Jumat, 28 September 2012

Review: Artemis Fowl and The Lost Colony (Artemis Fowl #5) by Eoin Colfer

Paperback, 416 halaman; 20 cm
Penerbit (Indonesia): Gramedia Pustaka Utama
Penulis: Eoin Colfer, 2006
Alih Bahasa: Poppy Chusfani
Terbit: Mei, 2012 (di Indonesia)

Sebenernya sich saya sudah lamaaaaaa....membaca seri kelima Artemis Fowl ini dari versi e-book bahasa Inggrisnya, tapi berhubung saya penggemar berat Artemis, dan ini adalah salah satu novel yang (menurut saya) wajib dikoleksi, jadilah saya membeli versi terjemahannya dengan ngutang sana-sini.

Ceritanya bermula dari (seperti biasa) riset Artemis tentang kaum peri. Berawal dari saling sadap informasi dengan si Centaur Foaly, Artemis menemukan spesies yang diduga telah lama menghilang dari muka bumi ini a.k.a demon. Berbekal informasi tersebut, Artemis dan Butler mengadakan perjalanan ke Barcelona, tempat yang diduga menjadi kemunculan demon berikutnya (demon selalu muncul dari waktu ke waktu di bumi). Analisis Artemis yang hampir tidak pernah meleset berujung penculikan 'singkat' oleh seorang (atau seekor) demon terhadap Artemis ke masa lalu dan bertemu Gaudi, arsitek yang membangun Casa Mila. Pengejaran Artemis terhadap demon pun berlanjut dan membawanya ke Teater Massimo Bellini, Sisilia dimana dia bertemu seorang gadis Perancis jenius bernama Minerva Paradizo yang akhirnya berhasil menangkap demon tersebut.

Kapten Holly Short dan Foaly, yang sekarang tergabung dalam organisasi rahasia LEP, dan meneliti tentang keberadaan para demon pun akhirnya harus bekerjasama dengan Artemis Fowl untuk menyelamatkan Hybras, pulau demon yang sedang terjebak dalam Limbo sejak seribu tahun yang lalu. Masalahnya, satu-satunya demon yang datang ke bumi dari Hybras sekarang berada di tangan Minerva Paradizo. Dan dimulailah adu kejeniusan antara Minerva vs Artemis dalam memperebutkan demon tersebut.

Ternyata masalahnya belum berakhir sampai disitu. Kemenangan singkat Artemis terhadap Minerva terusik oleh penghianatan anak buah Minerva, Billy Kong, yang menculik gadis itu untuk ditukar oleh demon. Kini Artemis pun harus menyelamatkan saingannya itu dengan rencana yang hampir mustahil dilakukan.

Cover Artemis Fowl series dalam berbagai versi:
 

Comment
Cerita buku kelima ini menurut saya sangat spektakuler. Suspense tanpa hentinya sangat memanjakan pembaca yang seperti sedang main roller coaster. Pace-nya juga sangat cepat (seperti semua buku Artemis Fowl lainya). Percakapan cerdas di buku pun membanjir tanpa henti, apalagi dengan adanya saingan Artemis yang sama-sama jenius, Minerva Paradizo. Dialog-dialog Artemis dan Foaly yang terkadang sarkastis namun cerdas pun masih sering mengundang tawa. membaca Artemis Fowl membuat saya berpikir karena dialognya bukan hanya dari A ke B ke C, namun terkadang dari A ke D baru ke B. Luar biasa.

Berikut adalah beberapa dialog favorit saya:

"Aku berpindah dari menyelamatkan dunia ke pelajaran geometri dalam seminggu. Aku bosan, Holly. Intelektualku tidak tertantang..." --Artemis Fowl

"...Aku pernah menulis tentang itu dalam Pshychology Today dengan nama samaran Doctor C. Niall DeMencha."
Minerva cekikikan, "Aku mengerti. Senile Dementia-Pikun Kronis. Bagus sekali."

"Kau pernah meretas audio feed?" tukas Foaly. "Bisa apa lagi ponselmu itu?"
"Bisa main solitaire dan minesweeper," jawab Artemis polos.

Hal paling spekakuler yang dilakukan Artemis adalah saat dia memberikan kekuatan sugesti melalui kata-katanya untuk bertransaksi dengan Billy Kong mengenai tempat transaksi mereka. Juga aksi penyelamatannya terhadap Holly yang 'dibunuh' oleh Abbott di Hybras, hampir saja membuat saya mewek.

Yang paling unik, menurut saya adalah hubungan antara Artemis dan pengawal pribadinya, Butler. Hubungan mereka bukan sekadar antara bos dan bawahannya, tapi lebih mirip seperti ayah dan anak. Aksi penyelamatan drastis Artemis terhadap Butler di dua seri sebelumya sudah cukup membuktikan hal tersebut. Di buku ini, pun hubungan tersebut sempat tereksplor dengan baik di adegan akhir cerita:

   "Artemis. Memang kau. Aku mulai berpikir...Tidak, tidak. Aku tahu kau akan kembali." Kemudian dia berkata lagi dengan lebih yakin. "Aku tahu. Aku selalu tahu."
    Si pengawal pribadi memeluk Artemis, dengan tenaga cukup kuat untuk mematahkan punggung beruang. Artemis berani bersumpah dia mendengar isakan, tapi ketika Butler melepaskannya, lelaki itu tampak tangguh seperti biasanya.

Oh ya, menurut saya, tokoh Artemis agak mirip dengan tokoh Ciel Phantomhive dari manga Black Butler karya Yana Toboso. Hubungan majikan-pengawal di dua cerita tersebut juga agak mirip, meski tokoh Butler dan Sebastian jauuuuuhhhhh baget bedanya. heheee....

Sedikit Tentang Penulis (Eoin Colfer)
 Penulis asal Irlandia ini lahir di Wexford, Irlandia pada tanggal 14 Mei 1965. Namanya mulai dikenal luas sejak novelnya Artemis Fowl #1 dirilis tahun 2001. Berkat Artemis Fowl jugalah dia langsung melejit sebagai New York Best selling Author untuk buku remaja dan anak-anak.



4 komentar:

  1. covernya jauh berbeda ma seri-seri sebelumnya ya. Jadi agak aneh liatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, aku suka cover yg dulu yg buku 1-3...keren soalnya :3

      Hapus
  2. iya, covernya malha jelek yang baru2 ini

    BalasHapus
  3. seneng banget ada yg suka sama artemis fowl selain aku, jarang banget nemu ada yg baca serial ini.
    sempet kesel jg sama gramedia karna buku keenamnya ga terbit-terbit juga, padahal aslinya aja udah selesai, malah sampe ada buku pendampingnya.

    oh salah satu favoritku ada di seri Eternity Code
    "...... Tapi sesekali ada pria yang memiliki bakat luar biasa dalam berburu sehingga berhak menyandang nama itu. Akulah pria tersebut. Artemis si pemburu. Aku memburumu. "

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...