detail, yang sangat memudahkan bagi pembaca yang mengalami “amnesia” mengenai ketiga buku sebelumnya untuk mengingat kembali dimana kisah di buku keempat ini akan dimulai. Namun, bagi yang baru saja membaca buku sebelumnya, atau bagi yang mengingat dengan sangat jelas jalan cerita dari buku-buku sebelumnya, membaca bagian ini bisa menjadi sangaaaaaaatttt membosankan.

Eniwei, Kaum Varden yang dipimpin oleh Nasuada, bersama para sekutu Varden yang lain termasuk Eragon dan Saphira, Arya, Orik, raja Orrin, juga Roran dan seluruh penduduk Carvahall, mulai mengadakan serangan ofensif terhadap Kekaisaran. Mereka memulai dari merebut kota-kota yang ada di bawah pimpinan Galbatorix, sepanjang Surda hingga ke Uru^baen. Walhasil, beberapa kota seperti Dras-Leona dan Helgrind pun berhasil dikuasai. Namun mereka tidak sendiri. Kaum elf dibawah pimpinan langsung ratu Islanzadi keluar dari kesunyian hutan Du Weldenvarden untuk bertempur bersama Varden, dan bergabungnya ras Urgal dan ras Werecat juga membuat perbedaan yang signifikan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Alagaesia, seluruh ras (manusia, elf, naga, kurcaci, urgal dan werecat) bertempur bersisian untuk menggulingkan Kekaisaran yang otoriter. Namun, tentu saja, Galbatrix dan naganya telah memiliki waktu lebih dari seabad untuk menimbun kekuatan, dan bahkan persatuan antar-ras pun dirasa belum cukup untuk mengalahkan si raja gila itu. Maka dimulailah pencarian misterius Eragon dan Saphira, yang dipandu oleh suara tanpa tubuh, ke pulau kediaman para Penunggang sebelum Kejatuhan mereka, Vroengard, untuk menyelidiki keberadaan Ruang Jiwa-Jiwa di Karang Kuthian. Pencarian ini membuat Eragon dan Saphira menemukan nama sejati mereka, juga rahasia terpendam para penunggang untuk menyelamatkan ras Naga. Singkat cerita, didorong oleh penemuan baru ini, kaum Varden (dibawah pimpinan Eragon, yang menjabat sejak Nasuada diculik oleh Galbatorix) menyerbu Uru^baen dan Galbatorix saat fajar.

Sebenarnya saya tidak mau membocorkan akhir cerita ini, tapi bagi yang mengikuti ceritanya, pasti sudah menebak akhir dari cerita ini dari “bocoran” Paolini di buku pertama, dalam ramalan yang dituturkan oleh Angela pada Eragon. Kalau tidak salah (agak lupa juga soalnya), ramalan itu tentang Eragon yang pada akhirnya akan meninggalkan Alagaesia dan takkan pernah kembali, juga tentang kisah cintanya yang tragis dengan seorang wanita yang “kuat, berkuasa dan cantik tanpa tandingan”. Oke, bagian ini jelas banget menurut saya. Eragon yang meninggalkan Alagaesia, sudah jelas kejadian itu adalah ‘setelah’ Eragon berhasil mengalahkan Galbatorix—disini jelas sekali Paolini membocorkan bahwa Eragon akan mampu mengalahkan Galbatorix pada akhirnya. Lalu mengenai bagian kisah cinta itu, dari buku pertama pun sudah jelas bahwa si wanita dalam ramalan adalah Arya. Okelah, kalau kisah cinta mereka tidak berakhir bahagia, tapi bukan berarti bahwa tidak harus ada adegan romantis antara Eragon dan Arya dong?! Bab-bab terakhir yang menceritakan “minggu terakhir kebersamaan sebelum berpisah” itu, harusnya Eragon-Arya bisa mencontoh naga-naga mereka, Saphira dan Firnen. Bukankah lebih baik memaksimalkan saja apa yang dimiliki pada saat-saat terakhir?? Tapi tidak, aduuuh, saya sampai gregeten gemes sama mereka berdua. Dan tahu nggak, hal paling intim yang mereka lakukan itu cuma saling berbagi Nama Sejati dan saling membisikkan Nama Sejati masing-masing di telinga. Owh My God! Grow up...! maaf, bukannya saya mengharapkan adegan sevulgar Saphira dan Firnen, tapi apa salahnya sih menutup adegan perpisahan mereka dengan let’s say...true love kiss? Mungkin bukan cuma saya lho yang kecewa dengan bagian perpisahan Eragon-Arya,,heheee....

