Jumat, 27 September 2013

Warna Langit by Kim Dong Hwa

Paperback, 322 halaman
Judul asli: The Story Of Life On The Golden Fielsd Vol. 3
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Editor: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit di Indonesia: 2011
Tahun terbit di Korea: 2003
Genre: Novel Grafis Dewasa
ISBN: 978-979-22-6525-5


"Kau tak tahu betapa sulitnya menunggu itu. Kau tak tahu betapa menyakitkannya. Ketika musim-musim berlalu dan kau melihat hujan datang dan pepohonan tumbuh semakin tinggi, kau merasa dirimu layu sementara kau menunggu dan menunggu." - hal 39-
Ya, itulah salah satu cuplikan dialog ciri khas trilogi ini. Sebagian orang menganggapnya puitis, namun sebagian yang lain menganggapnya bertele-tele, heheheee...

Ehwa sudah berusia tujuh belah tahun, gadis belia yang ranum dan sudah siap dipetik (kayak buah aja dipetik), atau dengan meminjam istilah Mr. Kim, layaknya bunga yang sedang mekar da menunggu kupu-kupu api untuk hinggap menghampirinya. Konon katanya kupu-kupu api adalah binatang yang setia.Dan coba tebak siapakah kupu-kupu yang beruntung menghinggapi mahkota bunga Ehwa? Yup, anda benar...seorang pemuda perkasa bernama Duksam yang sudah diceritakan di buku sebelumnya. Di akhir buku sebelumnya Duksam diceritakan pergi merantau ke daerah laut agar dia bisa menjala ikan, mengumpulkan uang yang banyak untuk biaya menikah. Tentu saja Duksam berjanji akan pulang menjemput Ehwa untuk menikahiya pada saatnya nanti. Dan inilah yang dilakukan Ehwa dan ibunya pada 'opening scene' buku ini: menanti kekasih mereka masing-masing.

Ehwa dan Ibunya melewatkan waktu dengan menatap gerbang desa, menanti kepulangan kekasih pujaan. Bagian ini agak dibesar-besarkan, jujur saja. Karena dari perhitungan umur Ehwa, dia menanti kekasihnya belum terlalu lama, namun dia seolah-olah merasa sebagai makhluk termalang di dunia. Dia masih tujuh belas tahun gitu lohhh...tentu saja saya tidak bisa bersimpati pada gadis tujuh belas tahun yang menanti kekasihnya sambil meratap, sementara di luar sini, saya dan teman-teman yang boleh dibilang sudah lama melewati masa tujuh belas tahun pun masih setia menanti 'kupu-kupu' untuk hinggap di 'kelopak' kami. Penantian cewek-cewek jaman sekarang justru lebih lama, dan penuh perjuangan, tapi kami biasa aja tuhhh.... yeah, mungkin balik masalah perbedaan era dan budaya juga sih...

Oke lanjut. Singkat cerita, pada suatu malam ketika salju pertama musim dingin tiba, seseorang yang dinanti-nanti pun akhirnya tiba. Duksam pun pulang untuk melamar Ehwa. Singkat cerita, tentu saja mereka menikah. Ehwa merasa sangat bahagia, namun juga sedih ketika memikirkan harus meninggalkan ibunya (di Korea, seorang wanita harus mengikuti dan tinggal di rumah keluarga suami. Dengan kata lain sedikit mengabaikan ibu kandungnya sih karena hanya bisa berkunjung sekali-sekali. Untunglah di Indonesia tidak terlalu dipermasalahkan apakah newly weds akan tinggal dengan keluarga suami, keluarga istri atau tinggal sendiri. Plaing eak memang tinggal sendiri biar terasa selamanya honeymoon yah. eh, malah ngelantur). Ibu Ehwa juga sangat sedih karena harus melepaskan anak semata wayangnya.

Ada satu bagian yang menurut saya (lagi-lagi) terlalu dilebih-lebihkan, yaitu pada saat ibu Ehwa menemukan sehelai uban. Yak, anda tidak salah baca, sodara-sodara: SEHELAI uban di rambutnya. Sontak Ibu Ehwa menangis karena dia menyadari bahwa dia sudah tua. Helooooo, memangnya bisa yah dibilang tua karena sehelai uban. Kenyataannya, banyak juga anak umur lima belas tahun yang sudah beruban, soalnya uban muncul bukan hanya karena faktor usia. Faktor kurangnya pigmen, salah pakai shampo, stress juga mempengaruhi lho.... Lah, ini kenapa saya malah jadi ngomongin rambut?! Intinya reaksi Ibu Ehwa sangat sangat sangat berlebihan karena sampai menangis gara-gara sehelai uban. Berikut cuplikan dialognya:

"Meskipun hujan atau turun salju, di dalam hati aku selalu merasa seperti bunga azalea merah jambu. Tapi sekarang, sekonyong-konyong, Waktu terasa sangat nyata. Sehelai uban..." -hal 247-

Bagian yang menurut saya cukup oke adalah hubungan ibu-anak antara Ehwa dan ibunya sedikit lebih tereksplor di buku ketiga ini, tidak seperti di buku kedua yang agak kurang diperhatikan lantaran Ehwa sibuk pacaran *ups*. Lalu bagian endingnya memang agak *uhuk* vulgar, jadi disarankan teman-teman tidak membaca buku ini saat ada adik kecil mengintip dari balik pundak teman-teman karena tahu sendiri kan bahwa ini novel grafis, tentu saja gambarnya agak...yeah begitulah. Tapi toh sudah jelas-jelas tertulis untuk dewasa, jadi tugas orangtualah yang harus menyingkirkannya dari jangkauan anak-anak (kayak apaan aja).

Kesimpulannya, dari seluruh trilogi Warna ini, buku pertamalah yang paling oke dan saya beri rating tertinggi heheheee....

Memorable Quote

"Kau bisa meyembunyikan sesuatu dari dunia, tapi kau tidak dapat menyembunyikan sesuatu dari waktu." -hal 247-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...