Kamis, 26 September 2013

Warna Air by Kim Dong Hwa

Paperback, 320 halaman
Judul asli: The Story Of Life On The Golden Fields Vol. 2
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Editor: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit di Indonesia:2010
Tahun Terbit di Korea: 2003
Genre: Novel Grafis Dewasa
ISBN: 978-979-22-5988-9


"Seorang anak berharga, namun rapuh. Seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya tidur di atas lantai yang kasar, makan buah yang bentuknya tidak sempurna, mengenakan pakaian compang-camping, atau menelan makanan yang sulit dikunyah. Begitulah hati seorang ibu." - hal 166-
Buku kedua dari trilogi warna ini berkisah mengenai  Ehwa yang sudah beranjak remaja. Masih ingat saat Ehwa sempat menyukai seorang biksu muda dari kuil, dan seorang pelajar yang sedang pulang kampug karena patah tulang tangannya di buku pertama trilogi ini yang berjudul Warna Tanah? Nah,  kisah-kisah tersebut bisa diibaratkan sebagai cinta monyet Ehwa. Ehwa yang kini beranjak dewasa pun memiliki tambatan hati yang baru.

Adalah seorang pemuda perkasa dari desa sebelah yang bernama Duksam. Saat hendak menjuju sebuah pertandingan adu kekuatan antar pemuda desa, sabuk yang dipakainya tak sengaja robek (tahu kan sabuk orang korea jaman dulu itu, cuma pakai kain panjang yang diikatkan di celana. maklumlah, pada masa itu celana-celana belum memiliki kolor seperti sekarang. Akhirnya sadar kan sekarang bahwa kolor merupakan salah satu penemuan manusia paling mutakhir yang sangat berharga..ups, maaf malah ngelantur. oke lanjut...). Karena terpaksa harus memperbaiki sabuk, maka dia mampir ke rumah penduduk terdekat yang dijumpainya a.k.a. rumah Ehwa. Entah untung entah sial, Ehwa saat itu sedang keramas, dan dengan pedenya, si cowok perkasa itu membantu Ehwa menguyur air ke rambutnya. Sontak Ehwa kaget, namun toh akhirnya Ehwalah yang berbaik hati menjahitkan sabuk milik Duksam yang rusak. Pertemuan itupun berubah menjadi saling lirik di pertandingan Duksam, berlanjut ke pertemuan yang tidak-disengaja-namun-disengaja dan rayuan-rayuan penuh kiasan khas dialog tulisan Mr. Kim.

"Sekarang aku mengerti...mengapa ibuku memandang ke arah gerbang desa di bawah cahaya bulan dan mengapa dia selalu mencari-cari bayangan si tukang gambar...Sekarang akhirnya aku mengerti. Mengapa dia dengan gelisah menanti-nantikan malam demi malam, mencari-cari suara langkah kaki laki-laki itu..." -hal 175-

Di buku ini fokusnya sangat jelas terlihat pada karakter Ehwa, tidak seperti buku sebelumnya yang cukup seimbang antara karakter Ehwa dan Ibunya. Ibu Ehwa sepertinya tampil hanya sebagai pemanis semata, yang menurut saya agak disayangkan, karena hubungan ibu-anak antara keduanya tidak cukup tereksplor seperti di buku pertama. Buku kedua ini menurut saya lebih seperti membaca diary anak ABG yang galau jika dibandingkan pendahulunya.

Ada lagi satu hal yang saya sadari ketika membaca buku kedua ini adalah, gambarnya yang agak lebai saat menggambarkan gerakan, hahaaaaa..... Entah ini hanya imajinasi saya atau bagaimana, namun gerakan menyulam ibu Ehwa yang memang digambarkan "seperti orang menari" sepertinya terlalu dibuat-buat. Juga gerakan kepala Ehwa yang menengok kaget saat tiba-tiba Duksam sudah berdiri di belakangnya, terlalu K-Drama bangeeetttt.... tapi mau bagaimana lagi, mungkin memang ciri khasnya Korea seperti itu. Anggap saja kita memang sedang belajar memahami budaya negeri tetangga. 3,4 bintang dech buat buku ini :))

Sekarang tinggal lanjut membaca buku ketiganya. Yuk, mariiiii :))

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...