Finally, buku ini adalah pamungkas yang menurut saya oke banget, meski dengan kekurangan yang saya sebutkan diatas tadi dan tidak adanya duel hebat yang ditunggu-tunggu (baca: Galbatorix vs Eragon.red), buku ini tetep worth it buat dibaca dan dikoleksi. Juga bisa dijadiin bantal tidur saking tebalnya (percaya gak percaya, ketebalan buku inilah yang membuat kecepatan baca saya jadi melambat drastis, karena saking ‘berat’ nya, tangan saya suka pegal-pegal dan kram kalau pegang buku ini kelamaan, hahahaaaaaa). Last but not least, enjoy reading guys! ^_^

Jumat, 30 November 2012

Review: IBUK, (by Iwan Setyawan)


Paperback, 293 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2012

Novel ini termasuk salah satu dari nominasi sepuluh besar KLA (Khatulistiwa Literary Award) 2012. Tentu saja ekspektasi saya sangat besar. Jadi saya membeli buku ini, berharap kehausan saya akan karya anak bangsa yang bagus bisa terobati—jujur saja saya jauh lebih sering membaca novel dengan genre fantasy, yang lebih mudah didapatkan dari novel non-Indonesia.

Buku ini jelas sekali berkisah tentang kehidupan si penulis sendiri, anak lelaki satu-satunya dari lima bersaudara. Tokoh “Ibuk” dalam buku ini tak lain adalah si Ibu dari penulis, bernama Tinah, yang menikah di usia belia dengan sopir angkot bernama Hasyim yang sempat mendapat julukan playboy pasar. Settingnya sendiri di kota Batu, Malang, dan dituturkan sejak kisah cinta Bapak-Ibuk terjalin hingga meninggalnya sang Bapak di bulan Februari 2012.

Beberapa bab awal buku ini berkisah tentang kisah cinta yang lugu dan manis antara seorang pemuda playboy pasar dan gadis belia. Kisah tersebut berlanjut hingga pernikahan mereka, dan kelahiran kelima anak mereka. Setelah itu kisah lebih terfokus pada si anak lelaki dalam keluarga (Bayek), mulai dari kuliah, bekerja di Jakarta, hingga lika-liku kehidupan dan kariernya di New York.

Ibuk dan Bapak merupakan tokoh orangtua tangguh yang meskipun dalam kemiskinan dan kesulitan, selalu berjuang untuk masa depan dan kebahagiaan kelima anaknya (Isa, Nani, Bayek, Rini, Mira). Mereka bahkan harus berhutang hanya demi membeli sepatu baru anaknya. Yang patut dikagumi adalah kesadaran kedua orangtua mereka terhadap pentingnya pendidikan, dan inilah, yang menurut saya menjadi kunci perubahan nasib dan kehidupan mereka sekeluarga di masa depan.

Jujur saja, buku ini agak dibawah ekspektasi saya. Saya menikmati membaca beberapa bab awalnya sebagai sebuah kisah yang manis, namun semakin ke belakang, banyak sekali tulisan-tulisan yang menurut saya terus diulang-ulang oleh si penulis (meski dengan kalimat yang agak berbeda, namun intinya sama); contohnya adalah ketika si penulis menggambarkan karakter dan sifat si Ibuk atau si Bapak, dan ketika si penulis berkali kali menceritakan hasrat hatinya sepanjang pertengahan cerita hingga akhir (agak seperti curcol). Saya tahu bahwa si penulis ingin memberi penekanan tertentu terhadap beberapa bagian di buku ini, namun hal ini malah membuat saya agak jengah dengan membaca hal yang sama diulang-ulang. Juga ketika dalam beberapa bab tertentu, tiba tiba sudut pandang berubah dari orang ketiga menjadi orang pertama (biasanya hanya dua sampai tiga halaman saja), lalu berubah lagi menjadi sudut pandang orang ketiga. Bagian ini saya rasa agak tidak perlu, kecuali dari awal kisah memang sudah direncanakan akan berganti-ganti sudut pandang.

