Rabu, 18 September 2013

Warna Tanah by Kim Dong Hwa

Judul asli: The Story of Life on the Golden Fields Vol. 1
Penulis: Kim Dong Hwa
Tahun terbit pertama kali: 2003 di Korea
Tahun terbit di Indoesia: 2010
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Editor: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Format: Novel grafis
Rating: Dewasa



"Ya, pohon ginko sangat menakjubkan.
Hanya dengan menatap si pohon lelaki di sana,
pohon perempuan ini langsung berbuah." -hal 47

Kutipan di atas adalah salah satu memorable quote dari novel grafis ini. Ya, bentuknya memang seperti komik, berisi gambar-gambar dengan bubble-bubble dialog. Kita sering menyebutnya komik, tapi kadang orang sering juga menyebutnya novel grafis atau graphic novel. Biar lebih keren katanya, soalnya istilah komik terdengar sangat kekanak-kanakan. Tapi saya sebetulnya juga masih agak kurang paham mengenai istilah-istilah di atas. So anyway,,,

Ehwa adalah gadis kecil yang dibesarkan oleh ibunya yang sudah janda. Demi menghidupi mereka berdua si ibu membuka 'kedai minum', dan dituntut untuk melayani pelanggan seramah mungkin, meskipun terkadang ucapan-ucapan para pelanggan tersebut seringkali agak kurang ajar. Hal inilah yang menjadikan ibu Ehwa dikatai sebagai "kumbang" oleh beberapa penduduk desa, karena konon katanya, kumbang adalah makhluk yang mau berpasangan dengan siapa saja. Ehwa yang mendengar hal ini pun melaporkanya pada ibunya, namun ibunya hanya berkata bahwa kumbang itu seperti para pria yang kuat. Di lain hari, Ehwa bertanya pada ibunya apakah dia cacat karena tidak memiliki burung seperti teman-temanya. Ibu Ehwa pun tersenyum dan mengatakan bahwa wanita memang tidak memilikinya seperti lelaki, namun wanita memiliki hal lain yang berharga, yaitu lubang tempat keluarnya bayi, yang harus dijaga setiap wanita sampai hari pernikahannya.

Sepintas memang dialognya tampak terlalu vulgar, apalagi gambarnya yang terkadang sangat buka-bukaan. Namun Kim Dong Hwa bermaksud menyajikan makna kehidupan dan hal-hal yang masih sering dianggap tabu oleh banyak orang, menjadi filosofi kehidupan yang indah dan sarat makna. Novel grafis ini juga menceritakan tumbuh kembang seorang gadis dari masa kanak-kanak mencapai pubertas dan masa remaja. Kisah cinta pertama Ehwa dengan seorang biksu muda juga terkesan sangat lugu dan manis, dengan banyak bahasa bunga terselip di banyak dialog mereka. Sementara itu karakter ibu Ehwa pun tak kalah menarik--dia adalah seorang wanita tegar yang sangat teguh dan setia saat mencintai seseorang. Hal ini sangat jelas tergambar melalui penantian panjang bertahun-tahunnya terhadap tukang gambar pengembara yang selalu mampir sesekali dan menitipkan kuasnya pada ibu Ehwa.

Ibu adalah buku pertama dari trilogi Warna karya Kim Dong Hwa. Oh iya, jangan lupa, rating novel grafis ini memang untuk DEWASA, jadi wajar saja jika memang banyak adegan dan dialog ho-oh nya. Over all, bintang 4 dech buat novel grafis ini.

"Dari jutaan bunga di dunia, tak ada yang seperti bunga labu.
Bunga labu merekah hanya ketika semua orang telah tertidur.
Menghias dirinya dengan warna putih yang diciptakan debu bulan, bunga labu dengan penuh hasrat menantikan kekasihnya sepanjang malam." -hal 76

"Kamelia satu-satunya bunga yang cintanya bertepuk sebelah tangan.
Tak peduli betapa indahnya kamelia menghias dirinya, tak satupun kupu-kupu akan mendarat di atas kelopaknya bahkan sampai kuntum bunga terakhir telah merekah. Ketika kupu-kupu keluar, bunga-bunga ini sudah terlelap. Sebab hanya ketika kupu-kupu tertidur, bunga-bunga ini menjadi hidup." -hal 155


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...