Finally, meskipun disana-sini masih banyak kekurangan, buku ini mampu menginspirasi pembaca untuk selalu menggapai mimpi tanpa kenal lelah. Lumayan juga quote-quote yang bisa diambil, terutama dari dialog si tokoh Ibuk. Dan yang terpenting, siapapun kita bebas untuk bermimpi dan berusaha untuk meraihnya. Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak?

Senin, 26 November 2012

Review: The Mark of Athena (The Heroes of Olympus #3) by Rick Riordan


I read all Percy Jackson series in English (the e-book version), so I guess to make it fair, I should write my review in English too.

The story is about the Quest of seven demigods of a prophecy, and their journey through the Mare Nostrum or Mediterannean Sea. There are four demigods of Camp Half-Blood (Percy Jackson, Annabeth Chase, Leo Valdez, and Piper—sorry I forgot her last name) and 3 demigods of Camp Jupiter (Jason, Frank Zhang, and Hazel—now, I forgot Jason’s and Hazel’s last names too! Terrific!). So anyway, the story starts with the long-awaited reunion of Percy and Annabeth (which is quite funny, actually). Annabeth and her team (Leo, Jason, Piper) come to Camp Jupiter by Argo II, a war ship built by Leo the son of Hephaestus. They are welcomed by the Romans and their praetor, Reyna the daughter of Bellona, Roman godess of war. Unfortunately, in the middle of Reyna and Annabeth’s civil discussion about the two camps, Leo (possessed by an eidolon) starts a war by attacking the Romans in the New Rome from Argo II. Thus, the seven demigods of the prophecy are forced to leave New Rome and Camp Jupiter with two missions: find the Mark of Athena and save Nico di Angelo, the son of Hades; with the angry Romans on their tale seeking revenge.

Of course, being demigods, things are never easy for them. They meet many obstacles, gods and people they’ve never met before—including Baccus (Roman form of Dionyssus), Nemesis, Keto, Phorcys, Narcissus, and Hercules. Yeah, you read it right: Hercules! They also have a major problem regarding twin giants they must face in the end—since a giant can only be killed by a demigod and a god working together. The gods, however, cut their communications with their children, the demigods, since they have identity crisis of Roman and Greek (this is silly, actually); and the three gods that are not affected by this phenomenon are the god of wine, the godess of revenge, and the godess of love. Major problem is also waiting for them because Gaea is behind this all, very close to be awaken from her forced slumber.

Comment:
I really enjoyed Leo’s and Percy’s naration. Those two can think weirdest yet brilliant plans in a crisis to save them from danger. Those two characters are immensely funny too! Love them so much! But sometimes I got bored when reading through Jason or Piper’s naration.

There are several Percy and Annabeth moments together. I think they are cute and funny, so Rick should write about them more. But the stable scene, the lunch date, and the eternal fall are so great. I cried a little reading the eternal fall scene. Why? Oh why??? Well, but at least we know that the next book, the House of Hades will focus on Percy and Annabeth’s adventure in tartarus.

My favorite part (the eternal fall)—SPOILER ALERT (don’t like, don’t read!):
            Percy tightened his grip on Annabeth’s wrist. His face was gaunt, scraped and bloody, his hair dusted with cobwebs, but when he locked eyes with her, she tought he had never looked more handsome.
            “We’re staying together,” he promised. “You’re not getting away from me. Never again.”
            Only then did she understand what would happen. A one-way trip. A very hard fall.
            “As long as we’re together,” she said.
            She heard Nico and Hazel screaming for help. She saw the sunlight far, far above—maybe the last sunlight she would ever see.
            Then Percy let go of his tiny ledge, and together, holding hands, he and Annabeth fell into the endless darkness.

A Little Bit About the Author (Rick Riordan)
Richard Russel "Rick" Riordan was born on June 5, 1964. He was graduated from University of Texas at Austin in 1986, double-majoring in English and Social Studies. Some of his published books including the Percy Jackson series, the Kane Chronicles series, and the Heroes of Olympus series.

Kamis, 01 November 2012

Review: The Last Guardian (Artemis Fowl #8) by Eoin Colfer

format: e-book

Finally I read this book, after an extremely long time of waiting and torturing (I’m an Artemis fan, what could I say?).

Well, the story started right after Artemis’ last therapy for his Atlantis Complex with dr.J.Argon in a clinic in Haven city. The therapy was okay, for Artemis’ standard, and he was finally declared functional. Butler was ready to take him home when (of course) a problem arose. This is Artemis we are talking about, so of course the problem was not as simple as losing a pair of shocks—it was an armageddon-level problem.

Opal Koboi, Artemis’ arch enemy, reanimated dead fairy warriors who were buried in the grounds of Fowl Manor. The spirits of the fallen fairy warriors possessed Artemis’ twin brothers (Myles and Beckett) and Juliet Butler. They planned to wipe the entire human race. It’s armageddon! Of course Artemis had to act! He had to stop the end of the world no matter what, and he had until sunrise to get rid of the spirits and save the world—again.

Of course Artemis was not alone. He had help from Holly Short, his fairy bestfriend, Butler, Foaly, and even Mulch Diggums the dwarf. Unfortunately, with all the help he could get, there was one thing that he need to do it alone: in order to stop the disaster, he need to sacrifice himself—his life for humanity. What a tragic conclusion.

Comment
Eoin Colfer is such a genius! Thank you...^_^
The story flies in an incredibly fast pace. I couldn’t even close my e-reader before I finished reading it. The twists can be found all over the book. The dialogs, as usual, are smart and funny, and I found myself laughing from time to time ;D

But I was a little disappointed because I expected more interaction between Artemis and his family, which was not explored yet. I mean, Artemis was “dead” in this book, and there was not a glimpse of his family’s reaction? Come on...!

Anyhoo... I will include some of my favorite parts of the story here. Here we go...

                        “Have you heard of the theory of relativity?”
            “Artemis blinked. “Is this a joke? I have traveled through time, Doctor. I think I know a little something about relativity.”
Note: I laughed hard because of this silly, yet extremelly smart and funny dialog ;D

This shows Artemis feeling towards his bestfriend, Holly:
                        Artemis looked at Holly then and felt a tremendous affection for her. He wished that he could loop the past ten seconds and study it at a less stressful time so he could properly appreciate how fierce and beautiful his bestfriend was.

The following dialog is between Artemis and Holly when Artemis intended to sacrifice himself:
                        “It has to happen. Perhaps in time, with resources, I could develop an alternate strategy...”
                        “Develop an alternate strategy? This is not a corporate takeover we’re talking about, Artemis. It’s your life. You itend to go out there and kill yourself. What about Butler?”

And this is the heartbreaking goodbye between Artemis and Holly before Artemis executed his plan:
            “No. It has to be me, Holly. If the second lock is opened, then I will die, but if my plan succeeds, then all fairy souls inside the magical corona will be drawn to the afterlife. Fairy souls. My soul is human, Holly, don’t you see? I don’t intend to die. And there is a chance     that I may survive. A small chance, granted. But a chance nonetheless.” Artemis rubbed his eye with a knuckle. “As a plan, it is far from perfect, but there is no alternative.”
Artemis made Holly comfortable with cushions. “I want you to know, my dear friend, that without you, I would not be the person I am today.” He leaned in close and whispered, “I was a broken boy, and you fixed me. Thank you.”

The death scene of Artemis:
                        There was no time for questions. The green mist was sucked backward into the Beserkers Gate as though drawn by a vacuum. For a moment Artemis was left standing, unharmed, and Butler dropped Holly to rush to his charge’s side. Then Artemis’ fairy eye glowed green, and by the time Butler caught the falling boy in his arms, Artemis Fowl’s body was already dead.

Characters
Artemis Fowl
The first appearance of this character in the first book shows that he was a selfish boy. He was also incredibly ingenious yet extremely arrogant. The iteresting part is that this character evolves with the books, since his last act as a human, in this last book, is to sacrifice himself for humanity. It shows a massive act of selflessness.

Holly Short
She is a captain from LEP and an attractive elf. She is also a wonderful pilot. She is known as an impulsive and reckless but compassionate woman. She was Artemis’ hostage in the first book, but she became Artemis bestfriend later on.

Butler
This character doesn’t talk a lot, but he is very serious in taking his job to take care of his charge, Artemis. In a lot of occasion he acts more like Artemis’ father than his bodyguard.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...